Senjata makan tuan itu saat targetmu berakhir menjadi bom waktu untukmu.
***
“Bagaimana kabar si ‘devilman?’”
Senja memutar bola matanya mendengar pertanyaan Mawar, sahabat sekaligus rekan kerjanya di kantor. Devilman adalah sebutannya untuk Langit, atasannya yang kelakukannya memang mirip setan.
Senja masih sangat jengkel jika mengingat percakapan terakhir mereka. Senja berdiri dan menatap bunga-bunga bermekaran lewat jendela kamar yang disediakan untuknya.
“Tahu apa yang paling menyebalkan?”
“Apa?” tanya Mawar dari ujung telepon.
“Aku bahkan tidak tahu apa kegunaanku di sini. Keluarga bos setan itu sama sekali tidak terlihat menjengkelkan. Mereka hangat jauh lebih baik dari si bos tiran itu!”
Terdengar suara tawa keras dari ujung telepon. Senja menjauhkan ponselnya dan menatap layarnya dengan pandangan tidak percaya.
“Apa kamu menemukan kalimatku lucu?” serunya dongkol.
Terdengar suara kekehan sebelum suara Mawar terdengar. “Apa dia sedang mengerjaimu, ya? Kalau kamu memang tidak dibutuhkan di sana lalu kenapa dia bersikeras ingin membawamu ke sana?”
Senja menggeleng-gelengkan kepalanya. “Mana kutahu! Otaknya sejak dulu kan memang tidak beres dan bukan itu saja,” serunya berapi-api.
“Apalagi?”
“Dia bilang kalau aku tidak boleh terbawa perasaan dalam sandiwara ini dan seolah belum cukup gila si bos setan itu juga bilang pun seandainya dia tunangan dia bahkan tidak akan memikirkanku sebagai kandidat! See? Sepertinya otaknya memang bermasalah. Memangnya siapa yang sudi jadi tunangannya? Monyet di pohon jambu iya.”
“Senja!” tegur Mawar, tapi Senja mengabaikannya. Dia masih merasa marah. Bisa-bisanya Langit yang sok itu mengatakan kalimat itu padanya. Memangnya siapa yang mau jadi tunagannya?
Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk Senja meremang.
“Apa kamu tetap pada keputusanmu? Kamu masih ingin resign?”
“Yup! aku akan apply ke beberapa perusahaan begitu pulang dari sini.”
“Kamu yakin?”
Kening Senja mengerut. “Kenapa aku tidak yakin? Mawar, mungkin kamu lupa tapi Langit Samudera adalah atasan paling menyebalkan dan juga paling arogan yang pernah kukenal. Dia memintaku ke kantor ketika pagi masih gelap gulita, dia meneleponku saat aku sedang menikmati secangkir caramel macchiato dan bukan itu saja—“ mendadak Senja menghentikan kata-katanya saat mendengar pintu kamarnya diketuk.
“Sebentar,” ujarnya pada Mawar sebelum membuka pintu.
“Laut?” gumam Senja, heran melihat lLaut berdiri di depan pintunya. Apa yang dilakukan pria itu di sini, di depan kamarnya?
“Jangan memasang wajah jutek seperti itu,” kekeh Laut. “Aku hanya ingin menyampaikan rencana pertunangan yang akan—“
“Siapa yang akan tunangan?” potong Senja.
“Kamu dan Langit tentu saja.”
Wajah Senja mendadak pias. Tidak mungkin!
“Gotcha!”
Mata Senja membelalak lebar saat melihat senyum kemenangan pria itu. “Kau—“
Laut tertawa terbahak-bahak. “Lihat wajahmu itu,” ledek Laut dengan cengiran menyebalkannya. “Wajahmu persis seperti tokoh kartun dengan asap yang keluar dari kedua telinganya.”
Senja berlari hendak mencekik Laut, tapi rupanya pria itu sudah menduga tindakan Senja. Dia berlari menghindar yang akhirnya menjadi aksi kejar-kejaran di dalam rumah. Suara tawa Laut menggema memenuhi setiap sudut rumah.
Senja berhenti dengan napas ngos-ngosan. Kedua tangannya bertumpu di atas lututnya. Dia masih bisa mendengar suara tawa Laut saat pria itu menghilang dari pandangannya.
Sialan! Laut mengerjainya.
“Apa yang terjadi?”
Senja berusaha mengatur napasnya. “Adikmu sepertinya memiliki selera humor yang aneh,” balasnya tanpa menatap Langit.
“Kali ini apa yang dia lakukan?”
Senja menggeleng, akhirnya menatap Langit—dan langsung mematung. Bibirnya mendadak kering.
“Apa? Ada apa?” tanya Langit saat menyadari pandangan Senja.
“Sejak kapan Bap—kamu tahu mengenakan pakaian santai seperti ini?” tanya Senja menatap kaos ketat putih yang menunjukkan otot-otot pemiliknya dan juga celana pendek selutut yang dikenakan Langit.
Penampilan santai Langit nyaris membuat Senja lupa kalau pria di depannya adalah atasannya di kantor.
“Hanya karena kamu belum pernah melihatku mengenakan pakaian seperti ini bukan berarti aku tidak pernah mengenakannya ‘kan?”
Senja mengibas tangannya. “Lupakan hal itu. Laut mengatakan agar aku bersiap-siap karena acara pertunangan sebentar lagi akan di mulai. Pertunangan siapa yang dia maksud?”
“Apa aku belum memberitahumu?” tanya Langit santai tanpa rasa bersalah sementara Senja yang mendengarnya mulai menahan napas.
“Anak dari adik ayah akan melakukan acara pertunangan. Kita semua akan hadir.”
“Jadi itu fungsi gaun yang kamu berikan?”
Langit mengangkat bahunya acuh. “Bersiaplah, sebentar lagi kita akan berangkat.”
“Berapa lama?”
“Apanya yang berapa lama?”
Sabar, sabar, sabar Senja.
Senja berhasil menarik sudut mulutnya meski tangannya gatal ingin mencekik Langit. “Berapa lama waktu yang dibutuhkan ke rumah sepupumu?”
“Semalaman,” balasnya santai.
“Semala—“
“Jangan terkejut seperti itu,” tukas Langit, heran melihat reaksi Senja yang menurutnya berlebihan.
“Seperti yang kamu lihat di lingkungan ini selain rumah para pekerja dan kedua orang tuaku tidak ada lagi yang tinggal di sini.”
“Tapi kenapa membutuhkan waktu selama itu untuk mendatangi rumah keluargamu yang lain?” tanya Senja bingung. “Kenapa mereka tidak tinggal di sini?”
Senyum misterius yang jarang dilihat Senja kini muncul di wajah tampan Langit. “Demi kesenangan pribadi.”
Kesenangan pribadi?
“Pergilah Senja, siapkan apa yang perlu kamu bawa. Kita berangkat dalam 2 jam dan ingat….” Langit mengangkat telunjuknya tepat di depan wajah Senja hingga Senja harus memundurkan wajahnya.
“Aku tidak suka terlambat. Jadi pastikan—“
“Semua selesai sebelum waktunya karena aku tidak akan segan-segan meninggalkanmu,” tambah Senja cepat. Dia sudah terlalu sering mendengar ancaman itu sampai Senja bisa menghapalnya. Apa Langit pernah melakukannya? Tentu saja!
Langit meninggalkannya saat dia terlambat menemuinya di sebuah restoran saat atasannya itu sedang makan siang dengan klien mereka. Senja terlambat 5 menit, tapi bagi langit itu sama saja dengan 5 jam! Dan Senja ditinggalkan begitu saja.
“Bagus. Kalau begitu apalagi yang kamu tunggu?”
Senja sudah mengangkat satu kakinya hendak memukul tulang kering pria itu, tapi saat sudut matanya melihat seseorang berjalan masuk tiba-tiba saja Senja memiliki ide di kepalanya.
“Aucch!” gumamnya mengaduh sembari memegang kakinya.
“Ada apa?” tanya Langit heran. Dia bahkan tidak terlihat cemas. Wajahnya datar seperti tripleks.
Senja memegang mata kakinya. “Sepertinya aku tidak bisa ikut dalam acara itu.”
“Kenapa?”
Senja mendongak. “Sayang, kakiku sepertinya tidak bisa di gerakkan.”
“Ada apa?” Mama Langit muncul, menatap Senja dan Langit bergantian.
“Maaf, Bu, sepertinya Senja tidak bisa ikut menghadiri acara pertunangan itu.” Senja meringis sembari memegang kakinya yang sakit. Dia bisa merasakan tatapan dingin dan menusuk Langit, tapi Senja mengabaikannya. Dia akan membuat Langit pergi sendirian.
Ha!
Siapa suruh menantangnya. Senja menahan senyumnya saat membayangkan Langit akan menghadiri pesta seorang diri seperti pria kesepian. Balas dendam baru saja dimulai!
“Kamu kenapa Sayang?”
Senja menggeleng, memasang wajah memelas terbaiknya. “Hanya kecelakaan kecil sama sekali tidak serius, Bu. Maaf karena Langit terpaksa pergi tanpa Senja.”
Mama Langit mengelus lembut rambut Senja. “Jangan begitu, Langit tidak mungkin meninggalkanmu saat seperti ini.”
Apa maksudnya itu? pikirnya horor.
Mama Langit menatap putra sulungnya. “Langit, kamu di sini bersama Senja. Temani dia agar dia tidak kesepian.”
What. The.