BAB 4. Madu Belia

1330 Words
BAB 4. Madu Belia Serta merta Mas Adit melepas pelukan kami dan segera membuka pintu kamar. Mama tampak gelisah dan gugup sambil berpegangan tangan pada daun pintu yang terkuak. "Ayo buruan. Ini gawat darurat!" Suara Mama terdengar sangat panik. Ini berpuluh kali lipat paniknya dibanding saat aku harus dilarikan ke UGD karena serangan sesak napas akibat alergi seafod tahun lalu. Saat itu Mama bahkan tak menyempatkan diri untuk menjengukku yang harus opname selama beberapa hari. "Sebentar, Ma. Adit ganti ba--" "Sekarang, Dit!" potong Mama mertua dengan raut wajah yang benar-benar tak ingin dibantah. Melihat hal itu, suamiku segera bergerak ke arah pintu setelah sempat menoleh ke arahku, kode berpamitan. "Semoga Delia baik-baik saja," ucapku pelan saat Mas Adit dan mama bersiap memasuki mobil. Sekilas kulihat perempuan parobaya itu menoleh ke arahku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Yang jelas adalah tatapan kurang bersahabat seperti biasanya. Atau mungkin tatapan tidak percaya akan ucapanku barusan. Padahal aku tulus mengatakannya. Delia bukan saingan, karena aku yakin akan janji yang telah Mas Aditya ucapkan. Dan aku tahu, suamiku bukanlah tipe lelaki pendusta. Setelah mereka berangkat, aku pun kembali pada rutinitas malam seperti biasa. Menyiapkan menu makan malam dan menghangatkan beberapa menu masakan yang masih bisa disantap. Tak lupa bersama Mbok Karmi memastikan keadaan rumah tetap bersih dan rapi, sebab Mama paling tidak suka ada yang berantakan atau kotor. Jam menunjukkan pukul 10 malam lewat beberapa menit saat aku naik ke kamar. Sudah lebih dari tiga jam Mas Adit dan Mama mendatangi Delia, tetapi belum juga ada kabar. Beberapa kali aku menarik napas cukup panjang, berusaha meredakan gelisah yang datang menyergap. Delia sedang berbadan dua dan baru saja mengalami insiden, wajar saja ia membutuhkan sosok pelindung dan orang yang bisa diandalkan. Aku harus tetap yakin semuanya masih on the track, bahwa semuanya adalah sandiwara untuk menutupi aib dua keluarga ini. Jadi meskipun Mama mertua seolah menganggap serius pengorbanan Mas Adit, yang penting aku percaya akan komitmen suamiku. Mata ini hampir terlelap manakala kudengar suara suara di luar kamar. Reflek bergegas turun dari tempat tidur dan membuka pintu, dan menuruni tangga dari kamar. Pemandangan pertama yang kulihat adalah tubuh mungil Delia yang berjalan tertatih sambari dipapah oleh Mas Adit dan Mama. Untuk beberapa saat lamanya aku terpaku di ambang pintu. Bisa dibilang sedikit shock. Ini kali pertama aku melihat bahwa suamiku cukup intens dengan perempuan lain. "Apa kamu akan berdiam terus di situ, Sabina?!" tegur Mama dengan suara ketus. Tatapannya tajam mengarah padaku. "Eh oh iy--iya, Ma." Aku bergegas menuju ke arah tiga sosok tersebut. Tetapi perintah perempuan yang melahirkan Mas Adit itu sukses membuatku berbalik arah menuju ke depan. "Buka pintu kamar tamu saja, lalu bikinkan teh hangat buat Delia." Kembali kata kata perintah yang dominan terdengar di rumah ini. Meski ada rasa sakit yang kurasakan tiap menerima perlakuan kasar dari Mama, tetapi tak sekalipun aku ingin melawannya. Saat aku dengan sadar menerima pinangan dari Mas Aditya, saat itu pula aku harus siap menerima segala konsekwensi dari keputusanku itu. Mungkin bisa saja aku memberi ultimatum agar kami bisa hidup terpisah dari mama, tetapi apakah itu bukan keterlaluan namanya. Aku tidak ingin membuat suamiku jadi durhaka kepada ibunya sendiri. Sudah 6 tahun aku bertahan seolah semua baik baik saja, seolah sikap mama tak berarti apapun untukku, tidak mungkin sekarang aku menyerah bukan? Tampaknya drama baru saja dimulai, kamu harus mempersiapkan mental dengan baik, Sa. Hatiku berbisik. Tanganku mengaduk seduhan teh dengan perasaan masygul. Baru beberapa detik Delia hadir di rumah ini, Mama sudah makin jelas menunjukkan sikap keberpihakannya. Rasanya ini tak adil, tetapi tidak ada yang bisa kulakukan. Mencintai Mama sama artinya dengan mencintai seorang Mas Adit. Tinggal Mama lah orang yang dimiliki suamiku di dunia ini. Aku tak mungkin membuat hal-hal yang mengakibatkan ibu dan anak itu berselisih paham. Semua kuanggap sebagai ladang pahalaku sebagai seorang istri dan menantu di rumah ini. "Kamu yang sabar ya, Sayang. Mama hanya sedang panik karena keadaan Delia. Oh ya, biar Mas yang bawakan kalau kamu capek." Tiba-tiba sebuah pelukan sudah mendarat di pinggang, plus suara macho tetapi lembut yang selalu membuat hatiku membiru seketika. Sikap hangat dan penuh cinta itulah semangatku dalam bertahan selama ini. "Nggak papa, Mas. Biar aku saja," jawabku mengulas sebuah senyum. Jemari jemari kokoh itu kini beralih mengelus pundakku. "Ya udah. Mas naik duluan ya, mau langsung mandi. Jangan lupa nanti ...." Mas Aditya menggantung ucapan sambil mengedipkan mata. Bibirku mencebik dengan pipi yang terasa hangat seketika. Ia selalu saja begitu, membuatku melambung setiap saat. Kuikuti tubuh tinggi tegap yang kini tengah menaiki tangga menuju ke lantai dua dengan tatapan penuh cinta. Aku seolah tengah melihat wujud dewa yang sesungguhnya pada diri suamiku yang tampan, hangat dan penuh cinta. Sosok Mas Aditya sangat bisa menutupi celah-celah tak sempurna dalam kehidupan rumah tangga kami yang memang belum sempurna. 6 tahun sudah kami bersama dalam ikatan suci, tetapi tampaknya Allah belum menitipkan kepercayaan akan kehadiran buah hati. Meski Mas Adit pada dasarnya tak pernah mempersoalkan hal ini, tetapi realita tersebut makin menebalkan rasa tak suka Mama padaku. Bukan sekali dua kali perempuan baya itu seolah sengaja mengungkit kekuranganku di hadapan keluarga besar. Walau jujur bahwa harga diriku terluka, tetapi aku lebih mempercayakan hati ini untuk tetap dalam penjagaan suamiku. Lelaki itu telah membuktikan banyak hal bahwa kesetiaan dan respek itu memang ada. "Sabina! Memang perlu berapa jam sih untuk sekadar membuat secangkir teh?!" pertanyaan yang lebih mirip hardikan itu terdengar bersama munculnya sosok ibu mertua di ambang pintu dapur. Ternyata aku tak sadar sudah tenggelam dalam lamunan yang cukup panjang. "Oh eh ... ini baru saja mau aku antar ke depan, Ma," jawabku dengan gagap yang tak bisa kusembunyikan. "Ya udah! Siniin biar mama yg antar untuk Delia!" sergah Mama dengan suara ketus. Sesaat setelah mengucapkan kalimat tersebut, Mama pun meraih nampan berisi teh dan sepiring kue tadi dari tanganku dan segera beranjak lagi ke ruang depan tempat perempuan muda yang kini sah jadi maduku itu berada. Sepeninggal Mama, aku menarik napas panjang beberapa kali hingga dadaku terasa lebih plong. Rasanya mulai hari ini aku harus lebih giat melatih kesabaran dan keihklasan. Karena ternyata tak mudah menaklukan wanita yang telah melahirkan suamiku. Ia yang pada awal pertemukan kami memang kurang menyukaiku, tampaknya kali ini menemukan lebih banyak alasan untuk menyudutkan. Meski aku berusaha tetapi berpikir positif bahwa tidak mungkin Mama berniat menghancurkan pernikahan putranya sendiri, tetapi hati kecilku tak bisa menafikan. Kedudukanku sebagai menantu di rumah ini mulai terancam. "Kamu kenapa sih? Bengong lagi," cetus Mas Adit menyambut. Ternyata tanpa sadar langkahku telah sampai di kamar utama. Lagi lagi tatapan penuh kekhawatiran terlihat di matanya. Aku memilih membuang pandangan ke arah lain. Selalu tak sanggup untuk menentang sepasang mata setajam elang menukik itu. "Ssttt jangan bilang apa-apa. Cukup satu hal yang kamu pegang, i love you, My Wife." Telapak tangan yang hangat itu membelai rambut sebahuku. Aku menyelusupkan tubuh mungil ini ke d**a bidangnya, mencari kekuatan di sana. Aku benar benar ingin menangis rasanya, tetapi sekuat tenaga kutahan. "Meski Mama meminta Delia selamanya tinggal bersama kita di rumah ini, tetapi jangan pernah meragukan hatiku, Sa." Mas Adit meraih daguku sehingga tatapan kami saling bertaut. "Jadi bukan selama hamil muda saja dia bersama kita?" tanyaku sambil menggigit bibir. Sedikit kaget dengan keterangan yang baru saja kudengar. "Kau tahu sendiri bagaimana sayangnya Mama pada Delia, kan? But sekali lagi, don't worry about it." Setengah meragu, aku mengangguk lemah. Kucoba membesarkan hati bahwa semua akan tetap baik-baik saja. Aku percaya pada Mas Adit. Sangat percaya. Hanya satu yang masih mengganjal, bagaimana menjelaskan ini pada Bunda Syahidah dan teman-teman yang dulu pernah senasib sepenanggungan di panti asuhan "Sakinah". Begitu besarnya pengorbanan Bunda Syahidah dan pengurus panti asuhan yang lain agar kami bisa hidup dan mengenyam pendidikan secara layak. Sedari dini kami semua telah diajarkan untuk mandiri, baik secara mental maupun finansial. Saat mereka tahu aku telah resign dari pekerjaan karena permintaan Mama dan Mas Adit, mereka tampak kecewa dan menyayangkan hal itu. Apalagi jika mereka tahu bahwa aku telah diduakan meskipun hanya pernikahan kontrak. Bagaimana aku harus menjelaskan hal sensitif ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD