Bab 3

1412 Words
Malam semakin larut, Aluna tidak tidur. Ia tetap di sana, duduk di lantai dalam kegelapan. Dengan pikiran yang tidak berhenti berputar. Entah berapa lama dia di sana, hingga suara dering ponsel yang tak henti menyeretnya ke kesadaran akan keberadaannya di lantai yang dingin dan membuatnya menggigil. Suara ringtone spesial itu sangat ia kenal, hanya satu orang yang ia tandai dengan ringtone itu. Ponsel itu terus berbunyi, berkali-kali tanpa jeda. Nama yang sama terus muncul di layar. Fandy. Aluna menatap tanpa ekspresi. Layar ponselnya berkedip-kedip dalam gelap ruangan itu, seolah memanggilnya untuk peduli. Namun tidak ada yang tersisa untuk dipedulikan. Pesan masuk bertubi-tubi. Lun, maafin aku… Aku bisa jelasin semuanya… Kita ketemu ya, jangan kayak gini… Please angkat teleponnya… Aluna tertawa pelan. Namun suaranya begitu hampa dan lelah. Setelah semua yang terjadi, Fandy masih berani mengiriminya pesan seperti itu. Menjelaskan? Apa lagi yang perlu dijelaskan? Ia sudah melihat semuanya dengan mata kepala sendiri. Bahkan lelaki itu juga sudah mengatakan alasannya dengan gamblang. Dia mendengar semua yang dikatakannya dengan hati yang kini terasa seperti diremas tanpa ampun. Ponsel itu kembali bergetar. Aluna akhirnya meraihnya. Bukan untuk menjawab, tapi untuk membaca. Pesan terakhir membuat sudut bibirnya terangkat tipis—senyum yang pahit. Aku butuh kamu, Lun. Fandy butuh dirinya, bukan cinta, bukan rindu. Hanya butuh. Kata itu terasa menjijikkan. Fandy hanya butuh cewek untuk melayaninya di atas ranjang, memenuhi kebutuhannya yang katanya normal. Jadi dia ditinggalkan karena tidak bisa memenuhi kebutuhan yang satu itu. Semua pengorbanannya tidak berarti apa-apa bagi cowok itu. Semua yang sudah dia berikan, yang dia lakukan tanpa pamrih, tidak ada artinya dibanding tubuh cewek murahan yang mau diseret ke atas ranjang. Tiba-tiba, semua potongan kenyataan mulai tersusun dengan jelas di kepalanya. Apartemen Griya Tawang yang sekarang ditempati Fandy, tempatnya memergoki perbuatan mesumnya bersama Sofia. Unit itu bukan milik pria itu. Itu hadiah dari ayah Aluna, saat dia baru masuk kuliah, dibelikan atas nama Aluna. Fandy menempati unit mewah itu, dengan alasan sederhana, agar terlihat “bonafid” di kantornya. Agar terlihat mapan, dan lebih dihormati. Dan Aluna, dengan bodohnya menyetujui. Bahkan tanpa banyak bertanya. Begitu juga dengan mobilnya, itu juga hadiah dari ayahnya, yang mungkin karena rasa bersalah, selama bertahun-tahun hanya membiarkan Aluna di bawah pengasuhan ibunya, memberikannya semua fasilitas itu. Ia bahkan tidak tahu sejak kapan mobilnya lebih sering dipakai Fandy daripada dirinya sendiri. Ia rela naik taksi atau ojek ke kampus, ke mana-mana. Sementara pria itu dengan santai membawa mobilnya, seolah itu memang miliknya. Aluna mengedarkan pandangannya ke sekeliling apartemen kecil milik Fandy yang kini ia tempati. Tempat ini sempit, tidak nyaman. Jauh dari kata layak dibandingkan unit Griya Tawang miliknya. Dan tiba-tiba… tempat ini terasa seperti ejekan. Seolah semua dindingnya berbisik, lihat betapa bodohnya kamu. Napas Aluna terasa berat. Dadanya sesak. Bukan hanya karena pengkhianatan, tapi karena kesadaran. Ia tidak hanya dikhianati, tapi dimanfaatkan. Dan yang lebih menyakitkan, ia membiarkan itu terjadi dengan kesadaran penuh. Karena dia mencintai Fandy, dan tidak ingin kekasihnya diremehkan. Aluna berpikir, kalau mencintai, harus mau berkorban. Ponsel itu berdering lagi. Masih nama pria itu. Kali ini, Aluna tidak ragu. Ia mematikan ponsel itu. Layar menjadi gelap. Sunyi kembali mengisi ruangan. Namun pikirannya tidak ikut diam, justru semakin bising. Aku ini apa sih sebenarnya? Pertanyaan itu muncul pelan, namun menekan. Apakah selama ini aku memang cuma alat bagi Fandy? Seseorang yang dengan sukarela mau dimanfaatkan, dan tetap ditahan di sisinya selama masih berguna? Air mata aluna tidak lagi jatuh deras seperti sebelumnya. Kini yang tersisa hanya rasa kosong, hampa. Dan itu… jauh lebih menakutkan. Aluna berdiri tiba-tiba. Ia tidak tahan lagi. Jika ia tetap di sini, ia akan tenggelam. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil tasnya dan cepat-cepat melangkah keluar. Dan dalam waktu singkat, ia sudah berada di luar gedung apartemen, berdiri linglung di trotoar. Udara malam langsung menyambutnya, dingin, namun tidak cukup untuk meredakan kekacauan di dalam dirinya. Aluna berjalan, tanpa tujuan, tanpa arah. Ia hanya mengikuti langkahnya sendiri. Lampu kota berpendar di sepanjang jalan. Kendaraan berlalu-lalang. Dan orang-orang masih sibuk dengan kehidupan mereka. Mereka tertawa, berbicara dengan wajah ceria, bahkan ada yang bergandengan tangan, berjalan beriringan. Semua tampak hidup. Sementara dirinya sendirian, kosong dan nyaris remuk. Kontras itu terasa menyakitkan, seolah dunia tidak peduli dengan apa yang baru saja hancur dalam hidupnya. Dan mungkin memang begitu, tidak ada yang benar-benar peduli. Langkah Aluna terus berlanjut. Ia tidak tahu sudah berjalan sejauh apa. Sampai akhirnya… ia berhenti. Di depan sebuah tempat, dengan lampu neon menyala redup, dan suara musik terdengar samar dari dalam. Sebuah bar. Aluna menatap ke arah pintu masuk, ragu. Ini bukan tempatnya, bukan dunia yang ia kenal. Ia bukan tipe orang yang datang ke tempat seperti ini. Ia tidak minum, tidak suka keramaian seperti itu, karena ia tidak nyaman dengan suasana yang terlalu bebas. Namun malam ini hidupnya tak lagi sama. Ia tidak ingin lagi menjadi dirinya yang biasa. Dirinya yang “benar”, yang terus “menjaga”, namun pada akhirnya tetap ditinggalkan. Aluna menghela napas dalam-dalam, lalu menghembuskan perlahan. Dalam beberapa detik, ia mengambil keputusan. Tanpa berpikir lagi, ia melangkah masuk. Suara musik langsung menyambutnya. Lampu redup berwarna keemasan dan merah memenuhi ruangan. Aroma alkohol bercampur parfum tajam menusuk indra penciumannya. Semua terasa asing. Namun anehnya, tidak sepenuhnya menolak. Aluna berdiri beberapa detik di dekat pintu. Matanya mengamati sekeliling ruangan itu. Orang-orang tertawa di meja mereka. Beberapa pasangan duduk terlalu dekat. Ada yang menari, dan ada yang hanya menikmati minuman. Dunia yang selama ini ia hindari, kini terasa seperti tempat pelarian yang paling tepat. Ia berjalan pelan lebih ke dalam, dan duduk di sebuah kursi tinggi di dekat bar. Seorang bartender mendekat. “Mau pesan apa, Nona?” Aluna terdiam sejenak. Ia bahkan tidak tahu harus memesan apa. “Yang… ringan aja,” jawabnya ragu. Bartender itu mengangguk, lalu mulai meracik sesuatu. Beberapa menit kemudian, sebuah gelas diletakkan di depannya. Cairan didalam gelas itu berwarna cantik keemasan. Terlihat tidak berbahaya. Aluna menatapnya beberapa detik, lalu perlahan ia mengangkat gelas itu dan meneguk sedikit. Pahit. Rasa itu langsung menyebar di lidahnya. Ia sedikit meringis. Namun setelah beberapa detik kemudian, ia menelan. Terasa aneh, namun rasa pahit itu tidak seburuk yang ia kira. Bahkan, lebih ringan dibandingkan yang ia rasakan di dalam hatinya. Ia meneguk lagi. Sedikit lebih banyak. Hangat mulai menjalar di tubuhnya. Bukan rasa hangat yang menenangkan, tapi cukup untuk membuat pikirannya sedikit teralihkan. Aluna menyandarkan tubuhnya. Matanya mulai memperhatikan sekitar, mencoba menikmati suasana. “Sendirian?” Suara tiba-tiba itu membuat Aluna menoleh. Seorang pria berdiri di sampingnya. Matanya sedikit merah. Senyumnya terlalu santai. Dan terlihat jelas, ia sudah mabuk. “Bukan urusanmu!” jawab Aluna ketus, tidak ingin diganggu. Pria itu tertawa kecil. “Cantik-cantik tapi sendirian di sini… sayang banget.” Aluna tidak menjawab. Ia kembali menatap gelasnya. Namun pria itu tidak pergi. “Boleh duduk di sini?” tanyanya. Ia tidak benar-benar butuh jawaban, karena sebelum sudah duduk di sebelahnya. Aluna menarik napas pelan. Ia tidak siap menghadapi gangguan seperti ini, yang membuatnya tidak nyaman. Namun Aluna tidak ingin pergi. Tidak sebelum dirinya merasa lebih tenang. “Lagi galau ya?” lanjut pria itu. Aluna melirik sekilas. “Apa terlalu kelihatan?” “Lumayan,” jawabnya santai. “Biasanya yang sendirian di sini… lagi ada masalah.” Aluna tersenyum tipis. Ironis. “Mungkin.” Pria itu mendekat sedikit. “Kalau butuh teman…” “Enggak perlu,” potong Aluna cepat. Nada suaranya tidak kasar, namun cukup tegas. Pria itu terdiam sejenak. Lalu mengangkat bahu. “Kamu yang rugi.” Ia lalu berdiri dan pergi. ‘Duh, untung saja…’ Aluna menghela napas lega. Pria tadi sudah mabuk, tapi sepertinya otaknya masih cukup waras. Namun tidak lama, dua pria lain muncul. Kali ini lebih berisik dan sepertinya lebih berani. Jari-jari tangan Aluna meringkuk waspada. “Hei, boleh kenalan?” salah satu dari mereka berkata. Aluna menoleh, menatap mereka datar. Segera ia menyadari sesuatu, tatapan mereka, dan cara mereka melihatnya menandakan mereka bukan hanya menghampiri untuk berbasa-basi seperti pria sebelumnya. Mereka sudah menandai dirinya sebagai target buruan. Tentu saja, gadis dengan kecantikan polos di tempat seperti ini sangat menarik perhatian. Aluna tahu, dirinya menarik, namun ia tidak pernah benar-benar memanfaatkannya. Ia selalu menjaga dirinya. Selalu memberi batas dalam pergaulannya dan selalu menjadi gadis “baik”. Dan hasilnya? Ia tetap disakiti, tetap ditinggalkan. Bayangan kekasihnya yang bergelut panas dengan teman kuliahnya di unit griya tawang miliknya kembali meremas jantungnya. Aluna mengabaikan kedua pria yang masih berdiri di belakangnya dan menyodorkan gelasnya ke arah bartender. “Aku mau yang sedikit lebih berat.” ”Baik, Nona!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD