Bab 8

1589 Words
Ia mengambil kartu nama itu terlebih dulu, memegangnya di antara jari-jarinya, memperhatikan dengan lebih dekat. Hanya ada nama, satu kata, dan nomor handphone. Kaiden. Tanpa jabatan. Tanpa tambahan yang berusaha menjelaskan siapa dia. Sederhana. Terlalu sederhana untuk seseorang yang jelas bukan pria biasa. “Kaiden…” ulangnya pelan, seolah mencoba merasakan nama itu di lidahnya. Ia mengingat kembali sosok pria itu—cara ia duduk, cara ia bicara, cara ia menatap dengan tenang tapi seolah bisa melihat lebih dalam dari yang ia tunjukkan. Aura yang tidak bisa dibuat-buat. Bukan tipe pria yang bisa kamu temui begitu saja di sembarang tempat. “Kaiden siapa?” gumamnya lagi, kali ini sambil mengangkat alis tipis. Ia menurunkan kartu itu sejenak, lalu melirik kartu bank di sebelahnya. Aluna tertawa kecil lagi. “Klasik banget,” katanya pelan, kali ini dengan nada sedikit lebih sinis. “Pagi-pagi bangun… terus ditinggal sama kartu.” Ia menggeleng pelan, namun tidak membuang kartu itu. Tidak juga menjauhkannya. Sebaliknya, ia justru kembali melihat kartu nama itu lebih lama. Dan di situlah, ia sadar sesuatu yang sedikit mengganggu. Ia tidak sepenuhnya marah. Tidak juga benar-benar tersinggung. Dan itu… aneh. Karena seharusnya ia kesal. Yaa.. setidaknya sedikit kesal karena pria itu meninggalkannya begitu saja. Namun yang ia rasakan justru campuran yang tidak jelas, perasaan kosong, dan juga… penasaran. “Gila,” bisiknya pelan, menatap kartu itu lagi. “Aku bahkan nggak tahu dia siapa.” Dan tetap saja, ia tidak meletakkannya kembali. Tangannya bergerak tanpa banyak berpikir. Kartu itu masuk ke dalam tas kecilnya yang tergeletak di lantai, diikuti oleh kartu bank setelah beberapa detik ragu. Tentu saja dia menyimpannya bukan untuk menggunakan kartu itu nanti. Tapi nalurinya mendorong dirinya menyimpan kartu-kartu itu alih-alih meninggalkannya di sana. Aluna berdiri tegak lagi, menghela napas panjang, lalu menatap kamar itu sekali lagi. Ranjang yang berantakan, tirai yang setengah terbuka, dan cahaya pagi yang terlalu terang, yang tepat jatuh di area tengah ranjang, di mana noda merah itu tergambar jelas di sana. Sepasang mata bulat jernih aluna sedikit berkabut seiring rasa hangat yang perlahan menyebar di dadanya. Semalam terasa begitu dekat dan begitu nyata. Lalu pagi ini… semuanya terasa seperti jarak yang terlalu jauh untuk dijangkau kembali. Ia berjalan ke arah pakaiannya yang tergeletak, memungutnya dan mulai mengenakan satu per satu dengan gerakan yang lebih tenang sekarang. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak lambat—seperti seseorang yang sedang mencoba kembali menjadi versi dirinya yang biasa. Saat menarik resleting tasnya, ia sempat berhenti. Tangannya tertahan di sana, dan pikirannya berputar sejenak. “Ini nggak akan terulang,” gumamnya pelan, lebih seperti janji daripada pernyataan. Ia menghela napas, menutup tasnya, lalu mengangkatnya. “Udah,” katanya lagi, kali ini sedikit lebih tegas. “Cukup.” Seolah dengan mengatakannya dua kali, semuanya akan benar-benar selesai. Aluna melangkah menuju pintu. Ia membuka pintu dan melangkah keluar, tanpa menoleh lagi. Koridor hotel terasa dingin, kontras dengan apa yang baru saja ia tinggalkan. Langkahnya terdengar lebih jelas di lantai yang mengilap, dan setiap langkah itu terasa seperti menjauhkan dirinya sedikit demi sedikit dari malam yang tidak seharusnya terjadi. Namun tanpa ia sadari, yang ia tinggalkan di kamar itu bukan hanya kenangan singkat yang bisa dilupakan begitu saja. *** Rapat itu akhirnya selesai hampir menjelang siang. Pintu ruang meeting terbuka, satu per satu para klien dan petinggi perusahaan dan klien berjalan keluar sambil masih membicarakan angka, proyek, dan strategi kerja sama yang nilainya cukup besar untuk membuat banyak perusahaan rela saling menjatuhkan. Namun Kaiden hanya berdiri di ujung meja panjang itu dengan wajah datar, satu tangan masuk ke saku celana, sementara tangan lainnya membuka kancing jas yang sejak tadi terasa menyesakkan. “Pak Kaiden, draft finalnya akan kami kirim sore ini.” Kaiden mengangguk singkat. “Pastikan revisinya sesuai poin yang saya minta.” “Tentu, Pak.” Ia tidak menunggu percakapan tambahan. Begitu semua orang keluar, Kaiden langsung berjalan menuju ruang kerjanya di lantai atas. Langkahnya tenang seperti biasa, namun ada rasa lelah yang menggantung di bahunya. Pagi itu terlalu panjang. Dan anehnya, bukan rapat besar tadi yang paling menguras pikirannya. Begitu pintu ruangannya tertutup, keheningan langsung menyambut. Ruangan luas bernuansa gelap itu biasanya selalu terasa nyaman baginya. Tempat paling aman untuk berpikir. Tempat di mana semuanya berada dalam kendali. Namun hari ini berbeda. Kaiden melempar map ke atas meja, lalu melonggarkan dasinya kasar sebelum duduk di kursi kerja. Ia memejamkan mata beberapa detik sambil memijat pangkal hidungnya. Dan di saat itulah, wajah itu muncul lagi. Gadis muda dengan mata basah dan senyum pahit di bar, Tubuh hangat yang gemetar di bawah pelukannya semalam. Cara Aluna menatapnya pagi tadi, antara malu, bingung, dan keras kepala. Kaiden membuka mata perlahan. “Sial,” gumamnya pelan. Ia jarang memikirkan sesuatu yang sifatnya sementara dan hanya sesaat seperti itu. Hampir tidak pernah. Hubungan selalu sederhana baginya—jelas, tanpa drama, tanpa keterikatan emosional yang merepotkan. Seperti yang dia alami belakangan ini. Namun yang satu ini berbeda sejak awal. Tangannya bergerak meraih ponsel di meja. Ia menekan nomor asistennya tanpa banyak berpikir. Tak sampai tiga dering, panggilan tersambung. “Ya, Pak?” “Don, balik ke hotel tempat saya menginap tadi malam.” Ada jeda singkat di seberang sana, mungkin terkejut karena Kaiden biasanya tidak pernah menyuruh orang kembali ke hotel hanya untuk urusan pribadi. “Tentu, Pak. Ada yang tertinggal?” Kaiden diam sepersekian detik sebelum menjawab datar, “Cari seorang perempuan.” Kalimat itu membuat Donny makin bingung, tapi pria itu cukup profesional untuk tidak bertanya macam-macam. “Ciri-cirinya, Pak?” Kaiden menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap langit-langit ruangan sejenak sambil mengingat jelas wajah itu. “Masih muda. Rambut panjang hitam. Tingginya sekitar seratus enam puluh lima.” Ia berhenti sebentar. “Cantik.” Jawaban terakhir keluar begitu saja. Dan anehnya, itu justru membuat Kaiden mengembuskan napas pelan sambil tersenyum tipis pada dirinya sendiri. Donny berdeham kecil di ujung sana. “Baik, Pak. Saya cek sekarang.” Kaiden menyebut nomor kamar, sembari menekankan, “Harus ketemu!” Panggilan berakhir. Kaiden meletakkan ponselnya pelan, lalu memutar kursinya menghadap jendela besar di belakang meja. Pemandangan gedung-gedung Jakarta terbentang luas di depannya, sibuk dan penuh ambisi, sama seperti dunia yang selama ini ia bangun dengan tangannya sendiri. Dari nol. Tanpa bantuan siapa pun. Tanpa keluarga besar yang menopang. Tanpa nama belakang yang membuka jalan. Semua yang ia miliki sekarang lahir dari kerja keras dan obsesinya sendiri. Karena itu Kaiden selalu percaya satu hal—ia bisa mengendalikan apa pun selama ia cukup fokus. Tapi semalam, ia kehilangan kendali hanya karena seorang gadis asing menatapnya dengan mata penuh luka. Kaiden terkekeh pelan, nyaris tidak percaya pada dirinya sendiri. “Hebat,” gumamnya sinis. “Sekarang aku malah kepikiran.” Ia menoleh ke meja kerja, tatapannya jatuh pada beberapa dokumen penting yang seharusnya sudah ia baca sejak tadi. Namun pikirannya tetap kembali ke hotel itu. Ke seprai putih bernoda merah. Ke ekspresi terkejut gadis itu pagi tadi. Perawan. Kaiden mengusap rahangnya perlahan. Ia bukan pria suci. Jauh dari itu. Tapi ia juga bukan b@jingan yang sembarangan mempermainkan perempuan, apalagi perempuan yang jelas-jelas belum pernah disentuh siapa pun sebelumnya. Dan yang paling mengganggunya, gadis itu tidak terlihat menyesal berada bersamanya. Ia terlihat bingung. Terluka. Namun bukan menyesal. Seolah semalam bukan hanya kesalahan bagi mereka berdua. Ponselnya kembali bergetar sekitar empat puluh menit kemudian. Nama asistennya muncul di layar. Kaiden langsung mengangkatnya. “Ya?” “Pak… gadis itu sudah tidak ada di hotel.” Kaiden diam, menunggu. Alis tebalnya menyatu, tanda hatinya tidak senang. Donny melanjutkan hati-hati, “Saya sempat tanya resepsionis. Katanya check out sejak tadi pagi.” Tatapan Kaiden sedikit menyipit. “Dan kartu saya?” “Juga tidak ada, Pak.” Hening beberapa detik. Lalu— sudut bibir Kaiden perlahan terangkat. Donny yang menunggu jawaban malah bingung ketika mendengar desahan puas bosnya. “Jadi bagaimana, Pak? Apa selanjutnya yang harus saya lakukan?” Kaiden menyandarkan tubuhnya santai ke kursi, sesuatu yang jarang ia lakukan saat bekerja. “Biarkan saja.” “Maaf?” “Dia ambil kartunya.” Nada suaranya rendah sekarang, nyaris seperti gumaman untuk dirinya sendiri. Kalau gadis itu benar-benar ingin melupakan semuanya, ia pasti sudah membuang kartu itu di tempat sampah hotel. Namun tidak. Ia membawanya pergi. Artinya… setidaknya ada sedikit keraguan untuk benar-benar menghilang. Dan entah kenapa, pemikiran itu membuat da-da Kaiden terasa lebih ringan. “Pak, perlu saya cari identitasnya?” tanya Donny lagi. Kaiden terdiam sejenak. Ia bisa saja melakukannya dengan mudah. Mencari identitas satu perempuan di Jakarta bukan hal sulit bagi seseorang seperti dirinya. Namun akhirnya ia menggeleng dan berkata tegas, “Tidak usah.” “Baik, Pak.” Setelah panggilan berakhir, Kaiden tetap duduk diam beberapa saat. Tatapannya jatuh pada ponselnya sendiri. Di kartu nama itu ada nomor pribadinya. Nomor yang tidak banyak orang punya. Kalau gadis itu menghubunginya, berarti ia memang memilih datang. Bukan karena dipaksa, atau dicari. Dan Kaiden menyukai gagasan itu lebih dari yang seharusnya. Ia terkekeh kecil sambil menggelengkan kepala. “Kamu bahkan nggak tahu namanya,” gumamnya pada diri sendiri. Namun anehnya, itu tidak mengurangi ketertarikannya sedikit pun. Justru misteri itu terasa menggoda. Siapa sebenarnya gadis itu? Kenapa bisa terluka sedalam itu sampai nekat masuk ke bar sendirian? Dan kenapa, di antara semua perempuan yang pernah mendekatinya, justru dia yang berhasil tinggal di kepalanya setelah malam berakhir? Kaiden mengembuskan napas panjang, lalu meraih kembali map kerja di meja. Cukup. Ia sudah terlalu lama terdistraksi. Namun sebelum membuka dokumen itu, matanya kembali melirik ponsel beberapa detik. Kosong. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Dan tanpa sadar, Kaiden tersenyum tipis lagi. “Aku tunggu sampai lo nyerah dan nelepon duluan, nona misterius.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD