Aluna tersentak kaget.
Rupanya tanpa sengaja tangannya yang gemetaran menyenggol pajangan keramik mahal di meja samping pintu.
Seketika gerakan liar dua sosok di dalam kamar terhenti dan Fandy yang berdiri dengan posisi membungkuk di atas tubuh Sofia menoleh ke pintu.
Wajahnya berubah pucat. Sudah pasti kaget dan panik.
Seketika penyatuan kedua manusia yang sedang mengejar kepuasan syahwat itu terlepas.
“Aluna—”
Nama itu keluar dari bibir sang pria dengan nada yang tidak pernah Aluna dengar sebelumnya.
Suara Fandy bergetar, ketakutan.
Sementara perempuan yang sedang menungging membelakangi pintu itu terlambat menyadari apa yang terjadi. Aluna melihat tubuh polosnya sebelum wanita itu
buru-buru menutupi tubuhnya dengan selimut.
Namun bagi Aluna… semua itu sudah tidak penting. Karena yang ia lihat sudah cukup.
Lebih dari cukup.
“Ini nggak seperti yang kamu pikirkan, Luna,”
Kalimat itu… kalimat yang begitu klise. Begitu sering ia dengar dalam cerita orang lain. Dan sekarang, dia sendiri yang mengalaminya.
“Lalu ini apa, Fandy? Kalian hanya sedang main garuk-garukan bagian tubuh kalian yang kegatelan?”
Aluna berdiri di sana dengan berani. Bukan lagi gadis yang membeku di pintu. Melainkan seseorang yang dipenuhi amarah dan luka.
Fandy mendekatinya dengan tergesa. Dia bahkan tidak malu telanjang di depan Aluna, yang menatap tubuh polosnya dengan ngeri dan jijik.
“Sayang, dengerin aku dulu,” Fandy berusaha membujuk.
“Jangan sentuh aku!”
Aluna mengibaskan tangannya, lalu mundur dua langkah saat pria itu mendekat. Ia merasa jijik mengingat bagaimana benda panjang yang menggantung di antara paha pria itu tadi bergerak cepat memasuki Sofia.
Tapi amarah juga menyesakkan dadanya.
“Aku datang ke sini…” suaranya mulai pecah, “aku mau kasih kamu kejutan, tapi malah aku yang dapat kejutan,” Tawanya keluar, pahit.
Fandy mengusap wajahnya kasar, jelas gelisah. “Aluna, dengar dulu. Itu cuma—”
“Cuma apa?” potong Aluna cepat. “Cuma kesalahan?” lanjut Aluna. “Cuma kebetulan?”
Fandy menghela napas panjang. Dan di saat itulah semuanya berubah. Ekspresi paniknya perlahan menghilang. Digantikan sesuatu yang lain.
Defensif.
“Ya terus aku harus gimana, Lun?” katanya tiba-tiba.
Nada suaranya berubah. Tidak lagi memohon. Tapi menekan.
Aluna terdiam.
“Aku juga punya kebutuhan,” lanjut Fandy. “Aku cowok. Aku normal.”
Kata-kata itu terasa seperti tamparan.
“Apa maksud kamu?” suara Aluna mengecil, tapi tajam.
Fandy menatapnya. Dan tanpa ragu… ia mengatakan hal yang tidak pernah Aluna bayangkan.
“Kamu yang terlalu kaku. Nggak ngerti apa yang aku butuhkan.””
Dunia Aluna terasa berhenti lagi.
“Kamu selalu nolak,” lanjutnya. “Selalu bilang belum siap, belum waktunya, ini itu—”
Setiap kata seperti pisau yang merobek dadanya perlahan, sangat menyakitkan.
“Aku capek, Lun.”
Aluna tidak bergerak. Bibirnya terkatup rapat. Tidak ada niat
membela diri. Bukan karena ia tidak bisa. Tapi karena ia tidak pernah menyangka… dirinya justru akan disalahkan seperti ini.
“Jadi ini salah aku?” bisiknya pelan.
Fandy tidak menjawab langsung. Namun diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
Air mata Aluna akhirnya jatuh. Bukan karena ia lemah. Tapi karena hatinya benar-benar hancur. Mereka yang berselingkuh di belakangnya, dan semua kesalahan ditimpakan padanya.
‘Apa mereka mengira aku sedemikianbodoh?’
Tangan Aluna mengepal kuat. Harga dirinya membuatnya tetap bisa berdiri tegak, dan menatap kedua pengkhianat itu tanpa gentar.
Ia mengangguk pelan, dan menatap pria itu di balik air mata, mengeraskan hati.
“Baik! Malam ini juga kita PUTUS!” katanya tegas.
Aluna berbalik, tidak mempedulikan Fandy yang berusaha menahannya. Dengan langkah cepat, hampir berlari, Aluna menuruni tangga. Ia tidak melihat ke belakang, tidak peduli dengan apa pun lagi. Yang ia tahu hanya satu, ia harus keluar dari sana.
Sekarang.
Dia masuk ke lift yang membawanya ke lobi. Langkahnya keluar dari gedung apartemen agak goyah, namun ia berusaha bertahan.
Malam di luar terasa dingin. Angin menyapu wajahnya, tapi tidak cukup untuk mengeringkan air mata yang terus jatuh.
Langkahnya tidak terarah. Namun ia terus berjalan langkah demi langkah, seolah jika ia berhenti, semuanya akan runtuh sepenuhnya.
Malam itu… yang seharusnya menjadi momen bahagia, justru menjadi titik terhancur dalam hidupnya.
Dan Aluna tahu… tidak ada yang akan sama lagi setelah ini.
***
Aluna sampai di unit apartemen lain, di kawasan yang lebih sederhana.
Pintu apartemen itu tertutup pelan di belakangnya.
Bunyi pintu tertutup menggema lebih keras dari yang seharusnya.
Ia berdiri di sana beberapa detik, diam, kosong, seolah tubuhnya baru saja kehilangan arah.
Gelap melingkupinya, dan kesunyian muram menyelimuti.
Dan untuk pertama kalinya… ia menyadari tempat ini bukan lagi ruang nyaman, melainkan ruang kosong yang membuat dadanya semakin sesak.
Ia melangkah pelan ke dalam. Tasnya jatuh begitu saja di dekat sofa, tanpa ia pedulikan. Sepatunya ia lepaskan asal. Langkahnya goyah saat menuju ruang tengah.
Lampu masih belum ia nyalakan. Ia tidak ingin melihat apa pun.
Akhirnya, Aluna berhenti. Lalu perlahan ia jatuh terduduk di lantai. Punggungnya bersandar pada dinding. Kepalanya tertunduk, dan di situlah semuanya kembali pecah.
Tangisnya kembali meledak tanpa suara. Hanya bahu yang bergetar, napas yang tersengal, dan da-da yang terasa terlalu sesak untuk menampung semuanya.
Beberapa detik kemudian— suara itu muncul. Isakan yang tidak bisa lagi ia tahan, seiring air mata mengalir deras, membasahi pipinya, jatuh ke tangannya yang kini menggenggam ujung bajunya erat.
Ia sendirian di sana, tidak ada yang berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Hanya dirinya. Dan rasa sakit yang perlahan… menggerogoti.
“Aku juga punya kebutuhan. Aku cowok. Aku normal.”
Suara itu terngiang kembali.
Aluna menutup telinganya dengan kedua tangan, seolah itu bisa menghentikan suara-suara itu. Namun tidak, suara itu terus berdengung di dalam kepalanya.
“Kamu yang terlalu kaku.”
“Nggak ngerti apa yang aku butuhkan.”
Ia menggeleng pelan, "Berhenti…” bisiknya lirih, hampir tidak terdengar.
Namun suara-suara itu tidak berhenti. Justru semakin keras dan semakin menyakitkan.
Aluna mengangkat wajahnya, menatap kosong ke depan. Matanya sudah memerah, basah dan bengkak, namun rasa sakit yang menghujam dadanya tak juga berkurang.
Pikirannya penuh pertanyaan-pertanyaan.
Apa memang aku yang salah…?
Apakah selama ini aku terlalu keras? Terlalu menjaga diri? Terlalu percaya kalau cinta itu cukup dengan perasaan saja?
Napas Aluna tersendat. Tangannya mencengkeram bajunya lebih kuat.
Ia tidak hanya kehilangan Fandy malam ini. Ia kehilangan sesuatu yang lebih dalam,
rasa percaya diri dan keyakinannya. Dia pikir mereka mampu terus menjaga kesucian hubungan mereka hingga ke jenjang pernikahan. Namun ternyata Fandy sama saja dengan beberapa orang teman yang kebablasan.
Aluna memeluk lututnya. Tubuhnya meringkuk di sudut ruangan.
Kalau memang aku salah… kenapa rasanya sakit sekali?
Air matanya jatuh lagi. Ia tidak tahu harus menyalahkan siapa.
Fandy?
Dirinya sendiri?
Atau… konsep cinta yang selama ini ia yakini?
Ia selalu berpikir bahwa menjaga batas adalah hal yang benar. Bahwa menghargai diri sendiri adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar. Namun malam ini… semua itu terasa goyah.
Apa cinta memang harus seperti itu…?
Apakah aku harus berubah… supaya bisa dipertahankan?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat dadanya semakin sesak. Ia menggigit bibirnya keras, mencoba menahan tangis yang kembali membuncah. Namun percuma, semuanya sudah terlalu penuh.
Ponselnya bergetar tiba-tiba. Suara itu memecah keheningan.
Aluna tidak langsung meraihnya. Ia hanya menatap layar yang menyala samar di dekat tasnya. Nama yang muncul membuat dadanya kembali terasa berat.
Deasy, sahabatnya yang tadi masih tertawa bersamanya. Yang sekarang pasti sedang penasaran.
Aluna menutup mata. Ia tahu kenapa Deasy menelepon. Dia pasti ingin tahu bagaimana kejutannya.
Hal-hal yang tadi terasa manis… kini berubah menjadi luka.
Ponsel itu terus bergetar tanpa henti. Tentu saja, Deasy tidak akan berhenti hingga mendengar suaranya.
Setelah panggilan ketiga, Aluna akhirnya meraih ponsel itu dengan tangan gemetar.
Ia menatap layar itu beberapa detik, lalu menggeser tombol jawab.
“Halo…” suaranya pelan. Serak. Hampir tidak terdengar seperti dirinya sendiri.
“Lunaaa!” suara ceria Deasy langsung menyapa gendang telinganya. “Gimana? Gimana? Jadi kan kejutannya? Aku tungguin dari tadi lho kabarnya? Jangan-jangan kalian keasyikan sampai lupa diri?”
Aluna menutup mata. Tangannya mencengkeram ponsel lebih erat.
'Jangan nangis, Luna. Jangan sekarang.' dia berbisik dalam hati, menguatkan dirinya.
"Luna... Cerita dong!" Deasy tak sabar.
“Hmm… Des...” Aluna bingung harus menjawab apa.
Deasy malahan tertawa kecil di seberang sana.
“Wih, suaranya beda nih. Pasti lagi romantis ya? Lagi masak sambil dipeluk dari belakang?”
Setiap kata itu… seperti menusuk langsung ke hatinya.
Aluna menggigit bibirnya. Air matanya kembali jatuh.
“Luna? Kamu masih di situ kan?”
“Iya…” jawabnya cepat, meski suaranya bergetar.
“Eh, serius deh. Gimana reaksinya Fandy? Kaget nggak? Dia langsung cium kamu, kan?”
Aluna terdiam. Lidahnya semakin kelu, sulit berkata-kata. Namun ujung bibir tipisnya bergerak ke atas, membentuk senyum sinis.
Fandy kaget?
Tentu saja, sangat kaget malah. Namun bukan seperti yang Deasy bayangkan.
"Luna... Cerita dong, jangan bikin aku mati penasaran."
Aluna tak bisa diam terus. Dia harus cerita.
“Dia…”
Suara Aluna terhenti. Tenggorokannya terasa kering. Ia tidak kuat. Tidak sanggup mengucapkannya.
“Dia kenapa?” tanya Deasy, mulai curiga.
Aluna menggeleng, meski Deasy tidak bisa melihatnya.
“Enggak… nggak apa-apa,” katanya akhirnya, cepat.
Dia tidak mengatakannya sekarang. Dia belum siap menghadapi reaksi sahabatnya yang selalu peduli ini.
“Luna…” suara Deasy berubah. Lebih pelan, dan berubah serius. “Kamu nangis?”
Aluna langsung menutup mulutnya.
Sial. Ia tidak bisa menyembunyikannya.
Napasnya tidak stabil dan pasti kedengaran di ujung sana.
“Aku—” ia mencoba bicara, tapi gagal.
Air matanya jatuh lagi. Ia tidak kuat. Namun tetap, ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.
“Aku cuma capek…” akhirnya ia berbohong lagi.
Deasy diam beberapa detik, seolah mencoba membaca sesuatu di balik suara itu.
“Yakin?”
Aluna mengangguk, meski lagi-lagi tidak terlihat.
“Iya…”
Hening sejenak, pasti Deasy bertanya-tanya. Namun kemudian terdengar suaranya melembut.
“Ya udah… kalau kamu capek, istirahat ya. Besok kita ketemu di kampus. Ceritain semuanya.”
Aluna menelan ludah.
“Iya…”
“Kalau ada apa-apa, jangan dipendem sendiri, Lun.”
Kalimat itu hampir membuat Aluna menyerah. Tapi ia mengatupkan bibir kuat-kuat, menahan diri.
Dia hanya menjawab dengan gumaman. “Hmm…”
“Good night ya.”
“Iya…”
Panggilan itu berakhir.
Dan begitu layar ponsel kembali gelap, Aluna menjatuhkan benda itu ke lantai. Seketika tangisnya pecah lagi. Semakin membuat dadanya sesak.
*