Pagi yang cerah untuk sekedar berlari kecil mengelilingi kompleks perumahan. Secara tidak sengaja, Devasya bertemu kembali dengan Maxel.
"Hei, cewek matic." Maxel menjajari langkahnya.
Devasya menoleh. "Cewek matic?"
Maxel tersenyum, lalu membalikkan badannya. Ya, Maxel berlari kecil dengan posisi mundur, tapi sedikit mendahului Devasya. "Iya, kamu yang dorong-dorong matic kemarin 'kan?"
Devasya tampak berpikir. "Kamu kang bengkel?" Dasar Devasya yang suka tidak fokus dengan sesuatu bahkan seseorang.
Maxel menggeleng sambil terkekeh. "Bukan, pokoknya aku tahu kamu dorongin motor."
"Oh." Hanya itu, Devasya memang tidak suka basa-basi apalagi kalau dia pikir itu tidak penting untuk dibahas.
Maxel kembali membalik badannya, mereka sekarang berdampingan dengan tetap berlari kecil. "Kenalin, aku Maxel." Perkenalan tanpa jabat tangan.
Devasya hanya melirik sekilas, sebenarnya dia malas menanggapi. "Devasya," jawabnya singkat.
Hening, hanya derap langkah dan nafas mereka yang tersengal-sengal terdengar saling bersahutan.
"Kerja?" tanya Maxel lagi, mencoba menghilangkan rasa canggung.
"Iya. Aku balik dulu. Udah siang." Devasya tak menunggu jawaban Maxel lalu berbelok ke kiri, berniat memutari komplek lain untuk sampai rumah, yang tentunya tidak dengan Maxel di sampingnya. Entah kenapa Devasya merasa risih dengan kehadiran Maxel.
***
Hari ini Devasya melakukan interview kerja, beberapa hari lalu dia melamar pekerjaan sebagai kasir di sebuah resto yang khusus menjual aneka varian mie pedas.
"Kamu besok bisa mulai bekerja. Mulai jam delapan pagi sampai jam tiga sore," ucap Tyas, bagian personalia resto.
Devasya mengangguk dengan mata berbinar. "Baik, terima kasih banyak," jawabnya riang.
Akhirnya, aku dapet kerja ….
Devasya menemukan kembali secercah harapan bagi kelangsungan hidup dompetnya yang sempat meredup selama dua bulan terakhir. Dia juga tak mau terlalu lama membebani budenya.
"Uang kamu masih, Devasya?" Mirna bertanya sesaat setelah mereka selesai makan malam.
Mirna baru saja datang setelah tiga hari tidak pulang. Memang, selama ini Mirna sering ke luar kota untuk dinas, beliau adalah pegawai negeri sipil di BKN atau Badan Kepegawaian Negara.
"Masih, Bude."
Mirna mengusap bahu Devasya lembut. "Bude seminggu ini akan ke luar kota lagi, ada seminar, tapi kamu besok mulai kerja, nggak apa kan kalau bude tinggal sendiri?" tanya Mirna sedikit khawatir, bagaimanapun Devasya sudah seperti putrinya sendiri.
Devasya tersenyum hangat. "Nggak apa-apa, Bude santai aja."
Mirna mengangsurkan sebuah amplop putih pada Devasya. "Ini buat kamu jajan. Kamu kan belum gajian."
Devasya cepat-cepat menggeleng. "Ya ampun, nggak usah, Bude. Gajian aku nanti setiap dua minggu sekali kok, jadi masih cukup uang aku."
"Udah, pegang aja buat jaga-jaga." Mirna memaksa dengan mencoba menggenggamkan amplop itu ke tangan Devasya.
"Tapi Bude, Dev–"
"Udah, bawa," potong Mirna.
Devasya menunduk, dia merasa tidak enak karena terus saja merepotkan budenya. "Hmm, makasih, Bude. Devasya selalu ngerepotin bude."
"Enggak, Sayang. Bude malah makasih, boleh tinggal di rumah ini sama kamu. Lagian, bude itu kan pengganti orang tua kamu, anggap aja itu uang jajan dari ibu ke putrinya."
Haru, Devasya menitikkan air mata, beruntung Mirna mau menemaninya selama ini.
Mirna bangkit dari duduknya, tangannya merangkul tubuh Devasya yang bergetar. "Pokoknya kamu jangan pernah merasa sendiri."
"Sekali lagi, makasih, Bude."
Kedua orang tua Devasya sudah meninggal karena sakit pada saat Devasya kecil. Setelah sang ayah meninggal, sebulan setelahnya ibu Devasya memilih menyusul suaminya itu. Lalu Devasya tinggal bersama neneknya, tapi setahun lalu neneknya pun pergi menyusul orang tuanya.
Setelah itu Devasya yang sendirian meminta Mirna tinggal dengannya yang tentu saja Mirna setujui, mengingat kota ini lebih dekat dengan tempat kerja Mirna.
***
Hari yang melelahkan, karena baru Devasya sadari jika resto mie tempatnya bekerja itu sangat ramai. Devasya yang sebelumnya memang bekerja sebagai kasir di salah satu minimarket, sebenarnya tak menemukan kesulitan berarti dalam mengawali pekerjaannya kali ini.
"Kerja bagus, besok adalah weekend, jadi siap-siap, ya." Pesan Ela–supervisornya saat briefing sore.
"Hai, anak baru, kenalin aku Ara," sapa seorang wanita cantik yang memiliki tahi lalat di hidungnya itu.
Devasya tersenyum. "Hai, aku Devasya."
"Aku juga baru, baru seminggu," lanjut Ara lagi.
Baik Ara maupun Devasya langsung saling merasa nyaman, dan ternyata rumah mereka pun tak terlalu jauh. Hanya beda beberapa blok saja.
Maxel memicingkan pandangan, melihat pada sosok yang selama ini dia rindukan.
Tunggu? Rindukan? Iya, entah sejak kapan Maxel menunggu moment untuk bertemu kembali dengan Devasya.
"Lelahnya…" gumam Devasya sambil memijat tengkuknya yang terasa kaku sambil berjalan pelan ke arah parkiran
Bunyi klakson yang keras dan tiba-tiba membuat Devasya terperanjat.
"Hei, cewek matic," sapa Maxel dari dalam mobilnya.
"Kamu?"
"Kamu kerja disini?" Maxel mengabaikan keterkejutan Devasya, sejenak matanya mengamati resto tempat kerja gadis yang sedang digodanya itu.
Devasya mengangguk, "Aku duluan," pamitnya kemudian.
"Kalau pulang hati-hati," pesan Maxel sesaat sebelum Devasya berlalu yang hanya diacungi jempol.
Sebelum benar-benar meninggalkan parkiran, setelah memakai helm dan jaketnya, Devasya kembali bergumam pelan sambil mengelus speedometer motornya. "My princess, jangan nakal, ya! Temenin mama kemanapun mama pergi, okay? No rewel-rewel."
Lucu! Devasya memang terbiasa berbicara sendiri pada motornya. Ya, kebiasaannya sejak lama, itu dia lakukan sebelum dan setelah Devasya menggunakan motornya. Devasya berfikir, motor pun pasti punya perasaan. Dasar Devasya aneh!
Dalam perjalanan pulang, pikiran Devasya sedikit terganggu akan pertemuannya dengan Maxel tadi.
Kenapa berkali-kali ketemu cowok itu? Padahal kota ini juga bukan kota yang terlalu kecil. Cewek matic? Panggilan macam apa itu?
***
"Sakit, Bude." Devasya terus saja merengek, perutnya melilit sakit sejak tadi pagi. Mirna cemas saat tiba-tiba Devasya pucat dan seperti akan kehilangan kesadaran.
Devasya merasakan sakit yang sedikit aneh pada perutnya sejak dia pulang kerja malam kemarin. Akan tetapi karena dia baru saja diterima bekerja, Devasya tidak mungkin berani untuk izin libur. Jadi walau sangat sakit, dia paksakan untuk terus masuk.
Tapi, kali ini Devasya mulai tak tahan, dia terus berteriak sakit pada Mirna.
"Usus buntu, apendisitis," ucap dokter setelah memeriksa Devasya, yang langsung dimengerti oleh Mirna.
"Harus di operasi ya, dok?" Mirna menatap cemas pada Devasya.
Dokter mengangguk, lalu mulai menjelaskan tentang tindakan apa saja yang akan dilakukan setelah ini. Mirna menyetujui semua prosedur yang akan dilaksanakan, selama itu tentu untuk kebaikan Devasya.
Butuh waktu sekitar satu jam untuk Devasya sadar dari pengaruh biusnya pasca operasi. matanya mengerjap-ngerjap menyesuaikan pandangan dengan cahaya yang dia rasa terlalu menyilaukan.
"Sayang, sudah bangun?" Mirna tampak kembali cemas. Devasya tampak sangat pucat.
Devasya mengangguk. "Maaf, Bude."
Tentu saja dia merasa bersalah, karena sudah barang pasti, semua biaya operasi dan pengobatannya akan ditanggung Mirna.
Mirna tersenyum tulus. "Sudah, nggak udah dipikirin masalah biaya. Bude tahu, kamu cemas karena itu kan?"
Devasya menunduk.
Mirna mengusap rambut Devasya lembut. "Sebagai gantinya, bude minta kamu janji." Devasya memicing.
"Jangan makan mie instan lagi," lanjut Mirna dengan nada yang tegas namun tetap lembut. Alih-alih tersinggung, Devasya malah semakin merasa bersalah.
Devasya akui, selama ini pola makannya memang tidak baik dan juga tidak teratur, juga sering ngawur. Bersyukur, karena sakit ini, Devasya jadi sadar dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi.
"Hai," sapa seseorang yang suaranya mulai familiar di otak Devasya.
"Kamu lagi?" Devasya menatap sosok yang baru saja memasuki kamar rawatnya, disusul dengan wanita paruh baya yang pernah ditemuinya beberapa waktu lalu.
"Tante?"
Dini tersenyum penuh arti. "Iya ini tante, Sayang."
Devasya masih mencerna semuanya, apa iya dia sebenarnya masih dalam pengaruh bius?
Kenapa mereka ada disini?
"Cepat sembuh, ya." Devasya merasakan lembutnya usapan Dini di punggung tangannya, dan itu juga sebagai pembuktian bahwa ini nyata, tanpa perlu cubitan.
"Makasih, tante." Devasya menjawab dengan lirih, sedikit tidak nyaman dengan tatapan Maxel.
"Ya udah, tante keluar dulu, ya. Mau nemenin budemu makan siang. Kamu masih puasa, kan?"
Devasnya mengangguk, dia belum buang gas jadi belum diperbolehkan makan, padahal perutnya sudah keroncongan.
"Maxel bakal nemenin kamu. Titip ya, Xel." Dini mengedipkan sebelah matanya ke arah Maxel yang hanya dijawab dengan senyuman.
Canggung dan hening beberapa saat, sampai pada akhirnya Maxel memberanikan diri membuka suara. "Sakit?"
Iya lah, sakit. Kalau nggak sakit ngapain aku di sini, pertanyaan aneh! Devasya ingin mengumpat, tapi dia tidak memiliki tenaga cukup untuk meladeni Maxel yang dia tebak akan banyak mengeluarkan pertanyaan maupun pernyataan setelah ini.
"Lumayan," jawab Devasya akhirnya.
"Kamu nggak kerja, dong?"
Please, Maxel. Pertanyaan macam apa itu? Jelas saja Devasya tidak bekerja, bahkan beberapa saat lalu dia masih terbaring lemas di meja operasi.
Devasya memejam, menahan dirinya untuk tidak mengumpat pada Maxel yang sudah dua kali sejak kedatangannya, menanyakan hal yang Devasya yakin 100 persen Maxel sudah tahu pasti jawabannya. Jangan lupakan sifat Devasya yang tidak suka basa-basi.
"Aku bolos. Belum sempat ngabarin resto. Kalau dipecat yaudah, mau gimana lagi." Devasya menjawab yang malah dibarengi dengan curhat.
Kening Maxel mengkerut. "Kasihan," sindirnya yang sebenarnya berniat menggoda Devasya yang sedari tadi berwajah masam.
Devasya mulai terpancing. "Ish, ngapain kasian? Aku nggak perlu dikasihani."
Maxel tersenyum tipis, gadisnya ini mulai kembali normal. "Kamu tuh, bude kamu bilang, kamu itu kebanyakan makan mie instan, makanya sakit."
Devasya ingin menyanggah, tapi dia memilih bungkam. Itu memang benar. Andai semua orang tahu kalau itu dia lakukan untuk bisa berhemat. Siapa sangka jika akan berakhir seperti ini.
"Kok diam?"
Devasya menggeleng. "Nggak apa-apa."
Maxel tahu betul, jika perempuan berkata tidak apa-apa itu pasti ada apa-apa. Tapi, Maxel tidak akan memaksa Devasya untuk bercerita lebih.
"Hmm, kamu udah punya pacar?"
"Hah?" Devasya memicing.
"Nggak-Nggak jadi."
Aneh! gerutu Devasya dalam hati.
Setelah pertemuan di rumah sakit, bagi Maxel, hubungannya dengan Devasya menjadi selangkah lebih dekat. Bagaimana tidak, kalau secara terang-terangan Maxel menyimpan paksa nomor ponselnya sendiri di ponsel milik Devasya.
Ah, saat-saat itu yang kini Devasya rindukan.
***
Masa lalu tetap masa lalu ....
Devasya meremas ponselnya, beberapa saat lalu dia merasa teriris tipis saat melihat foto-fotonya dengan Maxel, pun dengan beberapa lembar hasil USG yang tersimpan rapi di sebuah album berwarna putih berpita hijau muda yang entah sejak kapan tergeletak di lantai.
"Sakit, Xel. Sakit sekali." Devasya melanggar janjinya untuk tidak kembali menangis.
Ingatan Devasya kembali menguat, biasanya saat dia mengeluh sakit, Maxel akan dengan hangat memeluk tubuhnya dan membuatnya nyaman, tapi sekarang?
Devasya mengingkari hati dan pikirannya yang sebenarnya sangat merindukan juga membutuhkan kehadiran Maxel.
Entah karena memang Devasya sudah jatuh cinta terlalu dalam, atau memang karena hormon kehamilannya, Devasya begitu tersiksa dengan perasaan ini, perasaan ingin terus bertemu dan melihat wajah suaminya.
"Aku rindu Maxelku, sekarang kemana kamu? Katanya kamu nggak akan ninggalin aku? Katanya kamu akan jadi satu-satunya dan yang terakhir buat aku."
Devasya terus bermonolog diiringi dengan lelehan air mata yang tak bisa dia hentikan lajunya.
"Ya, itu memang benar, kamu adalah yang terakhir buat aku, tapi itu tidak berlaku bagi kamu. Aku bukan yang terakhir buat kamu."
Devasya memejam, memukul-mukul dadanya frustrasi. Dia selalu mengklaim dirinya kuat dan mandiri, faktanya, sejak bertemu Maxel dan menempel erat pada pria itu, membuat Devasya lemah, dan kini, dia bagai benalu yang dibuang begitu saja dari inangnya. Tak berharga, tak berarti, tak dicari.
Apa aku bisa kembali menjadi Devasya yang kuat seperti dulu?