34. Speechless "Bu Sabina pulang sendiri?" Satu suara yang belum lama tadi bicara denganku terdengar lagi. Aku sampai hampir terlonjak karena kaget. "Oh iy--iya, Dok. Saya akan memesan gra& ini." Aku sudah bisa menguasai diri. "Atau mau serempak dengan saya? Saya akan melewati jalan Tirtayasa dan Akasia. Bisa jika kebetulan sama," tawarnya spontan. Aku sempat bengong untuk beberapa detik, tetapi syaraf reflek di dalam diriku cepat membuatku sadar akan keadaan. "Saya," jawabku terpotong. Tetapi tak urung kepalaku mengangguk juga. "Mari, Bu," ajaknya sambil memberi kode agar aku berjalan di sisinya menuju parkiran. Sesungguhnya aku merasa jengah dan aneh saja. Selama hampir dua tahun menjadi pasien dokter Sean, aku tahu ia adalah dokter yang ramah dan rendah hati. Tetapi untuk k

