Ada satu kebiasaan yang tidak akan bisa berubah yaitu menyumpahi atasan sendiri!
***
Senja tidak tahu apa ini layak disebut sebagai liburan, tapi mengingat mereka di sini bukan untuk membahas pekerjaan jadi Senja memutuskan kalau ini layak disebut liburan. Sepanjang perjalanan Senja disuguhi pemandangan berupa jalanan yang ditumbuhi padang ilalang di sisi kiri kanan jalan. Udara sejuk dan bersih yang masuk lewat jendela mobil yang terbuka memberikan Senja kesempatan menikmati momen yang jarang dia rasakan.
“Senja…”
Senja mengumpat sebelum akhirnya menoleh. Langit tidak menatapnya. Pandangannya fokus pada jalanan.
“Ada apa Pak?”
Langit menatapnya dengan kening mengerut membuat Senja kebingungan. Apa yang salah?
“Kamu memanggilku dengan sebutan itu lagi.”
Oh!
Senja cengengesan. “Namanya kebiasaan, Pak.”
“Tapi aku tidak membutuhkan itu untuk sandiwara ini. Sekali kamu melakukan kesalahan semua imbalan yang kutawarkan akan batal.”
Woa!
Senja melotot. “Yah gak bisa gitu dong, Pak!” protesnya.
“Tentu saja bisa. Kesalahan adalah peluang untuk menemukan celah kalau ada sesuatu yang bermasalah dan aku tidak suka itu. Kecurigaan keluargaku adalah hal terakhir yang ingin kulihat selama kita ada di sana.”
“Bagaimana kalau Bapak yang melakukan kesalahan?” tantang Senja sembari melipat lengannya. “Secara Bapak tidak pernah memiliki kekasih. Saya tidak yakin Bapak cukup mampu berperan sebagai kekasih yang sempurna. Dilihat dari kacamata manapun peluang Bapak melakukan kesalahan lebih besar dari pada saya.”
Seringai Langit muncul. “Apa kamu baru saja meremehkanku?”
“Tentu saja memangnya—“ Senja memekik saat Langit tiba-tiba memberi kode untuk menepi.
“Apa yang Bapak la—“ Senja belum juga menyelesaikan kalimatnya saat Langit tiba-tiba mendekat hingga wajah mereka nyaris bersentuhan. Senja mengerjap menatap Langit dengan wajah syok.
“Aku bisa sangat meyakinkan kalau aku mau Senja,” ucap Langit tanpa memutus jarak di antara mereka. Senyum seribu watt yang tidak pernah Senja lihat kini terukir di wajahnya yang kelam dan rupawan.
“Dan mengenai kekasih…” Langit sengaja mengucapkannya dengan lambat. “Siapa bilang kalau aku tidak pernah punya kekasih?”
Senja berusaha mengumpulkan pengendalian dirinya yang berantakan akibat tindakan mendadak yang dilakukan Langit. Tangannya yang gemetar menyentuh d**a Langit dan mendorongnya menjauh.
“Tolong, Bapak menginvasi ruang pribadi saya,” tukasnya jengkel. “Dan mengenai kekasih semua orang yang ada di perusahaan tahu kalau Bapak tidak pernah membawa wanita dalam acara apa pun entah ulang tahun perusahaan atau bahkan undangan kolega bisnis. Apa saya benar?” balasnya telak.
Langit menyalakan kembali mesin mobilnya. Jeep yang mengiringi mereka sudah jauh di depan.
“Hanya karena saya tidak pernah membawanya bukan berarti saya tidak memilikinya.”
“Ayolah, pria seperti kalian biasanya selalu suka memamerkan wanita kalian untuk menunjukkan kepemilikan, tipikal alpha man.”
Langit mendengus. “Aku tidak tahu manfaat dari melakukan hal itu.”
“Mungkin kalian para pria hanya senang melakukannya.”
“Maksudmu kami melakukan itu untuk bersenang-senang?”
Senja mengangkat telunjuknya. “Tepat sekali.”
“Dan kalian para wanita senang saat kami melakukannya bukan?”
“Tentu saja tidak,” bantah Senja.
Langit tertawa. “Ayolah, berdasarkan pengalaman, kalian kaum wanita memang suka jika dipamerkan. Itu memberi kalian sensasi semacam kemenangan pribadi. Apa aku benar?” balas Langit tidak mau kalah.
Ini kenapa pembicaraan mereka jadi ke mana-mana, pikir Senja bingung. Dan lagi mana mungkin Senja tahu. Terakhir kali dia punya kekasih adalah saat menjadi mahasiswa. Sejak bekerja pada Langit jangankan kekasih kehidupan sosialnya pun ikut kacau balau. Dipikir-pikir lagi sejak bekerja pada Langit Senja sudah tidak pernah memiliki yang namanya kehidupan normal lagi.
Ini harus berubah, pikir Senja penuh tekad.
“Mungkin kami hanya senang karena itu berarti kesempatan kalian melirik wanita lain semakin menipis.”
Langit tertawa, mengejutkan Senja.
“Kedengaran seperti klaim kepemilikan bagiku.”
Wajah Senja memerah. “Itu berbeda.”
Langit mengedikkan bahunya, seolah menyerah tapi ekspresi wajahnya menunjukkan kalau pria itu telah memenangkan perdebatan.
Sial!
Senja mendumel tanpa suara. Dia akhirnya memutuskan untuk tidur atau pura-pura tidur selama perjalanan sebelum Langit kembali membuka pembicaraan yang hanya akan berakhir dengan perdebatan lainnya.
“Senja….”
Senja mengabaikannya.
“Aku tahu kamu belum tidur.”
Bodo amat!
“Kita sudah sampai...,”
Apa?
Mata Senja terbuka sempurna. Dia menyapu pandangan dan kembali melihat pemandangan berupa padang ilalang yang sudah memerah. Sejauh yang bisa dilihat Senja tidak menemukan rumah. Jadi di mana?
“Kira-kira sejam lagi,” sambung Langit.
What. The.
Senja yang sudah kesal benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. dia memukul lengan Langit sekeras mungkin sampai pria itu mengaduh.
“Auuch, Senja kamu bisa membuat kita berdua kecelakaan.”
“Biarin!” salak Senja yang sudah benar-benar emosi. Dia memiringkan badan memunggungi Langit. Kekesalannya benar-benar sudah memuncak. Laki-laki itu benar-benar tahu bagaimana membuatnya emosi. Bahkan sekarang ketika emreka sedang tidak membahas pekerjaan Senja tetap saja jengkel padanya.
Dasar Langit Samudera gendeng!
“Ini.”
Senja mengabaikannya. Dia semakin merapatkan matanya.
“Kamu membutuhkan ini Senja. Ayolah.”
Senja tetap mengabaikannya meski pria itu terus memanggil namanya sampai berkali-kali. Lelah secara fisik dan emosi membuat Senja akhirnya benar-benar jatuh tertidur. Sebelum kesadarannya benar-benar menghilang Senja masih bisa mendengar kaca mobil di sampingnya menutup.
***
“Senja…”
Senja mengerang, memutuskan untuk mengabaikannya.
“Senja kita sudah sampai.”
Senja merapatkan kain yang membalut bahunya. Dia masih ingin tidur.
“Senja…kalau dalam 3 detik kamu tidak bangun kita benar-benar akan menjadi tontonan keluargaku.”
Apa?
Senja membuka matanya dan langsung bertatapan dengan Langit yang tersenyum lembut padanya. Tunggu! Tersenyum? Sejak kapan Langit memiliki senyum maut seperti itu? Senja belum pernah melihat senyum itu.
Senja belum lagi berhasil mengatasi kebingungannya saat Langit tiba-tiba mendekat dan mencium puncak kepalanya.
WHAT‼