36. Aku Menyerah Untuk Bertahan. Bunyi denting sendok dan piring yang saling beradu, menandakan sarapan pagi telah dimulai. Mas Aditya yang telah berpakaian rapi, sudah turun untuk ikut bergabung dengan anggota rumah yang lain. [Sa, turunlah. Sarapan dengan yang lainnya.] [Nanti aja, Mas. Aku masih belum lapar. Lagian aku masih tanggung beresin kamar.] Ya, selama seminggu setelah kepulanganku ke rumah ini. Aku masih merasa asing dan tetap menjaga jarak. Entah bagaimana konsep rumah ini sesungguhnya. Aku lah sebenarnya nyonya di rumah ini, istri dari kepala keluarga ini, tetapi aku bagaikan tamu yang menumpang. Lihat saja, Tante Dina bahkan seolah sengaja tetap ada di rumah ini, seolah sengaja menyusun kekuatan bersama Mama Shanty dan anaknya, untuk membuatku merasa terintimidasi di

