Dia...lembut? No way!

1206 Words
Mungkin ada sisi lain dari bosmu yang belum pernah dilihat siapapun. *** Senja belum pernah melihat rumah sebesar dan seindah seperti yang dia lihat sekarang. Ketika Senja pikir dia akan dihadapkan pada rumah besar bergaya victoria atau bahkan eropa modern, Senja justru dikejutkan dengan rumah kayu yang tampak menawan dan juga nyaman. Perpaduan cokelat dan hitam membuat tampilan rumah keluarga Langit tampak futuristik dan juga unik. Penggunaan kaca di sebagian besar dinding rumahnya menambah kesan maskulin yang membuat rumah itu terlihat semakin indah. Sejauh mata memandang Senja tidak menemukan apa pun kecuali pepohonan hijau dan bunga-bunga yang bermekaran dengan indahnya. Itu wajar, pikir Senja kemudian mengingat keluarga Langit membangun private house. Tentunya mereka menginginkan kedamaian dan juga kenyamanan. Tidak seorang pun yang mau meninggalkan tempat seindah ini, pikir Senja iri. “Dingin?” Senja merapatkan jaketnya. “Tidak, hanya menikmati udara,” jawabnya singkat. Dia masih kesal karena tindakan mengejutkan Langit. Pria itu menciumnya tanpa izin! “Berapa orang yang tinggal di sini?” tanya Senja. “Kamu harus bertanya langsung pada keluargaku. Aku tidak tahu.” Senja menoleh. “Bagaimana mungkin Bapak tidak tahu berapa banyak penghuni di rumah ini yang notabenenya adalah keluarga Bapak sendiri?” “Apa kamu baru saja mengecamku?” Senja buru-buru mengatupkan bibirnya. Langit mendesah. “Aku tidak mengurusi hal-hal seperti itu. Aku punya pekerjaan dan prioritas dan jangan memanggilku Bapak selama di sini kecuali kamu mau membuat keluargaku curiga yang hanya akan berakhir—“ “Stop!” potong Senja jengkel. “Baik saya tidak akan memanggil Bap—maksudku, saya tidak akan memanggil Anda Bapak jadi berhenti mengatakan ancaman menyebalkan itu.” “Dan jangan pakai kata 'Saya Anda', tidak ada kekasih yang menggunakan kata ganti itu,” tukas Langit datar. “Ada lagi yang harus dikatakan, Sayang?” Senja tersenyum sangat manis saat mengucapkannya dan tentu saja Langit tahu kalau dia sedang mengejek pria itu. “Lebih baik kita masuk sekarang,” putus Langit. Bibir Senja mencebik, tapi lagi-lagi dia menurut. “Dan jangan salah paham, keluargaku melihat kedatangan kita jadi ciuman itu hanya untuk meyakinkan mereka.” “Jangan cemas,” ucap Senja panas, “Saya bukan orang yang mudah terbawa perasaan jika itu yang Bap-kamu takutkan.” Langit membuka mulut, tapi di dahului oleh sebuah suara. “Langit cucuku.” Mereka berdua menoleh bersamaan. Tampak berdiri di ujung pintu seorang wanita yang sedang duduk di kursi roda, tersenyum pada Langit. Wajahnya yang keriput sama sekali tidak bisa menyembunyikan sisa-sisa kecantikan yang masih bertahan di wajahnya. Langit berjalan mendekat dan memeluknya erat. “Oma,” sapa Langit lembut, lagi-lagi mengejutkan Senja. Dia tidak tahu kalau Langit bisa bersikap lembut. “Lama sekali kalian baru sampai.” “Langit harus menyelesaikan beberapa pekerjaan, Oma, itu sebabnya Langit sedikit terlambat.” Wanita tua itu memukul lengan Langit meski tidak keras Langit tetap mengeluarkan lenguhan yang justru mengundang tawa omanya. “Lalu siapa wanita cantik itu?” Seharusnya Senja tidak perlu merasa malu mengingat kata ‘cantik’ adalah hal lumrah yang dikatakan untuk menunjukkan kesopanan dan juga keramahan. Meski begitu tetap saja wajahnya menghangat. Senja mendekat dan mengenalkan dirinya. “Senja Gentari?” Senja mengangguk membenarkan ucapan oma Langit. “Nama yang indah. Gentari bermakna ‘menyinari’ bukan?” Senja terpaku sesaat. Tidak banyak yang tahu arti namanya atau lebih tepatnya tidak ada yang terlalu peduli. Jadi cukup mengejutkan jika ada yang tahu arti namanya bahkan tanpa bertanya padanya. “Benar Oma, Gentari berarti menyinari.” Wanita itu tersenyum, menunjukkan barisan giginya yang sudah banyak menghilang. “Mama dan Papa, di mana, Oma?” Langit menarik lehernya agar bisa melihat lebih jauh. “Mereka ada di dalam.” “Perawat Oma ke mana?” Ketidaksetujuan terlihat jelas di wajah Langit. “Kenapa mereka membiarkan Oma sendirian di luar?” “Hentikan itu, Langit. Sikapmu bisa membuat semua orang yang bekerja di sini lari tunggang langgang.” Suara asing itu berhasil menarik perhatian Senja. Dia memandang melewati kepala oma Langit dan melihat 2 orang pria berjalan mendekat. Kemiripan wajah keduanya dengan Langit membuat Senja menyadari kalau dia sedang berhadapan dengan keluarga Samudera yang lain. Senja sudah pernah melihat wajah mereka di berbagai tabloid meski begitu inilah pertama kalinya mereka bertemu. “Apa kamu kekasih Langit?” Senja mengerjap, terkejut dengan pertanyaan spontan tersebut. Pria yang bertanya padanya memiliki wajah ceria dengan mata yang bersinar jail. Alarm peringatan seketika menyala di kepala Senja. “Laut, jangan membuatnya ketakutan,” tukas Langit memutar bola matanya. “Sorry, hanya ingin memastikan karena wanita ini terlihat lumayan.” Lumayan? Sebelah alis Senja terangkat. Firasatnya benar. Senja harus menjauhi pria ini. “Abaikan dia, hanya karena dia bisa mendapatkan wanita manapun yang dia inginkan dia pikir semua wanita sama.” Pria yang satunya bersuara. Wajah mereka sama tampannya, tapi yang ini terlihat lebih bersahabat dan juga ramah, sangat berbanding terbalik dengan Langit yang tegas dan datar. “Namaku Awan.” Senja buru-buru mengulurkan tangan. “Senja,” ucapnya sopan. “Kekasih Langit?” Sama sekali tidak ada basa-basi. Mungkin itu memang keturunan. “Bisa dikatakan seperti itu.” Senja tersenyum. Laut mendekat. Tangannya mendarat di bahu Awan. “Sudah berapa lama kalian menjadi kekasih?” “Kurasa itu bukan urusanmu, Laut.” Langit menarik tangan Senja dan membawanya masuk. “Jangan biarkan Oma terlalu lama menikmati udara malam,”seru Langit mengingatkan sebelum mereka benar-benar menghilang dibalik pintu. Senja mengamati keadaan sekitar, memastikan tidak seorang pun yang akan mendengarkan pembicaraan mereka. “Apa keluarga kalian sedang merayakan sesuatu?” tanya Senja. Langit menoleh sebentar. “Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?” “Karena sepertinya semua orang datang?” “Dan itu membuatmu cemas?” Senja menarik lepas tangannya dari Langit. “Tentu saja!” “Hati-hati,” geram Langit. “Suaramu bisa saja didengar seseorang.” “Apa itu penting sekarang?” balas Senja emosi. “Bap—maksudku kamu tidak pernah mengatakan tentang apa semua ini sebenarnya, Langit. Bagaimana jika saudaramu pernah melihatku bersamamu saat di kantor? Apa menurutmu mereka tidak akan curiga? Kalau saja aku tahu ini tentang reuni keluarga bukannya kunjungan rutin—“ “Apa? kamu akan menolaknya?” Langit bersedekap, menatap Senja remeh. “Memangnya apa bedanya acara ini tentang reuni keluarga atau bukan? Tugasmu hanya berperan menjadi kekasihku selama beberapa hari. Dan mengenai Laut dan Awan, jangan cemaskan mereka, seperti yang pasti kamu tahu mengingat job deskmu mereka sama sekali tidak pernah datang ke kantorku jadi tidak ada alasan bagi mereka untuk mengenalimu. Apa itu menjawab pertanyaanmu?” “Mereka mungkin pernah melihatku bersamamu di suatu tempat,” balas Senja sengit. “Dan mereka tidak mengingatmu? Bukan bermaksud memuji tapi saudara-saudaraku memiliki ingatan yang kuat. Jika mereka pernah melihatmu mereka sudah pasti mengingatnya.” “Tetap saja—“ “Langit?” Senja mengerang dalam hati. Saat dia berbalik Senja berhadapan dengan orang tua Langit. “Ma, Pa.” Langit mendekat dan memeluk kedua orang tuanya. “Ini sudah sangat larut, kenapa kalian baru datang sekarang?” “Sayang, jangan mengusik putra kita. Mereka baru saja sampai, biarkan mereka istirahat. Lagipula acaranya masih beberapa hari lagi kan? Kita masih punya waktu untuk bicara dengan mereka.” Acara? Senja mulai menyadari ada yang salah. Langit tidak mengatakan apa pun tentang acara yang diadakan keluarganya. Apa sebenarnya yang sedang terjadi?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD