Bos Diktator!

1151 Words
Bos tidak pernah salah, jika mereka melakukan kesalahan itu sih yang bermasalah bawahannya! *** Senja merinding sendiri jika ingat percakapannya dengan Langit. Sejak kapan pria itu tahu membuat percakapan menjadi canggung? Passion? Bagaimana bisa sebuah parfum berfungsi untuk meningkatkan gairah seseorang? Senja tidak akan pernah bisa memahaminya. Baginya parfum tidak lebih dari pewangi. Titik. Sayang sekali meski menginginkannya Senja tidak bisa menggunakan parfum karena hidungnya yang sensitif. Aneh memang, Senja bekerja pada seseorang yang berusaha menciptakan wewangian untuk memikat pembeli tapi Senja sendiri tidak bisa menggunakannya, aneh tapi seperti itulah kenyataannya. Senja bergelung dengan selimutnya, bersiap untuk tidur karena tidak tahu berapa lama perjalanan yang akan mereka lakukan. Langit masih sama misteriusnya dengan kotak Pandora terkait tempat tujuan mereka. “Senja.” Senja mengerang. Apalagi sekarang? Apa tidak cukup mereka bekerja padahal seharusnya Senja bisa menikmati penerbangan dengan damai dan nyaman? Senja melotot, menatap pintu kamar yang disediakan untuknya dengan tatapan menusuk. Mungkin sebaiknya dia pura-pura tidur? “Aku tahu kamu belum tidur.” Sial! Senja menyingkap selimutnya dan membuka pintu, sengaja memasang wajah menyebalkan untuk memberitahu Langit kalau dia kesal. “Ada apa sih, Pak? Masih mau bahas parfum lagi? Sejujurnya saya tidak keberatan, tapi saya butuh tidur kalau Bapak lupa saya—“ “Terlalu banyak pengulangan kata ‘saya ‘ dalam kalimatmu kau tahu itu?” Senja mengerjap, mulutnya terbuka lebar. Apa bos tiran ini datang hanya untuk mengecek penggunaan kata ganti dalam ucapannya? Senja memejamkan mata dalam usaha menekan emosinya yang membludak. “Ini.” Senja menatap tangan Langit yang terulur. Apaan tuh? Dia mendongak menatap Langit dengan tatapan penuh tanya. “Aku tahu semua pakaianmu kaku dan formal dan aku tidak menyukainya. Gaun ini akan membuatmu terlihat lebih cantik.” What. The. “Kenapa saya harus mengenakan itu, Pak? Saya punya pakaian saya sendiri.” Tersinggung sekaligus jengkel membuat nada bicara Senja naik beberapa oktaf dan ini tidak luput dari perhatian Langit. Laki-laki itu mengangkat alisnya yang sempurna. “Maksudmu setelan kerja kaku dan formal itu?” Sebenarnya Senja mengemas beberapa pakaian harian meski bukan gaun karena sejujurnya tipe pakaian itu membuatnya tidak nyaman, tapi Senja tahu tidak ada gunanya membantah karena Langit selalu tahu bagaimana membuatnya kalah. Meski berat hati dan dongkol Senja akhirnya menerima tas yang disodorkan Langit. “Sebenarnya ada berapa banyak gaun yang Bapak siapkan?” gerutu Senja saat menyadari beban yang di tampung tangannya yang mungil. “Cukup untuk kamu kenakan selama seminggu.” Ini sih bukan seminggu, tapi sebulan! “Satu lagi…” Apalagi sekarang? Memiliki tinggi 188cm membuat Senja yang tingginya hanya 160cm terpaksa harus mendongak setiap kali berbicara dengan Langit. Heels membantunya saat dia bekerja. Namun, dengan kaki telanjang saat ini…tinggi Senja tidak lebih dari sebahu lelaki itu. “Jangan panggil saya Bapak…” Senja mengerut mendengar perintah itu. “Kenapa?” tanyanya bingung. “Karena peranmu di sana bukan sebagai PA-ku Senja, tapi sebagai kekasih. Selain itu keluargaku tidak tahu kalau kamu bekerja untukku, jadi aku lebih suka rahasia itu tetap terjaga,” terang Langit datar. “Lalu, jika mereka bertanya tentang pekerjaanku atau aku bekerja di mana apa yang harus kujawab?” “Katakan apa saja selama itu berarti kita tidak bekerja di tempat yang sama.” “Memangnya kenapa jika kita bekerja di tempat yang sama?” tanya Senja penasaran. Langit menatapnya dingin. “Memangnya sejak kapan hubungan kantor dan pribadi bisa disatukan di tempat yang sama?” Deg Senja merasa seseorang baru saja menyiram wajahnya dengan air dingin. Ucapan Langit tak pelak mengingatkan Senja pada perjanjian mengikat yang melarang karyawan memiliki hubungan asmara di perusahaan yang sama. Senja melupakannya karena dia bahkan hampir tidak memedulikan isi perjanjian itu—atau lebih tepat menganggapnya tidak penting. Sekarang dikatakan dengan begitu dingin—nyaris tanpa perasaan, Senja mulai mempertanyakan apa mungkin ide itu dimulai dari Langit sendiri mengingat selama ini Senja belum pernah melihatnya memiliki kekasih? “Baiklah aku akan memikirkannya. Ada lagi yang harus kuingat, Pak?” Senja sengaja menekan kata ‘Pak’ agar Langit tahu kalau dia mulai jengkel sekarang. “Tidak ada.” Saat Langit berbalik giliran Senja yang menghentikan pria itu. “Pak!” seru Senja. Langit berhenti dan berbalik. “Ada apa?” “Aku tidak tahu apa Bapak tahu ini atau pura-pura tidak tahu, tapi sebagai kekasih tentunya kita harus terlihat meyakinkan. Apa Bapak tahu bagaimana memperlakukan seorang kekasih? mengingat Bapak sepertinya….” Tidak pernah memiliki kekasih, tambah Senja dalam hati. Senyum yang tidak menyentuh matanya terbit di wajah Langit. “Tenang saja, aku tahu apa yang harus kulakukan. Yang harus kau perhatikan adalah sikapmu dan jangan lupa kalau ini hanya pura-pura mengingat kaum kalian sepertinya sangat mudah terbawa perasaan.” Setelah berkata seperti itu Langit pun berbalik. Senja mendecih. “Memangnya dia pikir apa yang akan terjadi? Dasar bos diktator!” *** “Kita harus naik itu, Pak?” tanya Senja tidak yakin saat menatap jeep yang menunggu untuk membawa mereka ke tempat tujuan. Senja tidak akan pernah bisa membayangkan kalau seorang Langit Samudera akan naik mobil jeep. Mobil sport dan mobil mewah lainnya lebih cocok untuk gaya hidupnya yang mewah. Langit memasang kacamata hitamnya meski sekarang malam hari. “Perjalanan ke sana cukup rumit,” balasnya singkat seolah itu menjawab pertanyaan Senja. “Lalu kenapa ada 2 jeep?” Tidak mungkin Langit memintanya menyetir mobil sendiri kan? Karena Senja lebih suka tersesat dari pada disuruh mengemudikan mobil pria itu. “Karena aku akan menyetir.” Apa pria itu akan menyetir sendiri dan membiarkannya satu mobil dengan orang yang sama sekali asing baginya? Senja rasa-rasanya ingin mengutuk dan memaki karena Langit bertindak sesuka hatinya. “Terserah, Bapak.” Hanya itu yang Senja ucapkan pada akhirnya. Seorang pria yang ditugaskan untuk menjemput mereka mengambil alih koper miliknya. Pria itu memasukkan koper miliknya ke dalam mobil jeep yang satunya. Saat melihat Langit berjalan masuk ke mobil Senja pun meniru gerakannya. Dia bermaksud mengikuti lelaki yang membawa kopernya, namun cekalan di tangannya membuatnya berhenti. “Kamu pikir kamu mau ke mana?” tukas Langit. Kening Senja mengerut. “Masuk ke mobil?” “Bukan yang itu, tapi yang itu.” Langit menunjuk mobil jeep warna abu-abu yang hendak dikendarai pria itu. “Tapi Bapak bilang…” "Aku bilang apa? Aku bilang ingin menyetir kan?" "Berarti Bapak ingin sendirian bukan begitu?" "Itu kesimpulan yang terlalu dramatis." Langit menggeleng-gelengkan kepalanya seolah Senja tiba-tiba menjadi bodoh. “Kamu ikut denganku, Senja.” Kenapa tidak bilang dari tadi! Senja mengumpat tanpa suara saat Langit berjalan menjauhinya. Meski dongkol Senja memutuskan untuk mengikuti perintah Langit meski setengah hati. “Apa sekarang Bapak mau mengatakan kita ada di mana?” Sejauh mata memandang Senja melihat hamparan hijau perbukitan dan juga rumah-rumah kayu yang bergaya. Ini pedesaan yang ada di pulau Sumatera, tepatnya di mana...Senja sendiri tidak tahu. “Ini desa Napa.” Nama yang unik. “Dan?” tanyanya, tidak puas dengan penjelasan Langit. Langit mulai menyalakan mesin mobil. “Dan apa? memangnya ada lagi?” Ya Tuhan!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD