Bab 3

1029 Words
Bab 3 Memang dasar, Lisa seorang sahabat pelakor. Sepertinya ia tidak mikir, justru akulah yang dia dzolimi. Jadi tidak seharusnya ia bersikap seperti itu terhadapku, membuat aku semakin ilfill saja kepadanya. "Aku nggak mau ngapa-ngapain kamu kok, Lisa. Aku hanya mau bilang sama kamu, kalau kamu jangan pernah mengganggu rumah tanggaku lagi. Kamu juga jangan menganggap aku sebagai sahabat, sebab persahabatan kita telah hancur, setelah kamu ketahuan selingkuh dengan suamiku. Jangan pernah jamu nongol lagi kerumah ini, atau pun he kantornya Mas Romi. Kamu juga jangan pernah mengontak Mas Romi lagi, kamu faham, Lisa?" tanyaku, setelah aku panjang kebar memberi tahu Lisa, tentang apa saja yang nggak boleh Lisa lakukan kedepannya. "Lisa, lebih baik kamu turuti semua perintah Amira. Sebab dulu juga kamu yang duluan datang dan menggoda aku. Kalau kamu tidak terus-terusan datang dan menggodaku, aku juga tidak mungkin berkhianat kepada Amira." Mas Romi juga menimpali ucapanku. "Baik, kita lihat saja nanti," ucap Lisa lalu pergi. Aku merasa heran, dengan apa yang diucapkan Lisa barusan. Apa maksud ucapannya itu? Aku merasa ada yang ganjil, dengan ucapan Lisa ini. Setelah Lisa pergi, aku juga kembali ke dalam rumah. Aku masuk sambil kembali menarik dua koper, yang berisi pakaianku dan juga pakaian Azka. *** "Dek, tolong bikinkan kopi dong," pinta Mas Romi. "Maaf, Mas, aku sedang ngurusin Ibu. Kamu minta bikinkan saja sama Bi Asmi," sahutku. Jujur aku masih merasa terlalu sakit, makanya aku kurang respek, dengan Apa pun yang menyangkut suamiku. "Nggak jadi, Dek. Mas lupa sudah ada janji sama Doni, kalau hari ini Mas mau main ke rumahnya. Mas pergi dulu ya, Dek, assalamualaikum," ucap Mas Romi. Kemudian ia pergi begitu saja, tanpa menunggu persetujuanku. Sepertinya ia kecewa karena aku tidak mau melayaninya. Biarin saja, biar dia juga tahu kalau rasa sakit hati ini belum bisa hilang, walau sudah berlalu berbulan-bulan lamanya. "Bu, tadi Bapak mau pergi ke mana? Kok dia rapi banget sih, padahal ini kan hari libur," tanya Bi Asmi, saat aku bertemu dia di dapur. "Memang Mas Romi serapi apa sih, Bi? Kok aku jadi penasaran?" Aku balik bertanya kepada Bi Asmi. Aku pun mengorek keterangan dari asisten rumah tanggaku ini. Aku benar-benar penasaran, dengan apa yang dimaksud Bi Asmi. Karena dia bilang, kalau Mas Romi berangkat dengan berdandan rapi. "Itu, Bu, penampilan Bapak tadi klimis sekali. Bahkan ia memakai parfum, yang wanginya begitu cetar, Bu." Bi Asmi membetitahuku maksud dari pertanyaannya tadi. "Jadi penampilan Mas Romi tadi rapi banget ya, Bi?" tanyaku memastikan. "Iya, Bu," sahut Bi Asmi. Perasaanku menjadi tidak enak, saat mendengar perkataan Bi Asmi barusan, tentang Mas Romi suamiku. Apa mungkin, Mas Romi kembali melakukan perbuatan yang dulu? Padahal ia telah berjanji kepadaku, kalau ia tidak akan mengulanginya lagi. Karena mendengar penuturan Bi Asmi tadi, menurutku sepertinya sangat berlebihan sekali, jika Mas Romi berpenampilan serapi itu. Padahal ia hanya ingin bertamu ke rumahnya Mas Romi, yang merupakan partner kerjanya. "Ya sudah, Bi, silakan lanjutkan memasaknya. Aku akan ke kamar dulu ya," "Iya, Bu, silakan," sahut Bi Asmi. Kemudian aku pun pergi dari dapur menuju kamarku. Setelah sampai ke kamar, aku pun segera mencari handphoneku. Aku ingin menelepon suamiku, sebenarnya dia ada di mana. Sayang sekali aku tidak memiliki nomornya Mas Doni, kalau saja aku punya, mungkin aku sudah meneleponnya dan memastikan Mas Romi ada di rumahnya atau tidak. "Mas, kamu ada di mana? Apa masih ada di rumahnya Mas Doni?" tanyaku. "I-iya, Dek, kenapa memangnya?" tanya Mas Romi. Ia berkata dengan berbisik, hampir saja aku tidak mendengarnya. Neruntung tadi sengaja aku loudspeaker, supaya bisa mendengar jelas suaranya. Aku juga bisa mengantisipasi, kalau ada yang terdengar aneh di seberang sana. "Nggak kok, Mas. Aku cuma mau nanya aja," sahutku. "Sayang, ini kopinya," ucap seorang perempuan. Entah kepada siapa, dia mengatakan sayang. Tapi kalau memang benar Mas Romi di rumah Mas Doni, pastinya dia itu istrinya. Tapi jika ternyata Mas Romi di tempat lain, lalu perempuan itu siapa? Ah, semuanya ini bikin, hanya membuat aku menjadi orang yang temperamen saja. "Mas, itu suara siapa?" tanyaku. "I-itu, Dek, itu suara istrinya Doni." Mas Romi kembali menjawab dengan gugup. Kegugupan Mas Romi, membuat aku semakin curiga saja kepadanya, apalagi dulu dia pernah membuat aku kecewa. "Mas, lebih baik kamu berterus terang kepadaku, siapa sebenarnya perempuan itu? Kegugupanmu itu, membuat aku semakin curiga, kalau kamu itu sebenarnya tidak sedang berada di rumahnya Mas Doni. Kamu sedang ada di tempat lain bukan?" desakku, dengan nada meninggi. "Nggak, Dek, Mas beneran di rumahnya Doni. Itu tadi suara istri Doni, memanggil suaminya," kelit Mas Romi. Ia tetap mengaku, kalau dirinya saat ini sedang berada di rumahnya Mas Doni. Bahkan yang tadi memanggil sayang, itu adalah istrinya Mas Doni. Tapi aku merasa, kalau suamiku sedang berbohong. Sebab setiap kali ia menjawab ucapanku ia selalu gugup. "Ya sudah, kalau begitu berikan handphonenya kepada istrinya Mas Doni! Aku ingin bicara," pintaku. "Maaf, Dek. Istrinya Doni sudah pergi, katanya ia ada acara arisan bersama teman-temannya." Mas Romi masih berkelit, ia tetap mempunyai berbagai cara untuk menjawab ucapanku. Mas Romi ternyata sudah semakin pintar memainkan perannya. Aku sampai hampir kehilangan cara untuk mengetahui kebogongannya. "Mas, kalau begitu kita vidio call ya. Aku kangen suasana rumahnya Mas Doni, sudah lama aku tidak pernah lagi diajak main ke sana." "Nggak usah, Dek. Malu di sini sedang banyak rekan-rekannya, Doni. Pokoknya kamu percaya deh sama, Mas," tolaknya. Aku meminta kepada suamiku untuk melakukan vidio call, supaya ketahuan itu dirumah Mas Doni atau bukan. Tetapi Mas Romi malah menolak vidio call dariku, ia beralasan malu banyak rekannya Mas Doni. Padahal menurutku nggak masalah bukan? Justru ini bagus untuk menunjukan kepadaku, jika memang saat ini dia sedang jujur. "Baik kalau seperti itu maumu, Mas. Aku saat ini juga pamit pergi, aku sudah tidak sanggup hidup denganmu. Penolakanmu tadi, tentang vidio call dan juga aku ingin bicara dengan istrinya Mas Doni. Menunjukan bahwa kamu saat ini sedang membohongiku. Kamu jangan mengira aku sebodoh itu ya, Mas. Karena kepercayaanku terhadapmu sudah terkikis, saat kamu ketahuan berani berselingkuh dengan Lisa. Maaf, Mas, sebab saat ini juga kepercayaanku terhadapmu telah pupus. Silakan kamu atur hidupmu sendiri, urus Ibumu sebaik mungkin. Karena aku dan Azka, saat ini juga akan pergi dari rumah ini. Assalamualaikum," ucapku, sambil menutup panggilan telepon dengan Mas Romi. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD