37. Keributan "Jadi, dia punya kebutuhan dasar yang beda dengan kita. Dan aku tidak merasa harus menolaknya!" Bibir Adelia membentuk lengkung. "Biadap! Kau sengaja menjeratnya?!" semburku murka. "Kau salah, Mbak. Aku mencintainya! Ya itu alasan terbesarku! Aku mencintai Mas Adit." "Kau belum jawab pertanyaan ku tadi! Kau tidur lagi dengan suamiku?!" tanyaku histeris. "Biar adil, tanya saja sendiri pada suamimu Mbak!" Adelia tersenyum penuh kemenangan. Arrrgh ... percakapanku sore tadi dengan Adelia, kembali menari nari di kepalaku. Membuat moodku benar benar hancur di sisa hari. Berbagai prasangka dan tuduhan pun muncul, apakah Mas Aditya memang serendah itu? Apakah Mas Aditya menggunakan momen kepergianku kemarin uuntuk menikmati Adelia? Serendah itukah? Atau semua itu hanya ak

