29.Biarkan Aku Pergi. Tidak! Ini tidak bisa aku tolerir lagi. Ini batas akhir dari kesabaranku. Tidak ada lagi yang bisa membuatku menahan diri di sini jika orang yang aku perjuangkan ternyata telah berkhianat. Aku membuka lemari, mengeluarkan beberapa pakaian dengan gerakan tak terkontrol. Entah pakaian apa saja yang kumasukkan ke dalam ransel. Mataku tak jelas melihat karena buram oleh air mata yang menggenang di pelupuk mata. Kudengar derap langkah Mas Aditya yang sedang menaiki tangga menuju ke kamar ini dengan tergesa. "Sabina, mau kemana? Dengar dulu penjelasanku!" Mas Adit menarik ransel yang ada di tanganku, dan mendekap erat tubuh ini. Dengan sekuat tenaga aku berusaha berontak dan melepaskan diri dari dekapan dua lengan itu. "Lepaskan, Mas. Sejak hari ini, aku tidak men

