* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Sebenarnya, Ryan merasa sedikit tidak enak pada River. Bagaimanapun, River ini teman baiknya sejak lama. Kemudian dengan sikapnya yang seperti ini, seolah jadi seenaknya pada perempuan itu—mengajaknya ke rumah orang tua Ryan kemudian sekarang seolah mengusir River karena dia ingin bertemu dengan Jane—rasanya hanya begitu tidak pantas.
Karena merasa gak nyaman jika dia berperilaku seperti itu pada River, Ryan akhirnya menoleh lagi pada gadis di sampingnya yang sedari tadi jadi diam.
“Mau ikut gue aja?”
“Ikut kemana?”
“Ketemu Jane. Kan tadi gue udah bilang kalau gue mau ketemu Jane.”
River melotot, kemudian menggeleng dengan sorot ngeri seolah dia baru ngelihat setan. “Gak. Males banget ikutan lo ngebucin. Tega bener gue disuruh jadi nyamuk.”
“Enggak bakal lah. Ya kali gue biarin lo jadi nyamuk yang nganggur gak mau ngapain.”
“Gak, thanks. Pulangin aja gue.”
Ryan berdecak jadinya. “Gak papa, Ver. Gue yang gak enak, nih, kalau langsung mulangin lo.”
“Ya ngapain sih harus gak enak segala, hah?”
“Ya... gak enak aja,” Ryan mengerutkan hidungnya. “Udah, lah, ikut gue aja.”
“Biar apa?”
“Biar kenal sama Jane.”
“Kalau kenal terus apa?”
Ryan kini berdecak lagi. “Ya udah kenal aja, nambah relasi masa gak mau, sih? Lagian kenapa deh lo gak mau banget? Orang gue sama Jane ya gak bakal ngapa-ngapain juga. Paling juga cuman makan terus udah.”
“Halah, masa, sih?”
Ryan berdeham membersihkan tenggorokannya yang terasa kering. “Iya,” ujarnya sedikit ragu. “Kalau lo ikut ya emang gak bakal aneh-aneh.”
River mendengus. “Dasar lo.”
“Jadi gimana? Ikut gak? Jane baik, kok. Gak bakal digigit juga lo.”
“Ya kalau dia berani gigit gue, gue jambak dia.”
Ryan langsung memicingkan mata ke arah sahabatnya, kemudian tertawa garing.
“Berarti gimana?” Ryan menuntut jawaban.
River diam sesaat untuk mempertimbangkan. Sejujurnya dia males banget kalau disuruh jadi nyamuk. Ngebayangin ngelihat Ryan sama cewek lain yang kemungkinan besar bakal jadi pacaranya, selain akan membuatnya malas dan jengah, dia juga bakal sakit hati sendiri. Belum lagi kalau Ryan dan Jane ternyata sama-sama punya kecenderungan PDA alias bermesraan di tempat umum. Belum lagi kalau mereka berdua jalan-jalannya bakal lama banget, kan mendingan dia di rumah dan tiduran mumpung weekend.
Tapi River pun tahu, kalau dia menolak, pasti Ryan malah bakal tanya-tanya mulu kenapa dan kenapa. Karena setahu cowok itu, River selama ini kalau mau diajak kenalan sama temennya Ryan, siapapun, mau cowok atau cewek, pasti mau.
Akhirnya dia menghembuskan nafas dan mengangguk sebagai jawaban.
“Oke, gue mau. Tapi kalau gue nanti—rrr, gak nyaman, maksud gue pengin pulang aja, gue balik ya?”
“Iya, deh.”
“Oke.”
Toh mungkin Jane ini memang bukan perempuan menyebalkan? Batin River sembari menyemangati diri sendiri.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Setelah Ryan tiba di apartemennya lagi usai dia dari rumah orang tuanya membawa River—omong-omong, sahabatnya itu ia pulangkan lebih dulu. Sebenarnya dia gak keberatan kalau River mau disini, di apartemen dia aja, jadi Ryan gak perlu bolak-bolak jemput River, terus jemput Jane yang lagi di rumah orang tuanya itu.Tapi River sendiri yang menolak karena dia gak tahu juga mau ngapain kalau di apartemen sama Ryan. Berdua doang pula.
Walaupun mereka emang sering begitu, maksudnya selama ini dua-duanya gak pernah canggung-canggungan, pun mereka juga teman dekat, tapi tetep aja. Bagi River, senyaman apapun paartemen cowok itu, Ryan maksudnya, lebih nyaman lagi tempatnya tinggal ini.
Karena Ryan gak mungkin membawa River tiba-tiba di depan Jane, jadi cowok yang kini sudah melepas kaos dan memilih telanjang d**a sementara celana panjang yang tadi ia kenakan untuk ke rumah orang tuanya itu tak ia ganti sama sekali, Ryan sekarang sedang berkutat dengan ponselnya dengan punggung bersandar pada ranjang, berniat menghubungi Jane.
Sejujurnya, Ryan tahu sih ini sedikit ribet. Dia terlalu merasa sungkan pada River karena merasa bersalah akibat kalimatnya yang terdengar mengusir River dengan mengatakan bahwa dia tidak bisa membawa River kemana-mana akibat janjinya dengan Jane. Padahal kalau sekarang dipikir-pikir lagi, keputusan tersebut juga salah. Dia kan niatnya ngajakin Jane dinner romantis. Kalau bawa River, dia jadi bingung sendiri nanti bakal gimana.
Beda cerita kalau dia mempertemukan dua perempuan itu secara singkat saja sebagai formalitas untuk memperkenalkan temannya pada calon perempuannya, dan sebaliknya. Tapi mau gimana lagi? Semuanya sudah terlanjur sekarang.
Ryan menekuk jemari-jemari tangannya, kemudian membunyikan tulang-tulang tersebut untuk menghilangkan rasa pegalnya yang sedari tadi banyak mengemudi.
Dia mengamati kolom pesan di hapenya yang menunjukkan beberapa pesan pagi tadi dengan perempuan itu—Jennie Laura—dan sekarang Ryan lagi mikir gimana caranya buat ngomong sama Jane.
“Hfff, makanya sebelum ngomong tuh dipikir dulu,” ujar Ryan bermonolog, menyalahkan dirinya sendiri yang memang lebih sering dan suka banget berperilaku implusif seperti ini, tanpa ada niat memikirkan resiko dan apa-apa yang akan terjadi nanti.
Tapi sekali lagi, Ryan sudah terlanjur mengajak River, kan? Dia tak mungkin menarik tawarannya pada teman baiknya tersebut.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Christian Dave:
what you do, miss?
or you taking a nap?
Ryan mengirim pesannya sudah semenjak dua menit yang lalu. Dan kini dia berdiam diri hanya untuk menunggu balasan, tak berminat kemana-mana, atau melakukan hal lain selain mengamati ponselnya. Karena centang dua yang ada di kolom pesan tersebut berubah jadi biru dalam waktu singkat, tandanya Jane lagi bisa fast response sekarang.
Jennie Laura:
im nah, abis nemenin mama home care di depan
whats up mr?
Christian Dave:
can i call u?
Jennie Laura:
sure
Kemudian Ryan langsung menekan fitur video call dan hanya berbeda sepersekian detik sebelum Jane mengangkat panggilannya.
“Katanya call doang.”
Ryan angkat alis tinggi gak paham. “Gimana?”
“Ini video call, bukan call.”
“Ooh,” cowok itu terkekeh. “Biar sekalian, lah.”
Jane tersenyum meledek. “Bilang aja lo kangen, kan, sama gue?”
“I do, kok. So can you come here?”
Jane jadi mendengus mendengar itu. “Padahal gue bercanda lo nanyanya tadi.”
Ryan tertawa. “You will never be serious to me, aren’t you?”
Jane langsung mengatupkan bibir.
Ryan yang seketika juga tersadar bahwa ia telah salah bicara langsung melanjutkan. “Kidding, girl.”
“Hm. Jadi kenapa telpon? Mau ngomongin apa?”
“Wait, wait.”
“Apa?”
“Lo, nih, lagi di kamar mandi, ya?”
“Ooh,” Jane mengangguk. “Iya.”
“Pantesan.”
“Pantesan apa?”
“Baunya kecium sampai sini.”
“Ish, gue bukan lagi di toilet, ya! Bukan lagi di WC. Ini gue lagi, nih—“ Jane menunjukkan bahwa dia sedang di depan cermin toiletnya walaupun memang sedang memakai handukkimonoatau bathrobe. Dia memutar kameranya juga. “Tuh, lihat.”
Ryan jadi tergelak. “Iya, iya. Percaya gue. Duh, padahal tadi juga cuman canda doang.”
“Ye, bercandanya gak lucu.”
“Ngeliat lo melotot kayak barusan lucu, tuh.” ujan Ryan masih dengan sisa tawanya.
“Bodo, Yaaan, bodo.”
“Oke, oke serius,” Ryan berdeham. “Jadi gue video call ke elo karena mau bilang... hm, gue mau ngenalin temen gue ke elo. Nanti. Sekalian pas gue ngajakin lo keluar itu. Gimana?”
Jujur aja, Ryan sebenarnya jadi gak enak juga (lagi) karena dia tahu Jane juga gak bakal bilang jangan atau enggak. Ya kali dia mau ngelarang Ryan, kan? Nah itulah yang bikin Ryan jadi agak bimbang ngomongnya.
“River itu maksudnya?”
“Iya, River. Lo keberatan, gak?”
Jane di seberang sana diam, yang mana bikin Ryan jadi was-was sendiri.
“Jane?”
“Lo udah ngomong ke River buat ngajakin dia ketemu gue, kan?”
“Ya...udah...”
“Ya udah, berarti harusnya emang ketemu, kan?”
“Wait. Misal lo keberatan, gue bisa ngomong ke dia—“
“It’s okay, Yan. Gak apa. Ajak aja dia jalan sama kita,” Jane tersenyum meyakinkan. “Yah, walaupun sebenernya gue kira malem ini kita ngedate berdua, sih...”
Well, bukan Jane namanya kalau gak berani mengutarakan apa yang sebenarnya ia rasakan, kan? Dan dia memilih untuk mengeluarkan saja unek-uneknya. Karena dari awal diajakin Ryan, dia emang ngiranya bakal jalan berdua. Dan membayangkan jalan bertiga sama temen Ryan—walaupun ngakunya cuman temen, tapi jangankan cewek, kalaupun misal River adalah cowok, pasti tetep gak enak, kan? Ibaratnya lo mau jalan sama pacar lo tapi bawa temen lo.
That’s freaking weird. Jane gak suka.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Ibaratnya lagi presentasi, pasti ada bagian notulensi yang fungsinya buat mencatat hasil kesimpulan selama diskusi berlangsung. Begitu pulan dengan hasil lima belas menit Ryan dan Jane video call tadi. Karena tak ada lagi yang dibahas dan ditambah pula perempuan itu yang dipanggil oleh sang ayah, akhirnya Ryan mengangguk ketika Jane berpamitan.
Kesimpulan yang diambil adalah bahwa semuanya berjalan sesuai hasil dari perbuatan Ryan. Yakni mereka akan tetap keluar jam tujuh malam nanti dengan River. Iya, betulan bakal jalan bertiga. Ryan sedikit besyukur dia gak buru-buru reservasi restoran kayak dulu pas jaman awal-awal dia dinner sama Jane. Kan bakal makin aneh misal dia dinner romantis lagi sama Jane tapi dilihatin sama River.
Akibat hasilnya begitu, Ryan akhirnya mikir buat ngajakin kemana dua cewek itu. Beberapa kali ia jadi meringis karena membayangkan dia akan membawa dua perempuan sekaligus. Dia bukan malu karena takut nanti ada orang yang mikir dia bawa dua pacar sekaligus, bukan tipe Ryan banget mikirin hal gak penting semacem omongan orang. Tapi yang dipikir adalah apakah Jane dan River bisa jadi teman baik mengingat Jane bukan tipe cewek yang suka kenal dengan orang baru. Apa lagi River sifatnya sebelas dua belas sama Jane, sama-sama keras kepala dan gak mau ngalah.
Cowok itu mengacak rambutnya, luar biasa bingung.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Gue jemput jam setengah enam.”
Ryan mengirimi voice note tersebut pada River, pertanda bahwa ia menyuruh sahabatnya tersebut untuk gak molor dan langsung siap pas dia udah jemput.
Mengingat dia dan River letak rumahnya lebih dekat, alhasil dia menjemput teman baiknya dulu tersebut dibanding Jane yang lagi pulang ke rumah orang tuanya. Maka dari itu, karena dia juga tidak suka menunggu dan tidak suka kalau orang yang dia janjiin keluar bareng sampai menunggu, Ryan gak mau Jane terlalu lama dibikin ngentang.
“Iya, bacot.”
Balasan voice note dari River tak dibalas lagi oleh Ryan. Cowok itu melirik jam dinding yang menunjukkan pukul lima, setelah ini berarti dia akan berangkat. Ryan meraih satu jam tangan favoritnya di antara puluhan jam tangan lain yang berjejer di rak—itu jam favoritnya karena pertama kali dia dinner romantis sama Jane dulu, dia pakai jam ini.
Setelah menutup pintu dan mengantungi kartu aksesnya di dompet, Ryan yang memakai pakaian kasual dengan sepatu sneakers tersebut akhirnya masuk ke lift dan turun ke lantai dasar atau basement untuk mengambil mobil.
Gak butuh waktu lama sampai ia akhirnya menekan klakson untuk meminta River segera keluar. Dan yang diharapkan pun muncul dengan outfit andalannya : celana joger, kaos biasa, dan jaket hitam andalannya pula yang hampir buluk karena terlalu sering dipakai. Rambutnya dikuncir satu. Cewek itu benar-benar gak pernah merubah style nya dari dulu.
“Ini gue beneran harus ikut, ya?” River nanya dengan suara gak yakin. “Jujur gue males jadi nyamuk.”
“Masuk, Ver. Rumah bokapnya Jane jauh, keburu nunggu lama dia.”
“Duh, serius,” River yang masih berdiri di samping mobil dengan kaca yang terbuka—membuat Ryan bisa melihat penampilan gadis itu. “Gue gak ikut, lah. Males tau!”
“Gue udah terlanjur disini dan udah ngomong juga ke Jane.”
“Kata dia gimana?”
“Ya gak paa-apa.” walaupun anaknya juga agak bete, lanjut Ryan dalam hati. Lagi pula itu bisa diurus nanti.
“Hffft, ya udah deh.”
River langsung membuka pintu dan duduk di samping Ryan.
“Ver.”
“Hng?”
“Nanti kalau nyampe rumahnya Jane, gue minta tolong lo pindah ke jok belakang gak apa-apa, ya?”
Mendengar itu, River langsung menoleh dengan sorot protes dan gak percaya.
“Please?”
River menghela nafas. “Fine.”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Ryan meminta River untuk gak turun dari mobil selama Ryan masuk ke dalam rumah kediaman milik orang tua Jane.
Kalau ditanya apa cowok itu deg-deg an, jawabannya adalah iya. Cowok itu sama sekali gak pernah berkunjung ke rumah orang tua perempuan yang sedang dekat dengannya. Baru kali ini. Maka dari itu, Ryan bahkan dari awal tadi sudah berlebihan dalam segala sesuatunya. Mulai milih pakaian dari atas sampai bawah yang sekiranya tetap sopan untuk berkunjung menemui orang tua Jane tapi tetap nyaman dibuat jalan-jalan sama cewek, menyemprotkan parfum tidak berlebihan—well, kalau soal ini sebenarnya Ryan emang gak pernah menyempror berlebihan. Toh parfumnya cuman berapa kali semprot langsung awet seharian.
Karena tadi sebelum dia turun mobil Ryan sempat memberi tahu Jane bahwa dia sudah sampai, maklum kalau perempuan cantik itu kini yang membukakan pagar. Ryan melengkungkan senyumnya seiring Jane mendekat menghampiri.
“Hai,” sapa Ryan.
Jane melirik ke arah mobil sesaat. “Hai. Temen lo mana?”
“Di dalem mobil.”
“Gak disuruh masuk juga?”
Ryan menggeleng. “Gak enak sama nyokap-bokap lo.”
“Ya udah.”
Jane gak mau memaksa, males juga mau maksa. Jadi dia memilih mengajak Ryan masuk ke dalam rumah.
“Lo pernah ngajak cowok ke rumah sebelum ini?”
“Enggak,” Jane menjawab jujur. “Tapi Kaisar udah kenal deket sama bokap-nyokap, cuman dia belum pernah ke rumah. Biasanya selalu gak sengaja ketemu pas di luar doang.”
Ryan ber-oh ria.
“Santai aja.”
“Bokap nyokap lo gak galak?”
“Galak. Tapi gak kayak yang di sinetron-sinetron, lah.”
Ryan menghela nafas. Jawaban Jane sama sekali gak membantunya meredakan grogi.
Jane ketawa. “Muka lo biasa aja kenapa, sih? Orang cuman mau pamitin ke bonyok gue buat ngajak keluar doang juga, bukan mau izin ngelamar.”
“Tetep lah. First impression itu penting.”
“Ya iya, sih. Tapi ngelihat lo ciut begini—“ Jane terkekeh. “Agak gak cocok sama badan macho lo.”
Ryan nyengir dikit. Bodo amatlah. He’ll just do the best he can do. Toh selama ini orang tua Ryan gak pernah gagal mendidik puteranya untuk jadi orang baik. Jadi seharusnya first impression orang tua Jane pada Ryan gak terlalu buruk.
Seharusnya memang begitu.
We will see soon.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Halo Om. Halo Tante.”
Ryan menyalimi tangan orang tua Jane yang udah duduk nyaman di sofa ruang tamu, seolah mereka emang udah siap berhadapan dengan laki-laki yang katanya mau ke rumah itu.
“Halo. Christian, ya?”
Ryan mengangguk. “Iya, Om.”
“Panggilannya?”
“Ryan.”
Papa Jane mengangguk-angguk kemudian sang mama menoleh ke sang anak. “Kamu kenapa disini? Sana ke dapur, bikin minuman.”
“Hah kok aku, sih?!”
“Jane...”
“Oke, oke, iya aku yang bikin.”
Jane mengalah, kini beranjak dari duduknya yang baru berlangsung gak lama itu karena sang mama sudah menurunkan perintah. Emang apa daya seorang Jennie Laura yang diagung-agungkan di kampus itu. Kalau di rumah dia tetap aja ngerasa jadi rakyat biasa yang harus patuh sama perintah presiden. Alias kanjeng maminya.
Sebenarnya Jane udah punya firasat kalau ibunya menyuruh dia menyingkir dari ruang tamu karena ingin leluasa bertanya-tanya ke Ryan. Dia udah hafal banget sama gelagat ibunya walaupun ini pertama kalinya dia ngajak cowok ke rumah. Well, dari tadi siang pas Jane bilang kalau temen cowoknya mau kesini aja ibunya udah langsung banyak tanya, banyak mengorek informasi. Entahlah. Ibunya Jane emang rempong banget kalau sama urusan anaknya.
“Satu kampus sama Jane?” mama Jane bertanya. “Satu gedung juga?”
“Satu kampus, Tante. Tapi enggak satu jurusan.”
“Ooh, begitu. Kenal Jane dari mana?”
“Kebetulan temannya Jane teman saya juga,” ujar Ryan sopan. “Tapi kalau awal ketemu di warung pecel. Gak sengaja ketemu juga itu.”
“Kalian pacaran kah?”
Ryan meringis mendengar itu. “Masih teman biasa, Tante.”
Papanya Jane ketawa kecil mendengar itu. “Tapi kamunya suka, ya?”
Cowok yang ditanya jadi mengusap tengkuknya canggung.
“Gak papa, kalau sama kami santai aja,” mamanya Jane menjawab. “Saya tanya-tanya begini bukan biar kamu terintimidasi. Cuman setelah putus sama mantannya yang dulu—“
Ryan mengernyit.
“Kamu tahu Kaisar?”
“Oh, tahu Tante. Jane sudah cerita.”
“Nah setelah putus sama Kaisar itu, Jane emang agak menutup peluang buat cowok. Makanya kaget pas tadi dia bilang mau ada cowok ke rumah.”
Kemudian papanya Jane menyahut. “Saya gak pernah membatasi pergaulan anak saya, selama dia tahu resiko yang akan dia hadapi, i let her be. Cuman pesan saya, mau nanti kamu dan anak saya bisa bareng atau enggak, semoga kamu bisa jaga Jane, ya? Semua ayah di dunia pasti pengin anaknya punya pasangan yang baik.”
Ryan mengangguk pasti.
“Dia anaknya emang keras kepala. Banget. Tapi ada minus juga pasti ada plusnya. Intinya sama mau kalian sama-sama intropeksi dan membenahi satu sama lain. Itu aja. Soal jodoh atau enggak, kita ngikutin alur dari Tuhan, kan?”
Ryan mengangguk. “Terimakasih atas kepercayaannya, Om, Tante.”
Christian Dave hanya baru tahu, bahwa pertemuan pertama dengan orang tua Jane menghasilkan percakapan yang cukup berat.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *