Tidak ada rencana yang matang dan berhasil saat melibatkan atasan sebagai targetnya!
***
“Oh tidak, tidak, tidak, minuman ini terlalu berat untuk di konsumsi di pagi hari.” Senja dengan cekatan mengambil gelas kopi yang sudah setengah jalan menuju mulut Langit. Kini gelasnya melayang dan mendarat di tangan Senja.
Satu alis Langit terangkat angkuh, mempertanyakan maksud Senja, tapi Senja mengabaikannya. Dia sengaja melakukannya. Senja tahu Langit pecinta berat minuman yang mengandung kafein, tapi kali ini dia tidak akan membiarkan pria itu mendapatkan apa yang dia inginkan.
Kapan lagi bisa balas dendam? Ini saat yang sempurna, pekik Senja dalam hati.
“Ini minuman yang pas untuk cuaca seperti ini.” Senja meletakkan teh dengan parutan lemon di depan Langit. Dia tahu di bawah pandangan semua keluarganya Langit tidak mungkin menolak tawarannya.
“Minumlah, aku sengaja membuatnya khusus untukmu, Sayang.” Senja tersenyum sangat manis saat duduk di samping Langit.
Langit mendekat hingga bahu mereka nyaris bersentuhan. “Apa yang sedang kamu rencanakan, Senja? Sejak kapan aku minum teh menjijikkan ini?” bisik Langit di antara bibirnya yang terkatup rapat.
Senja tersenyum dan mengangguk pada semua anggota keluarga Langit sebelum menjawab pertanyaan pria itu. “Sejak hari ini, sebagai kekasih yang baik aku harus melakukan yang terbaik untuk kekasihku bukan?”
Kedua alis Langit terangkat.
“Dan jangan takut, aku sudah memberitahu semua keluargamu kalau kamu saangat menyukai teh dengan parutan lemon.” Senja mengangkat tehnya, menunjukkannya pada Langit seakan sedang mengajaknya bersulang.
“Jangan memainkan permainan berbahaya Senja, kamu tahu kamu tidak akan bisa menang melawanku.”
Mengabaikan alarm peringatan yang berdengung di kepalanya, Senja menarik sudut mulutnya ke atas. “Tidak ada permainan kecuali sandiwara dengan keluargamu. Tenang saja…” Senja sengaja memperlambat ucapannya. “Aku hanya mencoba memainkan peran sebagai kekasihmu dengan—“
“Kalian!”
Senja dan Langit menoleh bersamaan. Laut yang duduk di depan mereka menunjukkan wajah ingin muntahnya.
“Cari kamar sana! kalian membuat pertunjukkan di depan semua orang. Apa kalian tidak kasihan dengan Awan? Dia belum pernah punya pacar dan—“
“Satu kata lagi dari mulutmu Laut, aku akan memastikan Cintya tahu kalau kamu mengincar sahabatnya. Dia pasti tertarik mengetahui informasi ini,” balas Awan santai.
Langit mengangkat gelasnya.
Awan ikut mengangkat gelasnya. “’Sama-sama. Aku suka membuatnya bungkam.”
Senja bengong, menatap ketiganya bergantian. Wajah mereka mungkin mirip, tapi cara berpakaian dan juga potongan rambut jelas berbeda. Langit memiliki potongan rambut tipe slicked back yang sesuai dengan mata elangnya yang tajam. Cara berpakaian Langit hampir selalu dengan setelan formal. Senja belum pernah melihatnya mengenakan celana pendek atau kemeja lengan pendek sekalipun. Kesan kaku dan formal melekat abadi dalam diri Langit.
Awan di sisi lain memiliki potongan rambut under cut yang membuat wajahnya terlihat lebih bersahabat dan ramah. Sementara Laut memiliki tipe rambut textured crop yang dipadu dengan pakaiannya yang trendi sehingga membuat penampilannya mirip idol. Kesan nakal dan cassanova terlihat dari matanya yang liar.
Senja tersenyum menyadari betapa mirip dan berbedanya mereka bertiga.
“Aku tahu aku tampan, tapi Sayang, kamu bukan tipeku, kecuali jika Langit mencampakkanmu tentu saja,” ujar Laut dengan nada menggoda.
Mata Senja membulat. “Terima kasih, tapi Langit lebih dari cukup untukku.” Senja mengalungkan tangannya di lengan Langit, membuat semua pasang mata tertuju pada mereka.
Langit berusaha melepaskan diri, tapi Senja semakin mengeratkan cengkeramannya.
“Oma senang melihatmu banyak berubah, Langit.”
Eh?
Kedua alis Senja terangkat. Langit banyak berubah? Memangnya dulu pria itu seperti apa? lebih menyebalkan dari yang sekarang? Tidak heran dia tidak pernah punya kekasih, batin Senja kasihan.
“Memang dulu Langit seperti apa, Oma?” tanya Senja saat para pelayan mulai sibuk memenuhi meja makan dengan berbagai jenis makanan.
Wanita tua itu tersenyum. “Kamu pasti tahu kalau dia sangat mengintimidasi kan?”
Itu sih tidak perlu dipertanyakan lagi, pikir Senja. Senja ingat pertama kali bekerja pada Langit, Senja ingin mengundurkan diri. Saat itu dia masih karyawan kontrak, tentu saja ada klausal perjanjian tertulis tentang ganti rugi jika ada pihak yang memutuskan kontrak sebelum tenggat waktu perjanjian yang dibuat berakhir.
Mengingat besarnya denda yang harus dia bayar jika mengundurkan diri sebelum waktunya Senja akhirnya memutuskan untuk menahan diri dan berusaha bertahan menghadapi sikap Langit yang luar biasa menyebalkan.
“Mungkin, Oma,” balas Senja ambigu.
“Apa kamu tidak takut padanya?” goda Laut.
“Kenapa aku harus takut? Dia tidak semenakutkan itu kok,” ucapnya tenang.
Jawaban yang mengundang gelak tawa semua orang. Senja bengong. Apa yang salah dengan kata-katanya? Saat dia berpaling menatap Langit, pria itu hanya mengangkat bahunya acuh.
Sial!
“Dia tidak menakutkan?” kekeh Laut. “Dia pernah membuat heboh satu sekolah karena menantang kepala sekolahnya sendiri.”
Gelas di tangan Senja tiba-tiba terasa sangat berat.
“Itu belum seberapa, saat kuliah dia pernah membuat seorang professor minta maaf padanya karena Langit berhasil membuatnya bertekuk lutut.”
“Bertekuk lutut? Maksudnya professor itu jatuh cinta pada Langit?”
Lagi, meja makan dipenuhi dengan gelak tawa. Senja yang kebingungan menatap langit dengan wajah menuntut.
“Bukan seperti itu,” kekeh Awan. “Profesor itu berusaha menggoda mahasiswinya, saat wanita itu menolak dia memutarbalik keadaan agar wanita itu dikeluarkan. Sayangnya, Langit turun tangan yang berakhir dengan pemecatan tidak terhormat professor sialan itu.”
“Awan!” tegur ayah mereka. Wajahnya yang tegas jelas diwariskan pada Langit.
“Maaf, Pap, terbawa emosi.”
Jika diceritakan oleh orang lain Senja sudah pasti tidak memercayainya. Langit yang Senja kenal adalah sosok pria berhati dingin dan tidak suka ikut campur urusan orang lain, tapi karena keluarga pria itu sendiri yang bercerita Senja tahu kalau yang mereka katakan adalah cerita yang sebenarnya.
Masalahnya hanya satu. Sulit sekali membayangkan Langit peduli pada orang lain mengingat bagaimana perlakuan Langit padanya.
“Seperti yang kukatakan, Langit bisa sangat menakutkan,” tambah Awan.
Senja cengengesan karena tidak tahu harus berkomentar apa. Lewat ekor matanya dia bisa melihat Langit tengah menyeruput tehnya seolah pembicaraan yang sedang berlangsung sama sekali tidak melibatkan dirinya.
Yah, memangnya apa yang dia harapakan?
Senja meminum tehnya.
“Kapan rencana kalian menikah?”
Senja menyemburkan isi tehnya.
“Ini.”
Senja menerima sapu tangan yang disodorkan Langit.
“Maaf, apa pertanyaanku terlalu buru-buru?” Mama Langit terlihat merasa bersalah.
“Bukan seperti itu, Tante, hanya saja kami memang belum membicarakannya.”
“Kenapa belum?” tanya Oma penasaran.
“Karena rencana untuk menikah sama sekali belum terpikirkan,” tukas Langit santai.
“Memangnya apa lagi yang kalian tunggu? Langit, sebentar lagi kamu 30, cukup matang untuk memulai kehidupan baru, betul Senja?”
“Betul Oma,” seru Senja lantang, bukan hanya mengejutkan Langit, tapi semua orang.
Langit mendekat dan berbisik. “Kalau permainan ini semakin berbahaya jangan salahkan aku melibatkanmu sampai akhir.”
Senja ikut mendekat. “Memangnya apa yang bisa terjadi? Setiap pasangan pasti merencanakan pernikahan, tidak ada yang salah dengan hal itu atau Bapak benar-benar setakut itu?” ejeknya.
Langit menyipitkan matanya yang kelam. “Apa kamu pernah melihatku takut?” tanyanya balik. Melihat Senja bungkam Langit tersenyum puas. “Permainan ini bisa berbalik padamu. Pikirkan sebelum kamu berencana melibatkanku di dalamnya.”
“Jangan takut, aku tidak akan—“
“Yah, mereka mulai lagi,” keluh Laut.
“Mereka menempel seperti perangko, mungkin kita harus memeprcepat pesta pertunangan itu?”
Senja cegukan mendengarnya. Pertunangan? Siapa yang akan tunangan? Tidak mungkin kalau yang tunangan itu….Senja menatap Langit ngeri. Tidak mungkin kalau yang dimaksud orang tua Langit mereka berdua kan?
Saat melihat seringai Langit entah bagaimana Senja merasa permainan yang dia maksudkan untuk membalas Langit kini justru berbalik menyerangnya.