BAB 3 Perempuan lain di rumahku
Aku menatap pantulan bayanganku di cermin. Wajah kuyu dan tak bersemangat terpatri di sana. Sebuah gaun berwarna putih s**u yang panjangnya hingga semata kaki, membungkus tubuhku yang proporsional dengan berat badan diangka 55 kilogram. Rambut sebahu kuikat, kemudia selembar phasmina berwarna hitam yang kontras dengan warna gaun, menyempurnakan tampilan ku.
'Hey, Sabina ... apa sih yang kau khawatirkan. Apa kau pikir Mas Aditmu akan berpaling hanya karena pernikahan pura-puranya?' Aku bermonolog tanpa mengalihkan tatapanku dari benda memantulkan bayang di depan sana.
'Sudahlah. Kembali jadi Sabina yang tenang dan dewasa. Sabina satu-satunya yang ada di hati Mas Adit. Come on ... percayalah semua akan baik-baik saja.' Kembali kewarasanku diuji oleh perang batinku sendiri.
Berpikir begitu, aku membuka laci, mengeluarkan peralatan make up-ku yang lama tak kusentuh. Dengan gerakan bersemangat, kupoles maskara ke area mata, menambahkan soflens di permukaan bola mata. Tak lupa kusapu bibirku yang memang
Sudah merah dengan lipstik berwarna merah muda. 'Toh hanya sekadar pura-pura. Jadi bergembiralah juga ....' Aku tersenyum legit pada pantulan bayangan di depanku. Setelah memastikan bahwa sosokku sudah prima dan mengesankan, aku pun mengayun langkah menuju ruang tamu. Tempat di mana ijab qobul suamiku dan gadis bernama Delia itu akan berlangsung.
"Sayang, kamu cantik banget. Pantes dandannya lama," puji spontan dari Mas Aditya sembari menyongsong langkahku. Kata-kata dan sikap lelaki itu membuat hati ini tenang dan merasa tersanjung. Delia beserta kedua orang tua dan beberapa anggota keluarga mereka sontak menatap ke arahku dengan tatapan yang sukar ku terjemahkan. Aku tidak paham arti tatapan mereka semua. Sementara gadis calon madu pura-pura itu, tersenyum dan menganggukan kepala, seolah meminta izin dan pengertianku. Aku balas mengangguk dengan memasang senyum manis. Delia terlihat polos dan manis, itu sangat melegakan dan menenangkan hati.
"Apa semua sudah siap?" Penghulu dari kantor urusan agama mengambil alih atensi kami semua.Tampaknya acara kecil ini akan segera di mulai.
"Su--su--dah, Pak. Mari dimulai saja," jawab lelakiku dengan gugup. Sekilas kucoba melirik lagi mahluk yang begitu kucinta itu. Sedikit rasa tertekan terpatri di wajah bergaris tegas tersebut. Ternyata Mas Adit memang tak suka acara ini. Dan itu melegakan.
Mas Adit duduk di hadapan penghulu dan pak Surya Prakasa. Lalu lelaki itu saling berjabat tangan dengan Pak Surya prakasa.
"Saya nikahkan anak saya Delia Syaira binti Surya Prakasa dengan engkau Aditya Setiawan bin Hermawan Subekti dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas murni senilai lima puluh juta rupiah tunai."
Sejenak Mas Adit melirik ke arahku yang menatap pemandangan itu dengan dagu terangkat. Aku memberikan seulas senyum untuk menenangkannya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Delia Syaira binti Surya Prakasa dengan mas kawin tersebut, tunai!" Akhirnya meski meragu, bibir Mas Aditya berhasil mengucapkan ijab tersebut dengan lancar.
"Sah?"
"Sah!"
"Alhamdulillah ...."
Mama mertua beserta kedua orang tua Delia tampak mengusap wajah dengan dua telapak tangan sambil mengucap rasa syukur. Lalu nyaris berbarengan, mereka bergerak menyalami pasangan pengantin pura-pura itu disusul beberapa kerabat dari orang tua Delia.
"Akhirnya kita jadi juga berbesanan ya, Jeng Dina. Meskipun jalannya harus berliku seperti ini," ujar Mama sambil memeluk perempuan berusia 40 an bergaun warna peach itu.
"Iya, ya Mbak. Meskipun duka ini tak bisa ditepis, namun tampaknya Tuhan tetap ngasih jalan buat dua keluarga kita," sambung perempuan yang dipanggil Dina tadi.
"Iya. Pokoknya syukur alhamdulillah. Eh ya, hayuk kita santap siang dulu. Mumpung jam-nya pas ini. Eh Adit, sini! Temani tamu-tamu kita di meja makan. Kar! Karmi! Udah siap belum semuanya?" Mama mertua sibuk memberi instruksi kepada semua orang.
Aku memilih menyingkir diam-diam dari ruangan itu. Untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Mas Adit, aku merasa begitu tersisih dan sendirian. Dulu, meskipun aku sadar Mama mertua tak begitu suka padaku, tetapi perlahan aku bisa mengambil hatinya sedikit demi sedikit. Tetapi sejak beberapa hari terakhir, rasa simpati Mama seolah kembali lenyap. Aku merasa seolah terasing di rumah suamiku sendiri.
Aku tengah memandangi jalanan yang ramai oleh kepadatan kendaraan di jam makan siang saat kurasakan sebuah lengan kokoh melingkari pinggangku. Dari aroma musk yang menguar, aku tahu siapa sosok di balik punggungku.
"Hmmm di sini rupanya kesayangan Mas. Ngapain sih sendirian di atas?" Kurasakan wajahnya yang menyelusup di balik rambut sebahuku, lalu mengecup leher belakang dengan lembut. Aku menggeliat, antara geli dan tergetar.
"Ngapain kamu ke sini, Mas? Tamu-tamu belum pada pulang kan?" Aku membalikkan tubuh menghadap ke arahnya. Sekuat tenaga kutahan rasa sesak di d**a, selain Mas Adit, mereka semua yang ada di bawah tak menganggap bahwa ini pernikahan sandiwara. Mereka begitu terlihat bahagia. Aku merasa seperti sedang jadi hama yang mengganggu kesenangan orang banyak.
Kembali kutatap wajah di hadapan. Meski berusaha terlihat santai, terlihat jelas keresahan dan rasa tak nyaman di manik mata lelaki tampan itu.
"Mereka sedang bersiap santap siang. Mana bisa mas makan kalau nggak ada kamu," bisiknya sambil menjawil dagu, "yok turun. Kita makan bareng-bareng ya," ajaknya merengkuh bahuku.
"Tapi--"
"Nggak ada tapi-tapian, Sabina Kaytara. Cuma kamu perempuan yang boleh nemenin aku makan!" lanjutnya dengan gestur posesif yang selalu membuat hati ini melambung. Merasa tak mungkin membantah, aku pun membiarkan lengan Mas Adit menggandengku turun menuju meja makan panjang yang kali ini sengaja di gunakan untuk menjamu tamu yang berjumlah tak lebih dari sepuluh orang itu.
"Adit kamu kemana aja sih dari tadi ditungguin buat makan siang bersama?" Mama mertua tak sabar menegur anak sulung lelakinya meski hal itu sebenarnya tak perlu, apalagi di depan banyak orang seperti ini. Kedua orang tua Delia menatap tajam ke arahku, sementara gadis yang baru saja berpredikat 'maduku' itu menunduk dalam-dalam.
"Cari Sabina dong, Mama sayang. Istri aku yang paling cantik ini kan juga lapar," tangkis Mas Adit dengan sikap santai. Lalu menarik mundur dua buah kursi yang bersebelahan.
"Ayo Sayang, duduk sebelah Mas sini." Kembali perlakuan dari suamiku itu membuat hati tenang dan percaya diri. Aku akan meyakinkan semua orang, terutama Mama mertua bahwa anaknya mencintai dan menghargaiku dengan sepenuh hati. Dan tak adil meletakkan diri ini di posisi terjepit seperti ini. Aku sudah berkorban merelakan orang yang paling kucinta untuk menyelamatkan kehormatan Delia dan keluarganya. Sudah sepatutnya aku mendapat respeck, bukannya justru seolah-olah benar-benar akan disingkirkan. Di titik ini aku begitu terharu karena suamiku telah menjaga harga diriku sebagai seorang istri sah di hadapan mereka semua.
Aku mengambilkan secentong nasi beserta lauk pauknya untuk suamiku, baru kemudian untuk diri sendiri.
"Makasih ya, Sayang." Ucapan Mas Adit kembali membuatku terharu. Lelaki gentle ini sungguh-sungguh dengan janjinya, akan membuat semua status barunya tak merubah hubungan kami. Aku makin yakin dan kuat, bahwa suamiku sama sekali tak terpengaruh akan kehadiran Delia yang jelas lebih muda dariku.
"Oh ya, ngomong-ngomong kapan kamu akan memberikan cucu pada Mbakyu Santi, Sab? Udah 4 tahun lebih ya kalau nggak salah?" Tante Dina menoleh ke arahku. Ini seperti de javu. Lagi-lagi orang lain harus mengingatkan dan memperjelas kondisi rumah tangga kami yang belum juga dikaruniai momongan hingga detik ini.
"Sebaiknya makan aja, Tan. Entar keselek loh kalau kebanyakan ngobrol," celetuk Mas Adit dengan wajah sok polos seolah tanpa rasa bersalah. Kulihat muka Tante Dina memerah akibat ucapan suamiku.
"Maaf, Tan. Urusan jodoh rezeki dan maut itu di luar kuasa kita sebagai manusia. Dan anak adalah bagian dari rezeki. Apalah kita yang berani-beraninya mendikte Allah berkaitan dengan ketentuanNya. Tugas kita hanya berusaha dan berdoa, untuk hasilnya mutlak hak prerogatif Allah." Aku berusaha menjelaskan dengan tenang, meski aku tahu kata-kata ini seperti palu godam di telinga Tante Dina dan mungkin juga Mama.
"Bener apa yang dikatakan Sabina, soal anak itu urusan Tuhan. Anak kan bukan adonan kue yang bisa kita buat sekehendak hati. Jika sudah waktunya, pasti akan Allah berikan." Surya Prakasa menengahi obrolan yang terdengar makin sensitif. Di bawah meja, tangan Mas Adit meraih jemari ini lalu meremasnya perlahan. Aku tersenyum pada lelakiku untuk mengirim sinyal bahwa hati ini baik-baik saja. Aku telah belajar banyak selama 6 tahun ini untuk tak terlalu baper menanggapi sindiran soal momongan. Cinta dan kesetiaan Mas Aditya lebih dari cukup untuk membuatku tetap bahagia. Sementara kulihat air muka Tante Dina dan Mama mertua berubah masam.
$$$
"MasyaAllah ketiduran," gumamku kaget lalu segera bangkit dan duduk di tepi pembaringan, menyingkirkan sedikit demi sedikit rasa kantuk yang masih melekat. Jam dinding menunjukkan pukul 3 siang, jam minum obat Mama sudah terlewat satu jam. Dengan langkah-langkah panjang aku segera ke kamar Mama, tetapi wanita itu tak kutemui di dalamnya.
Kret! Kret!
Suara-suara khas perabotan yang dipindahkan atau hanya sekadar digeser, menyapa telinga. Siapa dan sedang apa ya di kamar depan yang selama ini kosong? Apa itu Mama dan Mbak Karmi? Bergegas langkah ini kuseret ke arah sumber suara itu.
Di dalam kamar itu kulihat Mang Barja, tetangga depan rumah yang berprofesi sebagai tukang bangunan sedang serius menyusun ulang perabotan yang ada dan mengeluarkan barang-barang tak terpakai. Sementara Soleh, anak sulung Mang Barja yang masih duduk di bangku SMU, sibuk memasang wallpaper warna merah muda di dinding kamar yang selama ini bercat warna putih. Aku mengerutkan kening? Siapa yang akan memakai kamar ini?
"Mah? Ada apa, ya?" tanyaku spontan begitu wanita yang sedang memandori pekerjaan Mang Barja dan anaknya itu, menoleh ke arah pintu di mana aku sedang berdiri memerhatikan.
"Sabina, bikin kaget aja. Ya mau dipakai lah," jawab Mama terlihat sedikit gugup.
"Itu Sabina tau, Ma. Tapi untuk siapa?" Aku masih penasaran. Sejenak Mama diam, seolah kebingungan untuk menjawabnya.
"Un--tuk Delia, Sa. Kamu jang--"
"Delia?!" potongku dengan kaget. Sejak kapan aku dan Mas Adit mengizinkan Delia tinggal di sini? Bukankah keinginan mereka agar aib perempuan muda itu ditutup sudah terpenuhi? Apa mereka lupa kesepakatan awal bahwa ini sekadar pernikahan palsu untuk menyelamatkan nama baik kedua keluarga ini?
"Dengar Mama dulu, Sab. Memang benar pernikahan itu pura-pura belaka. Tapi apa kamu tega membiarkan Delia sendirian menjalani kehamilan yang baru pertama kalinya ini? Yang dikandung Delia itu cucu Mama, Sabina!" Sudah kuduga, hanya dalam hitungan menit, emosi Mama sudah tersulut.
Aku menatap nanar ibu mertuaku, pandangan ini telah mulai kabur oleh genangan. Allah, apa perempuan yang senantiasa kuhormati ini tak pernah sedikitpun memikirkan perasaanku? Apa karena aku cuma perempuan yang dibesarkan di panti asuhan dan belum bisa memberinya cucu, lantas aku sah-sah saja disepelekan dan tidak pantas dihormati?
"Mah, bagaimanapun aku adalah istri Mas Adit dan menantu sah Mama. Harusnya aku diajak bicara terlebih dulu bukan?" ujarku dengan nada rendah. Segala rasa kesal kutekan hingga ke dasar. Bagaimanapun aku wajib berlemah lembut pada wanita yang telah melahirkan suamiku ini.
"Bicara padamu? Kau yakin setelah mama bicara lalu masalah selesai? Yang ada kau pasti menolak, Sabina." Mama tersenyum sinis.
"Setidaknya bicara lebih dulu pada Mas Adit, bukan?"
"Ah kalian itu sama saja! Adit bahkan lebih banyak membantah karena sudah terpengaruh olehmu, Sabina. Apa apa serba Sabina!" Mama mendengkus dengan wajah masih penuh emosi.
"Ma, bukankah Mama juga pernah jadi seorang istri? Apa Mama tidak bisa memahami perasaan Sabina? Sabina dan Mas Adit saling mencintai dan merasa bahagia selama ini, kenapa kami harus diusik seperti ini dengan sesuatu yang sebenarnya bukan tanggung jawab Mas Adit apalagi aku?!" Kini suaraku parau oleh sesak yang menggayut dalam d**a. Perempuan di hadapanku bergeming, mulutnya bergerak-gerak tetapi tak sepatah kata pun terlontar.
"Apa yang harus Sabina lakukan agar Mama menyayangi Sabina seperti Sabina sayang pada Mama? Tidak banyak yang Sabina inginkan, hanya berharap dicintai dengan tulus, Ma. Sekarang semua terserah Mama, dalam hal ini Sabina tidak akan melawan Mama. Bagi Sabina, Mama seperti orang tuaku sendiri yang seumur hidup belum pernah kutemui. Hanya satu hal yang Mama harus tahu, hati Sabina sakit sekali, Ma ...." Selesai berkata demikian, aku beranjak dari hadapan beliau. Aku tahu akan sulit mengubah keputusan yang Mama mertua inginkan, tetapi beliau harus tahu, ini semua tak adil untukku.
$$$
Aku tidak menangis, tetapi hanya sedikit kesal. Entahlah, aku juga tak bisa seenaknya menyalahkan begitu saja Mama atau Delia. Mereka juga punya alasan sendiri-sendiri dibalik tindakan mereka. Mama tentu saja merasa harus bertanggung jawab atas kehamilan gadis itu. Terlebih ini akan jadi cucu pertama Mama, terlepas dari apa jalan yang dilalui.
Aku menghela napas, lagi dan lagi. Sebuah kebiasaan baru yang akhir-akhir semakin sering kulakukan.
Kini tubuhku merapat pada kerai jendela kamar, menatap senja yang baru turun di awal bulan Juni. Beberapa dedaunan yang menguning di luar sana, mulai kedinginan dan gugur tersapu angin yang bertiup cukup kencang.
"Kamu kenapa, Sa? Bukankahh kita sudah selesai bicara soal ini?" Sebuah pertanyaan hadir bersama pelukan hangat di pinggang. Lamunan panjang membuatku tak. Menyadari bahwa Mas Adit baru saja pulang. Demi Tuhan aku ingin mengadu kegundahan ini. Tetapi melihat wajah lelah dari lelaki yang seharian bekerja keras untuk menegakkan tanggung jawabnya itu, keinginan tersebut lenyap seketika. Jika Mas Adit bisa jadi sosok yang sangat percaya padaku, kenapa aku tak bisa percaya padanya.
Aku menatap lelaki itu langsung ke matanya, masih tetap seperti 6 tahun lalu saat pertama kali kami bertemu. Cinta dan kerinduan yang sama, hanya bedanya, kini ada sekelumit resah di wajah tampan itu.
"Nggak usah terlalu menanggapi Mama ya, Sa. Kamu kan ngerti gimana Mama. Kalau kamu keberatan akan sesuatu, sampaikan saja pada mas," bisiknya lembut sambil membelai rambut sebahu milikku.
"Delia akan tinggal di sini, Mas?" tanyaku tercekat. Wajah di hadapanku terlihat makin gusar. Tanpa menunggu jawaban lelaki itu lewat bibirnya, aku tahu keputusan yang akan terjadi. Atas nama bakti kepada orang tua dan sakit jantung yang Mama idap, aku tahu jawabannya.
"Kamu tahu bagaimana Mama, kan? Berkorban lah sedikit lagi, Sayang. Meski begitu, jangan pernah meragukan suamimu ini." Mas Adit berbisik pelan sembari meraih kedua telapak tanganku dan mengecup dengan lembut. Aku membalas perlakuan manis itu dengan memeluk pinggangnya yang tetap ramping di usianya yang sudah 33 tahun.
"Adit! Adit! Cepat kita ke rumah Delia. Delia pingsan!" Suara panik Mama terdengar seiring dengan gedoran keras di pintu kamar kami.