Bab 5
Aku menjawab pertanyaan Mbak Iren, yang bikin hatiku nyesek. Apalagi dalam keadan aku, yang sedang ada masalah pula dengan suamiku.
"Lho kamu kok sewot sih, Amira. Aku kan hanya nanya," ujarnya. Ia tidak merasa bersalah dengan apa yang dipertanyakanya padaku barusan.
"Ya sudah, Mbak, kalau memang Mbak merasa benar. Maaf jangan menghalangi jalanku, aku mau masuk," pintaku.
Mbak Iren pun minggir, memberikan jalan kepadaku dan juga Azka. Kemudian aku melepaskan koperku, serta segera mencari Ibu dan Bapak tanpa mau bertanya kepada Iparku itu.
Aku tahu di mana kebiasaan mereka, jika siang-siang begini. Mereka selalu berada di teras belakang, sambil makan singkong goreng, atau ubi goreng kesukaan mereka.
Sesampainya aku ke teras belakang dan benar dugaanku, jika Ibu dan juga Bapak sedang berada di sana. Aku pun segera menghampiri mereka berdua.
"Ibu, Bapak," sapaku, sambil menghampiri mereka berdua.
"Amira, Azka, kapan kalian datang, Sayang?" tanya Ibu.
Aku bukannya menjawab pertanyaan Ibu, tetapi aku malah menangis dipelukannya. Keadaanku yang seperti ini, hingga membuat kedua orang tuaku kaget bukan kepalang. Mereka langsung begitu antusias bertanya, kenapa aku bisa berbuat seperti ini.
"Nak, bicaralah, katakan kepada kami apa yang membuat kamu menangis seperti ini?" tanya Bapak.
"Iya, Nak, bicaralah! Insya Allah Ibu dan Bapakmu akan membantu permasalahan kamu," pinta Ibu.
"Bu, Pak, apa boleh Amira tinggal lagi di rumah Ibu dan Bapak?" tanyaku.
Aku malah balik bertanya, kepada kedua orang tuaku. Aku meminta izin tinggal kembali di rumah mereka.
"Ya ampun, Sayang. Pintu rumah Ibu dan Bapak selalu terbuka untuk anak dan keturunan Ibu dan Bapak. Tapi memangnya apa, yang membuat kamu tiba- tiba ingin tinggal si rumah Ibu dan Bapak?" tanya Bapak lagi meminta penjelasan.
"Iya, Amira, coba kamu ceritakan segamblang mungkin, supaya Ibu dan Bapak mengerti, apa yang membuat kamu malah meninggalkan rumahmu." Ibu menimpali ucapan Bapak dan meminta penjelasan kepadaku.
Aku pun menarik nafas, lalu menghembuskannya lagi, sebelum menjawab dan menceritakan permasalahanku.
"Bu, Pak, aku tidak sanggup lagi melanjutkan rumah tangga dengan Mas Romi," terangku, memulai cerita.
"Lho ... memangnya kenapa? Ada permasalahan apa, yang membuat kamu menyerah berumah tangga dengannya? Bukankah Romi orang yang baik? Itu kan pria pilihan kamu, Nak?" tanya Bapak lagi.
Bapak bertanya, sambil memangku dan mengusap kepala Azka, dengan penuh kasih sayang.
"Iya, Nak, dulu kamu lho yang memaksa Ibu dan Bapak untuk merestui pernikahan kalian. Padahal Ibu dan Bapak dulu kurang setuju, dengan pilihan kamu itu," ujar Ibu seakan menyindirku, sebab dulu aku yang ngotot ingin dinikahkan dengan Mas Romi dan menolak lamaran pria pilihan kedua orang tuaku.
"Maafkan Amira ya, Bu, Pak! Amira telah salah memilih, ternyata Mas Romi tidak sesuai dengan ekspektasi Amira. Dia itu ternyata srigala berbulu domba, Bu, Pak," terangku lagi.
"Amira, seharusnya kamu itu tetap mempertahankan rumah tangga kamu. Karena biar bagaimana pun, si Romi itu pilihan kamu lho. Seharusnya kamu tetap bertahan, walau sehebat apa pun ujian rumah tangga kamu," celetuk Mbak Iren.
Ia berkata seenaknya saja, Mbak Iren benar-benar tidak mengerti perasaanku. Aku tidak menyangka, jika ia ternyata menguping pembicaraanku dengan orang tuaku.
"Apa maksud kamu, Mbak? Kok kamu sepertinya nggak suka banget, kalau aku tinggal di rumah ini? Ingat ya, Mbak, sebelum kamu ada disini. Aku yang lebih dulu menempati rumah ini, bahkan aku ikut andil dan menyumbang tenaga, dalam pembangunan rumah ini. Sedangkan kamu apa, kamu hanya tinggal menempati saja, tanpa tau jerih payah kami dalam membuat rumah ini. Jadi ada maupun tidak ada izin dari kamu, aku akan tetap tinggal di rumah ini. Selama Ibu dan Bapak menerima kehadiranku," tuturku panjang lebar.
"Ih kamu ini, kalau diomongin sama orang yang lebih tua, kok ngeyel banget sih!" Mbak Iren tidak terima dengan perkataanku.
"Bukannya begitu, Mbak. Seharusnya Mbak jangan langsung memvonis ini dan itu tentangku, sebelum Mbak tau persis bagaimana duduk persoalannya. Apa sebenarnya Mbak takut karena ada aku di sini, nanti akan merepotkan kamu dan Mas Raka?" tanyaku menelisik wahahnya, mencari kebenaran disana.
Wajah Mbak Iren langsung merah padam, entah karena dia malu, atau karena tersinggung dengan ucapanku. Tapi biarlah, sebab Ipar sombong macam Mbak Iren, memang harus dilawan, jangan dibiarkan saja. Karena bisa makan hati terus jika dibiarkan.
"Sudah ... sudah, kalian berdua jangan malah ribut. Kalian berdua itu seharusnya rukun, sebab kalian itu saudara, walau Iren bukan terlahir dari rahim Ibu," pinta Ibu.
"Iya, Bu," ucapku.
Mbak Iren bukannya menjawab perkataan Ibu, tetapi ia malah berlalu pergi begitu saja. Memang pada dasarnya, dia itu seorang menantu yang tidak ada ahlak. Sehingga ia tidak mempunyai rasa sopan santun terhadap mertua.
"Tuh, Bu, lihat kelakuan Mbak Iren kepadaku, kok gitu banget ya? Jangankan sama aku, sama Ibu dan Bapak saja ia tidak ada hormatnya sama sekali. Ia berkuasa banget di rumah ini, tanpa dia sadar diri, kalau dia itu sedang menumpang disini." Aku menumpahkan unek-unekku di hadapan Ibu.
"Sabar, Nak. Biar bagaimana pun dia itu adalah istri Kakak kamu dan Kakak kamu begitu mencintai istrinya itu. Ibu juga sebenarnya sering banget, tersinggung dengan sikapnya Iren. Tetapi mesti bagaimana lagi, Nak. Sebab Ibu malas meladeni Iren, jika ujung-ujungnya malah ribut," ungkap Ibu.
Ibu mengungkapkan bagaimana mereka ia menghadapi Mbak Iren. Ibu juga malah menyuruhku untuk bersabar, terhadap menantu yang kurang ajar seperti itu.
"Ih, kok Ibu malah mengalah sih. Biar bagaimana pun dia itu telah bertindak tidak sopan, terhadap Ibu dan Bapak. Sekali-kali kalian itu mesti tegas dong, Bu, Pak, terhadap Mbak Iren. Atau ngomong langsung sama Mas Raka, tentang kelakuan istrinya terhadap kalian," saranku.
"Ibu dan Bapak juga sudah mencobanya, Nak. Tapi ternyata sifat Iren itu licik, ia selalu bersikap berbanding terbalik, jika dihadapan Raka. Ia baik banget, jika dihadapan suaminya," terang Ibu lagi.
"Sudahlah, kalian jangan ngomongin dia terus. Nanti dia denger dan malah membuat ulah lagi," tegur Bapak
Setelah mendapat teguran dari Bapak, kami pun berhenti membicarakan perihal Mbak Iren. Kemudian aku pun memberitahu maksud dan tujuanku datang ke rumah Ibu, serta ingin kembali tinggal di rumahnya.
"Bu, Pak, aku telah memergoki Mas Romi sedang berselingkuh dengan temanku Lisa," terangku.
"Apa, Nak, Romi berselingkuh?" tanya Ibu dengan ekspedisi wajah yang begitu kaget.
"Iya, Bu," jelasku.
Bapak dan Ibu begitu terkejut, saat aku memberitahu mereka, tentang kelakuan Mas Romi.
Bersambung ...