Bab 4
"Ternyata sudah tidak ada gunanya lagi aku bertahan di rumah ini, sebab Mas Romi tidak dapat menepati janji. Maafkan aku, Bu. Aku bukannya tidak sayang padamu, tetapi karena anakmu yang terus-terusan menyakiti aku. Sehingga aku mengambil keputusan ini," lirihku, sambil mengemasi barang-barangku.
Beres mengemasi semua perlengkapanku, aku segera mengemasi perlengkapan Azka. Kemudian aku segera pergi ke kamar mertuaku, yang saat aku tinggal tertidur. Ternyata dia masih tertidur, aku hanya mencium tangannya takzim, serta mencium pipi kiri dan kanannya.
"Maafkan aku, Bu. Bukannya aku tega sama Ibu, tetapi karena anak Ibu sendiri, yang membuat semua ini harus terjadi." Aku berkata lirih, sambil mengusap air mata, yang terus membasahi pipi.
Setelah itu aku pergi menemui Bi Asmi, aku mau menitipkan mertuaku kepadanya sebelum Mas Romi datang.
"Bi, maaf ya, aku mau nitip Ibu sampai Mas Romi datang." Aku menitipkan Ibu mertuaku, kepada asisten rumah tanggaku, yang bernama Bi Asmi.
"Lho, memangnya Ibu mau kemana?" tanya Bi Asmi dengan raut muka heran.
Sudah pasti Bi Asmi heran, sebab aku tidak biasa menitipkan Ibu, jika tidak ada kepentingan.
"Aku mau pergi, Bi. Sepertinya aku sudah tidak bisa tinggal di rumah ini lagi. Maafkan aku ya, Bi. Jika selama ini aku ada salah kepada Bibi," ucapku.
"Lho ... kok Ibu mau pergi, memangnya kenapa, Bu? Ada masalah apa sampai Ibu mau pergi? Terus bagaimana dengan Bu Rahma? Siapa yang akan merawatnya?" tanya Bi Asmi lagi.
Bi Asmi memborong pertanyaan, mungkin karena saking penasarannya, ia dengan apa yang terjadi kepadaku.
"Aku sudah tidak sanggup lagi, Bi untuk tinggal di rumah ini. Kalau soal Ibu, biar Mas Romi saja yang mengaturnya, siapa yang akan merawat dia nanti." Aku menjawab pertanyaan, secara garis besarnya saja.
"Oh iya, Bu,"
"Iya, Bi, seperti itu. Bi, maafkan aku ya. Jika selama aku tinggal di sini, aku punya banyak salah sama Bibi. Mohon dimaafkan ya, Bi. Maaf juga aku tidak bisa lama-lama lagi, Bi. permisi dulu ya, assalamualaikum," pamitku.
"Waalaikumsalam, Bu. Iya, Bu, pasti akan Bibi maafkan. Bibi juga minta maaf ya, Bu. Jika selama bekerja di sini, Bibi banyak salah. Karena sebagai manusia, kadri tidak akan luput dari kesalahan, baik itu sengaja ataupun tidak."
Bi Asmi menyambut perkataanku, sambil memelukku. Aku pun membalas pelukannya.
"Ya sudah, Bi. Aku pergi ya, assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," sahut Bi Asmi, sambi mengekoriku dari belakang.
Setelah berpamitan dengan Bi Asmi dan juga telah menitipkan Ibu. Aku menemui Azka anakku, yang sedang menonton televisi seorang diri di ruang keluarga.
"Nak, ayo kita pergi!" ajakku.
"Kita mau pergi kemana, Bun?" tanya Azka.
Ia menjawab pertanyaanku, sambil menatapku heran.
"Kita pergi ke rumah Oma ya, Nak. Mulai hari ini kita pindah ke rumah Oma," jawabku, sambil menyeret dua koper, seperti yang aku lakukan dulu.
"Lho, kok pindah sih, Bunda? Memangnya kenapa, kalau kita tinggal di sini? Kan kalau tinggal di Oma, aku malah lebih jauh petgi sekolahnya?" tanya Azka lagi.
"Nggak kok, Nak, cuma beda beberapa menit saja. Nanti juga Ibu akan mengantar jemput kamu kok, ayo kita berangkat," ajakku lagi.
Azka pun menurut apa kataku, kami pun akhirnya berjalan keluar dari rumah yang selama ini kami huni. Saat sampai ke depan, Mobilisasi online pesananku sudah terparkir dengan cantik didepan rumah. Aku segera berjalan lebih cepat lagi, supaya segera sampai.
Aku kini sudah tidak peduli, dengan masa depan rumah tanggaku. Aku kini sudah benar-benar nekat mau hidup dengan caraku, tanpa diatur oleh yang namanya kepala rumah tangga. Apalagi kepala rumah tangga yang hanya hobi Berselingkuh.
Setelah dua koper yang aku bawa dimasukkan oleh sang sopir. Aku menyuruh Azka untuk segera masuk ke dalam mobil taksi online tersebut. Tidak berapa lama Mas Romi datang dan menghalangi mobil taksi yang aku pesan.
"Dek, kamu mau pergi ke mana? Kamu jangan ngambek melulu dong," ujarnya.
"Mas, seharusnya kamu berpikir dulu dong, kalau mau ngomong. Aku tidak mungkin berbuat seperti ini, jika kelakuan kamu itu benar. Introspeksi diri dong, Mas," sindirku.
"Memangnya apa yang aku lakukan? Perasaan aku tidak melakukan hal-hal yang di luar aturan," kelitnya.
Ia tetap bersikukuh dengan pendapatnya sendiri, jika dia tidak bersalah.
Mas, di dalam surat perjanjian, yang kamu tanda tangani tempo hari. Itu jan ada poin yang mengharuskan kamu berkata jujur, kamu juga harus menuruti apa yang aku minta selama itu wajar. Nah kenapa tadi saat aku minta sama kamu, kalau aku mau mengobrol langsung dengan istrinya Mas Doni kamu tolak. Minta vidio call kamu nggak mau dan banyak alasan, bukankah itu melanggar perjanjian. Maka dari itu aku lebih baik pergi, biar kamu bebas mau berbuat semaumu. Maaf Mas, aku sudah tidak sanggup lagi menjadi istri, yang hanya kamu peras tenaganya. Silakan kamu cari istri yang lain, yang sekiranya bisa kamu manfaatkan. Permisi, assalamualaikum," pamitku, setelah sebelumnya aku panjang lebar, mengungkapkan semua unek-unek yang dirasa di hari ini.
"Dek, jangan tinggalkan aku dan Ibu. Karena kami sangat membutuhkan kamu," rengeknya.
Tapi aku tidak peduli, dengan apa pun usahanya untuk menghentikan langkahku untuk pergi dari rumah ini. Aku masuk ke dalam mobil, walau Mas Romi memintaku untuk tetap bersamanya. Aku meninggalkan semua harta, yang selama ini kami kumpulkan bersama. Karena Aku putuskan untuk hidup tanpa Mas Romi, sebab aku rasa sudah tidak ada harapan lagi untuk tetap bersamanya.
Biarlah, semua yang kami miliki saat hidup bersama, menjadi harta gono-gini di sidang perceraian kami nanti. Aku tetap akan meminta hakku dan hak anakku tentang harta itu. Karena demi Azkalah, aku akan melakukannya semua itu. Kalau Mas Romi tidak mau memberi karena alasan aku pergi meninggalkannya, maka aku akan ngotot untuk mendapatkan semua itu.
Aku bahkan memiliki berbagai bukti kesalahan Mas Romi, saat perselingkuhannya dengan Lisa, serta poin perjanjian yang dia tanda tangani sendiri di depan pengacara. Pokoknya aku akan memperjuangan hak aku dan Azka jika memang nanti Mas Romi mempersulit itu semua. Sebenarnya aku ingin membawa motorku, motor hasil jerih payahku saat sebelum menikah dengan Mas Romi. Tetapi biar lain kali saja aku ambil, sebab untuk sekarang susah. Karena aku harus membawa dua koper, yang cukup besar pula.
***
"Amira, ngapain kamu datang ke sini sambil membawa koper?" tanya Mbak Iren Kakak iparku.
"Memangnya kenapa, Mbak, kalau aku datang ke sini? Ini kan masih rumah Ibu dan Bapak, mereka orang tua kandungku," jawabku.
Bersambung ...