"Terimakasih tawarannya, Mas. Tapi maaf aku akan pergi sendirian. Tolong jaga saja istri dan anakmu itu. Jangan khawatir, aku tak peduli lagi dengan apapun yang akan kalian lakukan." Aku meraih kunci mobil dan menuju ke arah kereta besi berwarna merah yang terparkir di garasi. Aku tetap menjalankan mobil meski di sisi kiri, Mas Aditya mengetuk ngetuk pintu kaca dengan panik. "Maaf, Mas. Mungkin jodoh kita harus berakhir sampai di sini," bisikku dalam hati. . ..... .. Aku mengendarai mobil dengan kecepatan lambat. Kondisi emosional yang tidak stabil menjadikan tangan dan tubuhku gemetar. Meski sedang terpuruk, pikiranku masih bisa di ajak kompromi. Aku tak mau menurutkan hawa emosi dengan cara ngebut tanpa kewarasan yang bukan hanya akan mencelakai diriku tetapi bisa jadi juga orang

