Bab 4

1702 Words
Aluna mengangkat gelas yang baru diisi itu dengan sedikit ragu. Cairan di dalamnya masih berwarna indah, namun menipu. Ia menarik napas pelan, lalu meneguknya. Isi gelas itu melewati tenggorokannya dalam beberapa tegukan. Dua detik kemudian, rasa panas dan pahit itu langsung membakar tenggorokannya, turun perlahan ke dalam, meninggalkan sensasi yang lebih tidak nyaman dari minuman sebelumnya… tapi anehnya justru ia butuhkan. Aluna memejamkan mata sejenak, menahan reaksi tubuhnya. Napasnya keluar pelan. Dan untuk sesaat, rasa itu berhasil menutupi sesuatu yang lain, rasa sakit karena pengkhianatan. Kata-kata Fandy dan Sofia terus berputar di kepalanya. Aluna kembali menggeser gelas. “Lagi, lebih berat.” Kali ini lebih berani, seolah semakin pahit, semakin baik. Begitu permintaannya dipenuhi, Aluna bersiap meminumnya. Dia mendekatkan gelas itu ke bibirnya. “Pelan-pelan,” Terdengar suara bartender di depannya, memperingatkan. “Itu bukan air putih, Nona,” Aluna membuka mata, menatap pria di balik meja itu. “Kalau cepat habis… efeknya juga cepat kan?” balasnya pelan. Bartender itu mengangkat alis, sedikit terkejut. “Bisa jadi,” katanya. “Tapi biasanya yang buru-buru… justru yang paling lama ngerasain efeknya.” Aluna tersenyum tipis. Ironis. “Aku nggak masalah kalau lama,” gumamnya. “Yang penting… berhenti mikir dulu.” Bartender itu menatap Aluna beberapa detik, lalu mengangguk kecil. “Terserah kamu, Nona. Tapi kalau ini pertama buat kamu, minumnya perlahan-lahan saja.” Aluna menanggapi dengan senyum lelah. Kedua lelaki tadi duduk di sisi kiri dan kanan Aluna, menatap gadis itu penuh minat. Aluna tidak peduli. Ia kembali menatap gelasnya, lalu meneguk lagi. Tidak banyak. Ia menuruti saran bartender yang pastinya sudah berpengalaman menghadapi berbagai gaya dan perilaku pelanggan bar ini. Di sisi lain ruangan, seorang pria lain duduk sendirian. Dia adalah Kaiden Trayanda. Aura pria itu berbeda. Ia tidak bergabung dengan pengunjung lain dan menjadi bagian dari keramaian. Namun justru karena itu… kehadirannya sulit diabaikan. Kemeja hitamnya sedikit terbuka di bagian atas, dengan lengan digulung rapi. Rahangnya tegas, dan tatapannya tajam, tetap terlihat sebagai pria yang terbiasa mengendalikan segalanya. Gelas di tangannya hampir kosong. Ia memutarnya perlahan, memperhatikan sisa cairan di dalamnya. Ini sudah gelas yang kesekian, dan tidak berniat menambah minuman. Ia tidak benar-benar ingin mabuk. Ia hanya ingin… melupakan sesuatu yang menghantam pikirannya. “Sendirian aja, Mas?” Suara manja memecah keheningan di mejanya. Seorang wanita berdiri di sampingnya, tubuhnya condong sedikit, sengaja mendekat. Kaiden tidak langsung menoleh. Ia tetap memutar gelasnya. “Boleh aku temani?” lanjut wanita itu. Kaiden akhirnya mengangkat pandangannya. Tatapannya dingin. “Pergi!” Satu kata. Datar. Wanita itu terdiam sesaat, jelas tidak menyangka akan langsung ditolak. Namun dia sedang menoba peruntungannya malam ini, dan pria ini kelihatan berdompet tebal. “Yakin, Mas?” ia mencoba lagi, tersenyum lebih lebar. “Aku nggak gigit kok. Aku bisa berbagai macam gaya, dan nggak keberatan diajak mencoba hal-hal baru.” Kaiden melempar pandangan bosan. “Pergi!” Kaiden mulai tak sabar. Rahangnya mengeras dan sorot mata kelamnya sedingin salju kutub. Cukup untuk membuat senyum wanita itu memudar. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan pergi. Kaiden kembali pada gelasnya. Seolah tidak terjadi apa-apa. Di sisi lain, Aluna sudah menghabiskan gelas ketiganya. Wajahnya sudah merah, kepalanya terasa ringan dan pikirannya mulai kabur. Tapi ia belum ingin meninggalkan tempat itu. “Tambah lagi?” tanya bartender. Aluna menatapnya beberapa detik. Lalu mengangguk. “Boleh…” Bartender itu menuangkan minuman baru. Aluna memperhatikannya. Gerakan itu terasa lambat. Atau mungkin… dirinya yang mulai lambat. “Biasanya… orang ke sini buat senang-senang ya?” tanya Aluna tiba-tiba. Bartender itu tersenyum kecil. “Macem-macem.” “Kalau aku…” Aluna tertawa pelan, suaranya sedikit serak. “Aku ke sini buat lupa.” Bartender itu mengangguk. “Sering kok yang kayak gitu.” Aluna mengangkat gelasnya lagi. “Berarti aku nggak aneh ya?” “Enggak,” jawabnya ringan. “Cuma… hati-hati aja.” Aluna tersenyum. Namun senyum itu tidak sampai ke matanya. Sementara itu Kaiden masih di kursinya, tatapannya bergerak tanpa tujuan. Sampai akhirnya… berhenti. Di satu titik. Seorang gadis yang entah kenapa, menarik perhatiannya. Aluna. Sejenak tatapan mereka bertemu. Dan waktu terasa melambat. Aluna tidak tahu kenapa ia tidak langsung mengalihkan pandangannya. Seolah ada sesuatu dalam diri pria itu yang menahan pandangannya di sana. Ketenangannya terasa berbahaya, namun justru itu yang membuatnya sulit berpaling. Jantung Aluna berdetak lebih cepat. Entah karena alkohol, atau karena sesuatu yang lain. Di sisi lain, Kaiden juga terus memperhatikan Aluna. Gadis itu minum seperti orang kesurupan, namun kelihatan jelas tidak menikmatinya. Ia kelihatan tersiksa saat minuman itu berpindah dari gelas ke tenggorokannya. Mata terlatih Kaiden menangkap gelagat yang tidak normal. Gadis itu ada di sana untuk melarikan diri, bukan untuk tujuan tertentu yang biasanya membawa seorang gadis muda masuk ke tempat seperti ini. Ia bisa melihatnya dari cara gadis itu memegang gelas lalu meneguk terlalu cepat. Matanya kosong. Dan di balik itu, ada sesuatu yang kontras, kepolosan yang tidak cocok di tempat seperti ini, dan luka yang bahkan tidak sepenuhnya ia sembunyikan. Kaiden menyipitkan mata. Ia tertarik, tanpa alasan yang jelas. “Mas, minum lagi dong, aku traktir.” Suara lain kembali mengganggunya. Kali ini dua wanita sekaligus. Salah satunya bahkan sudah duduk di dekatnya tanpa izin. Tangannya hampir menyentuh lengan Kaiden. Namun sebelum itu terjadi, Kaiden berdiri. Kursinya bergeser kasar. “Pergi!” Keduanya terkejut. “Pergi! Atau kalian akan menyesal.” Tatapan dingin Kaiden membuat wanita itu langsung menarik tangannya. “Ya udah… galak amat,” gumam salah satu dari mereka sebelum pergi. Kaiden tidak peduli. Ia kembali duduk, dan tatapannya kembali ke arah yang sama, gadis muda itu. Dia masih di sana, dengan gelas di tangannya. Dengan dunia yang terasa mulai berputar sedikit lebih lambat. Tatapan mereka kembali bertemu. Aluna yang mulai terseret dalam pusaran efek alkohol menatap dengan mata sayu. Pria itu juga terus menatapnya. Aluna menggerakkan bibirnya, tersenyum pada pria itu. Namun… “Akh!” Aluna memekik tiba-tiba. Senyumnya bahkan belum terbentuk sempurna, tapi seseorang telah mencengkeram kuat pergelangan tangannya. Cengkeramannya tidak terlalu kuat, namun cukup membuatnya tersentak kaget. Salah seorang dari kedua pria yang tadi menghampirinya telah kembali berdiri di sampingnya. “Ayo kita bersenang-senang, cantik!” kata pria itu dengan senyum nakal. Matanya yang langsung menjelajahi tubuh Aluna lebih merah dari sebelumnya. Dan bau alkohol yang menguar dari mulutnya lebih menyengat. Penampilannya berantakan, jelas sudah terlalu mabuk untuk memahami batas. “Lepasin…” Aluna mencoba menarik tangannya. Namun pria itu malah tertawa. “Ah, jangan berpura-pura jual mahal, Nona. Aku tahu apa yang kau cari di sini,” “Lepasin… Tolong…” Aluna terus berusaha melepaskan diri. Suaranya lemah, memohon. Namun pria itu tidak peduli. Justru ia tertawa bersama temannya yang ikut bergabung. Mereka masing-masing memegang kedua lengannya, mengurungnya. “Tolong…” Aluna menoleh ke pria dengan sorot mata dingin yang tadi bertatapan dengannya, namun, pria itu sudah tidak berada di kursinya. Aluna semakin panik, tidak menyadari pria itu justru sudah berjalan mendekati mereka. Lalu tanpa peringatan, hanya satu gerakan, dorongan keras di bahu, kedua pria itu sudah terhuyung ke belakang. Cengkeraman mereka di lengan Aluna terlepas. Salah seorang dari kedua pria itu kehilangan keseimbangan dan terjerembab ke lantai. Sementara yang seorang lagi segera berpegangan pada meja dan menatap orang yang mendorong mereka. “Eh.. Siapa?”tatapannya bertemu dengan mata dingin Kaiden, semuanya berubah. Ekspresinya membeku. “Oh.. Maaf.. maaf, Bro.” Kemarahannya menghilang seperti tersapu angin. Lalu bergegas menjauh diikuti temannya, yang ketakutan. Aluna masih terdiam. Tangannya perlahan kembali ke pangkuannya. Matanya beralih ke pria yang sekarang berdiri tegak di hadapannya. Dia pria yang sejak tadi bertemu pandang dengannya. Dalam jarak sedekat ini, Aluna bisa melihat wajahnya yang tampan, sekalipun agak buram karena pengaruh alkohol yang semakin menguat. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Bukan karena takut, tapi karena kesadaran akan detail kecil yang sebelumnya tidak ia lihat. Ada aroma samar yang maskulin, garis rahang yang tegas, dan napas yang tenang namun berat. Kehadirannya terlalu nyata, terlalu dekat. “Tempat ini bukan untuk kamu.” Suara Kaiden rendah dan tenang. Aluna mengernyit, sedikit tersinggung. “Kenapa?” balasnya, suaranya sedikit serak karena alkohol. “Karena aku kelihatan ‘nggak cocok’?” Kaiden tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya beberapa detik. Seolah menilai. “Karena kamu kelihatan… tidak ingin ada di sini.” Jawaban itu membuat Aluna terdiam. Ada sesuatu yang tidak bisa ia bantah. Namun tetap, ia tidak mau kalah. “Terus kenapa kamu di sini?” tanya Aluna balik. Kali ini, Kaiden yang diam. Sejenak. Lalu sudut bibirnya bergerak tipis. “Alasan yang sama.” Jawaban itu membuat aluna tertawa, alih-alih menyuruh pria itu pergi. Bagaimanapun, pria itu sudah menolongnya. “Kamu sudah mabuk.” kata Kaiden, melirik gelas di depan Aluna. Aluna mengangguk kecil. “Lumayan.” Kaiden tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia duduk di kursi samping gadis itu. Wajah polos itu membuatnya ingin terus di sana, melindunginya. Tanpa sadar, Aluna berbicara lebih dulu. “Aku baru tahu… ternyata pahit itu bisa lebih enak dari yang manis.” Kaiden meliriknya. “Kenapa?” Aluna tertawa kecil. Tawa yang tidak benar-benar bahagia. “Karena yang manis… ternyata bisa bohong.” Kaiden tidak menyela. Ia hanya mendengarkan. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Aluna tidak merasa harus menyembunyikan semuanya. “Kadang…” lanjutnya pelan, “kita pikir kita kenal seseorang.” Ia menatap gelasnya, memutar cairan di dalamnya. “Padahal… kita cuma kenal versi yang dia mau kita lihat.” Kaiden masih diam. Namun tatapannya tidak berpaling. “Dan waktu kita akhirnya lihat yang sebenarnya…” suara Aluna melemah, “rasanya… kayak ditusuk pisau tajam langsung di sini.” Jari lentik Aluna menunjuk dadanya. Ia tersenyum tipis, namun matanya tidak. “Bodoh ya.” “Enggak.” Jawaban Kaiden terlalu cepat. Aluna menatapnya. “Apa?” “Bukan bodoh,” ulangnya. “Cuma… terlalu gampang percaya.” Penjelasan sederhana, namun cukup telak memukul kesadaran Aluna. Ia terdiam. Untuk beberapa detik… ia tidak tahu harus menjawab apa. Akhirnya ada orang yang tidak menyalahkannya. Mata buramnya menatap pria itu. “Kamu sendiri..” ujung telunjuknya menempel di da-da pria itu, “Apa yang kau lakukan di sini? Jadi pahlawan?” Pertanyaannya membuat Kaiden tertawa. “Nggak juga.” “Berarti kita sama.” Aluna ikut tertawa. Kaiden meliriknya lagi. “Maksudnya?” Aluna mengangkat bahu. “Yah… sama.. Sama-sama nggak baik-baik aja.” Jawaban itu membuat Kaiden tersenyum tipis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD