Bab 5

1228 Words
Percakapan mereka seharusnya berhenti di sana. Sebagai dua orang asing, yang kebetulan saling memahami. Lalu pergi, kembali ke dunia masing-masing. Melupakan malam ini seperti hal-hal lain yang tidak seharusnya terjadi. Namun malam itu tidak berjalan seperti seharusnya. Aluna menghela napas pelan. Ia tidak tahu sejak kapan ia mulai merasa… aneh. Bukan semata karena alkohol yang mulai sepenuhnya memengaruhi tubuh dan otaknya. Tapi karena dirinya sendiri. Ia bukan tipe orang yang mudah terbuka. Bahkan kepada orang yang sudah lama ia kenal, ia sering menahan banyak hal. Namun sekarang, duduk di hadapan pria yang bahkan namanya pun ia tidak tahu, ia justru berbicara banyak tanpa filter. Tanpa beban, dan tanpa takut dihakimi. Aneh. Dan membingungkan. Ia melirik Kaiden. Pria itu masih di sana, duduk tenang di sampingnya dan lebih banyak diam. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Aluna merasa… aman. Dan di saat yang sama… gelisah. Kontras itu membuat dadanya terasa sesak dengan cara yang berbeda. “Kamu selalu kayak gini?” tanya Aluna tiba-tiba. Kaiden sedikit mengernyit. “Kayak gimana?” “Datang ke tempat kayak gini… terus duduk sendiri, ngusir orang, dan… dengerin cerita orang asing.” Nada suara Aluna ringan, namun ada kejujuran di baliknya. Kaiden menatapnya sebentar, lalu menjawab singkat, “Enggak.” “Terus kenapa sekarang begitu?” Kaiden tidak langsung menjawab. Tatapannya bergeser, seolah mencari sesuatu di kejauhan. “Atau…” Aluna menyipitkan mata, “aku yang kebetulan lagi apes ketemu kamu?” Sudut bibir Kaiden bergerak tipis. “Bisa jadi.” Aluna mendengus pelan, namun tidak membantah. Di dalam dirinya, Kaiden juga merasakan sesuatu yang tidak ia sukai. Ia tidak bisa mengabaikan perempuan ini. Seharusnya ia sudah pergi sejak tadi. Atau setidaknya, tidak terlalu memperhatikan kalimat-kalimat konyolnya. Namun tidak. Tatapan Aluna terlalu jujur, ia berbicara apa adanya. Tidak ada yang disembunyikan. Dan justru itu yang membuatnya sulit berpaling. Ia terbiasa membaca orang. Menilai, dan mengendalikan situasi. Namun dengan Aluna, tidak ada permainan. Dan itu membuatnya sedikit kehilangan kendali. Percakapan mereka berubah. Perlahan, tanpa disadari, dari ringan menjadi lebih dalam. “Kalau boleh jujur…” Aluna memutar gelasnya pelan, “aku nggak pernah bayangin bakal ada di sini.” Kaiden mengangkat alis. “Di bar?” “Bukan,” Aluna menggeleng. “Di titik ini.” Ia menatap kosong ke depan. “Kayak… tiba-tiba semua yang aku pikir pasti, ternyata malah nggak nyata.” Kaiden tidak menyela. Ia membiarkannya bicara. “Dan yang lebih parah…” suara Aluna melemah, “aku mulai mikir… mungkin aku yang salah.” Kaiden menatapnya lebih dalam. “Kenapa kamu berpikir begitu?” Aluna tertawa kecil, pahit. “Karena lebih gampang nyalahin diri sendiri daripada nerima kalau orang lain emang… seburuk itu.” Hening selama beberapa detik. Kaiden menghela napas pelan. “Kadang… dua-duanya nggak ada yang salah.” Aluna menoleh. “Terus?” “Cuma… nggak cocok.” Jawaban itu sederhana. Namun tidak cukup untuk Aluna. “Kalau cuma nggak cocok…” ia menggeleng pelan, “nggak bakal sesakit ini.” Kaiden bersandar sedikit. Tangannya masih memegang gelas yang baru diisi kembali oleh bartender. Namun ia tidak meminumnya. Tatapannya tidak lepas dari Aluna. “Kamu harusnya pulang.” Kalimat itu keluar pelan, namun sangat jelas. Aluna mengernyit. “Itu perintah?” “Bukan.” “Terus?” “Saran saja.” Aluna menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis. “Kamu sendiri nggak pulang.” “Beda.” “Apa bedanya?” Kaiden tidak langsung menjawab. Tatapannya berubah lebih dalam. “Kalau aku… nggak masalah hancur.” Kalimat itu membuat Aluna terdiam. “Tapi kamu,” lanjut Kaiden pelan. “Kamu masih bisa diselamatkan.” Jantung Aluna berdetak lebih cepat. Entah kenapa, kata-kata itu terasa terlalu dekat, terlalu personal. Padahal mereka tidak saling mengenal. “Gimana kalau aku nggak mau diselamatkan?” tanya Aluna pelan. Kaiden menatapnya lama, seolah memastikan sesuatu. “Biasanya yang bilang gitu…” suaranya rendah, “justru yang paling butuh.” Hening kembali melingkupi mereka, kali ini… lebih berat. Aluna tidak mundur, tidak mengalihkan pandangan. Ia merasa nyaman berbicara dengan pria asing ini. Sementara Kaiden… tidak lagi benar-benar menahan. Gadis ini, gerak-geriknya, sorot matanya dan semua kata-katanya, membuatnya seolah terpaku di sana. Ketegangan itu pun terasa nyata. Bukan dari apa yang mereka katakan. Tapi dari apa yang tidak mereka ucapkan. Tatapan yang terlalu lama, jarak yang terlalu dekat, yang memastikan kehadiran masing-masing. Suasana di sekitar seolah perlahan memudar. Musik masih terdengar, tapi samar, seolah terdengar dari jauh. Orang-orang masih bergerak. Namun semua terasa jauh. Seperti berada di dunia lain. Yang tersisa hanya mereka berdua. Aluna tidak mengalihkan pandangan. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak ingin lari. Dan Kaiden… tidak lagi benar-benar menahangejolak di dalam dirinya. Alkohol mulai bekerja lebih dalam. Sementara tubuh Aluna terasa hangat karena pengaruh alkohol yang semakin kuat. Kepalanya ringan. Pikiran yang tadi penuh sesak kini perlahan mengendur. Batas-batas yang selama ini ia jaga mulai melemah. Ia tidak lagi memikirkan benar atau salah. Tidak juga memikirkan konsekuensi. Yang ia rasakan hanya satu, keinginan untuk berhenti merasa sakit. Dan di hadapannya ada seseorang yang membuat rasa itu sedikit mereda. “Kenapa kamu masih di sini?” tanya Aluna pelan. Kaiden menatapnya balik. “Harusnya aku yang tanya itu.” Aluna tersenyum tipis. Ada keberanian baru di sana. “Kalau aku bilang… aku nggak mau sendirian?” Kalimat itu keluar begitu saja, dari pikirannya yang telah dikuasai alkohol. Namun ia tidak menariknya kembali. Kaiden terdiam. Reaksi di dalam dirinya jauh dari tenang. Ia mulai lebih sadar. Lebih peka. Semua gerak-gerik Aluna terlalu menggoda untuk diabaikan. Ia gadis muda, masih sangat muda, dengan wajah cantik dan tubuh mempesona. Ibarat seekor rusa muda yang menjadi target para pemburu, seperti itulah gadis itu saat ini. Rahang Kaiden mengeras ketika melempar pandangan ke sekeliling ruangan bar. Ada banyak pria yang masih menatap gadis muda “Kamu harusnya berhenti sekarang, dan pulang ke rumahmu.” kata Kaiden pelan. Namun nadanya tidak tegas, seolah ia sendiri tidak yakin. Gadis ini masih begitu polos, terlihat jelas oleh matanya yang telah terlatih, ini jenis perempuan yang belum menikmati dosa. Memikirkan itu, tubuh Kaiden gemetar perlahan. Pikirannya juga sudah mulai dikuasai cairan yang dia minum sebelumnya, dan biasanya logikanya akan diambil alih oleh hasrat yang terkadang sulit dikendalikan. “Pulanglah, Nona..” ucap Kaiden lagi. Aluna menggeleng. “Kalau aku pulang… aku bakal mikir lagi dan pastinya bakal sakit lagi. Aaahh.. aku nggak mau.” Aluna malah mendesah manja. Mata Kaiden berkedip. Ia menghembuskan napas panjang. Wajah mabuk penuh tekad ini akan sangat merepotkan kalau dipaksa pulang. Tidak ada yang benar-benar mengatakan keputusan. Namun keduanya tahu, sesuatu telah berubah. Kaiden berdiri lebih dulu. Ia tidak berkata apa-apa. Hanya menatap Aluna sejenak. Memberi ruang, memberi pilihan untuk terakhir kalinya. Aluna ikut berdiri. “Aku ikut denganmu… Penyelamatku…” Langkahnya sedikit goyah, tapi tidak ragu. Kaiden melepaskan kesadaran terakhirnya. Mereka berjalan keluar tanpa banyak kata. Ia membiarkan saja gadis itu memeluk lengannya erat, bersandar pada tubuhnya agar bisa berjalan tanpa sempoyongan. Wangi parfumnya memenuhi indera penciuman Kaiden. Keharuman ringan yang seolah mengisi ruang kosong di dalam dirinya. Di luar bar, udara malam menyambut mereka. Lebih dingin, tapi tidak cukup untuk meredakan apa yang sudah terlanjur tumbuh. Kaiden membuka pintu mobil. Ia menatap Aluna sekali lagi. ”Kamu yakin mau pulang denganku?” Aluna tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap balik, lalu masuk. ”Aku yakin, kamu nggak akan membuangku, kayak si b******k itu,” Dia terkikik di samping Kaiden yang mulai mengerakkan setir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD