Tentang Perasaan

2709 Words
Saat itu .... Sepanjang malam Devasya terus saja menatap jarinya, lebih tepatnya menatap sesuatu yang melingkar cantik di sana. "Gila, kayaknya aku udah gila." Dia menggumam, dan berkali-kali merutuki diri, tapi anehnya bibir Devasya juga tak henti terus tersenyum. Apa Maxel adalah salah satu keajaiban yang selama ini selalu aku minta? "Gila, aku beneran udah gila. Bisa-bisanya nerima dan malah pakai cincin ini. Woah! Kamu emang lagi nggak waras, Sya." Dia kembali mengingat bagaimana Maxel menyuarakan namanya, "Sya …." Suara Maxel terus saja memenuhi telinga, pipi itu tak henti-hentinya merona. Devasya memegang dadanya, debaran yang masih sangat terasa, padahal tidak ada Maxel di dekatnya. Bahkan sudah lima jam berlalu sejak pertemuannya dengan Maxel tadi sore, rasa seperti ada yang meledak-ledak di dalam sana, yang anehnya bukannya membakar, tapi seolah menggelitik, seperti banyak kupu-kupu yang berdesakan dan memaksa ingin keluar. "Apa aku sakit? Kenapa aku panas dingin gini?" Devasya mengambil pengukur suhu tubuh di laci meja rias, menekan tombolnya, setelah tertera petunjuk low baru dia letakkan di ketiak, beberapa saat menunggu, tak lama kemudian benda kecil itu berbunyi, Beep ... beep … "36, 5 derajat celcius. Normal, kok. Tapi kenapa aku kayak meriang? Sedahsyat itu efek Maxel di tubuh aku?" Sementara di belahan hati lainnya, Maxel juga tak hentinya menyungging senyum. Mengingat moment kebersamaannya bersama Devasya tadi. "Kamu menarik, kayak magnet. Aku nggak bisa berpaling, aku harus bisa menarik kamu balik. Aku janji, you are my last." Bagaimanapun, Maxel juga laki-laki normal yang menginginkan kisah cintanya sempurna seperti semestinya, tidak seperti yang lalu-lalu. Butuh waktu lama bagi Maxel bisa move on, dari kepergian beberapa mantan kekasihnya. Aku nggak akan biarin Devasya bernasib sama dengan Kalina, Vina maupun Nicky. Maxel yakin, keputusannya kali ini adalah yang terbaik. Mengingat dia mendapat dukungan penuh dari sang mama. Yang perlu aku pikirin sekarang itu, gimana caranya Devasya bilang, iya. Dia bukan wanita kebanyakan yang silau harta atau untaian kata, aku tahu dia berbeda. Suara ketukan pintu menginterupsi angan Maxel. "Masuk," katanya sedikit berteriak. Sang mama muncul dengan senyum penuh makna. "Gimana, Sayang? Devasya setuju?" Maxel menggeleng. "Dia menolak, Ma. Tapi, Maxel akan terus berusaha." "Baguslah," jawab Dini santai. Maxel memasang ekspresi heran. "Lho, kok bagus? Jangan-jangan mama .…" "Hei, tunggu! Dengerin mama dulu. Baguslah dia nolak, kalo dia langsung nerima, itu malah aneh." "Maksud mama?" Maxel masih saja belum mengerti maksud dari ucapan Dini. "Devasya itu, bukan kayak gadis kebanyakan. Dia itu mandiri dari kecil, Xel. Dia udah dapat cobaan berat dari dulu, jadi dia nggak akan semudah itu menerima hal baru, apalagi yang buat dia nggak nyaman." Maxel perlahan mulai mengerti, dia hanya diam mendengarkan mamanya bicara. "Menikah itu nggak main-main, bagus kalau Devasya masih mikirin hal itu. Kalau mama jadi dia pasti mama akan lakukan hal yang sama." Maxel mendengus kesal. "Dasar ya,.cewek. Ribet amat. Udah ada yang serius pengen cepet nikahin, siap nafkahin, malah diundur-undur, giliran ada yang ngajak pacaran lama, ngomongnya buat penjajakan biar saling kenal, eh ... dibela-belain nunggu. Ujung-ujungnya putus juga, buang-buang waktu aja." Dini mengusap punggung lebar putranya. "Ya, nggak bisa maksain semua orang harus sepemikiran kayak kamu, dong. Iya kalau semua cowok itu worth it kayak kamu, lah kalau nyatanya mereka nggak high quality gimana?" tanya Dini yang terkesan membela Devasya. "Kita itu nggak bisa menebak, kita juga nggak bisa tutup mata gitu aja, yang kita butuhkan adalah keyakinan. Udah, sekarang kamu yakinkan dia. Mama percaya, kalau Devasya anak yang baik dan cerdik. Dia pasti bisa memilih dengan bijak." "Doain ya, Ma. Maxel sebenarnya juga masih …." Maxel menggantung kalimatnya. Ragu untuk mengucap tentang kejadian pedih di masa lalunya. "Udah, jangan dipikirin lagi. Sekarang kamu harus percaya sama diri kamu sendiri. Buang jauh pikiran negatif biar jadinya juga nggak negatif. Oke?" "Oke, Ma, sekali lagi makasih." Maxel memeluk Dini erat. Merasa beruntung memilikinya hingga detik ini, walau kadang Maxel merindukan kehadiran almarhum sang papa. Dini mengurai pelukan. "Udah buruan tidur." "Iya, Mama, Sayang." Maxel mengecup singkat kening Dini sebelum wanita itu meninggalkan kamarnya. Aku pastikan kamu nggak akan kecewa, Sya. Aku akan bahagiain kamu. Kamu nggak akan nyesel kalau milih aku. *** Pagi yang cerah untuk memulai sebuah langkah. Maxel kembali menikmati hari penuh cinta, dadanya tak henti berdebar hanya dengan membayangkan wajah ketus Devasya. You, driving me crazy, Sya! "Pagi …" sapanya dari balik pagar. Devasya sedikit terkejut. "Kamu?" Maxel tersenyum. "Iya, ini aku. Kamu mau kerja?" tanyanya kemudian mendekat. Devasya hanya mengangguk. "Yuk," ajak Maxel. Devasya mengernyit. "Kemana?" "Nganterin kamu." "Ngapain?" "Lho? Mulai saat ini aku bakal usahain anter dan jemput kamu kerja." Maxel berkata dengan percaya diri. "Udah, nggak usah lebay, aku bawa motor sendiri aja." "Tapi, Sya–" "I know, kamu lagi pendekatan, tapi 'kan aku bilang, nggak usah berlebihan, kayak biasa aja." Devasya memotong ucapan Maxel dengan segera. Huft! Terdengar helaan nafas berat dari Maxel. "Aku cuma pengen deket sama kamu. Kamu nggak kangen aku?" tanyanya masih dengan rasa percaya diri tinggi. What? Kangen? "Enggak!" jawab Devasya lantang. Terlihat raut kecewa di wajah Maxel. "Tapi aku kangen," kata Maxel dengan nada memelas. "Maxel, please. Ngeladenin kamu ngobrol waktu aku jadi berkurang, aku bisa telat,” sergah Devasya lagi. Sebenarnya dia sudah merasa sangat gerah, entah kenapa tubuhnya terasa panas. "Ya udah, kapan kita bisa jalan?" Maxel kembali melontarkan pertanyaan. Devasya mulai menaiki motornya. "Ntar deh aku hubungin kamu." "Ntar kapan?" Maxel masih memaksa. Devasya mulai memasukkan kunci motornya dan bersiap menyalakan mesin. "Ya ntar, udah aku berangkat dulu." Devasya sudah siap di atas motor yang mesinnya telah menyala, tapi Maxel malah menghalangi di depannya. "Jawab dulu yang pasti, ntar kapan?" Devasya memutar bola mata malas. "Ntar malam aku chat," jawabnya asal. Maxel berbinar lalu menyingkir dari hadapan Devasya. "Oke, deal. Ati-ati di jalan calon istri. Jangan ngebut, jangan lirik kanan kiri, fokus hanya sama aku, ya." Devasya mulai memutar gas dengan lirih. "Ish, apaan sih, bye," pamitnya lalu berlalu. Siapa sangka Devasya sebenarnya mati-matian menahan untuk tidak tersenyum dan pipinya tentu sudah merona di balik helm dan maskernya. Maxel gilak!!! teriaknya dalam hati. *** "Sya, makan siang?" Gio–senior Devasya, tangannya mengangkat sebuah kantong plastik yang Devasya tebak adalah nasi bungkus yang dibeli di warung seberang resto. Devasya mengangguk sopan. "Oh, iya, Kak. Silahkan, aku nanti aja." Tentu Devasya harus berhemat dan bersabar, gaji di tempat baru tak sebanyak di pekerjaan lamanya. Dia kembali merintis menjadi trainee saat ini. Sarapan dan makan di rumah saat pulang nanti, itu sudah cukup. Rini–teman Devasya lainnya, menyerahkan sesuatu, sebuah kantong plastik berisi box berwarna cokelat dan segelas plastik minuman berwarna pink. "Devasya, ada kiriman," katanya sambil tersenyum. Devasya menerima, tapi dahinya mengernyit. "Dari?" Rini hanya mengedikkan bahu, dia tersenyum sambil berlalu. Devasya merogoh sakunya setelah merasa ponselnya bergetar. [Selamat makan siang, kirim foto selfie, dong.] Jadi Maxel yang kirim? [Ogah!] balas Devasya cepat. [Kirim!] balas Maxel tak kalah cepat. Tanpa sadar Devasya tersenyum sambil jarinya mengetikkan sesuatu. [Maxel, kamu nyebelin.] [Enggak! Aku gemesin dan ngangenin.] [Serah!] Devasya merasa berdebat dengan Maxel akan membuang waktu istirahatnya, lebih baik dia sekarang menikmati kiriman makan siang gratis ini, mubazir jika diabaikan, dan tentu saja dengan hati yang penuh dengan kupu-kupu. [Selamat makan siang, Baby.] pesan terbaru dari Maxel. Lagi-lagi Devasya merasakan hangat di dadanya, tapi tetap saja Devasya tak ingin terlihat terpengaruh, apalagi di depan Maxel nantinya. *** Entah sadar atau tidak, aura orang yang sedang jatuh cinta itu katanya berbeda. Kebahagiaan yang terpancar itu seperti mustahil untuk disembunyikan. "Bude lihat, kamu senyum-senyum terus dari tadi," goda Mirna pada keponakannya itu. Mirna bisa merasakan dengan sangat kentara aura itu. "Senyum? Ah, bude salah lihat kali," sanggah Devasya, matanya tak berani menatap Mirna, mungkin takut ketahuan. Bagaimanapun, Mirna itu peka, bahkan terlalu peka. Mirna tersenyum mengejek. "Ya, walau bude udah tua, tapi mata bude masih bening." Kemudian tertawa tapi sedikit tertahan, yang digoda hanya menunduk semakin dalam. "Ah … jatuh cinta itu emang indah." Mirna berlalu begitu saja setelah sukses membuat Devasya merona dan salah tingkah. "Budeee…!" pekik Devasya setelah sadar dirinya kini berdebar tak karuan. Ponselnya berdenting. [Katanya mau ngabarin.] Dasar nggak sabaran, baru juga dibatin, udah muncul orangnya. Wait! Siapa yang ngebatinin dia? Devasya menggigit bibir bawahnya, entah kenapa saat tadi Mirna menggoda, Maxel lah yang terlintas di pikirannya, dan ketika menerima pesan Maxel, itu jadi seperti pelengkap dari semua rangkaian perasaannya yang saat ini sedang penuh dengan bunga. Belum sempat Devasya membalas, sudah datang lagi satu pesan yang hanya berisikan deretan panjang emoticon menangis. Baru kali ini aku nemu species cowok lebay alay kayak Maxel. [Aku libur sabtu.] send. Tentu tak butuh waktu lama untuk Devasya menunggu balasan Maxel. [Yes! Akhirnya bisa malam mingguan.] [Siapa yang bilang kita pergi sampai malam?] [Lho, kita pergi dari pagi sampe malam.] balas Maxel tak terima. [Enggak, pagi sampe siang.] [Yah, nggak seru. Seharian, dong.] Maxel masih memaksa. Devasya tersenyum jahil. [Iya, atau enggak sama sekali.] Setelah mengetik balasan, dia segera menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan bersiap tidur. [Emoticon kecewa] [Oke, deal.] Lagi-lagi maxel mengeluarkan kata deal sebagai andalan, Devasya hanya membacanya sekilas tanpa berniat membalas. *** "Sya, kamu diliatin sama Gio terus, tuh. Kayaknya dia suka sama kamu, deh." Kini giliran Ara yang menggoda Devasya. Ara tahu, jika Gio diam-diam sering curi pandang ke arah Devasya. Devasya memutar bola mata malas. "Apaan sih? Nggak sengaja aja kali, Ra." Devasya tak ingin terlalu percaya diri. Ara terkekeh. "Ya masa iya, Chef nganggur ngeliat ke arah kasir terus kalo nggak ada yang menarik." Devasya mencebik, Ara terus saja menggodanya. "Ya, kan lagi sepi, kali-kali dia nunggu orderan." Kini Ara justru terbahak. "Ngeles aja kayak bajaj." Saat makan siang, Gio memberanikan diri mendekati Devasya, alih-alih mengajak makan siang bersama, Gio memilih memasak sesuatu yang spesial untuk Devasya. "Sya, aku buat ini untuk kamu." Gio menyodorkan sepiring makanan yang ternyata adalah makanan kesukaan Devasya. Devasya tak bisa menyembunyikan mata laparnya. Wangi rempah menguar membuat Devasya menarik nafas dalam untuk sekedar menikmati aromanya. "Wah, menu baru? Kwetiau?" "Betul, rencananya kalau banyak yang suka, aku mau launching. Kamu cobain, ya. Karena aku perlu riset." Gio beralasan, tapi dia tidak seratus persen modus. Gio memang sedang mencoba membuat menu baru untuk inovasi menu resto yang lama. Devasya tak sabar. "Ini untuk aku semua?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari piring itu. Dimata Gio itu sangat menggemaskan. "Iya, dong. Habisin, ya. Abis gitu kasih tau aku kurangnya apa. Aku tinggal dulu." Sebenarnya Gio tak benar-benar meninggalkan Devasya, dia diam-diam memperhatikan dari sisi lain, dia tidak ingin Devasya merasa tak enak jika acara makannya diawasi. Tapi dari ekspresi Devasya, Gio menebak jika Devasya menikmati makan siang itu, karena terlihat jelas dari cara makannya yang lahap. Syukurlah kalau kamu suka, Sya. Disela-sela makannya, ponsel Devasya berdering. "Aku udah di depan," kata seseorang dari seberang telepon. "Lho, ngapain?" "Ngajakin makan siang." "Nggak usah, aku udah makan siang." "Tapi, aku udah–" "Pulang ya...bye…" Maxel menggeleng, sebenarnya dia yang kurang usaha atau Devasya yang tak mau membuka hatinya? Maxel lihat dari kejauhan Devasya tersenyum bahkan terbahak bersama teman-temannya, tapi kenapa kepadanya Devasya begitu ketus. *** Sudah dua minggu ini Maxel terus melancarkan PDKT-nya, yang Maxel tahu semua tingkahnya selalu direspons biasa saja oleh Devasya. Sedang sebenarnya Devasya menahan diri agar tidak berlebihan menanggapi semua perhatian Maxel. "Besok aku akan ke luar kota, agak lama, sih," pamit Maxel saat mereka janji bertemu sebentar sehabis Devasya pulang kerja. Mereka berada di taman yang tak jauh dari rumah. "Oh …." Hanya itu yang keluar dari Devasya. Maxel kecewa, Devasya benar-benar membuat bingung perasaannya. "Cuma itu?" "Aku salah lagi?" tanya Devasya tanpa rasa bersalah, bahkan bibirnya tampak mencebik lucu. "Enggak gitu, tanya kek, berapa lama perginya? Atau kapan pulang, gitu?" Maxel mulai gemas, ingin rasanya membingkai pipi Devasya lalu mendaratkan ciuman di bibirnya, tapi dia berusaha menahan itu, Devasya bisa hilang feeling kalau dia nekat. "Hahahahaha, segitunya kamu Maxel." Tanpa disangka, Devasya malah terbahak. Hilang sudah rasa kesal Maxel, dia tersenyum. "Aku suka." Sejurus kemudian Devasya kembali terdiam dan menunduk. "Aku suka lihat kamu ketawa kayak tadi, dan aku bakal lebih suka kalau aku yang jadi penyebab tawa kamu." Devasya makin menunduk, bisa jebol pertahanan hatinya kalau Maxel terus-terusan manis seperti ini. "Ih, apaan, sih? Biasa aja, dong. Kita 'kan bisa bahagia dengan cara apa aja, yang penting penyebab bahagianya nggak nyakitin orang," jawab Devasya sok diplomatis. Maxel mengangguk. "Kali ini aku setuju sama kamu." Maxel kemudian bangkit, hendak beranjak. "Well, selama aku nggak ada, jangan kangen, ya. Karena selama itu aku bakalan off-in ponsel." "Kok aneh? Jaman Now, bisa gitu kerja tanpa lihat HP?" Devasya mengernyit heran. "Hmm, itu udah jadi komitmen, sih. Lagian, percuma juga, sih, aku ribetin HP. Orang kamu juga lama dan bahkan jarang chat aku." Woohoo! Maxel merajuk. Devasya ikut bangkit dan berjalan mendahului Maxel. "Emang, ya ... aku selalu salah dimata kamu," katanya lirih. "Tapi kamu adalah pembenaran dari semua sikap-sikap manis aku selama ini," jawab Maxel yang tak membuat Devasya menghentikan langkahnya. *** Seperti perkataan Maxel di hari terakhir mereka bertemu, dia benar-benar menonaktifkan ponselnya. Bagaimana Devasya tahu? Karena dia tadi iseng mencoba menghubungi Maxel. Ingat, hanya iseng, tidak lebih. Jauh di dalam hati, Devasya merasa ada yang hilang, walau dia tak tahu pasti apa yang hilang itu. Masa iya karena Maxel? Ya, biasanya selama dua minggu ini Maxel intens menghubunginya, entah itu via telepon maupun chat, baru empat hari Maxel menghilang, Devasya merasa ponselnya hampa. Ah, mungkin juga hatinya. Bukan berarti aku merindukannya, mungkin aku hanya mulai terbiasa. Emang dia pergi berapa lama, sih? Eits, ngapain juga aku gini? Aneh! Devasya menggumam di atas motornya, dia masuk shift dua hari ini, masuk dari jam satu siang sampai jam sembilan malam. Resto agak sepi saat ini, jam menunjukkan pukul empat sore, biasanya memang resto mulai ramai kembali dengan para anak muda setelah magrib tiba. Devasya sibuk mencoret-coret catatan pekerjaanya hari ini, saat suara deheman menginterupsi kegiatannya. "Silahkan, mau pes-an a-pa?" tanyanya bersemangat tapi diakhiri dengan pelan dan terputus-putus. Matanya menatap lurus pada seseorang di hadapannya. "Mau pesan buat mbak kasirnya, jangan capek-capek dan jangan kangen sama aku." "Maxel?" Entah bagaimana Devasya menyebut nama itu dengan mata berbinar dan perasaan yang membuncah bahagia. "Yes, it's me, Baby." Menyadari sikapnya yang over, Devasya merubah mimiknya menjadi kembali datar. "Hmm, kamu ngapain ke sini?" Maxel terbahak, dia tadi dengan jelas melihat raut bahagia dari Devasya atas kehadirannya, dan kini Devasya kembali ke mode judes. Menggemaskan! Aku pastikan kamu akan bermanja-manja denganku nanti, Sya. "Tentu saja aku di sini karena rindu," goda Maxel. "Jangan bercanda, aku lagi kerja, jangan sampai aku dipecat karena ketahuan ngobrol sama kamu, mending kamu pulang." Maxel terus saja terkekeh. "Aku malah senang kamu dipecat, kamu jadi punya banyak waktu buat aku." "Pulang, Maxel!" pekik Devasya, tapi dengan suara yang relatif pelan. Maxel menyerah. "Oke, oke, aku pulang, Baby. Ini buat kamu. Bye." Maxel tak menunggu reaksi Devasya, dia segera berbalik dan berlalu begitu saja, dengan senyum yang tak hentinya tersungging di bibir. Devasya melihat pada kotak di dalam paperbag yang ditinggalkan Maxel di mejanya. Ternyata berisi sepasang sepatu dan sebuah pesan di kartu berwarna rose gold. 'Jika dia menyakitimu, berarti dia bukan ukuranmu, Baby' –Maxel– Gimana bisa Maxel tahu kalau sepatu yang Devasya pakai sekarang terlalu sempit? Devasya membelinya saat akan bekerja dulu, sepatu yang Devasya anggap cocok untuk pekerjaannya ini hanya ada yang ukurannya lebih kecil satu nomor dari ukuran kaki Devasya. Perlu diingat sepatu itu pun dibeli karena sedang diskon. "Sya, kamu nggak istirahat? Bentar lagi rame, lho. Makan dulu sana," pinta Ara membuyarkan lamunannya. "Oke, aku nitip kasir bentar, ya." "Oke, sip." Devasya membawa paperbag itu ke ruang istirahat, dia mencoba sepatu dan ternyata sangat pas di kakinya. Flat shoes hitam dengan hiasan mutiara yang tertata rapi di seluruh tepiannya, sederhana tapi manis. Kalau aku pake, ntar dia kepedean, kalau nggak aku pake, jadi mubazir, dong. "Pake aja, cantik sepatunya." Seseorang menyahut dari balik pintu. "Ah, Hai Kak. Makasih." Devasya merasa canggung, apalagi setelah Ara berkali menggodanya tentang sikap Gio yang berbeda pada Devasya. Gio tersenyum. "Dikasih cowok kamu, ya?" "Hah? Cowok?" "Iya, yang tadi ngobrol sama kamu." Devasya refleks menunduk, menatap jarinya yang kini terpasang cincin yang seketika membuatnya mengingat hari kemarin. Lalu bibirnya tiba-tiba tersenyum, senyum yang tak bisa diartikan oleh Gio, yang pasti senyuman itu telah memukul telak perasaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD