Si Angkuh!

1188 Words
Label ‘atasan’ membuat kata-kata yang keluar dari mulut mereka sama pedasnya dengan sambal bakso level tertinggi. *** “Bagaimana? Apa sweater rajut ini terlihat cantik?” Oma menunjukkan sweater rajut berwarna cokelat pada Senja. Kebanggaan memancar dari matanya yang bersinar. Senja mengangguk, tersenyum lebar. “Sangat cantik, Oma.” Senyum Oma semakin lebar. “Anak itu selalu tahu bagaimana membuat orang tua ini bahagia. Dia selalu menyiapkan hadiah dan lihat ini…” Oma menunjukkan sweater dengan warna sama yang ada di pangkuannya. “Langit selalu membeli sweater pasangan. Dia bilang agar Oma tidak merasa kehilangan.” Senja mengulum senyum. Jadi ini alasan kenapa Langit meminta sarannya waktu itu. Senja menatap sweater rajut pilihan Langit. Pria itu jelas tahu bagaimana memilih hadiah yang cocok untuk orang tua. Pandangannya jatuh pada buket bunga lili yang ada di samping Oma. Apa Langit yang menyiapkan itu juga? Seolah menjawab pertanyaan tak terucapnya Oma mengangkat buket bunga lili putih dan menunjukkannya padanya. “Langit tahu Oma menyukai lili putih. Dia selalu menyempatkan memberikan ini pada Oma kapanpun dia datang.” Waw. Ternyata atasannya itu tahu bagaimana bersikap penuh kasih. Kepala Senja bergerak ke satu sisi. Kenapa pria itu tidak bisa bersikap sama pada orang lain? Apa di kepalanya akan tumbuh tanduk jika dia bersikap baik pada orang lain? “Tidak! Aku tidak mau!” “Yang kalah adalah pecundangnya, Laut. Jangan bersikap cengeng seperti wanita.” Senja menoleh dan melihat 3 bersaudara Samudera sibuk berlarian di halaman berumput yang luasnya bisa digunakan untuk bermain sepak bola. Suara tawa dari sampingnya membuat Senja menoleh. “Seperti biasa, pemenangnya adalah yang paling curang dan licik.” Kedua alis Senja terangkat. “Curang, Oma?” Oma tertawa melihat ekspresi bingung Senja. “Mereka bertiga suka bermain dan selalu berusaha saling mengalahkan. Apa kamu tahu kenapa perusahaan mereka berkembang pesat?” Tentunya karena mereka ahli dan cakap di bidangnya, pikirnya, tapi Senja ragu itu jawaban yang ingin di dengar oleh Oma. “Karena mereka selalu bersaing untuk menjadi yang terbaik. Tahun ini, siapapun yang bisa membuktikan perusahaannya unggul di antara yang lain maka pemenangnya berhak mendapat saham dari pihak yang kalah. Selain itu…” Mata Oma terlihat berkilat membuat rasa penasaran Senja semakin memuncak. Oma mendekat dan berbisik di telinga Senja. “Tahun ini Oma juga ikut dalam permainan mereka.” Senja melongo. “Oma akan memberikan saham milik Oma pada siapapun yang keluar sebagai pemenang. Meski sejujurnya Oma sudah bisa memprediksi pemenangnya,” kekeh Oma lagi. Senja menatap ketiga bersaudara Samudera dari kejauhan. Mengenakan pakaian berupa celana jeans dan kemeja membuat penampilan mereka terlihat jauh lebih santai. Orang-orang yang belum mengenal mereka pasti tidak akan menyadari kalau ketiganya merupakan pimpinan di sebuah perusahaan. Senja mengamati Langit. Wajah yang biasanya selalu terlihat serius dan kaku itu kini terlihat santai dan tenang. Sama sekali tidak terlihat kalau dia ternyata atasan yang mengintimidasi dan suka memberikan perintah tanpa kenal waktu. “’Langit belum pernah dekat dengan wanita manapun sejak dia memutuskan pertunangannya dengan wanita itu.” What! Langit pernah tunangan? Kenapa Senja tidak pernah tahu hal itu? padahal ada banyak gosip yang dia dengar di kantor, tapi sekalipun tidak pernah ada menyinggung tentang hal itu. Tanpa sadar Senja kembali memandang Langit yang sekarang sedang tertawa mendengar lelucon apa pun yang sedang di mainkan adik-adiknya. Jadi pria itu bukannya tidak pernah punya kekasih, tapi dia memutuskannya. Kenapa? “Menilik dari ekspresimu sepertinya Langit belum menceritakan hal itu.” Senja tersenyum canggung. “Senja tidak pernah bertanya, Oma.” Oma mengangguk. Kedua tangannya sibuk melipat sweater couple pemberian Langit. “Dia pernah tunangan, tapi akhirnya memutuskannya. Sejak saat itu Langit sama sekali belum pernah menggandeng wanita manapun sampai hari ini.” Senja merasa kalau pembicaraan mereka semakin mengarah ke ranah pribadi. Saat dia mendongak pandangannya bertabrakan dengan Langit yang kebetulan melihat ke arahnya. Mata pria itu menyipit seolah bisa merasakan ada yang salah. Buru-buru Senja memalingkan pandangan. Senja hanya perlu melakukan tugasnya dengan baik. Setelah itu…Senja menahan senyumnya saat khayalan tentang jalan-jalan yang dia rencanakan akhirnya terealisasikan. Tinggal beberapa hari lagi, batinnya menguatkan. *** “Sebenarnya kenapa Bapak perlu membawaku ke sini? Keluarga Bapak tidak satu pun yang kelihatannya mendesak Bapak untuk menikah?” tanya Senja begitu dia dan Langit akhirnya bisa berduaan tanpa seorang pun yang ikut mendengarkan pembicaraan mereka. Saat ini Senja dan Langit sedang berjalan-jalan di kebun jeruk milik keluarga Langit. Panas matahari membuat kulit Senja terasa terbakar, tapi dia sama sekali tidak memusingkannya. Suasana pedesaan jauh lebih menyenangkan dari pada memusingkan kulitnya yang terbakar. “Aku hanya ingin menunjukkanmu pada keluargaku,” balas Langit. “Dan kenapa Bapak perlu melakukan itu? Kelihatannya keluarga Bapak sama sekali tidak mendesak Bapak untuk menikah.” Langit tersenyum miring. “Ini.” Senja gelagapan menerima buah yang dilemparkan Langit padanya. Dia memandang buah jeruk pemberian Langit dengan kening mengerut. “Kenapa memilih jeruk mandarin bukannya jeruk manis yang umum di budidayakan?” tanya Senja saat memandang jeruk yang ada di tangannya. Tanpa ragu dia mengupas dan memakan buahnya. Rasa manis dan aromanya yang harum benar-benar berhasil menggugah selera Senja. Dia mengambil jeruk lainnya dan mengupasnya lagi. Tidak sadar tindakannya sejak tadi diamati oleh Langit. “Jeruk Mandarin salah satu jeruk paling manis. Selain itu jeruk mandarin adalah leluhur dari varietas jeruk lainnya. Pohonnya tidak terlalu tinggi sehingga budidayanya di tempat ini jauh lebih baik.” Senja mengedarkan pandangan dan hanya bisa menemukan perkebunan jeruk sejauh mata memandang. “Kenapa memilih jeruk bukan buah lainnya? Apel misalnya atau mungkin teh?” Mendengar pertanyaan itu Langit tersenyum tipis. “Kamu harus bertanya langsung pada Oma. Dia pasti senang menceritakannya padamu.” Bibir Senja memutir ke bawah. Dia bisa membayangkan semangat Oma saat menceritakannya. “Bapak belum menjawab pertanyaanku,” tukas Senja saat mereka berjalan melewati jalan setapak. “Pertanyaan yang mana?” “Peranku di sini tidak cukup penting. Seandainya aku tidak ikut aku yakin keluarga Bapak sama sekali tidak akan keberatan.” “Kamu tidak tahu itu kan? Aku mengenal keluargaku. Sekarang setelah mereka yakin kalau aku memiliki kekasih mereka sudah pasti tidak akan merecokiku lagi tentang pertanyaan kapan menikah.” “Lalu pesta pertunangan yang dimaksud oleh mereka pertunangan siapa?” Langit mendadak berhenti dan Senja hampir saja menabraknya seandainya refleksnya tidak baik. “Memangnya apa yang kamu pikirkan saat mendengar kalimat itu?” tanya Langit balik. Seperti biasa, tatapannya yang mengintimidasi seolah sedang memindai Senja. Waduh ini berat ini. Senja sudah pasti tidak akan mengatakan yang sebenarnya. “Tidak ada.” “Lalu kenapa kamu penasaran?” “Karena aku orang yang mudah penasaran?” “Atau mungkin karena kamu pikir orang tuaku sedang menyiapkan pesta pertunangan kita?” tebak Langit tepat sasaran. “Aku tidak—“ “Jangan menyangkalnya Senja. Aku bisa mengenalinya dari wajahmu yang pucat dan panik waktu itu. Tidak mengherankan mengingat kaum kalian memang terkenal memiliki imajinasi yang berlebihan." What? “Jangan mereganilisir kaum wanita hanya karena—“ “Jadi tebakanku benar kalau kamu berpikir pertunangan kitalah yang disiapkan.” Senja mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Lebih baik tutup mulut sebelum kelepasan bicara yang hanya akan berakhir membuatnya terlihat bodoh. “Jangan takut, kalaupun aku tunangan kamu kandidat terakhir yang akan kupertimbangkan sebagai calonnya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD