bc

Better Than Die

book_age0+
2
FOLLOW
1K
READ
adventure
like
intro-logo
Blurb

ela Sukatmadja, gadis berambut ikal gantung serta berkulit hitam eksotis, lahir dari keluarga yang kaya raya. Ayahnya, Bromo Prakoso Sukatmadja adalah pengusaha terbesar di Kota Telemor. Suela adalah anak kedua dari dua bersaudara. Suela adalah seorang Dokter spesialis Adiksi satu-satunya di Telemor. Sedang, Kakaknya Linaro adalah seorang seniman biloist yang handal.

Namun, Bromo tidak menghendaki hal demikian. Dia ingin Linaro menjadi penerus perusahaan batu bara terbesar keluarga Sukatmadja. Baginya, seni adalah hal yang sia-sia, LInaro terpaksa mengikuti perintah Ayahnya.

Sampai Suela, harus menerima kepahitan dalam keluarga dan profesi yang ia jalani. Mengetahui, bahwa saudara satu-satunya meninggal karena overdosis obatan terlarang, membuat Suela bertekad menerima kerjasama dari pihak kepolisian untuk menemukan mavia terbesar di kotanya.

Die Lien, adalah petugas detektif kepolisian khusus dari Tokyo, datang untuk menuntaskan kasus mavia jaringan Tokyo-Telemor. Suela dan Die menjadi partner yang baik. Kemudian, benih-benih cinta pun tumbuh seiring berjalannya waktu. Die dan Suela saling jatuh hati.

Namun, ringtangan demi rintangan datang menghampiri, atas kasus yang mereka kerjakan, juga cinta yang mereka jalani.

Bagaimana kisah Suela dan Die selanjutnya? Jangan lupa tetap stay dan baca kisahnya.

chap-preview
Free preview
Linaro
“Bagaimana keadaan pasien?” Langkah Suela melaju cepat. Ia tak punya banyak waktu untuk melihat pasien yang tengah kritis di ruang ICU. “Saat ini dia kejang, dan terus muntah Bu!” perawat yang mengiringi Suela tampak pucat, dan menaruh kekhawatiran. “Kenapa kau begitu gugup?” Heran Suela. Perawat itu menggeleng, lalu memasuki pintu ruangan, serta memberi jalan agar Dokter Suela dapat melihat keadaan pasien. Seketika langkah Suela terhenti, melihat pasien yang meregang di atas bed rumah sakit. Bibirnya bergetar, dadanya berdegub kencang. Dia tak mampu melangkah maju, juga untuk mundur. Seakan tak terima dengan kenyataannya. Dia menggeleng dengan keras. Lalu menutup mulutnya. “Bu!” Sentuh perawat pada pundaknya. Mengejutkan Suela untuk segera sadar. Karena nyawa sang Kakak, sudah berada diujung tombak. “Baiknya, kita lakukan pertolongan segera!” Suela berpikir, perawat itu benar. Nyawa Kakaknya sedang dipertaruhkan karena barang haram yang ia pakai. Alasan yang kuat, saat ia mengenyam pendidikan jurusan kedokteran spesialis Adiksi di Tokyo. Adalah untuk mengurangi jumlah pecandu narkoba di Negaranya, khususnya di Kota Telemow. Seraya mengambil jarum suntik, Suela bergumam. Dia meringis menahan rasa kecewa. “Kenapa kau lakukan ini Kak?” Jeritnya dalam hati. Setelah Suela memberikan penenang, dan obat pereda nyeri. Kakak Suela tertidur, dengan sekujur tubuh penuh dengan keringat basah. Bibirnya pucat, matanya kehitaman. Suela masih tak percaya, pasien kali ini adalah Kakaknya sendiri. *** Suela nampak gelisah. Dia ragu untuk mengatakan berita buruk itu pada Papinya. Namun, suara Papi yang terus bertanya -ada apa-, membuat Suela mulai berbicara. “Hallo Pa! Kak Aro masuk rumah sakit.” “Apa? Aro di rumah sakit. Kenapa dengannya? Bagaimana keadaannya?” Papa terlihat khawatir. Bagaimana tidak? Penerus perusahaan batubara terbesar di Telemow hanyalah Aro semata. Suela dan Aro adalah dua bersaudara dalam keturunan Sukatmadja. Sebagai anak laki-laki, Aro berhak meneruskan perusahaan sang Ayah. Sedang Suela memilih jalannya sendiri, dengan sekolah di Tokyo dan mewujudkan impiannya menjadi seorang Dokter Adiksi. “Sebaiknya, Papi dan Mampi ke rumah sakit kepolisian sekarang.” Suela duduk di sebelah Linaro. Dia menatap sang Kakak yang tengah terbaring lemah. Dia tak pernah menyangka, pria yang selama ini ia banggakan setelah Ayahnya. Ternyata terjerat dalam lingkar hitam benda haram itu. Beberapa kali Suela menghapus bulir air matanya. Linaro, yang sering dipanggil dengan sebutan Aro. Kakak terbaik yang pernah ada. Dia selalu melindungi Suela di manapun dia berada. Meski Suela di Tokyo, Aro akan tiba sesegera mungkin, jika terdengar kabar Suela sakit atau membutuhkan bantuan. Belakangan ini, Aro dan Suela memang jarang bertemu. Dikarenakan kesibukkan masing-masing. Aro tengah digembleng Papinya menjadi pengusaha yang baik. Setiap hari, Aro pergi pagi dan pulang tengah malam dari kantornya. Suela tak menyangka, akhirnya Aro menerima permintaan Papi, setelah dua bulan lalu Papi membujuknya untuk menjadi manager di perusahaan keluarga mereka. Aro sangat suka dengan biola, dia kerap mengalunkan irama syahdu dengan biola klasiknya. Di rumah, taman, bahkan tempat-tempat pertunjukkan. Namun, Papi tak pernah menyukai apa yang Aro suka. Sama halnya seperti impian Suela saat ini. Aro dipaksa meninggalkan musiknya. Bagi Papi, menjadi seorang seniman itu tidak menghasilkan. Tidak keren, dan tidak menjanjikan masa depan. Mulai dari sana, Aro menjadi pendiam. Dia menuruti semua perintah Papi tanpa ada penolakan. Suela menyesal tak menyadari perubahan perilaku pria bertubuh atletis itu. Suela merasa gagal, menjadi adik yang baik bagi Aro. “Suela!” Panggilan Mami membuatnya terperanjat. Suela bergegas menemui kedua orang tuanya. “Kenapa dengan Kakakmu Suela? Apa yang terjadi?” Papi memegangi sekujur tubuh Aro. Sedang Mami tak mampu menahan air mata seorang Ibu melihat sang anak tebujur kaku. “Kak Aro ... Kak Aro ... over dosis, Pi.” Suela mengatakanya dengan ragu. Jika Suela kecewa, tentu saja hal ini membuat kedua orang tuanya terluka. “Apa maksudmu Nak?” Mami lebih tak ingin mendengar kelanjutan untuk sebuah kabar yang lebih buruk. Suela tahu, Mami ingin Suela mengatakan hal yang baik-baik saja. Namun, nyatanya Aro memang sudah terjerumus dalam dunia hitam. “Kak Aro over dosis menggunakan obatan terlarang, Mi.” Suela menjadi lega sekaligus lemas. Melihat sang Ibunda terduduk dan tak berdaya. Sedang Papinya, menggeleng tak percaya. “Tidak! Itu tidak mungkin!” Teriaknya sendiri. “Mana mungkin Aro, bisa terjebak dalam hal semacam itu. Mengapa harus Aro?” Papi terlihat sangat kecewa. Dia berulang kali mengatakan tidak. “Tenanglah Pi, kita akan lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Kak Aro, Suela janji!” Suela mengantarkan kedua orang tuanya menuju baseroom rumah sakit. “Mami dan Papi, tidak perlu cemas. Suela akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengembalikan Kak Aro seperti dulu lagi.” Papi dan Mami tak banyak bicara. Mereka bahkan tak mengatakan sepatah kata pun saat meninggalkan rumah sakit. Suela tahu, betapa besar harapan Papi pada Aro. Kekecewaan yang sangat mendalam Aro berikan pada kedua orang tuanya. Setidaknya Papi akan malu. Jika semua koleganya tahu, kalau manager yang selama ini ia banggakan, adalah seorang pecandu narkotika. *** “Beri pemicu jantung!” Tangan Suela cepat menarik benda medis berbentuk persegi itu dari dada Aro. Suara detik pendeteksi pompa jantung, terdengar keras di ruang ICU. Beberapa perawat sigap mengecek nadi dan daya pompa jantung Aro. Sedang Suela terus berusaha memberi kejut pada jantungnya. Suara deteksi jantung, menjadi satu arah. Hanya satu nada panjang yang membuat Suela terus memompa. “Tidak, Kakak harus kuat!” Ucap Suela dibalik masker hijau khusus operasi. “Innalihali wainalillahi rojiun.” Ucap salah satu perawat melihat keadaan Aro yang sudah tak bernyawa. Tidak dengan Suela, dia terus memberikan kejut. Berharap sebuah keajaiban datang untuk Kakaknya. Suela menangis sampai merintih. Dia terus melakukan apa saja, agar Aro tetap terjaga. Namun, suara dari mesin kecil itu sudah berakhir. Itu tandanya pupus sudah harapan Suela untuk kesembuhan sang Kakak. Aro telah berpulang, dipanggil oleh yang Maha Kuasa. “Tidak!” Seru Suela. “Ini tidak mungkin, ayo Kak bertahanlah!” Suela menggoyang-goyangkan tubuh Aro. Beberapa perawar menahannya agar tenang. “Sabar Dok, pasien sudah tiada.” Dia melepas semua yang ia pegang sebelumnya, kemudian terduduk lemas. Seketika cahaya terang ruang operasi menjadi redup. Suela merasa dunia ini berputar, seperti itu juga saat ia tahu sang Kakak tak dapat diselamatkan. Suela kini tak sadarkan diri. *** “Maafkan aku Kak! Aku mampu menyembuhkan orang lain, tapi tidak denganmu.” Suaranya bergetar. Mata sembab karena tangisan semalaman, juga hati yang masih menolak kenyataan yang ada. Kini Maminya terbaring lemah di rumah sakit. Tak sanggup menerima kenyataan, bahwa anak laki-lakinya sudah tiada. Gundukkan tanah mulai diturunkan. Papan-papan itu mulai tak terlihat. Diiringi dengan isak tangis sanak saudara. Terutama Suela, yang sejak tadi berdiri mematung di ujung pusara. Dia memakai dress hitam polos dengan selendang putih melingkar di kepalanya. Mata sembabnya tertutup oleh kacamata hitam pekat. Suela hampir tak bisa melangkah saat acara pekuburan telah selesai. Dia tetap bergeming. Papi mendekat, lalu berbisik pelan padanya. “Suela, let’s go home!” Suela tidak menjawab. Dari sekian banyak orang di sana, dialah yang paling terluka. Dia mampu menyembuhkan orang lain, tapi tidak dengan saudaranya sendiri. Suela gadis yang rapuh, meski Ayahnya mendidik Suela dengan penuh ketegasan. Dia tetap serapuh Maminya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

My Mate

read
1.5M
bc

Inseparable

read
378.9K
bc

Littles Academy

read
52.7K
bc

Prince Reagan

read
6.4M
bc

Daddy's naughty Princess

read
3.2M
bc

Mated to a Werewolf

read
569.6K
bc

Loved by Twin Daddies

read
1.7M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook