Aku berdiri di atas balkon kamar sambil menatap langit malam yang terlihat begitu mendung. Awan hitam laksana selimut yang membalut langit, menutupi gemerlap bintang yang bertaburan. Sesekali, ku lihat kilatan petir yang tergambar di atas langit, bagai sebuah lukisan cahaya yang saling mengait. Keadaan alam malam ini, seolah mewakili perasaanku yang juga tengah mendung tertutupi kabut hitam, yang tercipta dari luka yang tiba-tiba menghantam kuat di dalam d**a.
Sikap Mama mertua semakin dingin terhadapku setelah kedatangan Adelia. Aku yang memang kurang disukai oleh Mama mertua sejak awal, semakin tersisih di rumah ini. Susah payah aku mengambil hati Mama mertua selama ini, tapi, hanya dalam waktu yang sangat singkat, hatinya yang semula mulai terbuka untukku, kini kembali tertutup. Dia seolah menganggapku tidak ada di rumah ini, sekarang.
Aku cemburu melihat perlakuan Mama mertua yang begitu mengistimewakan Adelia, hatiku sakit. Karena aku yang berstatus menantu sah dan dibawa ke rumah ini oleh Mas Adit dengan penuh cinta saja, tidak pernah diperlakukan seistimewa itu oleh Mama mertua. Kenapa? Kenapa kasta selalu menjadi patokan dari setiap pandangan orang?
Air mata yang sejak tadi menggenang, seketika terjatuh membasahi pipiku. Hatiku benar-benar sakit, diperlakukan bak orang asing di rumah mertuaku sendiri. Di saat sendirian seperti ini, segala sikap dan perkataan mama mertua justru terngiang ngiang di telinga dan pikiranku.
“Sa, siapa yang suruh kamu makan mangga itu?” Mama mertua datang menghampiriku dengan tergesa-gesa. Aku yang sedang menikmati mangga yang terasa sangat manis itu pun, langsung menoleh ke arah Mama mertua.
“Memangnya kenapa ya, Ma? Apa aku tidak boleh makan mangga ini?” tanyaku, dengan sedikit bingung. Karena biasanya, Mama mertua tidak pernah melarangku memakan apapun yang ada di dalam lemari es.
“Itu mangga impor yang sengaja Mama beli untuk Adelia. Kalau kamu mau makan mangga, kamu beli saja mangga di pasar, jangan makan mangga yang itu!” Mama mertua berkata dengan ketus. “Kau tau sendiri, kan? Adelia sedang hamil, jadi harus memakan makanan yang berkualitas untuk kesehatan janin yang dikandungnya. Kau kan tidak sedang hamil, kau bisa makan buah dari pasar saja.” Satu pernyataan yang menegaskan sebuah perbandingan antara aku dan Delia. Mama mertua tahu, kalau kalimat perbandingan itu begitu sensitif bagiku yang belum juga diberi kepercayaan untuk menjadi seorang ibu. Tidakkah dia mau berpikir sedikit saja untuk menjaga perasaanku?
“Sa, hati-hati membersihkan lantainya, jangan terlalu basah. Nanti Adelia terpeleset. Dia kan sedang hamil, bagaimana kalau dia terpeleset dan keguguran!”
“Sa, kamu jangan duduk di situ, biar Adelia bisa meluruskan kakinya. Pindah ke kursi yang lain!”
“Sa, cuci dulu baju Adelia. Bajumu belakangan saja!”
"Sa, tolong buatkan s**u buat Adelia, dia masih mual, belum bisa bangun dari kasur."
"Sa, bilang ke Adit, pulang kantor belikan rujak yang di jalan Bangka ya, jangan rujak yang lain!"
Perintah-perintah Mama mertua yang bak sebuah pernyataan yang menegaskan, bahwa Delia lebih istimewa dan lebih penting dariku, terus saja terngiang di telingaku, dan berputar di kepalaku, bagai cambuk yang memukul jiwaku hingga terasa rapuh.
Terlebih beberapa hari ini aku melihat Mama bukan hanya mengusikku, tetapi juga mulai berpotensi mengusik Mas Aditya.
"Adit, kamu nggak bisa apa ngobrol barang Adel? Dia tuh bukan patung, tapi istri kan? Kasihan dikit sama dia kenapa?!"
Atau tiba tiba berkata seperti ini.
"Dit, kapan kamu sempatkan diri mengantar Adelia ke klinik?"
"Coba jadi lelaki itu yang gentle, Dit. Adelia itu perempuan yang sedang hamil, dan memang bukan anak kamu. Tapi di janin itu mengalir darah Nanda, yang berarti juga darah dagingmu! "
Kalau sudah begini, aku tak bisa berkata apa apa selain mengurut d**a. Semakin hari aku harus semakin menerima hal hal yang coba Mama paksakan di keluarga ini. Kehadiran perempuan lain yang mau tidak mau, suka tidak suka, harus aku sambut dengan tangan terbuka.
Di tengah lamunanku, sebuah pelukan melingkar di pinggangku, hembusan napas menyapu lembut ceruk leherku. Rasa hangat dari pelukan itu, membuat jiwaku seketika menenang.
Mas Adit baru saja pulang, dan aku sampai tidak menyadarinya saking aku tenggelamnya dalam lamunan.
“Sayang, kamu ngapain berdiri di sini?” tanyanya, dengan suara berat tapi terdengar begitu lembut di telingaku. Dan dengan segera, aku hapus air mata di wajahku sebelum aku berbalik menghadap suamiku. Aku bukan Sabina yang kekanakan dan tidak dewasa, bukan. Mas Adit mencintaiku salah satunya karena kedewasaan dan pengertian yang aku punya. Kegalauan dan keresahan yang aku alami pasti berdampak langsung pada lelaki itu.
“Kamu kenapa, nangis?” Tangannya mengusap lembut sisa air mata yang masih belum sempurna ku hapus. Kekhawatiran, terpatri jelas di wajahnya. Tatapan lembutnya, selalu membuatku terhanyut dalam cinta kasihnya.
“Tidak apa-apa, Mas,” jawabku, seraya mengulas senyuman tipis, menyembunyikan kesedihan yang sebenarnya sudah tak bisa ditutupi lagi.
“Apa tentang Adelia dan Mama, lagi?” Aku hanya menunduk, mendapat pertanyaan itu dari Mas Adit. Dan tanpa aku menjawab pun, Mas Adit sudah tau, kalau merekalah yang membuatku sedih.
Mas Adit membingkai wajahku dengan kedua telapak tangannya, sedikit mengangkat wajahku, supaya netra kami saling bertemu sebelum ia berkata, “Dengarkan aku, Sayang. Apa pun yang terjadi, kau tidak perlu risau dan tidak perlu sakit hati. Ada aku yang akan selalu berada di pihakmu, ada aku yang akan selalu menyayangi dan mencintaimu. Apa kau meragukanku, hm?” Intonasi kalimat yang terlontar dari mulut Mas Adit, begitu lembut sampai menyentuh relung hatiku yang sedang galau karena kecemburuan.
Ucapannya menyalurkan oksigen pada jantungku yang sejak tadi terasa sesak.
“Katakan padaku, kalau kau percaya padaku, Sa.” Mas Adit meminta kepastian akan kepercayaanku terhadapnya. Dan aku pun mengangguk, “Iya Mas, aku percaya padamu. Dan tolong, jangan pernah berubah, tetaplah seperti ini apa pun yang terjadi. Dan tetaplah seperti ini selamanya.” Aku meminta dengan sedikit memohon. Aku takut, kalau suatu hari nanti, hati Mas Adit akan goyah dan berubah.
“Tentu, Sayang. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah berubah. Selamanya akan tetap seperti ini, kau adalah ratu di hatiku, dan tidak akan pernah tergantikan. Dan aku, tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti perasaan ratuku ini.” Mas Adit lalu memelukku dengan sayang
Pelukan dan perlakuan lembut Mas Adit, selalu menjadi obat hati dan kewarasan jiwaku. Setidaknya, aku masih beruntung, karena memiliki Mas Adit yang selalu berada di pihakku, dan begitu menghargaiku. Meskipun, aku ingin dihargai oleh Mama mertuaku juga. Tapi apalah daya, keinginan itu ternyata sangat sulit ku gapai.
“Terimakasih, Mas. Aku mencintaimu,” ucapku, sambil menahan air mata haru yang hendak terjatuh dari mataku.
“Aku lebih mencintaimu, Sayang.” Mas Adit mendaratkan kecupan lembut di puncak kepalaku. Yang kemudian, kembali melepas pelukannya. “Ya sudah, aku mau mandi dulu. Tolong siapkan baju tidurku.” Aku mengangguk, seraya mengulas senyuman.
Seperti yang diminta Mas Adit, aku segera menyiapkan baju tidur untuk Mas Adit pakai nanti setelah ia selesai mandi.
Suara ketukan pintu, membawa langkahku ke arah sana. Dan setelah aku buka pintu itu, rupanya itu Mbok Karmi. “Ada apa, Mbok?” tanyaku.
“Nyonya meminta saya untuk memanggil Mbak Sa.”
“Ooh, baiklah.” Aku pun, langsung keluar dari kamar untuk menemui Mama mertua yang memanggilku. Meskipun di dalam hati timbul berbagai pertanyaan. Setiap panggilan dan interaksi yang berasal dari mama dipastikan hanya membuat hatiku luka. Tetapi aku bisa apa, ia adalah wanita yang menjadi perantara lelaki yang kukasihi lahir ke dunia ini.
“Nona, Nyonya ada di kamar Nona Adelia!” Seruan Mbok Karmi, membuat langkahku terhenti, saat aku hendak berbelok ke arah kamar Mama mertua. Tanpa mengatakan apa-apa, aku kembali berjalan lurus menuju ke kamar Adelia.
Perasaanku sudah mulai tidak enak, dan langkahku mulai terasa berat, memikirkan yang tidak-tidak. Apa gerangan yang membuat Mama mertua memanggilku ke kamar Adelia? Bermacam dugaan, mulai bermunculan di kepalaku. Hatiku yang tadi sudah kembali tenang setelah kedatangan Mas Adit, kini kembali was-was.
Hingga, langkahku pun sampai di depan pintu kamar Adelia. Aku mengetuk pintu kamar itu terlebih dahulu, sampai suara Mama terdengar dari dalam sana, menyuruhku untuk masuk.
“Mbok Karmi bilang, Mama memanggilku?” tanyaku dengan suara pelan. Mama tampak sedang melipat dan membereskan baju baju milik Adelia.
“Ya, tolong kau buatkan teh manis hangat untuk Adelia," pinta Mama tanpa melihat ke arahku. Atensinya masih terus tertuju pada kegiatan di kamar perempuan itu.
Aku sedikit mengernyit, kenapa Mama tidak meminta Mbok Karmi saja yang buatkan sekalian, tadi? Kenapa malah meminta aku yang membuatkan?
Ah sudahlah, Sabina. Hindari menambah masalah dan beban pikiran. Lakukan saja apa yang mama mertuamu mau sepanjang itu masih bisa kamu lakukan dengan baik. Hatiku bermonolog.
Selesai membuat teh hangat, aku membawa gelas itu langsung ke kamar Adelia kembali. Kulihat mama mertua tengah memijat kaki dan tangan Adelia dengan penuh perhatian. Aku menghela napas panjang tetapi dengan sangat pelan. Berusaha membuang rasa iri yang kadang tak bisa dicegah datang dengan sendirinya.
"Taruh saja di atas meja, Sa. Oh ya sebelum gelap, jangan lupa angkat baju baju Adel dari jemuran ya," titah Mama tanpa mengubah atensinya dari tubuh Adelia.Lagi lagi Ia bicara denganku tanpa sedikitpun menoleh ke arahku.
Aku mengangguk meski tahu beliau tidak melihat. Beranjak dari kamar madu belia itu dengan perasaan yang tak bisa kugambarkan.
Bagaimana cara agar aku terus ikhlas menjalani ini semua, ya Allah? Sampai kapan perasaanku harus tercabik cabik seperti ini?
Terkadang merasa iri melihat pasangan suami istri yang lain. Yang bisa hidup mandiri berdua dengan suami tanpa campur tangan mertua. Tidak seperti diri ini yang seolah tak memiliki kebebasan. Semua urusan a sampai z masih tetap di bawah kendali mama Shanty. Seolah aku adalah istri yang me
numpang di rumah sendiri.