Sepenggal Kenangan (2)

2502 Words
Terkadang mengenang, tentang masa lalu indah tanpa halang. Saat ini air mata menggenang, meratapi masa sulit yang baru saja datang. “Devasya… bude punya kabar baik.” Mirna mendekati Devasya yang baru saja selesai makan malam. Devasya meneguk sisa air di gelasnya, lantas bertanya, “Apa itu, Bude?” Mirna tersenyum lebar, senyum yang terlihat penuh makna juga haru. “Hmm, Maxel akan melamar kamu.” “Apa?” untung saja Devasya sudah selesai meneguk minumannya jadi dia tidak sampai tersedak air. “Bude jangan mengada-ngada, deh. Maksud Bude, Maxel yang itu?” Devasya meyakinkan lagi, jika Maxel yang Mirna maksud adalah Maxel yang dia kenal. Mirna tersenyum. “Iya, dong, Sayang. Maxel mana lagi? Maxel anaknya bu Dini." "Bude tahu dari mana kalau Maxel mau lamar aku?" “Tadi, Jeng Dini datang ke sini, main sekaligus nanyain kamu," jelas Mirna, tangannya lembut mengusap rambut sebahu milik Devasya. Sedang Devasya masih diam, mencerna apa yang sedang jadi topik pembahasan kali ini. Ya, lamaran. “Kamu bukannya kenal dekat sama, Maxel?” tanya Mirna dengan nada yakin. Devasya menghela nafas lirih. “Iya, Bude. Tapi nggak kenal dekat juga.” Mirna menepuk bahu Devasya. “Kayaknya dia anak yang baik.” Tidak memungkiri sejak pertemuan di rumah sakit saat itu, Devasya merasa Maxel menjadi lebih perhatian padanya, dan Devasya akui Maxel sejauh ini memang baik, walau agak sedikit banyak bicara. “Kamu pikirin dulu aja, sambil PDKT. Usia kamu sudah sangat cukup untuk menikah, Sayang.” Setelah berbincang-bincang cukup lama, akhirnya Devasya kembali ke kamarnya. Entah kenapa nafasnya mendadak sesak. Baru saja merebahkan diri di kasur, ponselnya berdering, panggilan telepon dari Maxel. “Hallo,” sapa Devasya sedikit lesu. Dia masih memikirkan ucapan budenya tadi. “Hallo, Devasya. Udah makan?” pertanyaan basa-basi yang sudah sering kali Maxel tanyakan saat dia menelepon. “Udah, barusan.” Dan ya … Devasya tak pernah sekalipun bertanya balik, apa Maxel sudah makan atau belum. Sekaku itu seorang Devasya. “For your information, aku juga udah makan.” “Aku nggak nanya, karena aku udah tahu pasti kalau kamu nggak bisa melewatkan makan malam," jawab Devasya santai. Maxel terkekeh. “Perhatian banget kamu. Eh, ngomong-ngomong ...” Maxel terdengar menghela nafas berat. “Bude udah bilang?” “Hmm … tentang?” Devasya pura-pura tidak tahu. “Serius kamu belum tahu? Tentang … mama aku datang dan–” “Oh, udah. Kenapa?” potong Devasya. “Kenapa?” Maxel merasa heran, sesantai ini Devasya menanggapi hal sepenting ini. “Iya, kenapa? Kenapa kamu mau nikah sama aku? Aku tahu, kamu cuma kasihan 'kan sama aku?” cerocos Devasya. Di seberang sana, Maxel meremas rambutnya frustrasi. “Enggak, bukan itu alasannya.” “Terus?” tuntut Devasya tak puas. “Ya, Karena aku suka sama kamu," pekik Maxel. Hening, tak ada sahutan lagi dari Devasya. “Hallo?" Maxel memanggil dengan hati-hati. “Hanya itu?” tanya Devasya datar, seperti biasanya. Maxel mulai cemas, takut gadis pujaannya itu makin tidak menyukainya setelah dia menyatakan perasaan. “Oke, mending kita ketemu, deh. Besok bisa? Soalnya lusa aku mau ke luar kota.” "Hmm…" "Sya …." panggil Maxel, meyakinkan diri jika Devasya masih mendengar ajakannya tadi. "Aneh deh, kamu manggil aku kayak gitu." Maxel lega. "Why? Aku suka." Devasya mendengus. "Terserah, deh." Maxel tersenyum dibalik ponselnya. "Oke, pokok besok aku chat tempat dan jamnya. Good night, Sya. Nice dream." "Nite." Telepon terputus, setelah kata terakhir keluar dari mulut Devasya. Kenapa dia tiba-tiba aneh? Ketemu juga baru beberapa kali, ngobrol juga nggak pernah lama. Aku nggak yakin hanya karena suka, dia nekat ngajakin aku nikah, gumam Devasya sambil menatap ponselnya. *** Devasya bersiap di depan cermin, memakai pakaian terbaik juga sedikit berdandan agar terlihat lebih fresh. Ish, ngapain aku sampe segininya? Rang cuma ketemu Maxel doang! Bunyi pintu kamar Devasya diketuk membuat Devasya sedikit terkejut. Pintu terbuka menampakkan sosok Mirna dengan senyum khasnya. “Bude masuk, ya," pintanya lembut. Devasya balas tersenyum, senyum yang terlihat berbeda di mata Mirna. “Iya, Bude.” “Ya ampun, cantik banget,” puji Mirna sambil memegang kedua bahu Devasya. “Ish, Bude. Gini aja kok cantik, sih?" Devasya merona, lalu kemudian menunduk. Kali ini Devasya memakai rok plisket warna pink nude dengan kaos putih dan sepatu kets putih andalannya yang jarang sekali dia pakai. Ya, dia memang sesederhana itu. Tapi, baginya memakai rok sudah menjadi penampilan terbaiknya, mengingat dia selalu memakai celana jeans kemanapun dia pergi. Termasuk ke kondangan sekalipun. “Kamu itu, justru cocok pakai yang sederhana kayak gini, makin manis. Maxel pasti makin suka," goda Mirna. Devasya merasa pipinya menghangat. “Apa sih, Bude? Orang Devasya nggak gimana-gimana, kok.” Ya, kali ini Devasya tak bisa menyembunyikan lagi pipinya yang merona. “Udah, berangkat sana, nanti telat. Itu taksinya sudah sampai.” Devasya mengernyit. “Lho, taksi?” “Iya, Bude pesan taksi buat kamu. Masa iya, kamu pake rok gini perginya naik ojek atau motor?” sindir Mirna. Devasya menatap roknya. “Kok Bude tahu aku mau pake rok? Padahal aku belum keluar kamar.” “Jelas bude tahu kamu pake rok, orang tadi bude nggak sengaja liat kamu mondar mandir di depan kaca bawa rok itu.” Cukup, Devasya semakin salah tingkah. Buru-buru Devasya pamit sebelum Mirna kembali menggodanya. “Ya udah, Devasya berangkat dulu ya, Bude.” “Iya, Sayang. Ati-ati di jalan, ya. Salam buat Maxel.” Sekali lagi, Mirna tersenyum jahil. “I-iya, Bude.” Kenapa terdengar aneh titipan salam Bude tadi. Macam udah akrab aja. Taksi yang dinaiki Devasya mulai memasuki pelataran kafe yang dimaksud Maxel. Sebenarnya, Devasya agak sedikit heran. Tumbenan mobil sebagus ini dijadiin taksi online, apa nggak takut lecet dan kotor? “Sudah sampai, Mbak,” ujar sang sopir dengan sopan yang ternyata sudah membukakan pintu di sisi Devasya. Devasya yang masih dalam mode kagum menjawab kikuk, “O-oh iya, Pak. Berapa?” “Saya sudah dibayar, Mbak," jawab sopir itu dengan sangat sopan. “Benarkah? Baiklah. Terima kasih banyak, Pak," pamit Devasya, lalu turun dari taksi online mewah itu. Devasya melangkah ragu, matanya memindai sekitar, kafe ini terlihat lenggang, bahkan cenderung sepi. Urung masuk, Devasya memilih mencari ponselnya di dalam tas. Menghubung Maxel untuk memastikan kembali. “Hallo,” sapa Devasya. “Ini beneran ketemu di kafe flora?” “Iya, bener. Kamu udah sampe? Masuk aja," perintah Maxel, tapi tetap saja Devasya meragu. “Kok sepi, ya? Aku takut salah kafe, nggak lucu 'kan kalau kafenya tutup tapi aku masuk.” Maxel terbahak. “Oke kalau gitu, kamu tunggu di situ, aku ke sana.” Devasya membalik badannya, melihat ke arah jalan raya. Rata-rata cafe di sekitarnya ramai, parkiran juga penuh, kenapa kafe ini malah tidak banyak motor atau mobil terparkir. “Hai,” Sapaan itu membuyarkan lamunan Devasya. Sejenak dia terpesona, Maxel dengan senyumnya yang menawan, secara otomatis membuat jantung Devasya yang tadinya baik-baik saja sekarang justru melompat tak tahu aturan. “Yuk, masuk.” Maxel menggandeng tangan Devasya. Devasya melangkah mengikuti arah Maxel. Sesekali Devasya melihat ke arah genggaman tangan Maxel, tentu saja sentuhan kulit ini begitu terasa aneh baginya. Tapi, tidak tahu kenapa, Devasya tak menepisnya. Pria ini, kenapa kali ini terlihat berbeda? Kemeja biru muda dengan celana mocca dan sneaker putih, Maxel menjelma menjadi pria yang menarik dimata Devasya. Sadar! Jangan terpengaruh. Kamu harus fokus, dan jangan terkecoh. Bisa aja dia mau mainin kamu! batin Devasya yang tanpa sadar langkahnya ringan mengikuti Maxel dan hampir sampai ke taman belakang kafe. Devasya menghentikan langkah, membuat tarikan pada tangannya pun tertahan. Maxel ikut berhenti dan menoleh ke arah Devasya. “Kenapa?” tanya Maxel heran. Devasya menoleh ke kiri dan kanan. “Sepi.” Maxel tertawa. “Iya, emang sepi. Kafe ini udah aku sewa.” Devasya melepaskan genggaman Maxel. “Apa?” pekiknya terkejut. Maxel kembali menggenggam dan menarik lembut tangan Devasya untuk kembali mengikuti langkahnya. “Welcome .…” Devasya kembali terkagum, taman itu sudah dihias dengan banyak mawar putih dan lampu tumblr dalam toples-toples kaca yang manis. “Semua ini apa?” Maxel merentangkan kedua tangannya. “Ini semua buat kamu.” “Aku?” Devasya menunjuk dirinya sendiri, lalu matanya kembali memperhatikan seisi taman. Indah, bahkan sangat indah, hampir saja dia menangis karena haru. Tapi Devasya juga bingung dengan perasaannya. “Tunggu, maksudnya apa?” Maxel mendekat, lalu mengambil tangan Devasya untuk dia genggam. “Sya, kamu mau 'kan nikah sama aku?" Devasya tak menjawab, dia hanya menatap tajam pada Maxel. "Kita janjian hari ini buat bahas ini 'kan?” sambung Maxel. “Tapi, kenapa kayak aku dipaksa gitu, sih?” Devasya menepis genggaman Maxel. Sungguh reaksi yang berbeda dengan kekasih-kekasihnya di masa lalu, yang mana sudah pasti setelah ajakan pernikahan tadi Maxel akan mendapatkan pelukan mesra. Tapi, itu yang dia suka dari Devasya. “Emang aku maksa? Enggak 'kan? Mungkin perasaan kamu aja yang emang udah nggak bisa nolak.” Maxel tersenyum jahil. Devasya memutar bola mata malas. “Ish, kepedean.” “Duduk dulu, yuk," ajak Maxel, lalu dia berjalan menuju meja yang sudah disiapkan, menarik satu kursi untuk Devasya duduki. Sebuah meja yang sudah dihias dengan banyak bunga dan lilin, tentu juga beserta dua kursi yang saling berhadapan. Romantis. Mungkin ini yang dinamakan candle light dinner, sumpah keren, Devasya kagum, tapi dia sembunyikan semua ekspresi itu dalam-dalam. Sedikit ragu, Devasya akhirnya menurut dan duduk di kursi yang sudah ditarik Maxel untuknya. “Makasih,” kata itu meluncur lancar dengan mata yang tak bisa berbohong jika menatap kagum. “Minum dulu, Sya." Maxel mendekatkan sebuah gelas berisi jus stroberi lebih dekat ke arah Devasya. Melihat itu Devasya memicing. Seakan mengerti maksud Devasya, Maxel tak bisa menahan untuk tidak tertawa. “Aku nggak naruh macem-macem di minuman atau makanan kamu, kok. Aman.” Jangan-jangan Devasya kebanyakan baca novel yang ada adegan menaruh obat xxx dalam minuman, batin Maxel. Devasya masih diam. “Nggak percaya?” sindir Maxel. “Ya ... kamu aneh aja, kita itu jarang ketemu, ngobrol aja nggak pernah lama, tiba-tiba ngajakin nikah? Kamu pikir aku cewek gampangan yang dikasih hal-hal romantis kayak gini terus bilang iya, gitu?” sungut Devasya. Devasya tak lagi sabar. Tingkah Maxel kali ini sangat aneh baginya. “Tenang, Sya. Aku sama sekali nggak pernah mikir kamu itu cewek gampangan. Cuma aku nggak mau kehilangan kamu, makanya aku gerak cepat," sanggah Maxel yakin. “Kehilangan aku?” “Ya, siapa tahu kamu nanti ketemu cowok, terus kamu malah nikah sama cowok itu.” “Dasar konyol!” balas Devasya ketus. “Iya, emang bener itu alasannya. Aku suka sama kamu, Sya. Dari pertama kita ketemu di minimarket, waktu itu aku lihat kamu dorong matic yang mogok.” “Apa?” “Iya, Sya. Beneran.” Maxel menaikkan dua jari tangan kananya membentuk huruf V. Devasya mencibir. “Makin konyol. Rasa suka kayak gitu itu nggak akan bertahan lama. Begitu mudahnya kamu suka sama aku, nanti semudah itu juga kamu lepasin aku dan suka sama orang lain.” “Eits, kamu ragu sama kesetiaan aku?” sunggut Maxel tak sabaran. Antara gemas dan kesal. “Jelas! Kita sama-sama nggak saling kenal. Mana bisa aku tahu keseharian kamu, kerjaan kamu apa aja aku nggak tahu, kali-kali kamu mafia.” Devasya mencebik dan itu terlihat lucu di mata Maxel. “Astaga, Sya.” Maxel terkekeh. “Beneran kebanyakan baca novel romance kamu, tuh.” “Yaaa, bisa aja 'kan.” “Lagian ya, Sya. Kalau aku mau main-main. Ngapain aku bilang mama buat lamar kamu langsung ke bude Mirna?” Devasya diam. Benar juga, tapi … menikah? Dengan orang yang baru Devasya kenal? Tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. “Udah, mending kita makan dulu. Nanti lanjut lagi ngobrolnya. Aku udah laper.” Sebenarnya, Maxel belum lapar. Hanya saja, dia tidak ingin berdebat lagi dengan Devasya. Mungkin dengan tersajinya berbagai jenis makanan bisa sedikit mencairkan suasana. “Kita saling kenal aja dulu, Sya,” celetuk Maxel di sela makannya. “Kalau kamu mau kenal, kenapa nggak ke aku aja dulu, kenapa langsung ke mama kamu dan bude?” Maxel menatap Devasya. “Hmm, menurutku. Itu salah satu cara biar kamu tahu, kalau aku serius.” Devasya balik menatap mata Maxel, mencari kebohongan di sana, dan sayangnya Devasya tak menemukan itu. Maxel terlihat tulus dan benar-benar serius. “Oke, gini aja. Kasih aku waktu buat buktiin sama kamu kalau aku serius." Devasya masih diam dan menimang. Apa salah kalau aku mencoba membuka hati? “Tapi, kamu nggak maksa aku harus mau nikah sama kamu kan kalau aku akhirnya nggak yakin?” tuntut Devasya. “Aku pastikan kamu bakalan yakin 1000%!” seru Maxel. “Over pede kamu.” Devasya tersenyum. “Aduh!” Maxel tiba-tiba menjatuhkan sendok dan memegang dadanya. Devasya bangkit dari duduknya. “Kamu kenapa?” Devasya terlihat panik, Maxel terlihat kesakitan. “Jangan senyum kayak gitu, jantung aku jadi deg-degan," canda Maxel. “Astaga, Maxel! Aku udah panik ini!” pekik Devasya lalu kembali duduk dengan sedikit kasar. Tak disadari, rona merah menghiasi wajah Devasya. Dasar, orang aneh! “Jangan senyum kayak gitu lagi ke orang lain, ya. Apalagi sama cowok." Devasya mendengus. “Tuh 'kan, belum apa-apa udah ngasih rules,” keluhnya. “Buat jaga-jaga aja, Sya.” Maxel tersenyum sambil menaik turunkan kedua alisnya. Setelah semua makanan pembuka dan makanan utama disajikan, kini tiba waktunya menikmati makanan penutup. “Sya, terima ini, ya?” Maxel menyerahkan sebuah kotak. “Apa ini?” Meski heran, Devasya tetap menerima, kemudian membuka kotak kecil berwarna tosca dan berpita putih semi silver itu yang ternyata isinya adalah sebuah cincin berwarna perak dengan mata berlian kecil di tengahnya. “Ini apa lagi? Kan tadi kesepakatannya kita saling kenal dulu,” tolaknya. Lalu menjauhkan kotak itu dari hadapannya. “Kasih waktu aku satu bulan, dan selama satu bulan itu, please kamu pakai cincinnya. Misal setelah satu bulan, segala usaha aku nggak buat kamu nyaman dan yakin. Kamu bisa lepas dan kembalikan cincinnya. Gimana?” pinta Maxel dengan tatapan memohon. Ini cowok nekat banget, ya? Kepedean pulak, gumam Devasya dalam hati. “Gimana, Sya?” desak Maxel. Devasya hanya melihat bergantian antara mata Maxel dan cincin itu. “Mau, ya?” Devasya mendengus kesal. “Perlu kamu tahu ya, Maxel. Aku itu paling nggak suka sama orang yang nggak jujur. Jadi, aku nggak mau kamu dalam sebulan ini hanya nunjukin hal-hal manis aja di depanku. Tapi setelah aku bilang iya, kamu malah melakukan sebaliknya. Aku nggak mau jadi perempuan yang hanya dimenangkan tanpa diperjuangkan sampai akhir!” tantangnya. “Deal!” ucap Maxel yakin. “Deal? Ini bukan sebuah perjanjian, Maxel!” “I know, Sya. Ih, lucu. Kamu segitu menggemaskan tahu nggak?” Menggemaskan dari mana coba? “Aku janji, kita bakal sama-sama berjuang buat bahagia. Kamu juga, harus siap menerima segala kekurangan aku nantinya. Aku bukan laki-laki sempurna, Sya. Aku hanya sedang berusaha, karena baru sekali ini dalam hidup aku, aku bisa senekat ini." Devasya menatap pada cincin indah itu. Lalu, dengan yakin pula mengambil dan memasang benda bulat itu di jari manisnya. Tunjukkan jalan yang terbaik, Tuhan, batin keduanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD