Ia menggeser tubuh sedikit, meraih ponselnya di meja samping, lalu membuka layar dengan cepat. Mencari nama yang dua hari ini telah memenuhi catatan panggilannya. Aluna. Ia menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar. Sofia memperhatikannya sambil menyilangkan tangan di da-da, ekspresinya setengah bosan, setengah menghibur diri sendiri. Beberapa detik berlalu. Lalu— panggilan terputus. Fandy mendecak pelan. “Masih nggak bisa,” katanya kesal. Ia mencoba lagi. Dan lagi. Hasilnya tetap sama. “Yaelah…” ia menggeleng, menjatuhkan ponselnya ke sofa. “Masih ngambek.” Sofia mengangkat bahu. “Ya udah, besok aja kamu cari dia langsung,” katanya santai. “Nggak usah terlalu dipikirin sekarang.” Ia mendekat lagi, tangannya kembali melingkar di leher Fandy, napasnya hangat di dekat te

