Bab 7

1228 Words
Layar ponselnya menyala di atas nakas, nama sekretarisnya muncul jelas di sana. Ia melirik sekilas. Tidak langsung bergerak dan belum ada niat untuk menerima panggilan itu. Perhatian kaiden masih terpusat pada gadis yang masih mengurung diri di kamar mandi. Mereka harus berbicara, sebelum dia melangkah ke dalam hidupnya sendiri hari ini. Panggilan itu berhenti, namun tidak lama kemudian masuk lagi. Kali ini seolah tidak mau berhenti. Terus berdering, sambung menyambung. Kaiden menggeram, namun dering ponsel terus terdengar. Kaiden menatap ke pintu kamar mandi yang masih tertutup. ‘Sedang apa dia di dalam sana? Jangan-jangan dia pingsan?’ Kaiden menutup mata sesaat, rahangnya mengeras. Ia tahu betul arti dari panggilan yang terus berulang seperti itu—tidak mungkin sesuatu yang bisa ditunda. Namun tetap saja, pandangan matanya kembali bergeser ke arah pintu kamar mandi. Ia belum selesai di sini, bahkan belum memulai dengan benar. Ia bahkan tidak tahu nama gadis itu. Dan anehnya, itu mengganggunya lebih dari yang seharusnya. Ponsel itu berdering lagi.Lebih lama kali ini. Kaiden akhirnya meraih ponselnya dengan gerakan cepat, seolah ingin mengakhiri gangguan itu secepat mungkin, lalu menekan tombol terima. “Ya.” Suaranya rendah, datar, tapi jelas menyimpan ketegangan. “Pak, klien sudah tiba,” suara di seberang terdengar hati-hati, namun tegas. “Mereka menunggu di ruang meeting. Jadwalnya tidak bisa mundur.” Kaiden memejamkan mata sejenak, menekan pangkal hidungnya dengan jari. Ia tahu. Tentu saja ia tahu. Kesepakatan itu bukan hal kecil. Negosiasi berbulan-bulan, angka yang tidak main-main, dan reputasi yang dipertaruhkan. Ia bukan tipe orang yang membiarkan semua itu runtuh hanya karena satu keputusan emosional. Namun, situasi di kamar ini juga bukan sesuatu yang bisa ia tinggalkan begitu saja. Kaiden menatap ke atas seprei dengan noda itu. Dadanya berdesir, ada rasa aneh yang sulit dijelaskan, yang memaksanya tetap menunggu hingga pintu kamar mandi itu terbuka. “Berapa lama mereka sudah menunggu?” tanyanya akhirnya. “Sekitar dua puluh menit, Pak.” Dua puluh menit. Kaiden menghembuskan napas pelan. Dia tidak bisa lama-lama di sana, dan menunggu gadis itu. Klien ini sangat penting. Dan bayangan sebuah kontrak bisnis besar yang akan dia dapat membuat Kaiden mengambil keputusan cepat. Dia bisa menemui gadis itu nanti. Sekarang dia harus menyelesaikan urusan di kantor terlebih dahulu. “Siapkan semuanya. Aku dalam perjalanan. ” Katanya akhirnya, di telepon. Kaiden menurunkan ponselnya perlahan, lalu kembali menatap ke arah pintu kamar mandi. Masih tertutup. Belum ada tanda-tanda gadis di dalam sana akan segera keluar. Tangannya mengepal pelan di atas lutut, urat di punggung tangannya sedikit menonjol. Ia bukan pria yang lari dari tanggung jawab. Dan ia jelas bukan tipe yang memperlakukan perempuan seperti ini—datang, mengambil, lalu pergi tanpa penjelasan. Namun situasi ini tidak memberi ruang untuk pilihan yang tepat. Ia berdiri perlahan. Langkahnya sempat tertahan di tempat, seolah masih ada bagian dari dirinya yang menolak bergerak. Lalu, tatapannya lagi-lagi jatuh pada seprai. Pada noda merah yang seolah terus mengetuk nuraninya. Kaiden membeku. Untuk sesaat, semua suara di kepalanya seakan berhenti. Rahangnya mengeras, dan napasnya tertahan. “Damn…” Kaiden mengumpat, kesal pada dirinya sendiri. Dugaannya benar. Gadis itu belum terjamah, dan dia yang pertama. Ia menunduk, menyandarkan siku di lutut, kedua tangannya menggantung di depan, jari-jarinya saling bertaut erat. Ia jarang merasa seperti ini. Jarang merasa benar-benar kehilangan kendali. Selama ini, setiap keputusan selalu berada dalam perhitungannya. Bahkan kesalahan pun biasanya masih dalam batas yang bisa ia kendalikan. Tapi malam tadi, tidak ada yang terkontrol. Dan yang lebih mengganggu ia tidak sepenuhnya menyesalinya. Itu yang membuatnya diam lebih lama dari seharusnya. Suara air dari kamar mandi terdengar samar. Mengalir pelan. Mengisi ruangan dengan ritme yang konstan. Kaiden menatap ke arah pintu itu lagi. Bayangan Aluna muncul di kepalanya—tatapan gadis itu, cara ia mencoba terlihat kuat, dan bagaimana ia tidak mundur meski jelas sedang tidak baik-baik saja. Ia mengusap wajahnya sekali lagi. “Sial…” Kali ini lebih pelan. Lebih berat. Ia tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Setidaknya memastikan gadis itu tidak pergi dengan perasaan lebih hancur dari sebelumnya. Namun, ia juga tahu dunia di luar kamar ini tidak akan menunggu. Beberapa detik berlalu dalam kebimbangan. Dan Kaiden bukan tipe pria yang bisa berlama-lama dalam kondisi seperti itu. Akhirnya, ia berdiri tegak. Keputusan itu tidak terasa benar. Tapi cukup masuk akal untuk saat ini. Ia meraih dompetnya dari meja, membukanya dengan gerakan yang sedikit lebih cepat dari biasanya, lalu menarik satu kartu bank dan satu kartu nama. Ia berjalan ke arah nakas, dan meletakkan kedua benda itu dengan hati-hati. Tatapannya tertahan di sana selama beberapa detik, berharap benda-benda itu bisa menggantikan kehadirannya. Walaupun ia tahu, itu tidak akan pernah cukup. Namun ia berharap gadis bisa menghubunginya di saat dia belum kembali. Kaiden berdiri diam beberapa detik lagi, lalu akhirnya berbalik. Langkahnya menuju pintu tidak tergesa. Namun juga tidak ragu. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu ketika ia berhenti sejenak. Seolah ada sesuatu yang masih menahannya. Ia melirik sekali lagi ke arah kamar mandi. Pintu itu masih tertutup. Dan tanpa ia sadari, rahangnya kembali mengeras. Namun ini bukan karena marah. Lebih karena sesuatu yang belum sempat ia pahami. Akhirnya ia membuka pintu. Udara luar langsung menyambut, membawa kembali realitas yang sempat terputus. Kaiden melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi pelan. Dan kamar itu kembali sunyi. Hanya menyisakan jejak yang tidak terlihat namun terasa. ** Beberapa menit berlalu sejak pintu kamar mandi tertutup, dan ketika akhirnya terbuka kembali, suara engselnya terdengar sedikit lebih nyaring di tengah keheningan yang sudah terlanjur pekat. Aluna melangkah keluar perlahan. Jubah mandi membungkus tubuhnya seadanya, rambutnya masih basah dan meneteskan sisa air yang dingin di tengkuknya. Ia tidak langsung bergerak jauh. Kakinya seperti tertahan di ambang antara ruang kecil itu dan kamar yang tadi terasa begitu penuh dan sekarang terasa kosong. Ia berhenti, mengamati ruangan itu. Alisnya sedikit berkerut, pria itu tak ada lagi di sana. Hanya menyisakan ruang kosong dengan bunyi mesin pendingn sentral. Tidak ada suara langkah. Tidak ada suara napas lain. Bahkan tidak ada tanda-tanda seseorang pernah berdiri di sana beberapa menit yang lalu. Tatapannya langsung menyapu ruangan. Sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan pria itu. Aluna sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi karena dia belum siap berhadapan dengan pria itu. Dia sempat mendengar ketukan suara panggilan pelan di pintu, namun ia abaikan. Ia berendam di dalam bathtub hingga airnya dingin dan membuat tubuhnya gemetar. Senyum kecil terangkat di bibirnya. Tipis. Miring. Dan jelas tidak benar-benar hangat. “Ya, tentu saja,” gumamnya pelan, suaranya hampir terdengar seperti ejekan untuk dirinya sendiri. Ia memalingkan wajah, berjalan beberapa langkah ke arah jendela, lalu berhenti lagi. Tangannya terlipat di depan d**a, bukan karena dingin, tapi lebih seperti refleks untuk menahan sesuatu yang tidak ingin ia rasakan terlalu dalam. Bukankah ini memang yang seharusnya terjadi? Dua orang asing. Satu malam. Selesai. Tidak ada nama. Tidak ada janji. Tidak ada kewajiban. Aluna menghela napas pelan, mencoba mengangguk pada pikirannya sendiri seolah itu cukup untuk menutup semuanya. “Iya… selesai,” bisiknya, lebih pelan dari sebelumnya. Namun entah kenapa, kata itu tidak terasa final. Langkahnya kembali bergerak, tapi lebih lambat, lebih berat, sampai akhirnya matanya menangkap sesuatu di atas nakas. Dua benda kecil. Kontras di atas permukaan kayu yang rapi. Ia berhenti. Menatapnya beberapa detik dari jarak. Lalu mendekat. Satu kartu bank. Satu kartu nama. Aluna memiringkan kepala sedikit, lalu terkekeh pelan—suara itu ringan, tapi ada nada yang sulit diabaikan di baliknya. “Oh… cukup bertanggung jawab juga.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD