BAB 7. LELAKI IDAMAN

1842 Words
BAB 7. Lelaki Idaman Hingga, langkahku pun sampai di depan pintu kamar Adelia. Aku mengetuk pintu kamar itu terlebih dahulu, sampai suara Mama terdengar dari dalam sana, menyuruhku untuk masuk. “Mbok Karmi bilang, Mama memanggilku?” “Ya, tolong kau buatkan teh manis hangat untuk Adelia.” Aku sedikit mengernyit, kenapa Mama tidak meminta Mbok Karmi saja yang buatkan sekalian, tadi? Kenapa malah meminta aku yang membuatkan? Tapi aku segera menepis pertanyaan yang menggayuti d**a tersebut. Mama adalah orang yang paling tua di rumah ini. Sudah selayaknya dihormati dan dituruti. Apa salahnya membuatkan teh sesuai dengan yang ia minta. "Ya. Tunggu sebentar, ya." Aku berlalu kembali ke dapur untuk melakukan apa yang diminta mertua. "Ada apa, kok balik lagi?" tanya Mas Adit heran melihatku yang tadi diminta untuk ke kamar Sabina. "Mama Minta buatkan teh buat Adelia." Aku menjawab dengan tenang. "Kamu?" Ia menoleh dengan mengernyitkan kening. "Iya, Mas. Santai aja lagi," sahutku sembari membawa baki kecil berisi secangkir teh porselen. "Maaf, ya, Mbak. Jadi ngerepotin." Delia tampak berusaha duduk dan memberikan atensinya pas aku yang baru masuk dan meletakkan baki di meja. "It's okey. Yang jelas kamu harus banyak makan dan cukup istirahat ya, Del. Biar bisa beraktifitas selayaknya orang sehat lainnya." Aku menyunggingkan senyum sewajarnya. "E e maksudnya apa, Sa? Kamu keberatan mama minta tolong menyediakan kebutuhan dia yang lagi hamil?!" Mama yang sedang membalurkan minyak pijat atomateraphy ke bagian ke kaki Delia pun menyahut. Bukan keberatan, Ma. Tetapi ini memang tidak boleh sering sering dilakukan. Wanita hamil itu justru harus aktif dan rutin beraktifitas. Tetapi jawaban itu hanya menggema di dalam dadaku saja. "Bukan gitu, Ma. Memang orang hamil itu harusnya justru banyak beraktifitas dan bergerak sesuai porsinya." "Ah kamu sok tau aja. Hamil juga belum pernah kan?" sewot Mama sambil menatapku dengan tatapan tajam seperti biasanya. "Maaf, Ma. Kalau sekadar itu, semua juga tahu kok. Itu pengetahuan umum yang semua orang sudah tau tanpa perlu hamil atau tidak." Suaraku bergetar ketika mengucapkan itu. Padahal aku sudah berusaha mengontrol sedemikian rupa. Sudah teramat sering mendengar orang lain menyinggung soal itu, tetapi rasanya tetap tak berubah, tetap saja menyakitkan dan meninggalkan perih di d**a. Mama terlihat terpaku mendengar jawabanku, sementara Adelia meremas remas jemarinya. "Ma-makasih ya, Mbak. Yang diucapkan Mbak itu memang benar," ujarnya terbata. Tanpa menunggu apa apa lagi, aku membalik badan. Meninggalkan kamar tamu yang kini dihuni oleh Delia. "Yang sabar ya, Bu," ucap Mbok Karmi lirih. Ternyata ART yang sudah lebih dari lima tahun bekerja pada kami itu mendengarkan semua yang baru terjadi. Aku hanya menjawab dengan anggukan kepala, setelah menyeka kedua mata yang mulai mengabur karena genangan air. $$$ Aku menjadi orang yang paling terlambat bergabung ke meja makan. Meski begitu, akulah yang sejak tadi berjibaku di dapur bersama Mbok Karni hingga bisa terhidang sarapan yang lezat seperti ini. "Pagi, Sayang," sapa Mas Adit sembari menarik meja yang ada di sebelahnya untukku. Ah hatiku seperti meleleh seketika. "Pagi, Mas. Maaf ya, harus nunggu aku lama," sahutku sambil mengibas rambutku yang masih sedikit basah akibat pergulatan manis kami semalam. Ya, meskipun telah menikah hampir memasuki usia 6 tahun lamanya dan belum beruntung dikaruniai buah hati, tetapi perlakuan Mas Adit tak pernah berubah. Ia senantiasa memberikan nafkah batinnya dengan senang hati secara rutin. Itulah yang membuatku bisa melewati kesulitan ini bertahun tahun. Kesulitan yang datang karena ibu mertua yang tidak menyukaiku sejak dari awal aku berkenalan dengan suamiku. "Maaf ya, Mbak. Aku belum bisa ikut bantu bantu," lirih ucapan Delia dari meja di sudut kiri. Wajahnya terlihat muram. "Nggak apa apa, Sayang. Kamu kan memang harus banyak bedrest karena kejadian kemarin di rumah orang tuamu. Nggak usah minta maaf segala," sahut Mama kali ini. Seakan tidak rela jika Adelia meminta maaf dariku. "Tapi emang bagus kok bangun pagi dan berbagai aktifitas ringan untuk seorang wanita hamil," imbuh Mas Adit pula. Itu makin membuat wajah Bumer memerah. "Sudah sudah, ayo dilanjutkan saja sarapanya," sergah Mama sembari mengambilkan bubur ayam buatanku tadi pagi bersama Mbok Karmi ke hadapan Delia. Kemudian keheningan tercipta karena kami sibuk pikiran dan kunyahan masing masing. Aku membereskan sisa sisa akibat aktifitas sarapan kami. Delia turut membantu dengan cara membawa piring piring kotor ke arah wastafel dengan diiringi tatapan khawatir dari Mama. "Eh Dit, kamu bisa pulang agak cepetan kan?" Mama menghentikan gerakan Mas Aditya yang hendak mencium keningku dan berpamitan untuk bekerja. "Emangnya ada apa, Ma?" "Ini jadwal kontrol Delia ke dokter kandungan. Bisa kan kamu mengantar?" Mama terlihat bertanya dengan mimik penuh harap. "Mmm, Adit kayaknya banyak scheedule hari ini, Ma. Nggak bisa pulang lebih cepat. Bareng Liana atau Mbok Karmi bisa kan?" Mas Aditnya melirik ke arahku. Seakan takut aku badmood karena mendengar permintaan mama. "Kok Liana sih? Mana ada waktu bocah itu yang santai. Begitu juga mbok Karmi, jadwal kerjaan dia nggak bisa diganggu gugat." Mama nampak sedikit kesal. "Kalau gitu sama Mama aja lah. Kan tinggal pesan Gra8 aja. Praktis jaman sekarang kan?" Mas Adit masih berusaha menolak permintaan itu. Aku tahu apa yang dilakukan lelaki itu semata mata adalah untuk menjaga perasaanku di rumah ini. Sungguh Mas Adit adalah pelindungku lahir dan batin. Lelaki nyaris sempurna yang kurasa limited edition di dunia ini. . . . . . Hingga, langkahku pun sampai di depan pintu kamar Adelia. Aku mengetuk pintu kamar itu terlebih dahulu, sampai suara Mama terdengar dari dalam sana, menyuruhku untuk masuk. “Mbok Karmi bilang, Mama memanggilku?” “Ya, tolong kau buatkan teh manis hangat untuk Adelia.” Aku sedikit mengernyit, kenapa Mama tidak meminta Mbok Karmi saja yang buatkan sekalian, tadi? Kenapa malah meminta aku yang membuatkan? Tapi aku segera menepis pertanyaan yang menggayuti d**a tersebut. Mama adalah orang yang paling tua di rumah ini. Sudah selayaknya dihormati dan dituruti. Apa salahnya membuatkan teh sesuai dengan yang ia minta. "Ya. Tunggu sebentar, ya." Aku berlalu kembali ke dapur untuk melakukan apa yang diminta mertua. "Ada apa, kok balik lagi?" tanya Mas Adit heran melihatku yang tadi diminta untuk ke kamar Sabina. "Mama Minta buatkan teh buat Adelia." "Kamu?" Ia menoleh dengan mengernyitkan kening. "Iya, Mas. Santai aja lagi," sahutku sembari membawa baki kecil berisi secangkir teh porselen. "Maaf, ya, Mbak. Jadi ngerepotin." Delia tampak berusaha duduk dan memberikan atensinya pas aku yang baru masuk dan meletakkan baki di meja. "It's okey. Yang jelas kamu harus banyak makan dan cukup istirahat ya, Del. Biar bisa beraktifitas selayaknya orang sehat lainnya." Aku menyunggingkan senyum sewajarnya. "E e maksudnya apa, Sa? Kamu keberatan mama minta tolong menyediakan kebutuhan dia yang lagi hamil?!" Mama yang sedang membalurkan minyak pijat atomateraphy ke bagian ke kaki Delia pun menyahut. "Bukan gitu, Ma. Memang orang hamil itu harusnya justru banyak beraktifitas dan bergerak sesuai porsinya." "Ah kamu sok tau aja. Hamil juga belum pernah kan?" sewot Mama sambil menatapku dengan tatapan tajam seperti biasanya. "Maaf, Ma. Kalau sekadar itu, semua juga tahu kok. Itu pengetahuan umum yang semua orang sudah tau tanpa perlu hamil atau tidak." Suaraku bergetar ketika mengucapkan itu. Padahal aku sudah berusaha mengontrol sedemikian rupa. Mama terlihat terpaku mendengar jawabanku, sementara meremas remas jemarunya. "Ma-makasih ya, Mbak. Yang diucapkan Mbak itu memang benar," ujarnya terbata. Tanpa menunggu apa apa lagi, aku membalik badan. Meninggalkan kamar tamu yang kini dihuni oleh Delia. "Yang sabar ya, Bu," ucap Mbok Karmi lirih. Ternyata ART yang sudah kehuh dari 5 tahun bekerja pada kami itu mendengarkan semua yang baru terjadi. Aku hanya menjawab dengan anggukan kepala, setelah menyeka kedua mata yang mulai mengabur karena genangan air. $$$ Aku menjadi orang yang paling terlambat bergabung ke meja makan. Meski begitu, akulah yang sejak tadi berjibaku di dapur bersama Mbok Karni hingga bisa terhidang sarapan yang ldzat seperti ini. "Pagi, Ssyang," sapa Mas Adit sembari menarik meja yang ada di sebelahnya. "Pagi, Mas. Maaf ya, harus nunggu aku lama," sahutku sambil mengibas rambutku yang masih sedikit basah akibat pergulatan manis kami semalam. Ya, meskipun telah menikah hampir memasuki usia 6 tahun lamanya dan belum beruntung dikaruniai buah hati, tetapi perlakuan Mas Adit tak pernah berubah. Ia senantiasa memberikan nafkah batinnya dengan senang hati secara rutin. Itulah yang membuatku bids melewati kesulitan ini bertahun tahun. Kesulitan yang datang karena ibu mertua yang tidak mrnyukaiku sejak dari awal aku berkenalan dengan suamiku. "Maaf ya, Mbak. Aku belum bisa ikut bantu bantu," lirih ucapan Delia dari meja di sudut kiri. "Nggak apa apa, Sayang. Kamu kan memang harus banyak bedrest karena kejadian kemarin di rumah orang tuamu. Nggak usah minta maaf segala," sahut Mama kali ini. Seakan tidak rela jika Adelia meminta maaf dariku. "Tapi emang bagus kok bangun pagi dan berbagai aktifitas ringan untuk seorang wanita hamil," imbuh Mas Adit pula. Itu makin membuat wajah Bumer memerah. "Sudah sudah, ayo dilanjutkan saja sarapanya," sergah Mama sembari mengambilkan bubur ayam buatanku tadi pagi bersama Mbok Karmi ke hadapan Delia. Kemudian keheningan tercipta karena kami sibuk pikiran dan kunyahan masing masing. Aku membereskan sida sisa akibat aktifitas sarapan kami. Delia turut membantu dengan cara membawa piring piring kotor ke arah wastafel dengan diiringi tatapan khawatir dari Mama. "Eh Dit, kamu bisa pulang agak cepetan kan?" Mama menghentikan gerakan Mas Aditya yang hendak mencin keningku dan berpamitsn untuk bekerja. "Emangnya ada apa, Ma?" "Ini jadwal kontrol Delia ke dokter kandungan. Bisa kan kamu mengantar?" Mama terlihat bertanya dengan mimik penuh harap. "Mmm, Adit kayaknya banyak scheedule hari ini, Ma. Nggak bisa pulang lebih cepat. Bareng Liana atau Mbok Karmi bisa kan?" Mas Aditnya melirik ke arahku. Seakan takut aku badmood karena mendengar permintaan mama. "Kok Liana sih? Mana ada waktu bocah itu yang santai. Begitu juga mbok Karmi, jadwal kerjaan dia nggak bisa diganggu gugat." "Kalau gitu sama Mama aja lah. Kan tinggal pesan Gra8 aja. Praktis jaman sekarang kan?" Mas Adit masih berusaha menolak permintsan itu. Aku tahu apa yang dilakuksn lelaki itu semata mata adalah untuk menjaga perasaanku di rumah ini. "Tega kamu ngomong gitu ya, Dit. Sesekali kamu ngantar Adelia kan tidak masalah. Di rahimnya itu juga calon keponakan kandungmu," sergah Mama mulai memperlihatkan fluktuasi emosi dalam dirinya. Aku yang mulai melihat itu cepat mengatasi keadaan. "Biar sabina saja yang mengantar, Ma. Sekalian mau belanja bulanan." Aku menengahi. "Ka-kamu mau diantar sama Sabina, Nak?" tanya Mama terlihat khawatir. Aku jadi tertawa geli sekaligus kesal. Emangnya aku musuh yang harus dihindari? Sampai sampai Mama mengkhawatirkan Adelia jika diantar olehku? "Bo-boleh, Mbak. Makasih ya, Mbak." Delia terlihat menekuri ujung kakinya. "Kamu payah kok, Dit."Sergah Mama sembari mengunyah potongan apel dengan gerakan kesal. " Ya udah, kan sudah ada Sabina yang akan menemani Adelia, Ma. Aku padat soalnya hari ini," tukas Mas Adit sambil meraih tangan Mama dan menciumnya. "Mas pergi ya, Sayang. Nanti hati hati aja bawa mobilnya." Mas Adit berpamitan denganku sambil tak lupa mencium kening. Mama terlihat melengos dan berbalik menuju kamarnya. Sementara Adelia menggigit bibirnya. "Dengan Sabina saja, Ma. Mas Adit kan sibuk. Klo cuma ngantar doang ke RS sih gampang. Gimana, Del?" Aku menoleh pada perempuan itu. "Ter--terserah Mbak Sa saja. Saya ikut aja," jawabnya tergagap. "Iya, soalnya Mas Adit kebanyakan risih klo pergi dengan selain saya, Del." Aku sengaja mengeraskan suaraku hingga terdengar di telinga mama Shanty. Ia buru buru meninggalkan meja makan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD