BAB 5. MULAI RAPUH

1434 Words
BAB 5 Mulai Rapuh Aku bangun dengan kepala agak pening. Selain karena beban pikiran, semalam aku juga harus mengimbangi permainan panas Mas Aditya. Di usianya yang hampir menginjak 35 tahun, suamiku memang sedang berada di puncak gairahnya sebagai seorang laki-laki. Terlebih aktivitasnya yang cukup melelahkan di kantor, membuatnya membutuhkan pelepasan stress. Dan menurutnya, aktivitas seksual yang teratur menjadi salah satu terapi agar ia bisa lepas dari kejenuhan dan rasa tertekan tersebut. "Makasih buat yang semalam ya, Sayang. Ternyata kamu sudah makin lihay," bisik Mas Adit dengan suara seksinya. Kurasakan bibirnya yang hangat tengah mengecup bahuku bagian belakang yang terekspose bebas sehabis mandi dan hanya mengenakan handuk sebatas d**a. Wangi mocca yang menguar dari tubuhnya berbaur dengan wangi sabun, membuatku menghirup udara banyak banyak untuk menikmati aroma melenakan itu. "Udah buruan ke kantor, nanti telat loh." Aku berusaha menyingkirkan kedua lengan yang melingkari pinggang. "Boleh gak sih lanjut yang semalam? Kebetulan hari ini aku turun lapangan, jadi bisa agak siangan," bisik pemilik sepasang lengan kuat itu di sisi telingaku. Reflek jemari ini mencubit pinggangnya dengan gemas. "Makin mateng tuh makin genit ya. Ih gelay," cebikku setelah membalikkan tubuh untuk saling berhadapan. Wajah tampan di hadapanku tersenyum lebar. "Genitnya cuma sama kamu tau," balasnya sambil menyodorkan wajah. "Udah. Kerja sana gih! Oh ya hari ini kan jadwal Mama antri ambil uang pensiun kan?" Tiba-tiba aku teringat jadwal suamiku yang mesti mengantar mamer yang tiap tanggal 3. Beliau harus antri di sebuah bank pemerintah untuk mengambil uang pensiunan dari almarhum papanya Mas Adit. "Oh ya ya ... untung kamu ingetin, Yang. Ok aku berangkat dulu ya. Hepi aja di rumah, tidak udah mikir yang macem-macem." Kembali ia mengecup pucuk kepalaku. Membuat serasa ada embun yang baru saja membasahi hati. Diam diam aku melangitkan doa, Semoga kemesraan ini tidak akan pernah berakhir sampai maut yang memisahkan. Lelaki ini adalah kekuatanku. Didera kesedihan karena tak pernah mendapat kasih sayang dari ibu mertua sendiri dan kenyataan bahwa sampai tahun ke 6 belum juga berhasil hamil, Mas Aditya lah pelipur lara hati ini. "Ya, Mas. I love you." Aku menghadiahi sebuah senyum legit. "Love you too," timpal Mas Adit sembari mendaratkan sebuah ciuman kecil di keningku. Ya Tuhan, nikmatmu manalagi yang bisa kudustakan. Meskipun rahim ini tak jua diisi dengan janin, tetapi cinta dan kesetiaan yang besar dari lelaki itu sudah lebih dari cukup. Meski dalam hidup kami kini telah hadir perempuan belia bernama Adelia, tampaknya sama sekali tidak mempengaruhi keharmonisan kami berdua. Sepeninggal Mas Adit dan Mama, aku merasa agak lebih fit dan tenang. Meski cuma beberapa jam saja terbebas dari kehadiran ibu mertuaku itu, tetapi rasanya bisa membuatku rilex untuk beberapa jenak. Kadang memang melelahkan setiap hari harus berhadapan dengan ibu mertua yang tidak menyukaiku, tetapi semua itu kuanggap sebagai pengorbanan untuk membalas cinta dan kasih sayang Mas Adit yang begitu besar. Ada kebahagiaan tentu ada pula pengorbanan. selama Mas Adit masih setia di sisiku, rintangan apapun akan sanggup kulalui. Setelah selesai menata kamar tidur, aku memutuskan untuk turun ke dapur, membantu Mbok Karmi menyiapkan suguhan makan siang. Rencananya aku akan masak nila asam pedas sesuai permintaan Mas Adit. "Mbok bikin bubur?" tanyaku heran saat kulihat panci stainless masih mengepulkan asap dari bubur yang panas. "Iya, Mbak. Ibu yang suruh tadi buat Mbak Adel," jawab ART yang konon sudah mengabdi di rumah ini lebih dari 10 tahun. "Oh lanjut aja, Mbok. Saya mau buat 'nila asam pedas' aja untuk Mas Adit," timpalku sambil mengeluarkan bahan-bahan yang kubutuhkan dari dalam lemari pendingin. Setelah kurang lebih setengah jam, akhirnya kami masing-masing sudah selesai dengan menu masakan yang dibuat untuk makan siang. Rencananya aku akan mengantar menu tersebut ke kantor Mas Adit dengan jasa kurir. "Mbok silakan selesaikan yang lain, biar saya yang antar makanan ke kamar Adel," titahku saat Mbok Karmi mulai menata makanan di atas nampan. "Gak usah, Mbok. Nanti ngerepotin. Ini kan tugas ART," Jawabnya dengan wajah tak enak hati. "Gak apa, Mbok. Aku sekalian mau nyapa. Nggak enak dari kemarin belum sempat ngajak ngobrol," tukasku sembari menata bubur nasi ke dalam piring, memasukkan sup ayam ke dalam wadah mangkuk dan menyisipkan segelas air putih. Setelahnya kutata semua menu itu ke atas nampan. "Ba--baik, Mbak." Perempuan baya itu mengangguk patuh walau ada sedikit tatapan ragu di kedalaman matanya. Dengan langkah pelan, aku menuju kamar tamu dengan membawa nampan makanan untuk maduku. Setelah memanggil beberapa kali, akhirnya pintu yang terbuat dari kayu jati itu terkuak. Menampilkan wajah pucat milik gadis muda berusia 20 tahunan itu. "Mb--Mbak Sabina," sapanya dengan tergagap. Tubuh langsing dan putih mulus itu bergeser ke samping, memberi akses tubuhku untuk bisa masuk ke dalam. "Ini makan siangmu. Silahkan dinikmati," ujarku setelah meletakkan nampan di atas meja. Berusaha mengulas sebuah senyum tulus untuknya. "Makasih banyak, Mbak. Ma--maaf sudah merepotkan." Telapak tangan Delia saling meremas, pertanda ia sedang menahan rasa gugup di dalam dirinya. Perlahan aku memindai keseluruhan perempuan muda itu. Melihat raut wajah dan gestur tubuhnya, ia bukanlah perempuan ambisius dan culas. Malah terlihat cenderung innocent. Sedikit demi sedikit rasa tak nyaman dan khawatir akan keberadaan Delia di rumah ini, mulai mencair. Mungkin akan lebih baik jika kami saling bahu membahu selayaknya kakak dan adik saja tanpa perlu merasa saling tersaingi. Toh kesepakatannya sudah jelas. Mas Aditya dan Delia akan segera bercerai setelah bayi alhamarhum Nanda telah lahir ke dunia. "Del ... Delia," panggilan beruntun terdengar dari luar kamar. Rupanya Mama dan Mas Adit sudah pulang dari bank. "Ini Mama belikan rujak buah untuk kamu. Kalau perempuan hamil itu biasanya paling doyan rujak beginian." Mama menyerahkan sekantung plastik pada Delia. "Loh kamu ngapain di sini, Sab?" Mama menoleh ke arahku yang berdiri di sisi tempat tidur Delia. Ada kecurigaan di manik mata perempuan baya itu seolah keberadaanku di kamar ini adalah ancaman atau untuk melakukan sesuatu pada Delia. Aku mulai merasakan hawa panas yang baru saja terbawa bersama kehadiran Mama mertua. Hawa panas yang sejak dulu tak penah bisa kuenyahkan meski aku telah berusaha keras untuk dapat dekat dengan ibu mertuaku sendiri. "Sabina mengantar makan siang buat Delia, Ma. Makanannya dijamin sehat, higienis dan aman. Jadi Mama tidak perlu khawatir," jawabku dengan tetap bersikap tenang dan terkontrol. Meski jujur, emosiku mulai tersulut karena tatapan curiga dari Mama Shanty. Aku bukan perempuan jahat dan culas yang tega mencelakai orang lain. Menghadapi mertua seperti Mama memang harus bisa mengendalikan diri sendiri terlebih dulu. Sebab jika terpancing, hanya akan menambah keruwetan saja. Aku tetapi ingin jadi menantu yang sabar, patuh tetapi tidak merasa rendah diri. Sebagaimanapun perlakuan Mama, aku tetap berusaha bersikap tenang dan tidak terpancing. "Iya, Ma. Mbak Sabina baik sekali kok. Makasih ya, Mbak, udah mau repot-repot nganterin makanan untuk aku." Delia mengucap terimakasih sembari sedikit membungkukkan badan. "Baiklah Delia, silakan makan, semoga suka menunya. Oh ya, Ma ... Sabina udah jadi mantu Mama 6 tahun deh, pasti Mama tau gimana sifat asli Sabina?" Aku sengaja berkata penuh penekanan para Mama. Berharap dia tahu apa yang kumaksud. Memang terlihat lancang bagi yang belum tahu situasi antara aku dan mama di rumah ini. Tapi kadang aku juga punya batas kesabaran untuk bisa berlapang d**a. Terkadang jawaban spontan terlontar begitu saja dari mulutku. "Sudah sudah ... Kamu memang paling pinter ngejawab omongan mertua," sergah Mama dengan wajah yang bertambah tegang. Sesak rasanya selalu dipandang negatif oleh orang yang seharusnya seperti ibu kandung kita sendiri. Tapi apalah dayaku untuk mengubah semuanya? $$$ Aku hanya bisa merenung, berdiri merapatkan tubuhku ke tirai jendela kamarku, sambil menatap langit malam yang terlihat begitu mendung. Awan hitam laksana selimut yang membalut langit, menutupi gemerlap bintang yang bertaburan. Sesekali, ku lihat kilatan petir yang tergambar di atas langit, bagai sebuah lukisan cahaya yang saling mengait. Keadaan alam malam ini, seolah mewakili perasaanku yang juga tengah mendung tertutupi kabut hitam, yang tercipta dari luka yang tiba-tiba menghantam kuat di dalam d**a. Sikap Mama mertua semakin dingin terhadapku setelah kedatangan Adelia. Aku yang memang kurang disukai oleh Mama mertua sejak awal, semakin tersisih di rumah ini. Susah payah aku mengambil hati Mama mertua selama ini, tapi, hanya dalam waktu yang sangat singkat, hatinya yang semula mulai terbuka untukku, kini kembali tertutup. Dia seolah menganggapku tidak ada di rumah ini, sekarang. Aku cemburu melihat perlakuan Mama mertua yang begitu mengistimewakan Adelia, hatiku sakit. Karena aku yang berstatus menantu sah dan dibawa ke rumah ini oleh Mas Adit dengan penuh cinta saja, tidak pernah diperlakukan seistimewa itu oleh Mama mertua. Kenapa? Kenapa kasta selalu menjadi patokan dari setiap pandangan orang? Air mata yang sejak tadi menggenang, seketika terjatuh membasahi pipiku. Hatiku benar-benar sakit, diperlakukan bak orang asing di rumah mertuaku sendiri. sekuat kuatnya aku bertahan, kadang muncul pula pertanyaan dalam hati, sampai kapan aku bertahan dalam kebencian Mama mertua seperti ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD