Plan B

1677 Words

“Aku tidak pernah meragukannya, Awan. Tidak sedetikpun!” cecar Langit dengan mata melotot. “Dia istriku dan aku memercayainya dengan hidupku.” Anehnya bukannya terlihat marah ataupun tersinggung Awan justru tersenyum, jenis senyum yang membuatmu berpikir dia mulai gila. “Bagus! Hanya itu yang ingin kudengar.” “Kau gila ya?” Awan tertawa rendah. “Senang melihat Senja berhasil membuatmu bertekuk lutut. Sekarang yang harus kita lakukan adalah membawa kembali kakak iparku.” Awan mengedip, membuat Langit melongo. Sepertinya adiknya benar-benar sudah tidka waras. Awan kembali ke mejanya. “’Familiar dengan tempat ini?” tanyanya, menunjuk layar komputernya. Langit mendekat, menyipitkan mata. “Itu alamat orang yang mengirimi Senja surel, lalu kenapa?” Satu alisnya terangkat, dengan sangat m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD