14 : you're falling in love, aren't you?

2041 Words
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Ryan memicingkan mata kepada isi dalam mobilnya. Walaupun kaca mobilnya terbilang cukup gelap, tapi dia masih dapat menerawang dan tahu bahwa River sudah pindah di jok belakang. Cowok itu membukakan pintu depan untuk Jane, kemudian perempuan itu berterimakasih. Ryan sendiri langsung mengitari bagian depan mobil untuk menjangkau pintu jok pengemudi untuk diirnya sendiri. “Hai.” Jane menyapa River. Well, walaupun sedikit gak nyaman dengan situasi seperti ini—semua orang pasti juga setuju dengan Jane, perempuan itu tetap tidak bisa cuek begitu saja. Dia masih punya good manners dari dirinya sendiri. Menyapa River disini adalah kewajibannya. “River, ya?” Yang diajak mengobrol langsung melongokkan kepala pula, tersenyum dan membalas jabatan Jane. Posisinya, Jane menolehkan badan ke belakang, condong untuk menjangkau wajah River. Beruntung di pukul tujuh malam ini, lampu kuning di dalam mobil sudah dinyalakan, membuat Jane bisa mengamati seperti apa River. Jangan menuduhnya yang tidak-tidak, bukan maksud hati Jane buat ngebanding-bandingin sama dia, kok. Well, walaupun Jane ini gak bisa dikatakan cewek baik, bukan berarti dia sejahat itu juga, kali. River cantik, Jane akui tidak jauh berbeda dengan foto-fotonya di i********:. Cewek itu punya hidung bangir yang membuat Jane sedikit insecure. Apa lagi matanya tajam dengan bulu mata lentik tanpa ekstension, tidak seperti miliknya. Enough. Jane gak mau insecure sama sahabat baik Ryan. “Iya. Dan lo... Jane?” “Yup. Jennie Laura.” River mengangguk. “Nice to meet you.” “You too.” “Done, ladies?” Ryan bertanya. “Akur-akur, oke? Now miss Laura, please wear your seat belt.” “Ya, ya, ya.” Jennie langsung balik badan lagi buat menghadap depan kemudian memasang sabuk pengaman. Kemudian selanjutnya, mesin mobil dihidupkan dan mereka berangkat. Entah kemana, Jane dan River sama-sama ngikut aja. Jane diam-diam membatin. Oke, sepertinya gak terlalu buruk. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Ini kita mau kemana?” Ryan yang ditanya Jane begitu jadi menoleh sesaat ke arah perempuan cantik tersebut. “Makan malem.” “Lo belum makan malem?” Ryan menggeleng. “Jangan bilang lo udah?” Karena kalau Jane betulan udah makan malem, artinya Ryan harus cari tempat lain selain restoran, right? Sementara dia clueless banget di daerah sini. “Belum juga, kok.” “Oh, kirain.” “Let me guess.” “Mm-hm?” “Lo mau ngajak gue ke restoran, kan?” “Ya.” “Flora Resturant?” “Damn, girl. How come you know it?” Jane terkekeh sambil tersenyum sombong. “Tahu, lah.” “Kita makan dulu disana. Abis itu gue bawa ke tempat lain.” “Ke?” “You will see soon, miss.” Jane hanya mengangkat jempolnya sebelum memilih diam. Sementara belum apa-apa, River sudah menarik nafas panjang. Ini gak bakal berjalan mudah. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Siapapun kalau jadi River, sudah pasti akan merasa sebal. Gak cuman karena dia suka sama River dan sekarang di depan matanya ada pemandangan cowok yang dia suka sedang bercanda tawa dengan perempuan lain, pun misal River tidak memiliki perasaan lebih pada laki-laki itu, tetap saja dia gak nyaman buat jadi nyamuk pas orang lain pacaran. Iya, kan? Sebenarnya, dari sudut pandang River sendiri, dia tidak puya first impression buruk pada Jane. Perempuan dengan nama lengkap Jennie Laura itu menurutnya bukan cewek dramatis yang bakal mengusir River hanya karena mengganggu dinnernya dengan sang gebetan. Pun cara Jane berbicara padanya sama sekali tidak menyebalkan. Tapi balik lagi ke problem awal, baik River dan Jane sama-sama tidak nyaman. “Mau apa, Jane?” Ryan menanyakan gadis yang duduk di sampingnya itu sementara dia membuka buku menunya sendiri. “Samain aja.” “Serius? Gue americano.” “Oke, gak jadi kalau gitu. I’m frappucino.” Ryan terkekeh. Gadis itu memang pembenci nomor satu kopi amerikano. Sebagai pelampiasan rasa gemasnya, Ryan menepuk kepala Jane kemudian mengusapnya. “Lo, Ver? Mau apa? Atau kayak biasanya aja?” River mengangguk. “Yep. Kayak biasanya aja.” “Oke.” Kemudian Ryan menyebutkan satu-persatu pesanan meja mereka. Yang mana tanpa Ryan sadari, Jane langsung diem dan mikir. Sedekat itu sampai hafal pesanan River tanpa harus tanya ulang? Oh... oke. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Kalian temen dari lama?” Jane memulai pembicaraan karena sejujurnya dia sedikit tidak enak kalau dia terus yang ngobrol sama Ryan, sementara River lebih banyak diamnya. “Atau baru-baru ini?” “Kenal dari SD sebenarnya,” River menjawab. “Tapi ketemu lagi pas kuliah.” “Ooh,” Jane manggut-manggut. “Deketnya juga dari SD?” River menggeleng. “Boro-boro. Ryan enaknya emang social butterfly, kan? We all know that.” “Iya, tapi dia gak bisa deket banget sama orang. Cuman kayak temen biasa aja yang lain.” River mengangguk setuju. “Gue temenan deket sama dia karena kita udah nyambung aja ngobrolnya.” “Sebenernya karena dia ngintilin gue aja kemana-mana, dulu. Awalnya gitu,” Ryan menyahut membuat kursi kakinya tiba-tiba ditendang oleh River. “Rese!” “Lah, emang, kan?” “Ya bahasa lo kayak gue stalker aja.” “Loh, emang bukan?” “Dih! Bukan, lah.” Ryan ketawa meledek dan River tetap mengumpati cowok itu, membuat kemudian keduanya tenggelam dalam tawa. Jane menarik nafas dalam, melanjutkan untuk memakan spagetinya yang ada di depan mata, yang maish sisa setengah piring itu, membiarkan Ryan dan River kini malah asik mengobrol berdua untuk mengulas kisah masa lalu mereka saat masih SD yang tentu aja Jane gak paham dan gak bisa ikut ngobrol. Jane mulai merasa makin gak nyaman kala saat dia sudah selesai makan, dengan frappucinonya yang masih tersisa banyak itu, River masih terus-terusan mengajak mengobrol Ryan, sementara cowok itu menanggapi dengan baik. “...tapi si Kribo bilang lo sombong dan sok, Ver. Sumpah.” “Yah, lo kan tahu kenapa. Gue kalau belum deket sama orang emang males ngomong banyak. Ngapain juga?” “You should being warmer to stranger, you know? Emang lo suka disinisin orang yang gak lo kenal?” River baru mau kembali jawab dengan membuka mulut tapi Jane langsung berdeham dengan keras. River dan Ryan langsung menoleh cepat, sedikit kaget juga. “Sori, gue mau ke toilet.” River tersenyum dan mengangguk. “Oh? Oke. Atau mau gue temenin?” Jane balik senyum tapi menggeleng. “Gak perlu. Lo bisa lanjutin ngobrol sama Ryan. Gue ke toilet bentar, ya.” Jane sadar Ryan langsung kayak ngerasa agak bersalah dan menatap punggungnya yang berjalan menjauh, mungkin cowok itu baru sadar kalau dari tadi dia biarin Jane makan dalam keheningan sementara dia asik ngobrol sendiri sama River. Lagian Jane jadi aneh sendiri sama Ryan, biasanya cowok itu punya kadar kepekaan yang luar biasa, sekarang malah tiba-tiba jadi nol. Emang semua cowok tuh pada suka rese banget kalau disuruh milih di antara dua pilihan. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Halo?” “Haaan,” Jane langsung merengek kala panggilan teleponnya tersambung ke nomor teman yang ia hubungi ini. Dengan duduk di atas kloset, cewek itu sebel sendiri karena merasa jadi nyamuk malam ini. “Sumpah ya lo harus tahu gue bener-bener pengen nyakar dinding!” “Hah? Gimana?” “Wait, wait. Ini lo gak lagi ena-ena sama si Jeff, kan? Gue kapok telpon sama lo sambil dengerin Jeff—“ “Gak, gak. Santai aja. Gue lagi di kosan Jeff tapi lagi gak ngapa-ngapain.” “Oke. Jadi ceritanya—“ Kemudian Jane menceritakan dari awal sampai akhir perihal Ryan yang ngajakin dia jalan-jalan sampai nyusulin ke rumah dan ngobrol sama orang tuanya, kemudian Ryan yang malah ngajakin River, kemudian River yang ternyata menurut Jane gak terlalu nyebelin karena ramah-ramah aja di awal, hingga kemudian kini dia malah ke toilet karena Ryan dan River asik ngobrol sampai ngacangin dia. Di seberang sana, Hanna malah ketawa yang bikin Jane dua kali lipat lebih sebel. “Lagian, harusnya dari awal langsung ngomong dong ke Ryan kalau lo gak nyaman misal jalan bertiga.” “Harusnya dia juga peka gak sih? Gue kan bukan siapa-siapanya, masa mau blak-blakan ngusir si temen deketnya itu?” “Ya bukan biasanya Jane emang blak-blakan?” “Duh, tapi kan sesuai kondisi, Han. Gak tahu diri bangetlah misal gue ngomong gitu.” Hanna menghela nafas. “Tapi so far si River gak nyinisin lo yang gimana-gimana, kan?” “Enggak.” “Jadi ini cuman perihal lo yang ngerasa out of the box karena Ryan dan River—eh iya kan namanya River?” “Iya, River.” “Nah, karena Ryan dan River asik ngobrol dan lo yang jadi nyamuk?” Jane bergumam mengiyakan. “Hmm.” “Oke, gue bisa ambil kesimpulan. Lo nih lagi jealous sih kata gue.” “YAELAH MAIMUNAH NGAPA MALAH JADI JELES?!” Jane sampai berseru. “Heh, lo jangan teriak-teriak anjir bukannya lagi di toilet/” Jane membungkam mulutnya sendiri. Apa lagi kemudian bilik toiletnya di gedor dari bilik samping bikin Jane meringis doang. “Iya, lupa.” “Ya udah intinya gitu. Lo udah gede, gak perlu lah gue jelasin panjang-panjang. Lo ini lagi cemburu sama River apa lagi lo bilang dia kelihatan tahu banget soal Ryan, so does he. That’s mean jealous.” Jane langsung diem. “Helo, Jane? You still there?” “Ya.” “Oke, take your time di WC umum buat mikir. Tapi kesimpulan gue gak berubah,” Hanna kemudian tertawa geli. “Glad that you can falling in love again. Semoga yang terbaik buat lo dan Ryan, deh. Cepet jadian biar ada komitmen dan lo bisa tenang kalau ada cewek yang mepet Ryan mulu.” Jane lagi-lagi cuman bisa diam. Isi kepalanya langsung kayak benang kusut. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD