Ditawari Jadi Sopir

1523 Words
"Udah aman, Om. Si Aldo udah masuk lagi," bisiknya. "Please, jangan panggil saya 'Om', panggil 'Mas, Abang atau Kakak' saja, ya?" pintaku. Aku mengintip seolah-olah juga takut jika ketahuan, padahal tidak sama sekali. Ketahuan pun lebih bagus, biar sekalian saja kutolong dan kubawa gadis belia ini tinggal bersamaku. Eh ... gimana? Tinggal bersamaku? Kugetok kepalaku tiga kali biar aku kembali sadar, mungkin karena kelamaan di bawah pohon beringin, jadinya begini. Plok! Dia menampar pipiku keras sekali, mataku langsung membeliak, "Apa masalah kita, Dek?" tanyaku. "Nyamuk, Kak, bukannya makasih malah marah, hmm," jawabnya sembari berdiri dan menepuk-nepuk gamisnya yang kotor. "Kamu kan bisa bilang dulu, 'Ada nyamuk, Kak', gitu kan bisa?!" protesku seraya ikut berdiri dan menepuk-nepuk piyamaku. "Iya, maaf. Keburu pergi nanti nyamuknya." Dia memandangiku lekat-lekat. Aku membalas tatapan matanya yang berkacamata minus itu. "Kenapa lihat saya seperti itu?" tanyaku. Dia bergeming. "Dih, kenapa ngelihatin saya kayak gitu?" Kuulangi pertanyaanku. "Please, Kak. Bawa pergi aku dari sini, gimana pun caranya," pintanya memelas. Aku berpikir sejenak. "Katanya nunggu lulus sekolah dulu?" jawabku. Kini, gantian dia yang terdiam. "Begini saja, kamu sekarang masuklah ke villa, istirahatlah. Saya akan pikirkan cara untuk menolongmu." Dia memandangku ragu, "Tapi, Kak ...." "Sudah sana masuk, istirahatlah. Sampai bertemu besok," ucapku. Dia tak beranjak dari tempatnya. "Kak, aku serius, tolongin aku." Aku mengangguk dan meyakinkannya, "Insya Allaah, sudah sana masuk, saya lihatin dari sini." Dia menuruti titahku, perlahan ia melangkah masuk ke villanya hingga menutup pintu belakang. Aku pun berjalan menuju villaku sambil memikirkan bagaimana cara menolong gadis itu. *** Mentari pagi mulai menghangat menembus celah-celah pepohonan tinggi. Aku terbangun dan langsung teringat gadis semalam itu. Segera aku mandi dan keluar rumah. Kudapati Yuniar sedang duduk di teras rumah, sedangkan yang lain berolahraga pagi. Aku mendekati mereka. "Selamat pagi, Pak Santos," sapaku. Dia menghentikan aktifitasnya, dahinya mengerut. "Loh, kok tahu nama saya? Kita kan kemarin belum kenalan nama?" tanyanya. Aku tersenyum, "Emh, iya. Saya dikasih tahu oleh penjaga villa ini semalam," kataku berbohong. "Oh, pagi juga, nama kamu siapa?" tanyanya. Untung saja dia percaya. "Saya Juna, Pak." "Udah lama kerja jaga villa itu?" Dia menunjuk villa yang kusewa. "Baru sih, Pak." "Oh, sekitar sini emang angker ya?" tanyanya. Aku menyipitkan mata. "Angker? Kurang tahu ya, Pak. Tapi sejauh saya tinggal di sini nggak ada apa-apa tuh," jawabku. "Hmm, itu si keponakan saya semalam katanya dengar ada orang kayak lagi ngobrol gitu di belakang villa, tapi pas dia keluar nggak ada siapa-siapa, cuma pohon beringin yang remang-remang," jelasnya. Aku tersenyum tipis. "Oh, mungkin hanya perasaan keponakan bapak saja itu, dia suka nonton acara horor ya, Pak, jadinya kebawa perasaan?" "Bisa jadi," jawabnya singkat. Mataku tertuju pada Yuniar, mata kami saling beradu beberapa detik. "Bapak asli mana?" tanyaku sok akrab. "Saya asal Jakarta, tapi sekarang tinggal di Surabaya." "Oh." Aku manggut-manggut. "Mas Juna asli mana?" "Saya asal kota Malang, Pak. Tapi saya--." Aku mengurungkan kalimatku, hampir saja keceplosan. Tadinya mau bilang kalau aku tinggal di Jakarta, memiliki rumah dan perusahaan besar di sana, juga anak perusahaan di beberapa kota besar. "Tapi apa, Mas?" tanya Pak Santos. "Tapi sebenarnya saya ingin sekali bekerja di Surabaya, hanya saja bingung karena saya cuma lulusan SMA," kataku merendah. Dia nampak manggut-manggut. "Bisa nyetir mobil?" tanyanya. "Sangat bisa, Pak. Kenapa ya, Pak?" Sepertinya dia akan menawariku pekerjaan, sesuai rencanaku. Entahlah, aku ingin sekali menolong Yuniar--gadis SMA yang malang itu. "Kalau kamu nggak ada kontrak kerja di villa itu, kamu boleh ikut saya kerja di Surabaya. Kebetulan saya butuh sopir pribadi untuk Meriana. Kalau kamu mau, kamu boleh kerja sama saya." Pak Santos nampak antusias menawariku pekerjaan. Tuh kan ... "Serius, Pak? Saya tidak ada kontrak apapun di sini, hanya menunggu saja, bisa gantian sama yang lain," kilahku. "Bagus deh kalau gitu, emang kalau boleh tahu di sini kamu digaji berapa? Biar nanti saya menyesuaikan gaji kamu di rumah." Aku diam sejenak. "Nggak banyak sih, Pak. Cuma 4.5 juta sebulan," jawabku asal tanpa berpikir, karena aku tidak tahu standart gaji di kota ini, apalagi sebagai penjaga villa di puncak gunung begini, pikirku itu sudah angka yang normal. "What?! Kok ngalah-ngalahin UMK Surabaya sih, Mas? Di sana 4.2 juta sebulan. Ckckck. Paling yang punya villa orang kaya raya ya?" Duh, gaji segitu untuk ART di rumahku bukan apa-apa, malah sangat jauh lebih dari itu karena pekerjaannya berat, harus bersihin rumah tiga lantai, berkebun, masak, mencuci baju, menyetrika dan lain-lain yang tidak bisa aku kerjakan sendiri. Apalagi masakan mereka sangat lezat. Dan juga sopir, kuberi gaji yang sama jumlahnya, agak lebih sedikit karena mereka selalu siaga kapan pun dibutuhkan, dan mereka sangat loyal. Aku hanya tersenyum. "Kamu saya gaji cuma 2.2 juta saja mau? Kalau nggak mau ... nggak papa, saya nggak maksa, saya juga nggak mau kamu nyesel ninggalin kerjaan yang gajinya 4.5 juta demi kerja dengan saya." Pak Santos mendadak insecure. "Nggak papa, Pak. Asal saya bisa tinggal di Surabaya, pingin banget dari dulu ke sana, Pak." Padahal aku sering sekali ke Surabaya sejak kecil, bahkan di Surabaya ada anak cabang perusahaanku, di daerah pergudangan SIER, setiap beberapa kali dalam sebulan pasti ke sana. Pak Santos semringah. Tidak tahu kenapa dia begitu saja percaya padaku. Mau mempekerjakan aku, padahal baru kenal. Apa dia tidak berpikir kalau aku bisa aja orang jahat? "Kalau begitu, Minggu besok ini kamu ikut saya pulang ke Surabaya langsung ya, bisa nggak?" Alhamdulillah, rencana awalku benar-benar berhasil. "Oh, sangat bisa, Pak. Saya siap. Nanti saya akan sampaikan ke pemilik villa untuk berhenti bekerja di sini." Aku sedikit lega, rencana awalku berjalan lancar. Yuniar melihatku seolah penasaran, tapi ia terlihat tak berani menegurku. *** Malam pun tiba, tengah malam aku tak bisa tidur mungkin karena kopi hitam Sumbawa yang kuminum segelas. Aku pun menonton televisi di lantai bawah, seraya makan pisang goreng hangat buatanku sendiri. Wah, cocok sekali. Tengah malam begini nemu film Suzana di salah satu stasiun televisi. Pas asyik-asyiknya Suzana melayang jadi kunti, tetiba pintu ruang tamu ada yang mengetuk. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 23.45 menit. Wah, kalau ini ... aku nggak yakin ulah manusia atau demit beneran? Tapi aku tetap beranjak menuju ruang tamu. Kusibak selambu jendela lalu kuintip pelan-pelan. "Baaaaaa ..." Tiba-tiba wajah Yuniar muncul tepat di depan wajahku dari balik jendela. "Astaghfirullahal'adzim ...!" teriakku kaget. Duh, sumpah ya ini anak bener-bener bikin resah. Aku ngelus d**a sambil membuka pintu. "Assalamu'alaikum," bisiknya mengucap salam. "Wa'alaikumsalam. Ya ampun, Dek, bikin kaget aja kamu ini. Dua kali kamu ngendap-ngendap kayak demit," gerutuku. Dia meringis dan meminta maaf, "Di luar dingin, aku boleh masuk?" tanyanya. Masuk? Oh tidak bisa, jangan, kita bukan mahram, ntar kalau digerebek warga sini bagaimana? Tapi kasihan juga, di luar memang sangat dingin sekali. "Mau ngapain? Kamu nih kayak kalong, kelayapan tengah malam, pulang sana. Udah tahu dingin, masih aja kelayapan," usirku. Mataku tertuju pada tas koper yang dibawanya. "Please, Kak, bawa aku pergi dari sini sekarang juga," katanya. Aku langsung menarik tangannya dan menutup pintu dari dalam. "Masuk," kataku terpaksa. Dia mengikuti langkahku, lalu duduk di sofa ruang televisi. "Hmm, nggak bisa frontal kayak gitu, Dek, pake cara halus aja. Kamu sekarang balik ke villa ya, saya pasti akan bantu kamu, tenang saja," kataku meyakinkan. "Please, Kak, aku sudah tidak tahan, urusan sekolah nanti bisa dipikirkan belakangan, yang penting sekarang aku bisa lepas dari mereka, please." Dia masih saja ngeyel, ada ketakutan luar biasa di matanya. Sebenarnya seburuk apa sih perlakuan ibu tiri dan semua keluarga tirinya ke dia? Sampai dia sedepresi ini. "Percaya sama saya, saya pasti bantu kamu, tapi dengan cara saya, manut kalau mau berhasil dan kamu menang di akhir cerita nanti. Kalau kamu nekad kabur malam ini, itu justru akan menyusahkan kamu sendiri. Please, baliklah ke villa, bawa lagi kopermu. Kuncinya sabar sampai hari Minggu besok. Saya ada kejutan buatmu. Sekarang pulang ya, manut sama Kakak." Aku membujuknya supaya ia mau menuruti saranku. Dia sepertinya meragu tapi dia anak yang baik, dia menurut dan kembali pulang ke villanya. "Sampai bertemu hari Minggu ya," pesanku. Dia nampak sangat kecewa. ***** Aku menelepon Bravo, mengabarinya bahwa aku akan sedikit lebih lama semedinya. Aku berterus terang kalau sedang dalam misi menolong seoseorang. Kuceritakan dari awal, dia malah berdecak heran, "Ck, kurang kerjaan, Mas, perusahaanmu lebih penting dari pada gadis ingusan itu." Dia tak mengerti, bagaimana misalnya kalau gadis yang ia sebut ingusan itu adik kandungnya sendiri, apa dia masih bisa berkata demikian? Tapi sayangnya, aku dan dia berbeda, rasa empatiku sangat besar, aku tidak bisa melihat perempuan bersusah hati, baik ibu, adik perempuanku atau pun gadis itu yang betul-betul membutuhkan pertolongan. Siapa lagi kalau bukan aku? Mungkin Tuhan sudah mengatur ini, gadis itu dipertemukan denganku di villa ini agar ia mendapat pertolongan melalui aku? Aku juga menelepon ibu, beliau berpesan agar aku hati-hati. Jangan terlalu dalam ikut campur dalam urusan pribadi orang lain. Aku mengiyakannya saja, yang penting dapat restu. Hari Minggu sore pun tiba, aku telah siap berangkat ke Surabaya bersama keluarga Santos. Kugeret koperku menuju villanya. Betapa terkejutnya Yuniar melihatku memasukkan koperku ke dalam bagasi mobilnya. "Kak Juna?" sapanya seraya berbisik. Bruk! Meriana mendorong tubuh Yuniar saat berdiri di belakang bagasi. "Minggir!" bentak Meriana dengan angkuhnya. "Kamu sopir baru papiku 'kan? Masukin ini tas-tasku, jangan bengong aja!" titahnya, kemudian berlalu ke depan mobil. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD