Si Tiran!

1166 Words
Kalau bos bilang bonus artinya kamu harus menurut! *** Senja menatap lama wish list akhir tahun yang sudah dia rencanakan selama 4 bulan terakhir. Lagi-lagi rencananya berantakan dan ini semua karena atasannya yang tidak punya hati. Senja menarik buku berisi daftar tempat yang ingin dia kunjungi dan mendekapnya dengan sayang. Tidak masalah rencananya hanya sedikit berubah bukan benar-benar batal. Setelah kunjungan itu selesai Senja bisa melakukan apa pun yang dia inginkan. Senja meletakkan bukunya di atas meja samping tempat tidurnya kemudian menatap kamarnya lebih lama dari waktu yang dibutuhkan. “Lakukan saja Senja, ingat apa yang dikatakan lelaki itu jika kamu mau melakukannya?” monolog Senja pada dirinya sendiri. Dia menarik napas panjang kemudian bergegas keluar kamar sebelum dia berubah pikiran. Taksi sudah menunggu di depan rumahnya begitu Senja menginjakkan kaki di luar pintu. “Berapa lama perjalanan ke bandara?” tanya Senja pada si sopir saat menyerahkan koper miliknya. “Ini siang hari, apa yang kau harapkan?” Senja mengerang. Semoga saja bos tiran itu tidak uring-uringan jika sekali ini Senja terlambat datang. Dia menatap jam tangannya. Setidaknya selama 1 jam dia akan terjebak di dalam mobil. Mungkin lebih baik jika dia menghubungi Langit lebih dahulu. [Maaf, Pak, mungkin saya akan terlambat karena terkena macet] Senja memasukkan ponselnya ke saku celana dan bergegas masuk ke dalam mobil. Bunyi notifikasi dari ponsel miliknya membuat Senja kembali mengeluarkan ponselnya. [Kenapa terlambat? Macet tidak bisa jadi alasan Senja, harusnya kamu lebih tahu itu.] Senja meremas tangannya, menatap ponsel miliknya seakan yang dia tatap adalah Langit Samudera. [Ini hari minggu, memangnya apa yang Bapak harapkan?] Senja sudah akan menekan tombol ‘send’ namun, urung dilakukan mengingat Langit selalu punya cara untuk membuatnya kesal. Senja memutuskan untuk mengabaikannya. Dia memasukkan kembali ponselnya dan memilih memejamkan mata. Dia bisa tidur selama perjalanan dan melupakan alasan perjalanannya ini sejenak. *** “Mbak, kita sudah sampai.” Senja mengerang. Rasanya dia baru saja memejamkan mata dan ternyata mereka sudah sampai. Senja mengangkat kelopak matanya, sesaat merasa kebingungan. Namun, begitu mengenali keadaan di sekitarnya Senja kembali memejamkan matanya. “Jam berapa sekarang, Pak?” “Sekarang jam 03.15, Mbak.” Mata Senja terbuka sempurna mendengar jawaban itu. Dia buru-buru keluar begitu membayar biaya taksi dan berlari seperti orang kesetanan. Sial! Orang-orang yang kebetulan berpapasan dengannya menatapnya heran, tapi Senja sama sekali tidak memedulikannya. Saat ini hanya 1 orang yang bisa membuatnya panik dan orang itu…. Senja mendadak berhenti saat bertatapan dengan sepasang mata hitam kelam yang mengingatkannya pada elang. Senja menelan ludah menatap tubuh menjulang Langit. Pria itu kesal, itu sudah jelas dilihat dari garis rahangnya yang mengeras dan juga tatapan dinginnya. Apa lebih baik kabur saja? “Jangan coba-coba,” tekan Langit seolah tahu apa yang dipikirkan Senja. Langkah Senja semakin mundur. “Kalau kamu berani berubah pikiran, cuti akhir tahun, bonus dan juga paket liburan yang kujanjikan semuanya hangus.” Mendengar kalimat itu diucapkan, Senja mendadak mendapat keberaniannya. Yah, dia melakukan ini semua demi cuti akhir tahun yang tidak pernah dia dapatkan selama bekerja pada Langit. “Saya tidak berniat kabur, Pak,” kilah Senja, tersenyum manis pada Langit, tapi lelaki itu sama sekali tidak memercayai ucapannya. Langit mendengus. “Sebaiknya kita bergegas kecuali kamu mau ketinggalan pesawat.” “Bapak belum memberitahu di mana keluarga Bapak tinggal dan kita tidak akan ketinggalan pesawat,” ujar Senja begitu berhasil menyusul Langit. “Tidak penting kamu tahu di mana mereka tinggal.” Tidak penting pemirsa? Bagaimana mungkin tempat yang akan mereka datangi tidak penting untuk dia ketahui? Mungkin benar dugaan Senja selama ini kalau ada masalah dengan otak Langit Samudera. “Kalau begitu apa Bapak sudi memberitahu berapa lama penerbangan yang akan kita lalui?” Senja belum menyerah. Dia benar-benar penasaran ingin tahu di mana orang tua Langit berada mengingat lelaki itu sama sekali tidak membantu memuaskan rasa penasarannya. Kening Langit mengerut. “Apa kamu benar-benar harus tahu hal remeh seperti itu?” Seorang pria yang Senja kira merupakan pilot bergegas mendekat begitu melihat kedatangan mereka—atau kedatangan Langit lebih tepatnya. Senja sudah tahu jika keluarga Samudera memiliki pesawat jet pribadi, tapi inilah kali pertama Senja akan menikmatinya. Selama ini Senja melakukan penerbangan komersial dengan kelas business setiap kali harus melakukan penerbangan yang berhubungan dengan pekerjaan. “Sir, selamat datang, tim sudah melakukan konfigurasi GPS dan instrumentasi, memeriksa cuaca, menguji sistem keselamatan dan sistem darurat. Pesawat siap terbang kapanpun Anda mau, Sir.” Pilot berwajah ramah itu menjabat tangan Langit begitu selesai mengucapkan laporannya. “Terima kasih, Nik, kita berangkat 15 menit lagi?” Nik mengangguk. “Pramugari akan membantu membuat Anda merasa nyaman.” Senja tersenyum tipis saat pilot itu mengangguk padanya. Begitu berada di dalam Senja terkesima dengan kemewahan yang menyambutnya. Luas di dalam kabin akan membuat siapapun merasa dimanjakan. Ini kemewahan yang akan dimanfaatkan Senja dengan sebaik mungkin. Ha! Senja mengambil tempat duduk sejauh mungkin dari Langit karena tidak ingin berurusan dengan lelaki itu selama penerbangan, tapi rupanya Langit tidak membiarkan Senja menikmati waktu tenangnya. Baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi yang empuk Langit sudah mengeluarkan interupsinya. “Apa kamu bawa laptop?” Senja yang mulai waswas mendengar kata laptop menggeleng mendengar pertanyaan Langit. “Bapak sendiri yang mengatakan kalau perjalanan ini sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaan. Jadi saya….” “Kalau begitu gunakan ini.” Senja terpaku melihat benda pipih yang ada di tangan Langit. “Maksud Bapak kita bekerja sekarang? Di sini?” Langit mendongak, menatap Senja seolah dia tiba-tiba menjadi bodoh. “Memangnya apalagi yang bisa dilakukan di sini selain bekerja?” Banyak sih Pak, makan, tidur, mendengarkan musik, menonton, batin Senja dongkol. Dengan berat hati Senja melangkah dan duduk di depan Langit. Padahal Senja sudah membayangkan kalau dia akan duduk nyaman, menselonjorkan kaki sembari menonton film romantis. Nikmat mana lagi yang lebih baik dari itu? tapi rupanya atasannya sama menyebalkannya dengan penagih hutang. “Proposal tentang La Rose, ingat?” Tidak. “Ingat, Pak.” Langit mengangguk, tatapannya fokus pada layar komputer yang menunjukkan beberapa gambar menarik. “Sebagai seorang wanita apa bagian paling menarik yang membuatmu tertarik saat menatap etalase penjual parfum?” Senja mencoba memikirkan pertanyaan Langit. “Aroma.” Langit mendongak. “Aroma?” Senja mengangguk. “Aroma adalah hal pertama yang membuatku tertarik masuk ke dalam etalase parfum. Jika aromanya berhasil menarik minatku maka ada kemungkinan aku akan masuk ke dalam.” “Bagaimana dengan kemasan?” “Kemasan hal krusial yang tidak kalah penting, tapi aroma-lah yang membuat seseorang memutuskan untuk masuk atau tidak. Jika toko penjual parfum tidak memiliki aroma aku tidak yakin aku tertarik ingin masuk.” “Bagaimana jika kebetulan aroma yang kamu cium tidak membuatmu tertarik? Katakanlah aromanya berbau mawar sementara kamu membenci mawar apa yang akan kau putuskan? Menjauhi toko atau masuk lebih dahulu untuk melihat lebih jauh?” Senja bungkam. Langit bersandar di kursinya, tatapannya sepenuhnya mengarah pada Senja. “Selain kemasan dan juga aroma ada satu hal yang tidak kalah penting namun seringnya diabaikan padahal itu juga menentukan ketika seseorang melewati toko penjual parfum.” Kening Senja mengerut. Apa? “Passion.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD