12 : she's the one

3437 Words
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Rencana lo hari ini ngapain?” Ryan yang baru menuangkan air putih ke gelas yang baru ia ambil itu jadi menole sesaat sebelum kemudian melanjutkan aktivitasnya. “Mungkin abis ini gabut dulu. Siang gue baru mampir ke rumah bokap-nyokap.” “Oh, ya?” “Hm. Kenapa? Ikut?” “Lo emang inisiatif kesana sendiri atau disuruh?” “Inisiatif sendiri.” “Oh, berarti bukan karena ada acara keluarga or something necessary, kan?” Ryan menggeleng dan duduk di samping River yang belum selesai mengupas salak tersebut. “Ikut?” tanyanya lagi. “Iya, deh, ikut. Lagian gue udah lama gak ke ketemu Om sama Tante.” Ryan cuman mencibir. Mengingat hubungan River dan kedua orang tuanya memang sedekat itu—apa Ryan juga pernah bercerita bahkan River pernah diminta orang tuanya untuk tinggal bersama mereka saja saking mereka sudah mengangga River seperti anak sendiri—Ryan paham gimana River sometimes juga merindukan mereka. “Oke.” “Berangkat jam berapa?” Ryan melirik jam dinding. “Agak entaran aja, lah. Sejam-an lagi.” “Lah, katanya siang? Ini baru jam sembilan lima belas.” “Gak papa, as soon as possible.” “Ye, si labil.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Woah, River!” Nah. Ryan bilang juga apa. River emang sedeket itu sama orang tuanya. Kalau orang asing melihat kedekata mereka, sudah pasti dikira mereka memang anak dan ibu kandung. Bahkan di depan teman-teman ibunya saja, River selalu diperkenalkan sebagai anak kedua setelah Ryan—yang mana kebanyakan orang jadi percaya. Tapi beberapa kali pula, orang luar yang gak kenal, malah ngira River ini sudah dijodohkan dengan River, makanya cewek itu deket banget sama orang tuanya. Kalau udah gosip kayak begitu yang menyebar, biasanya Ryan cuman bisa geleng-geleng kepala aja. Gak ngerti dan gak paham kenapa orang tuh suka banget ngehalu. Dikira jaman sekarang masih musim apa jodoh-jodohan? “Tante!” “Tuh, tuh, tuh!” mamanya Ryan mengernyit dan menggeleng. “Selalu, deh, lupa manggil Mama.” Well, itu adalah bukti kedua. Saking kepengennya sang ibu punya anak cewek, dari dulu River selalu disuruh manggil ibunya dengan ‘mama’ biar makin kerasa intensnya hubungan mereka berdua. Tapi biasanya, karena River belum terbiasa—bahkan malah sering lupa walaupun udah berapa tahun lamanya mereka dekat—jadi dia suka keceplosan manggil Om dan Tante. “Eh,” River cengengesan. “Maaf, lupa, Ma.” “Yuk, ah, masuk. Duh, mama pas gak masak apa-apa pula,” katanya sambil menarik lengan River untuk segera mengikutinya. River yang anak kandung malah ditinggal begitu aja di belakang. Dia baru aja mau jalan masuk mengikuti dua perempuan yang jalannya cepet banget itu, tapi kemudian tepukan di pundaknya membuat Ryan sedikit berjengit terkejut, sebelum menatap datar pada pria brewok yang gak lain dan gak bukan adalah papanya. “Pulang juga kamu.” Ryan, dengan bahu yang dirangkul papanya, berjalan beriringan. “Emang jadwalku pulang, kan?” Padahal memang setiap tanggal merah, dia akan selalu mampir pulang. Entah buat mampir doang atau nginep. Jadi hari inipun memang seolah seperti kewajibannya untuk pulang dan menemui orang tuanya. Toh dia masih ingat kalau dia gak boleh jadi anak durhaka dengan gak pernah pulang padahal gimanapun dia masih butuh orang tuanya. Papanya balik nyengir. “Kamu, tuh, makin tua makin judes aja mukanya.” “Aku belum tua.” “Maksudnya makin berumur itu loh, Son. Ah, kamu nih. Padahal anak papa dan mama, kenapa kamu bisa sok cool begini, ya, anaknya? Jangan-jangan sama semua orang juga gini, makanya kamu jomblo terus?” “Gak ada hubungannya.” “Ada, lah! Kalau kamu terlalu diem dan dingin begini, cewek ya gak ada yang betah sama kamu.” Kemudian pikiran Ryan melayang pada Jennie Laura. Kalau dipikir-pikir, dia gak sedingin itu kok. Apa lagi sama cewek yang dia suka. Dia ke Jane malah selalu ceria dan hangat. “Kalau nemu yang nyaman juga gak bakal dingin, Pa. Aku juga tahu, kali.” “Ow,” Papanya duduk di salah satu kursi kayu yang terletak di taman belakang rumah. Iya, pria itu membawa anaknya untuk duduk dan mengobrol antar ayah dan anak berdua di belakang. “Apa ini maksudnya kamu udah nemu yang nyaman?” “...” Papanya langsung tersenyum lebar. “Wah, kelihatannya udah, nih!” “...” Ryan tetep memilih bungkam. Malah asik ngelihatin rerumputan. “Mamamu pasti heboh sih kalau tahu.” “Jangan ngasih tahu mama dulu.” “Loh, loh, kenapa gitu?” “Hubunganku sama dia belum pasti soalnya.” “Oh, masih baru pdkt?” Ryan mengangguk. “Ya, mungkin abis ini udah jadian, kan? Harusnya kalau ada cewek yang dideketin kamu gak bakal lama jatuh cintanya. Kamu kan nurun Papa! Ganteng!” Ryan menggeleng-gelengkan kepala. Kenapa pula papanya terlahir sebagai manusia yang kayak punya dua kepribadian banget? Biasanya bisa dingin banget sampai Ryan kalau balik didiemin doang kayak angin lalu, tapi juga bisa tia-tiba cerewet dan pede tingkat dewa begini. Heran dia. “Dia bukan cewek biasa.” Duh, kenapa pula tiap ngomongin Jane, Ryan psti tiba-tiba ngerasa kangen cewek itu? Bayangan wajah Jane yang hadir di benaknya kini, seolah sedang tersenyum manis dan terdengar tawa merdunya di telinga, sial... padahal beberapa hari yang lalu dia juga baru ketemu. Kenapa sekarang udah kangen lagi, coba? “Bukan cewek biasa? Oh, dia kayak wonderwoman?” Ryan berdecak mendengar candaan garing bapaknya. “Ya gak gitu kali.” Papanya tergelak. “Makanya kamu kalau cerita jangan setengah-setengah. Dosa bikin orang tua penasaran.” “Papa dulu gimana pas tahu kalau papa ternyata suka sama mama?” “Loh, kok malah tanya balik, sih?” Ryan gak menjawab, hanya saja langsung menatap papanya dengan sorot siap mendengarkan, sekaligus dia menyamankan posisi duduknya. Papanya menghela nafas, tahu kalau pertanyaan anaknya tadi membutuhkan jawaban serius. Jadi dia kemudian berdeham, siap berpidato sembari menceritakan masa lalu indahnya dengan sang istri yang sangat dibucininya itu. “It maybe will sounds cringe and bullshit to you, Son. Tapi pertama kali papa lihat mamamu, papa ngerasa langsung klik. Oke, fisik emang sangat menentukan di mata lelaki. Setuju, kan, kamu?” Ryan mengangguk. Dia benar setuju. Laki-laki manapun, mau cowoknya ganteng maupun gak terlalu ganteng, pasti kalau nyari cewek yang pertama kali dilihatin adalah mukanya. Baru, deh, sifatnya menyusul. Kalau emang cocok, pasti lanjut. Kalau sifatnya gak cocok, gak bakal lanjut. Semua orang pasti begitu. “Nah, ketemu mamamu, ya pasti semua cowok terpesona. Orang emang cakep begitu. Tapi papa lihatnya langsung naksir.” “Emang cowok yang lain gak langsung naksir?” “Maksud papa yang naksir sampai udah nge-fiks-in kalau papa bakal deketin dia.” Ryan ber-oh ria. “Akhirnya pas pertama kali papa ngajak ngobrol mamamu, papa makin ngerasa klik dan langsung ngebatin, kayaknya emang ini jodoh gue” Ryan mendelik gak percaya. “Masa gitu, sih? Di pertemuan pertama langsung ngeh kalau mama jodoh papa?!” “Gak semua orang bakal dapet jodoh lewat cara kayak papa, Son. Ada yang baru lambat laun setelah beberapa lama kenal baru ngeh kalau itu jodohnya, ada yang pacaran udah bertahun-tahun dan tetep dijalanin aja hubungannya padahal udah tahu mereka gak bakal ke tahap nikah. Beda-beda, kan, semua orang? Tapi kalau versinya papa emang kayak gitu. Papa juga gak tahu kenapa bisa, tapi serius, papa emang langsung ngebatin gitu pas ngobrol pertama kalinya sama mamamu. Makanya papa bertekad buat dapetin hatinya.” Sejujurnya, apa yang dipikirkan Ryan saat ini adalah, bahwa dia juga merasakan hal yang sama seperti papanya kala pertama kali melihat Jane, oke mungkin bukan saat pertama kalinya banget. Tapi ketiga kalinya. Di Swill dulu saat dia bersama Hanna, dia tertarik pada Jane karena... entahlah, aura perempuan itu memang sangat memikat. Begitu pula saat dia berada di warung pecel waktu itu. Dia boleh aja kelihatan diem dan gak tertarik ngobrol sama Jane, padahal sebenernya sejak kedatangan cewek itu, dia gak bisa mengalihkan pandangannya untuk mengamati Jane. Dia gak bokis. Tapi ketika dia dipertemukan kembali untuk yang ketiga kalinya, ketika di gedung kampus Jane yang berakhir mereka ke Gowlie tersebut, Ryan memang sudah tertarik untuk mendekat. Bukan dia bohong, tapi dia merasa cocok, kalau kata papanya tadi ‘udah klik dari awal dan ngerasa kalau she’s the one yang dicari Ryan. Maka dari itu, dia langsung bertekad mendekat dan berusaha mendapatkan hatinya, sampai sekarang. Tapi pertanyaannya, apakah Jane merasakan hal yang sama? * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Kalau dia, cewek kamu itu, gimana?” Papanya mencoba memancing. Gimanapun, karena pria tersebut tahu bahwa puteranya memang susah jantu cinta—bukan berarti Ryan tidak pernah jatuh cinta—jadi sekalinya dia mendapati ekspresi tersenyum Ryan yang entah sedang memikirkan siapa itu, membuat dia jadi senang bukan main. Sebagai ayah yang baik, tentu ia ingin anaknya baik. “Kamu juga udah ngerasa bahwa kamu sangat klop sama dia?” Ryan mengangguk sebagai jawaban. Ia menggosok hidungnya sesaat sebagai pelampiasan dari rasa salah tingkahnya. “Dia baik, Pa. She’s one of a kind. Aku gak pernah senyaman ini sama cewek.” “Udah kenal lama?” Ryan menggeleng. “Belum ada satu bulan. Tapi entahlah, aku... kayak yang tadi papa bilang, ngerasa klik aja.” Papanya manggut-manggut. “Kamu udah ungkapin perasaan kamu, Son?” “Udah. Mungkin gak terlalu terdengar meyakinkan karena gak didukung situasi yang supportive, tapi aku tahu dia tahu aku suka sama dia.” “Good, at least dia bisa pikirin mulai sekarang harus kayak gimana sama hubungan kalian. Dia cewek baik? Kenal dimana?” “Apa definisi cewek baik buat papa?” Ryan tanya balik. “Gak mabuk, gak ngerokok?” “Hm, baik is a baik, Son. Tapi gak mabuk dan gak ngerokok gak ngejamin seorang manusia bisa dibilang baik, kan?” Ryan tersenyum lebar. “Setuju. Dan buat aku, dia baik, Pa. Dia penolong, selalu jadi garda terdepan buat belain orang bener, she’s so brave, gak pernah takut buat nyakitin orang lain cuman biar orang lain itu lega, so she decide to always be honest.” “Kamu kelihatan banget udah cinta sama dia.” “Do i?” “Yes, you do. Kelihatan. Lagi kasmaran gitu tatapannya.” “Hm, she’s so loved emang.” “Tuh, kan.” Ryan jadi tertawa. Sedekat-dekatnya dia dengan sang mama, dia memang lebih dekat dengan papanya karena mereka punya karakter dan cara berpikir yang sama. Makanya mereka jarang berdebat dan selalu relate kalau curhat-curhatan antar pria, atau antara ayah dan anak. “Kapan-kapan kalau udah yakin, segera bawa dia ke rumah. Kenalin sama Papa.” Ryan mengangguk siap. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Kala Ryan dan Jane pulang dari kediaman megah milik orang tua laki-laki tersebut, papa dan mamanya Ryan langsung masuk kamar. Mereka membiarkan dapur dan meja makan diurus oleh beberapa pembantu rumah tangga untuk dibersihkan. “Duh, seneng banget nih kayaknya yang habis ketemu anak wadon,” ledek papa Ryan ketika istrinya masih saja terlihat senang. Kelihatan banget mukanya. Padahal sebelum Ryan dan river datang, istrinya itu malah sedang mengomel kesal karena dekorasi kolam renang yang seharusnya sudah dimulai hari ini harus diundur lagi jadi minggu depan karena beberapa kendala. Lalu lihat sekarang setelah istrinya kedatangan tamu spesial, River. Moodnya langsung berubah seratus persen.b Padahal sebenarnya, River dan istrinya ini tidak terlalu memiliki kebiasaan, hobi, dan sifat yang sama. Tapi mungkin karena keinginan istrinya yang belum terkabul sampai saat ini untuk memiliki anak perempuan, akhirnya memiliki River membuat sang istri jadi bahagia. “Iya, dong. Namanya dijengukin anak.” Papa Ryan mengusap puncak kepala istri dengan sayang. “Eh, Ma. Tadi Ryan cerita sesuatu ke papa.” “Oh, yang kalian lama banget di belakang tadi?” “Iya, itu.” Tadi, Ryan dan papanya gak bakalan berhenti curhat time kalau aja istrinya gak datang membawakan camilan bersama River, membuat percakapan antara anak dan ayah itu jadi terhenti dan memulai topik baru. “Ngomongin apa emang?” “Ryan lagi deket sama cewek.” Istrinya langsung menoleh. “Oh, ya?” “Hm.” “Syukurlah kalau gitu. Gak kelamaan sendirian. Mama suka ngeri kalau dia jadi homo.” “Ssst!” Papa Ryan tergelak. “Gak mungkinlah anak kita jadi belok. Orang kita aja straight, kok, Ma.” “Ya kan siapa tahu, Pa.” Melihat respons istrinya begini, papa Ryan diam-diam sangat lega. Dia pikir istrinya akan memberi respons buruk mengingat istrinya sangat mencintai River. Maksudnya, dulu istrinya ini pernah sampai ingin menjodohkan River dengan Ryan karena terlalu menginginkan River menjadi anaknya. Tapi kemudian Ryan menegaskan bahwa dia dan River tidak akan lebih dari teman, yang mana akhirnya mama Ryan itu mengalah dan tak lagi berusaha menjodohkan mereka berdua. Makanya, tadi papa Ryan jadi sempat berpikir kalau istrintya tidak akan suka kalau Ryan menemukan perempuan lain tempatnya melabuhkan hati, sementara itu bukan River. Tapi ternyata tidak. “Kamu gak keberatan kan, Ma?” “Ya enggak, lah! Aku malah seneng. Asal yang dia suka itu bukan cowok aja.” Masih aja. Batin papa Ryan terkekeh. Istrinya ini emang sangat parno kalau anaknya tiba-tiba homo atau LGBT. “Asal Ryan senang dan perempuan yang dia pilih adalah perempuan baik, mama bisa terima. Papa udah suruh Ryan bawa ceweknya kesini?” Papa Ryan menggeleng. “Kata anaknya, nunggu hubungan mereka diresmikan aja dulu.” “Oh, belum resmi berarti?” “Belum.” Sang istri mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian dia diam beberapa saat, sampai akhirnya dia menoleh lagi ke arah suami untuk mengutarakan isi kepalanya sejak tadi mendapat informasi tentang Ryan sekarang. “Pa.” “Hm?” “Tapi River gimana? Dia kan udah terlanjur suka sama anak kita.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Tak ada yang harus kita sesali Semua indah yang pernah kita alami Meskipun terbatas dan tak mungkin terikat janji abadi Aku, dirimu, dirinya Tak akan pernah mengerti tentang suratan Aku, dirimu, dirinya Tak resah bila sadari Cinta takkan salah “Ganti, kek, lagunya,” Ryan berkomentar. “Mood gue lagi bagus, jangan dengerin yang gloomy.” River menurut aja tanpa banyak tanya. Toh dia dengerin lagu di dalam mobil juga biar gak sepi-sepi amat doang. “Mau gue anterin kemana?” Pertanyaan yang keluar dari bibir Ryan muncul ketika mereka sudah lima menit berada di tengah perjalanan, entah mobil laki-laki itu mengarah hendak kemana. “Eum....” River menggumam sedikit bingung. “Gak tahu juga. Lo mau kemana?” “Ke apartemen. Terus tidur.” “Yah, gak seru, loh. Gue padahal mau ngajakin jalan-jalan. Kita lama gak ngedaki, by the way.” “Yang bener aja lo mau ngajakin gue ngedaki siang-siang begini, dadakan?” “Bukan,” River ketawa “Gue cuman ngasih inget aja, kita udah lama gak daki. Tapi bukan berarti gue ngajakin lo daki sekarang, anjir.” Ryan ber-oh saja sebagai respons sebelum melanjutkan. “Tapi gue gak bisa jalan sekarang. Gue mau tidur siang.” “Hah, tumben?! Oh, pasti lo nanti malem mau cabut, ya?” Ryan mengangguk. Teman baiknya itu emang udah hapal di luar kepala. Karena biasanya, tiap Ryan punya acara keluar di malam harinya, dia bakalan tidur siang dulu biar gak kecapekan. Karena gak ada yang tahu apakah malam itu dia bakal tidur atau enggak. Jadi dia harus save energy. “Kemana?” “Ada, lah. Agak jauhan tapi.” “Dih, ikut dong kalau jauh! Sumpah gue gabut banget hari ini gak ada jadwal ngapa-ngapain.” Mengabaikan keluhan yang keluar dari bibir River, Ryan menjawab kalimat pertama perempuan itu. “Gak bisa, lah, lo ikut. Gue mau keluar sama cewek gu—sama cewek yang kemarin gue ceritain ke elo.” River mengerjapkan mata. Terlihat gak siap dengan jawaban seperti itu dari seorang Ryan. “O-oh... Mau... ngedate?” “Whatever you named it.” River mengangguk perlahan, dia menyugar poninya ke belakang. Tiba-tiba perasaan gusar menghampirinya begitu saja. “Lo sama cewek itu... who’s the name?” “Jane.” “Ah, ya. Jane. Lo sama dia... serius, ya? Maksud gue, lo gak kelihatan kayak yang kemarin-kemarin, kayak cuman coba-coba aja?” “Well, River, i thought you know me so well?” “Ya iya, gue emang tahu lo. I mean, iya, gue tahu lo gak pernah coba-coba kalau sama cewek. You such a truly gentle man, i know. Tapi kali ini entah kenapa gue lihatnya lo emang agak beda sama Jane. Lo look like so kasmaran.” “Bokap gue tadi juga bilang gitu.” “Oh, Gosh. Jangan bilang lo uda cerita ke bokap lo tentang si Jane ini?” “Ya. Barusan tadi.” River sampai gak bisa berkata-kata. Kini dia bisa mengambil kesimpulan bahwa Ryan memang benar-benar sudah jatuh hati dengan perempuan antah-berantah bernama Jane ini. Kalau tidak, kenapa Ryan sampai menceritakannya pada sang ayah, kan? Ini baru pertama kalinya River mendapati Ryan sampai seperti ini. Ku akui ku sangat sangat menginginkanmu Tapi kini ku sadar ku diantara kalian Aku tak mengerti ini semua harus terjadi Ku akui ku sangat sangat mengharapkanmu Tapi kini ku sadar ku tak akan bisa Aku tak mengerti ini semua harus terjadi Oh sialan. Kenapa lagu yang diganti jadi sangat menggambarkan perasaan River saat ini? * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD