“Jangan bercanda Langit, sebaiknya aku pulang.” Senja berdiri. Namun, sebuah tangan mencekal lengannya, menahannya tetap di tempat “Langit, apa yang kau lakukan!” pekiknya terkejut, mencoba melepaskan diri. Berada di ruangan yang sama dengan Langit membuatnya sesak dan insting primitif yang berusaha keras dia tekan kini mengancam menunjukkan diri. Kedua lengan Langit mengurung Senja di tempat, mencegah wanita itu melarikan diri. “Apa aku terlihat seperti bercanda?” Panas menjalar di tulang belakangnya, menghangatkan setiap sel dalam tubuhnya. Langit pria yang sangat tampan, mendominasi dengan daya tarik seksual bagai magnet dan Senja dengan menyedihkannya terperangkap di dalamnya. Sesaat otaknya membeku, terpaku pada mata hitam yang menggelap dan mengandung badai milik Langit. Senja b

