Ia menarik napas dalam, lalu menutup laptopnya perlahan. Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, dadanya terasa sedikit lebih ringan. Seolah hidupnya benar-benar mulai bergerak lagi. Bukan tentang masa lalu. Bukan tentang luka. Tapi tentang masa depan. “Gue mulai minggu depan,” katanya pelan. Deasy tersenyum lebar. “Good. Biar lo sibuk, jadi nggak mikirin yang aneh-aneh lagi.” Aluna ikut tersenyum. “Iya…” Namun jauh di dalam dirinya, ada satu hal yang belum ia sadari— langkah yang ia ambil ini bukan sekadar langkah maju. Melainkan sebuah kesempatan untuk kembali menjalin hubungan kekeluargaan dengan saudara-saudara ayahnya. ** Pagi itu, Aluna bangun dengan alarm yang sama, rutinitas yang sama, dan jadwal yang tidak berubah—bimbingan tesis, revisi, membaca jurnal, d

