11 : trying to get closer

3608 Words
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Besok adalah tanggal merah. Yang berarti semua kampus diliburkan, begitu pula dengan kampusnya Jane dan Ryan. Karena itu pula, malem ini, Ryan sengaja ngirim pesan ke cewek itu untuk menanyakan kegiatan apa yang akan dilakukan Jane besok seharian. Sayangnya, ulai dari pukul setengah tujuh malam dia mengirim pesan, dia tidak mendapatkan balasana apa-apa hingga pukul setengah sepuluh malam. Ini sedikit aneh mengingat belakangan intensitas Jane dan Ryan dalam chattingan dan telponan semakin sering dan rajin. Tapi karena Ryan gak terbisa spamming dan terlalu megngkepoi urusan orang lain, sekalipun itu Jane karena setiap orang punya hak dan kebebasan masing-masing, jadi dia memilih menunggu saja. Ketika cowok itu lagi bikin cereal di dapurnya pukul setengah sebelas malam, ponsel yang ia taruh disaku akhirnya berdering. Ryan melirik benda persegi panjang tersebut, kemudian segera menekan menggeser layar di fitur warna hijau, pertanda bahwa dia menerima panggilan, saat mengetahui bahwa nama Jennie Laura-lah yang berada disana. Karena itu panggilan video, jadi Ryan segera menaruh mangkuknya di meja dan mengangkat ponsel hingga di depan wajah. Senyumnya menyungging begitu saja kala dia mendapati wajah Jane memenuhi layar. Omong-omong, ini bukan pertama kalinya mereka video call, jelas. Mereka sudah sering telponan dan video call-an kalau emang Ryan gak bisa menemui Jane di hari itu. Jadi kurang lebih, bisa dikatakan bahwa gak ada hari tanpa mereka berdua bertatap muka satu sama lain, entah offline maupun online. Maka dari itu, Jane pun udah luwes banget sekarang, gak kayak dulu awal-awal mereka deket, pasti Jane bakal agak canggung dan gak berani nelpon duluan apa lagi misalnya cuman karena dia mau minta temenin sampai ketiduran karena abis nonton film horor, misalnya. Beda banget sama sekarang. Dia kalau apa-apa udah langsung nelpon ke Ryan. Sekarang bahkan riwayat panggilan masuk, eluar, dan tidak terjawabnya juga paling banyak dari Christian Dave, seperti di ponsel Ryan yang penuh dengan riwayat panggilan dengan nama Jennie Laura. Seperti saat ini. Jane bahkan terlihat masih mengantuk. Kalau Ryan gak salah tebak, maka sepertinya Jane baru bangun tidur di pukul setengah sebelas malam ini. Biasanya cewek itu bakal baru mau tidur di jam segini, entah tumben sekali Jane malah udah ketiduran duluan. “Hai, baru bangun?” tanya Ryan. Jane mengucek matanya sambil mengangguk. “Kebangun.” Apa Ryan udah pernah bilang kalau Jane paling cantik adalah saat bangun tidur? Cewek itu memang selalu cantik dua puluh empat per tujuh bagi Ryan, tapi Jane versi bangun tidur adalah yang terbaik. Wajah polos bersih tanpa make up itu terlihat menggemaskan dibanding saat cewek itu sedang memoles wajahnya dengan segala sesuatu yang Ryan tak tahu apa namanya. Rambutnya yang sedikit berantakan, matanya yang sipit karena baru bangun, serta bulu mata hasil extensionnya yang membuatnya tampak cantik, entahlah, Ryan tak bisa menjelaskan betapa cantiknya Jane kalau lagi natural begini. She’s just so beautiful. Bukan berarti Ryan gak suka atau memandang jelek pas Jane lagi pakai make up, ya. “Tumben. Tadi tidur jam berapa emang?” “Kayaknya gue ketiduran pas abis mandi. Sore, jam empat an?” Ryan berdeham. “Kecapekan mungkin.” “Iya, lama gak ngegym jadi sekalinya ngegym badan gue kayak rontok banget.” Kemudian yang dilihat Ryan adalah Jane beranjak duduk dari posisinya yang sedang tiduran sekarang, barulah dari situ Ryan menyadari kalau Jane sedang tidak di kosannya. Karena dia beberapa kali berkunjung kesana walaupun lebih seringnya Jane yang ke apartemennya—ini juga Ryan yang minta, serta mereka yang sering video call saat posisinya Jane lagi di kos, dia tentu jadi hapal warna dinding dan bentuk kamar cewek itu. “Gak lagi di kos?” Ryan menyuarakan rasa penasarannya. “Mm-hm,” Jane mengangguk sambil menyugar rambutnya. “Gue belum bilang, ya? Gue pulang ke rumah.” “Rumah bokap-nyokap?” “Iya, lah. Rumah siapa lagi?” Ryan ber-oh ria. “Kapan pulang kesana?” “Tadi abis ngegym.” “Nyetir sendirian?” Jane mengangguk. “Harusnya bilang sama gue. Gue bisa anter.” “Astaga, rumah gue setengah jam juga udah nyampe. Maksimal satujam kalau pakai mobil dan kena macet.” “Tetep.” “Lagian gue mau bilang apa kalau tiba-tiba bawa cowok ke rumah? Dikira ngenalin calon suami lagi,” canda Jane. “Bokap gue agak sensi kalau tahu gue udah ada cowok.” “Ya gak papa, kenalin jadi calon suami aja sekalian,” ujar Ryan santai. Jane mendelik kemudian tertawa. “Yang bener aja. Eh, lo lagi ngapain sih itu?” Ryan mengangkat kepala, kembali menatap layar ponselnya. “Main tab, ada sesuatu yang harus gue kerjain.” “Oh, makanya nunduk mulu. Gue ganggu, ya, video call elo jam segini?” “Ganggu apa? Enggak, lah. Gak sama sekali.” Keduanya diam sesaat, malah jadinya lihat-lihatan doang. Gak ada satu pun dari mereka yang berniat mengalihkan wajah ke arah lain, seolah menikmati pemandangan yang ada di depan atanya. Yang ada, lama kelamaan masing-masing dari mereka jadi menyunggingkan senyum, berakhir dengan kekehan kecil, menertawakan mereka yang jadi pandang-pandangan kayak di FTV-FTV, hal yang norak tapi manis juga sebenernya. “Udah makan malem?” Jane bertanya dengan nada manis—atau sebenernya nada dia biasa aja, tapi pertanyaan itu bikin Jane jadi kelihatan manis di mata Ryan. Ryan mengngkat mangkuknya yang berisi cerial ke depan kamera ponsel. “Nih, lagi makan.” “Makan apa, tuh?’ “Cereal. Lo pasti belum makan ya? Kan ketiduran dari sore.” “Iya, tapi gak laper,” kemudian cewek itu berdiri, kakinya melangkah entah kemana, yang pasti di kamera memperlihatkan kalau cewek itu keluar dari kamar. “Mau kemana?” Ryan akhirnya nanya. “Dapur, cari cemilan di kulkas.” Ryan mengernyit geli. “Kayaknya barusan ada yang bilang gak laper.” “Ya gak laper maksudnya kan males makan nasi. Tapi kalau cemilan mau-mau aja.” Sesaat, yang dilakukan Ryan adalah mengamati perempuan itu yang sibuk sendiri. Ponsel Jane ditaruh entah disandarkan pada apa, yang pasti kini kameranya mengarah pada perempuan itu yang sibuk membuka kulkas. Ryan menjauhkan mangkuk cerealnya yang sudah tandas, kini memilih menopang dagu sementara ponselnya sendiri dia sandarkan di vas bunga depannya yang terletak di tengah meja makan yang kosong itu. “Dont look at me like that,” ujar Jane saat dia melirik ponsel dan mendapati wajah Ryan yang fokus me ngamati dirinya. “Why?” “Jangan, lah. Gue baru bangun tidur ini. Lagi jelek banget.’ Ryan menelengkan kepala. “Kata siapa?” “Kata gue.” “Kata gue, kan, enggak.” Jane menghela nafas sambil geleng-geleng kepala aja, dan Ryan sama sekali gak berkedip hanya karena ngelihatin Jane yang di kamera lagi mengambil botol yogurt di dalam kulkas. Ketika akhirnya cewek itu balik lagi mengambil hapenya dengan satu tangan ia gunakan untuk meminum minuman yougurt di satu tangannya yang lain, dia masih mendaoti Ryan menatapnya. “Kenapa, sih?” tanyanya, malu juga lama-lama dilihatin begitu sama cowok ganteng. “Apa, sih?” Ryan bales jawab sambil ketawa. “Mata gue juga. Kenapa gak boleh ngelihatin?” “Ya gak boleh aja.” “Kenapa? Malu?” “Gak juga.” “Ya udah, biarin gue ngelihatin lo.” “But the way you looking at me makes me wanna kiss you so bad.” Ryan hampir tersedak ludahnya sendiri kala Jane mengucap begitu. Tapi kemudian di detik selanjutnya dia baru ingat kalau cowok itu emang lagi berhadapan dengan Jane Laura, yang artinya dia harusnya gak perlu kaget kalau Jane bilang begitu. Cewek itu selalu saja dengan berani dan gamblang mengungkapkan keinginannya, kan? Ini bukan pertama kali. Tapi tetap saja, hei! Ryan jadi deg-degan dan tergoda juga tiap kali Jane begitu berani padanya. Laki-laki itu tersenyum miring. “Oh, ya?” “Mm-hm. So stop looking at me.” “I won’t.” Jane menggigit bibir bawahnya. Duh, andai dia bisa meng-screenshot bagaimana tatapan Ryan kepada saat ini. Mungkin cowok itu ngerasa biasa aja, tapi Jane jelas enggak! Tatapan Ryan selalu terlihat panas, apa lagi kalau menyorot fokus pada dirinya. Terlihat nakal dan itu seksi sekali. Jane yang jadi grogi sendiri. Sial, semenjak kenal Ryan, Jane benar-benar bukan Jane yang kayak dulu lagi. “Because i want you to kiss me so bad. As you said before,” lanjut Ryan. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Christian Dave benar-benar gak menyangka kalau dia bisa sejatuh cinta ini pada seorang perempuan dengan waktu yang tergolong singkat. Padahal berapa lama sebelum ini hatinya sudah mati untuk perempuan? Bukan sengaja ia matikan, tapi ia memang sulit untuk tertarik dengan kaum wanita kalau bukan benar-benar merasa cocok. Dan Jane bisa-bisanya datang ke kehidupan dia dengan lancangnya, membuat Ryan selalu merasa candu. Ingin bertemu lagi, lagi, dan lagi. Bisa-bisanya Jane dengan lancangnya membuat Ryan merasa tidak bisa menahan rindu lama-lama—bahkan jika hanya dua belas jam—dan ingin selalu bersama perempuan itu. Dia bukan b***k cinta, tapi dia sudah merasa t***l karena bisa-bisanya menjatuhkan hati ke perempuan yang bahkan tidak membalas perasaannya. Ryan tentu gak lupa bagaimana Jane selalu menekankan bahwa ia masih memiliki perasaan pada mantan pacarnya yang b******k itu—Kaisar—dan tidak bisa berjanji untuk mencintai Ryan seperti Ryan yang mencintainya. Jika bisa memilih, Ryan ingin mundur mulai dari sekarang, sebelum hatinya jatuh lebih dalam. Tapi dia sudah tidak bisa. Perempuan itu benar-benar seperti punya daya pikat yang membuat Ryan rela diracuni hanya untuk terjebak hidup dengan Jane. Tapi apa yang belakangan ini membuat Ryan senang adalah kedekatannya dengan Jane yang semakin intens. Seperti apa yang pernah ia katakan dulu bahwa ia dekat dengan Jane bukan hanya menikmati tubuhnya saja tapi juga ingin memiliki hatinya, Ryan belakangan memiliki firasat bahwa perlahan perempuan itu bisa menerima keberadaannya. Bagaimana cara Jane menghubunginya dan menanyakan bagaimana harinya berjalan, Jane yang mau mengantarkan makanan saat dia tahu Ryan belum makan seharian, cewek itu yang mau menghampiri Ryan di departemen padahal biasanya cowok itu yang nyamperin mulu kalau di kampus, dan perhatian-perhatian lain yang gak bisa Ryan sebutin satu-satu. Semua hal kecil yang dilakukan Jane belakangan ini membua hati Ryan melambung tinggi, tahu bahwa perempuan itu sudah mulai membuka hatinya, walaupun sedikt, tapi tak apa. Ryan tetap senang. Yang harus laki-laki itu lakukan sekarang hanyalah berusaha semakin gigih agar mampu memiliki hati Jane sepenuhnya. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Jalan yuk besok?” Ryan memulai topik lain setelah mereka berdua yang tadinya video call di dapur kini sudah sampai di kamar masing-masing. Terhitung mereka sudah melakukan panggilan video lebih dari empat puluh menit, tapi mereka berdua sama-sama belum ingin memutuskan telepon. “Besok, kan, masih Kamis.” “Tanggal merah, Jane.” “Loh, masa, sih?!” Jane saking excitednya karena nemu tanggal merah di bulan ini yang padahal dia kira gak bakal ada libur selain Sabtu dan Minggu itu jadi langsung nyari kalender. “Astaga, iya. Hahaha, baru sadar gue. Untung lo kasih tahu.” “Gue kira lo nginep di rumah karena udah tahu besok tanggal merah.” Jane menggeleng. “Enggak. Gue disuruh nyokap pulang aja karena dia sendirian di rumah. Bokap lagi ke SG.” “Lagi? Perasaan minggu kemarin lo baru bilang bokap lo di Aussie.” “Iya, balik bentar kesana buat ngurusin proyek. Cuman sehari. Makanya gue disuruh nginep rumah dulu.” “Oh, berarti lo besok udah balik ke kos?” Jane mengedikkan bahu sambil memiringkan tubuhnya agar bisa meletakkan pipi di bantal. “Gak tahu. Maunya, sih, gitu. Tapi kayaknya gak bisa,” jelasnya. “Bokap mina gue stay di rumah dulu semingguan. Karena gue emang udah lama gak kesini, sih.” Ryan manggut-manggut paham. “Yah, berarti gak ke apart gue lagi, dong?” tanya Ryan dengan nada melas, bikin Jane terkikik. “Ya elah. Lagian masa saben hari gue kesana?” “Gak papa, lah. Gue juga kesepian disini/” Jane mencibir. “Lo dari dulu di apart, kan, emang sendirian.” Ya juga, sih. Tapi maksudnya kan gue mau ngode. Batin Ryan tapi tak ia utarakan. “Besok mau jalan gak tapi?” Ryan menuntut jawaban atas pertanyaan pertamanya tadi yang sempat dilupakan. “Gue jemput kesana.” “....” “I’ll be good guy. Gak bakal ninggalin kesan buruk ke nyokap bokap lo. Kalau perlu gue pakai sarung tangan sekalian biar gak kelihatan tato gue.” ujar cowok itu serius, saking pengennya ngajak jalan Jane. Mendengar Ryan bilang gitu, Jane langsung geleng-geleng kepala. “Bukan itu. Lagian ngapain pula gue mempermasalahkan tato? Bokap gue juga punya tota kali.” “Oh, seriously?” Jane mengangguk. “Banyak, tapi gak kelihatan aja soalnya kebanyakan di d**a sama punggung.” “Ah, i see. Berarti tato gue bukan jadi problemnya. Then what is it?” “Apanya?” tanya Jane gak paham. “Jadi apa yang bikin lo kayak gak yakin buat ngeiyain ajakan gue?” Jane menggumam. “Males kalau diwawancarai. Bokap mungkin oke-oke aja, toh dia sangat fleksibel sama gue. Tapi nyokap tuh suka rese kalau tahu gue ada cowo—maksud gue kalau ada temen cowok yang ke rumah,” ralat Jennie cepat-cepat, yang mana malah bikin Ryan senyum-senyum. “Ya gak papa, lah. Jawab aja senyaman lo. Introduce me as you friend, or boyfriend, up to you, as long as you feel comfort.” “Kalau nyokap gue rese nanya-nanya ke elo gimana?” “Ya tinggal jawab?” “Biasanya dia kayak wawancara, dari A sampai Z ditanyain, tau.” Jane tuh emang gak habis pikir kenapa mamanya selalu rempong ngurusin urusan dia. Mulai dari suka ngelaporin kelakuan nakalnya ke sang papa—balap liar dulu, mabuk-mabukan, rutin ke kelab, dapat nilai jelek di kampus, pacaran sama dosen dan yang lain, sampai selalu tiba-tiba nyuruh A B C pakai maksa. Iya, sih, dia tahu mamanya ngelakuin itu juga karena sayang ke Jane dan gak mau dia salah pergaulan. Tapi please, deh, Jane kan udah gede gitu, looooooh. “It’s okay. I’ll survive it so well.” Jane menggaruk hidungnya yang tak gatal. Masih bingung dan agak ragu. “Gimana? Boleh gue jemput di rumah lo besok?” “...Oke.” Ryan tersenyum penuh kemenangan. Dia dekat sama Jane dan diperbolehkan memasuki kehidupannya aja udah seneng. Apa lagi kalau sampai dibawa ke rumahnya, ke depan keluarganya. Ini, mah, double kill! “Alright, i’ll pick you up at seven. Deal?” Anggukan dari Jane membuat cowok itu berbunga-bunga. Ah, s**t. Ryan benar-benar kayak bocah umur lima belas tahun yang baru ngerti rasanya jatuh cinta dan berhasil ngajakin ceweknya malam mingguan. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Christian Dave tidur nyenyak semalam. Walaupun dia baru dapat memejamkan matanya setelah jam menunjukkan pukul dua—dia dan Jane beneran telpon selama itu, enggak juga, sih sebenernya. Karena Jane udah ketiduran di pukul setengah dua, sementara setengah jam sisanya digunakan Ryan buat ngamatin cewek itu berujung dia kemudian ketiduran pula. Apa Ryan udah pernah bilang kalau dia adalah tipe manusia yang morning person sekalipun ia cowok? Maksudnya, kebanyakan cowok emang gak bisa banget bangun pagi dan kebiasaan bangun siang apa lagi kalau weekend. Sementara Ryan—kalau boleh sombong sedikit—malah kebalikannya. Dia lebih terbiasa bangun pagi dan gak kebiasaan bangun siang. Yang ada kepalanya pusing kalau bangun kesiangan. Begitu pula hari ini. Dia terbangun di pukul tujuh—terhitung terlalu pagi padahal kemarin dia udah begadang sampai jam dua. Kalau dihitung, dia hanya tidur selama lima jam saja, padahal seharusnya jam tidur normal manusia adalah delapan jam di malam hari bukan? Setelah dia terbangun, dia mengecek ponselnya. Dan alangkah dia kaget karena ponselnya panas banget. Ternyata yang bikin panas adalah karena video callnya dengan Jane belum mati sampai saat ini. Layar ponselnya menunjukkan pemandangan atap-atap kamar Jane—yang ia tebak hape Jane sudah jatuh dari posisi awalnya sehingga bukan Jane lagi yang jadi fokus kamera ponsel cewek itu, Ryan berdecak geli sendiri. Seumur hidupnya, baru kali ini dia video call an sama cewek sampai hampir delapan jam. Walaupun beberapa jam di antaranya gak terhitung karena mereka yang ketiduran, tapi tetep, intinya ini pengalaman pertama Ryan. Cowok itu segera mematikan panggilan videonya, lalu mendiamkan ponselnya di atas nakas sementara dia bergegas ke kamar mandi. Karena ini tanggal merah dan gak ada kegiatan lain yang wajib ia lakukan, dia memilih untyk jogging saja walaupun ini terlalu siang untuk memulai jalan pagi. Tapi bodo amatlah, Ryan hanya butuh menyegarkan saluran pernafasannya dari pada terus-menerus bermalas-malasan di apartemen. Setelah dia mencuci muka, menggosok gigi, dan ganti baju untuk berolahraga dan menyampirkan handuk di leher sementara sepatu dan kaos kakinya sudah terpasang rapi, dia memilih mengirimi Jane pesan singkat sebelum meninggalkan hapenya di apartemen. Christian Dave: wake up sleepyhead im going to jogging now, hbu? oh anw good morning, sunshine. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Sekitar satu jam kemudian, Christian kembali ke apartemennya. Saat lift kemudian terbuka, dia malah berpapasan dengan River yang membawa sebuah rantang. “Loh?’ “Loh?” Keduanya berujar bersamaan, membuat kemudian terkekeh bersamaan pula. “Gue kira lo gak lagi di apart, makanya ini mau gue bawa balik,” ujar cewek itu sambil mengangkat rantang yang ia pegang. Ryan menerima rantang yang diangsurkan padanya dengan senang hati. “Abis jogging gue. Lo gak bakal langsung balik, kan?” “Gak, lah. Lo kira gue abang grab food abis nganter makanan langsung pulang?” “Good,” Ryan berujar singkat. “Tumben lo bawain gue sarapan?” “Bangun kepagian, terus gabut mau ngapain.” “Oh, ini lo masak sendiri?” Ryan mempersilahkan River untuk keluar lift lebih dulu. “Iya.” Ryan tersenyum senang. “Benefit punya temen pinter masak.” “Bilang thanks aja cukup, sih.” Cowok itu tergelak. “Oke, oke. Thanks. Silahkan masuk, Nona River,” ujarnya bercanda sambil membukakan pintu apartemen. Christian Dave yang dikenal orang diem dan gak banyak omong itu nyatanya kayak punya kepribadian ganda, karena pasalnya kalau sama orang terdekat, dia jadi kayak manusia normal : doyan bercanda, asik diajak ngobrol, dan gak pasif dalam bercengkarama. Dan hal itu cuman terjadi kalau Ryan ngobrolnya sama orang tuanya, River, dan Jane saja. “Lo udah sarapan?” River menggeleng. “Gue sengaja bawa banyak soalnya sekalian mau sarapan disini—gue aja yang ambilin piring.” Ryan mengangguk dan meletakkan rantang di atas meja makan. “Gue mandi bentar, ya, Ver.” “Oke. Gak usah lama-lama, keburu dingin.” “Ya.” Cowok itu pergi ke kamarnya. Dan bukannya langsung mandi, Ryan malah menyempatkan diri buat mengambil hape yang dia charger itu, memastikan bahwa baterainya sudah penuh kemudian mencabut charger. Masih belum ada notifikasi pesan masuk dari Jane. Jadi Ryan memilih mengunci lagi ponselnya dan segera masuk kamar mandi. Dia memutuskan mandi cepet-cepet karena demi apapun, perutnya sangat lapar! * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD