Micha penasaran pada aktivitas suami istri itu, rasanya ada yang kurang beres. “Ada apa?” tanyanya.
“Oh, tidak, Bi. Hanya melihat artikel terbaru dari Indonesia,” jawab Aydan, tidak mau mengatakan kebenarannya sebelum dia tahu kebenarannya.
Setelah selesai membaca artikel tersebut, tiba-tiba ponsel istrinya itu berdering. Dara menyuruh suaminya untuk menjawabnya saja tanpa perlu ragu. Dara percaya pada suaminya.
“Dari Papa,” ucap Aydan pada istrinya, bermaksud minta izin kembali.
“Angkat aja, Mas. Gak masalah,” sahut Dara.
Aydan menjawab panggilan tersebut dengan nada sopan. “Assalamu’alaikum! Papa apa kabar?” tanyanya lebih dulu.
“Walaikum salam, Papa kira Dara yang jawab.”
“Oh, iya, Pa. Ponselnya lagi saya pegang,” sahut Aydan.
“Apa kalian sudah tahu kabar terbaru?” tanya Tris.
“Kabar tentang apa, Pa?” Aydan berpura-pura tidak tahu dahulu, takut kalau berita yang mau dikatakan ternyata berbeda dengan yang baru mereka baca.
“Kabar kalau perusahaan sudah langsung ditangani oleh orang kepercayaanmu,” jawab Tris.
“Oh, tentang itu,” sahut Aydan.
Tris tertawa miring, “Jadi kalian sudah tahu kabarnya?”
“Sudah, Pa,” jawab Aydan mengangguk.
“Wah, kerja mereka luar biasa! padahal tim papa saja sudah berusaha keras, tetap gagal!” ujar Tris, mertuanya itu.
Aydan pun tersenyum. “Sesuai prosedur, mereka telah bekerja dengan baik. Alhamdulillah!”
“Apa kabar kalian? Bagaimana kabar Korea?” tanya Tris.
“Alhamdulillah sehat, Korea juga sedang baik-baik saja. Papa dan Mama bagaimana?” tanya Aydan balik.
“Sehat, Nak!” jawab Tris, lalu menyambungnya lagi, “Papa minta maaf, ya, awalnya Papa meragukan kemampuanmu membantu Papa.”
Aydan tersenyum. “Sudah, Pa. Jangan dibahas lagi, yang penting semua sudah selesai.”
“Kau tahu, Aydan, sekretarismu murung terus karena bosnya tidak ada,” kata Tris sambil tertawa rindu.
Aydan tersenyum menahan sedih. “Sepertinya papa harus mencari gantinya agar dia tidak kesepian,” tandasnya.
“Haha! Aku sedikit menyesal karena tidak memercayaimu, Aydan. Kalau saja kau mendapat dukungan dariku dulu, pasti kau tidak akan memutuskan mengurus perusahaan di Korea,” aku Tris menyesal.
Aydan hanya bisa tersenyum mendengar pengakuan mertuanya itu. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Percakapan terus berlangsung dengan topik berbeda. Aydan mengalihkan ponselnya pada sang istri agar anak dan ayah bisa saling bertanya kabar.
***
Micha tidak bisa menahan bibirnya untuk bertanya mengenai pembicaraan serius itu. Meski pertemuan mereka masih terlalu awal untuk ikut campur, tetapi darah Dae Jun yang mengalir dalam diri Aydan membuatnya sangat dekat dengannya.
Aydan merasa kabar tadi sudah sah kebenarannya dan paman serta bibinya juga pernah punya andil dalam menyelesaikan masalah mereka beberapa waktu lalu. Ketika Aydan mengatakan berita baik tersebut, Micha pun lega.
Sebelum keberangkatan Aydan-Dara ke Korea, Aydan mengalami konflik pelik dengan mertuanya yang hampir membuat mereka dipaksa bercerai, tetapi berkat kedua orang tua angkat Aydan serta paman-bibinya dari Korea yang datang tepat waktu, Aydan bisa kembali bersama dengan Dara.
Menyingkirkan tentang kabar baik tadi, mereka akhirnya tiba di salah satu lokasi wisata yang ingin ditunjukkan oleh Micha.
Wanita itu mengarahkan telunjuk kanannya ke ke sebuah gedung yang sangat megah, Seoul City Hall, sebuah bangunan dengan gaya renaissance yang dibangun pada tahun 1926.
“Tempat bersejarah untuk rakyat Korsel, pernah juga dijadikan lokasi menonton sepak bola terbesar tahun 2022. Sering juga festival-festival diadakan di sini,” katanya dengan bangga.
Dara dan Aydan tertegun menatap keindahan sekitar. Micha senang melihat tatapan dua keponakannya itu yang sedang mengagumi gedung bersejarah tersebut.
"Mau turun? Mungkin kalian mau berfoto sebagai kenang-kenangan," tawar Micha.
Dara mengangguk setuju pada suami dan bibinya itu. Aydan langsung melepas sabuk pengamannya kemudian bersiap turun.
“Dara, katakan pada ibumu, kalau kau bahagia di sini. Suruh mereka jangan khawatir,” bisik Micha.
Aydan tertawa. "Selama ada aku, istriku tidak akan kubuat sedih. Dia harus bahagia!” sambung pria tersebut kemudian turun dari mobil untuk membukakan pintu Dara.
Micha langsung cekikikan. “Aku hanya bercanda, Min Joon!”
Dara meminta bantuan suaminya untuk mengeluarkan bagian baju gamisnya yang tersangkut. Aydan membuka pintunya lagi kemudian menurunkan helaian kain yang terjepit itu.
Setelah beres, Aydan tiba-tiba menggendong istrinya dengan kedua tangan dan membuat Dara menjerit kecil.
“Ih, Mas! kenapa digendong?” tanya Dara manja.
“Kau sudah lelah membawa dua calon bayi kita, sekarang biar aku yang membawa ketiganya,” jawab Aydan, termasuk sang ibu maksudnya.
Micha tertawa melihat tingkah keponakannya itu. "Pamanmu saja tidak pernah menggendongku, Min Joon!” serunya sambil menutup pintu mobil kemudian menguncinya. Aydan tersenyum mendengarnya sambil berjalan.
Hingga beberapa meter ke depan, Aydan mulai merasa pinggangnya pegal. Terasa juga kenaikan berat badan istrinya lumayan membuat Aydan kewalahan.
“Aku turunkan, ya?” kata suaminya.
Dara spontan cekikikan kemudian mencium pipi Aydan dari balik cadarnya. “Iya, Sayang. ‘kan tadi udah Dara bilang, gak usah. Dara sekarang berat.”
“Gak juga, sih, tapi gak mungkin juga Mas gendong sampai sana. Napas Mas bisa lepas,” sahut Aydan tersenyum.
Micha menggandeng wanita muda tersebut agar tidak jatuh. Sayangnya Micha pada Dara karena dia sedang mengandung calon cucunya.
“Ah, tidak terasa, ya, ternyata aku akan jadi nenek,” ujar Micha tersenyum.
“Padahal bibi masih muda, masa sudah dipanggil nenek?” tanya Dara menjawab ucapan Micha.
“Haha, apanya yang muda? Sudah tua ini! kalau dulu saat papanya Min Joon masih muda, baru aku juga masih muda,” jawab Micha tertawa kecil.
Tak hanya berjalan, mereka juga mengabadikan beberapa foto untuk Aydan serta Dara, demikian juga bersama sang bibi.
Hasil fotonya sangat bagus, Micha berulang kali memujinya dan melihat isi galeri pria itu hampir rata-rata adalah foto istrinya.
Haha, masih ada pria seromantis Min Joon di muka bumi ini? Bahkan galeri foto Jae Sun saja isinya hanya cuplikan berkas. Fotoku mungkin sudah dihapusnya, gerutu Micha sedikit cemburu.
Perjalanan berlanjut, sambil melihat-lihat ke tempat lain.
Sejak Aydan diutus menjalankan perusahaan, dia penasaran pada perkembangan perusahaan papanya yang selama ini dijalankan oleh Jae Sun.
Micha pernah menjadi CEO perusahaan tersebut saat Dae Jun sibuk mengurus dunia ke-artisannya. Wanita itu cukup membantu memberikan gambaran tentang perusahaan yang berjalan di bidang event organizer terbesar dan terkenal di Korsel tersebut.
"Teori yang digunakan dalam perusahaan adalah teori komunikasi organisasi, yaitu sebuah metode penelitian yang digunakan secara kualitatif," ujar Micha.
Aydan mengangguk, memahami setiap penjelasan Micha. Bibinya yakin kalau suaminya akan mengajari keponakannya dengan baik. Aydan harus belajar dari pamannya tentang dunia EO.
Saat Micha menjelaskan teori empat arus untuk sebuah perusahaan EO, Aydan merasa pernah mendengarnya dari Dara dan bisa diskusi bersama nantinya.
Sekarang, mereka akan mencoba menggunakan baju tradisional Korea Selatan, yaitu Hanbook!
Dengan pakaian itu mereka kemudian berfoto lagi. Mereka sangat pantas menggunakannya. Apalagi Dara yang memiliki wajah imut dan cantik, untuk satu foto di balik Hanbook, dia membuka cadarnya sebentar, lalu menggunakannya lagi.