Dia menoleh ke kanan perlahan, jantungku mendadak berdebar tak karuan, takut beneran rata wajahnya.
Belum sempat menoleh dengan sempurna, tiba-tiba dia berdiri dan berlari meninggalkanku begitu saja. Dia berlari menuju belakang villa sebelah. Aku ingin mengejarnya, tapi entahlah ... mendadak galau, kejar nggak ya?
Bismillaah ....
Aku nekad mengejarnya ke villa sebelah. Suasananya remang-remang gimana gitu, apalagi di belakang villa ada pohon beringin besar. Kalau pun perempuan itu manusia, sungguh takjub diri ini sama itu perempuan ... sebab berani sekali tengah malam begini kelayapan di luar?
Ada yang mengintipku dari balik pohon beringin, sekelebat aku melihat matanya. Alhamdulillah, dia bukan hantu muka rata, ada matanya.
"Mbak? Hallo?" sapaku.
Gi-la, udah kayak uji nyali tanpa bayaran aja rasanya. Kurang kerjaan banget kalau dipikir lagi, ngapain coba aku ngejar perempuan misterius tengah malam?
"Assalamu'alaikum, hallo ... apakah kamu hantu?" tanyaku seraya mengendap-endap ke arah pohon beringin itu.
"Siapapun kamu, saya tak masalah, tampakkan wujudmu, tapi please jangan tunjukin muka rata ya ... saya tidak siap," kataku. Sempat-sempatnya aku ngajakin dia bercanda.
Dia malah tak menampakkan diri sama sekali. Aku makin mendekatinya, melangkah ke balik pohon itu dan ....
"Astaghfirullahal'adzim ...," ucapku kaget saat tak melihat dia di balik pohon.
Hii ... apakah fix itu penampakan hantu salihah?
"Wa'alaikumsalam." Tiba-tiba suara perempuan mengagetkanku dari arah belakang sampai aku berjingkrak-jingkrak seraya balik badan.
"Astaghfirullah, bikin kaget aja!" jawabku spontan. Mataku langsung tertuju pada kedua kakinya, alhamdulillah kakinya nempel ke tanah, berarti dia manusia.
"Manusia kan?" tanyaku masih sedikit deg-degan karena kaget.
"Apa ada face-face setan di mukaku?" tanyanya balik.
Aku menelan ludah, masih meragukan jati dirinya.
"Apa ada setan pake jilbab?" sambungnya.
Aku mengambil ranting yang kering, tergeletak di tanah, dekat kakiku. Kugetok kepalanya sekali dengan sangat lembut dengan ranting itu sampai bunyi 'tek-tek'.
"Nggak tembus," ucapku lirih. Jinak sekali, kugetok keningnya tapi dia tidak menghindar, seolah pasrah.
"Hmm nggak tembus kan, udah percaya kalau aku bukan hantu?" tanyanya. Aku membuang ranting itu dan menatap lekat matanya.
"Maaf ya. Oke, saya percaya. Tapi ngapain malam-malam begini di luaran? Nggak takut ketemu demit? Atau dipatok ular gitu? Atau ketemu orang jahat?" tanyaku penasaran.
"Aku ingin menenangkan diri, sebab itu aku keluar," jawabnya.
"Iya, tapi nggak baik anak kecil sepertimu keluar tengah malam b
egini, sendirian pun. Bahaya, 'ntar kalau diculik gimana?" kataku.
"Heh, aku bukan anak kecil ya, aku udah SMA kelas tiga! Lagian siapa juga yang mau nyulik aku yang burik dan ginuk-ginuk ini?" protesnya.
Aku mengamati wajahnya. Dia tak seburuk itu. Dia manis, cantik, hanya saja pakaiannya awut-awutan. Gamis yang dikenakannya hampir mirip seperti gamis yang biasa dipakai ibu-ibu. Apalagi dia memakai kacamata tebal, sepertinya dia minus atau silinder.
"Jangan kufur nikmat, menghina fisik, sekali pun itu diri kita sendiri, itu sama artinya kita menghina ciptaan Allah. Jadi sebenarnya masalahmu apa sampai segabut ini kelayapan tengah malam, di bawah pohon pinus dan beringin pulak, belum pernah tahu ya rasanya kesambet?" tanyaku lagi.
"Hmm, aku rindu ayah dan ibuku, Om," jawabnya.
Gimana? Dia panggil aku Om? Setua itu aku di matanya?
"Loh, bukannya yang kemarin datang bersamamu itu orang tuamu ya?" tanyaku.
"Bukan. Ibu kandungku sudah nggak ada. Beberapa tahun kemudian ayahku menikah lagi dengan mami tiri. Lalu Ayah menyusul Ibu di dua tahun berikutnya. Aku diurus mami tiri. Setahun kemudian, mami tiriku menikah lagi dengan Pak Santos, yang kemarin nanya-nanya ke Om itu."
Astaga ... Dia manggil aku 'Om' lagi? Dua kali sudah dia melukai hatiku. "Oh, begitu ceritanya?" Aku manggut-manggut.
"Terus, ngapain kamu malam-malam begini kelayapan? Kamu 'kan bisa mendo'akan ayah ibumu di dalam kamarmu kalau memang rindu," kataku.
Dia membuang napas kasar, "Aku rindu ayah dan ibuku, aku merasa seperti orang asing di rumahku sendiri, juga di dalam villa serasa sesak, lagipula aku nggak kebagian kamar ...," jelasnya singkat. Dia diam sejenak.
"Kenapa merasa asing? Dan kok bisa nggak kebagian kamar?" tanyaku penasaran.
"Sepeninggal ayah, mami tiriku merasa berkuasa di rumah, terlebih saat dia menikah dengan Pak Santos. Dan perempuan yang sebaya denganku itu anaknya Pak Santos, tapi anehnya Mami lebih sayang pada Meriana, adik tiriku itu." Dia menghela napas panjang.
"Aku tidak tahu mengapa bisa begitu. Mami sering memerintahku untuk melakukan tugas-tugas di rumah, seperti mencuci baju, mengepel, menyapu, memasak, beresin rumah dan kebun, nyuci mobil. Padahal mobil-mobil di rumah itu milik mendiang ayah ibuku. Daan ada satu lagi itu punyaku untuk riwa-riwi ke sekolah tapi malah diambil fungsi oleh adik tiriku—Meriana. Kalau aku melarangnya ... Mami atau pun Meri tak segan mengeluarkan caci maki yang menusuk perasaan."
Aku mendengarkan dengan seksama.
"Mereka pernah memukulimu?" tanyaku.
Dia terdiam, seperti takut ingin mengungkapkan.
Entah mengapa emosiku serasa mendidih dini hari itu mendengar kisahnya, walau pun baru kenal.
"Kamu nggak berusaha melawan?" tanyaku.
Dia menggeleng lagi, "Aku tak punya nyali untuk melawan mereka. Walau sebenarnya ingin sekali mengusir mereka dari rumah peninggalan ayah dan ibuku itu. Tapi aku hanya sendirian, nggak ada yang bisa aku lakukan. Aku pernah mencari sertifikat rumah dan lain-lain, tapi nihil ... aku tak menemukannya di sudut mana pun."
Hmm... Lemah sekali anak kecil ini.
"Kamu libur sekolah?"
"Ya, mumpung kami liburan, mami sama papi ngajakin berlibur ke sini."
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?"
"Ingin kuliah, tapi sepertinya mami tiriku tak akan mengijinkanku. Kudengar Meriana akan dikuliahkan di kampus impianku. Mami menyuruhku bekerja setelah lulus sekolah, selenting informasi, mamiku akan mengirimku ke Saudi Arabia untuk menjadi TKW."
Hufh, engap denger ceritanya. Terbayang kembali wajah-wajah mereka—keluarga tiri si gadis ini.
"Kamu ingin kuliah jurusan apa?"
"Pendidikan Bahasa Inggris atau Pendidikan Matematika. Aku menyukai dua pelajaran itu, impianku ingin jadi guru atau dosen, aku ingin sekali mengajar."
Mulia juga cita-citanya.
"Nggak pingin jadi dokter?" tanyaku.
"Itu impian terbesarku, tapi aku nggak mau halu ketinggian dengan posisi saat ini, mungkin kalau ayah dan ibuku masih ada ... aku akan melangkah ke sana dengan pasti."
Semangat belajarnya sangat tinggi.
"Gini ini kalau kamu ketahuan keluar rumah lalu mengobrol denganku, apa kamu nggak dimarahi?" tanyaku.
"Pasti dimarahi. Tapi mereka tidak akan terbangun di jam segini, kalau tidur seperti kebo minum CTM, tidurnya ngebleg."
Aku mengamati wajahnya sejenak, ada rasa iba di hatiku. Ingin menolong gadis kecil ini. Dari cara bicaranya dan pembawaan dirinya, ia nampak seperti gadis yang cerdas, hanya saja ia sedang terjebak dalam tekanan keluarga tiri yang tamak.
"Om penjaga villa sebelah ya?" tanyanya. Aku tersenyum. Dia panggil aku 'Om' lagi? Minta dikeplak nih anak. Sudah dua orang yang menganggapku sebagai penjaga villa. Laki-laki setampan aku bisa-bisanya dianggap begitu.
"Iya," jawabku.
"Asli orang sini?" tanyanya lagi.
"Bukan, saya pendatang baru."
Dia tak beranjak dari posisinya, memandangiku dengan tatapan seperti minta tolong.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanyaku.
"Aku ingin menyerah, Om. Tak apa harta orang tuaku mereka kuasai, asal aku bisa keluar dan lepas dari keluarga mereka. Tolong bantu aku, Om," pintanya dengan wajah melas.
"Mereka berlaku kasar padamu? Pernah memukulmu?" Kuulangi pertanyaan itu.
"Sering, bahkan hampir setiap hari, ibu tak segan melempariku sendok sayur, membanting ember padaku, melempar gayung, ketika mereka anggap aku salah. Misalnya saat masakanku tidak cocok dengan selera mereka atau baju yang kusetrika kurang halus. Aku merasa menjadi pembantu di rumahku sendiri."
Akhirnya dia mau blak-blakan.
Kuhela napas panjang, masih ada ya zaman sekarang ibu tiri sekejam itu?
"Kenapa kamu nggak kabur dari kemarin dulu? Lalu lapor polisi?"
Kini gantian dia yang menarik napas dalam-dalam.
"Mau kabur ke mana? Aku masih sekolah dan dibiayai oleh ibu, kalau pun aku kabur, mereka pasti mencariku ke sekolah. Yang kupikirkan adalah aku harus lulus sekolah dulu, setelah itu aku berencana untuk pergi dari rumah, sebab sudah tidak tahan lagi. Lapor polisi? Nggak berani, Om."
"Nggak ada saudara lain?" tanyaku.
Dia menggeleng.
Derit pintu tetiba terdengar, dia mendadak panik dan menarik tanganku, bersembunyi di balik pohon beringin.
"Ssst, jangan bersuara, Om," bisiknya. Ia melekatkan jari telunjuknya ke bibirku. Manik matanya menunjukkan ketakutan.
Desir apa barusan yang terasa di hatiku? Fiuh. Aku memalingkan pandangan dan melepaskan genggaman tangannya seketika. Masa baru ketemu terus duduk nempel di bawah pohon beringin gini udah deg-degan sih? Apa karena dia ....
Dia mengintip sedikit demi sedikit, terdengar sekali napas setengah ngos-ngosannya.
"Aku belum tahu siapa namamu?" bisikku. Ia masih kembali memegangi erat, kini lenganku.
"Yuniar, ssst jangan berisik, Om, itu Aldo, sepupunya Meriana," bisiknya.
Yuniar. Nama yang bagus. Gadis ini lincah dan lucu. Kepolosannya memang natural, mungkin jika posisiku adalah lelaki lain ... gadis ini akan membuat lelaki itu salah paham dengan sikapnya, padahal ia tak sadar yang dilakukannya ini bisa membuat kuch-kuch hota hai dengan jarak sedekat ini, di atas puncak, di tengah malam begini pula.
"Jangan pernah seperti ini pada laki-laki lain di tengah malam begini, apalagi di puncak gunung begini, kamu akan dimangsa tanpa sisa," bisikku. Dia langsung menoleh padaku dengan tatapan tanya.
"Maksudnya? Kita orang asing ya, jangan posesif," jawabnya.
Jawabannya bikin perutku geli, menahan tawa. Posesif dari mana coba?
Dia menyuruhku membungkam mulut.
"Ssssst, kok malah ketawa sih, Om? Diem!" bentaknya dengan bisikan. Galak juga nih gadis.
"Heh, saya bukan Om-Om ya, jangan panggil saya Om terus, panggil saya Juna," protesku.
Lagi-lagi dia menoleh ke arahku, sembari membenarkan kacamata minusnya, seolah mengamati bentuk wajahku.
"Om Juna," bisiknya dengan wajah polos. Ia kembali mengintip ke arah pintu belakang villa yang ia sewa.
'Bandel,' gumamku. Senyumku tak berhenti mengembang.
Bersambung ....