“Hai,” Senja melambaikan tangan pada Langit, menunjukkan senyum paling manis yang dia miliki. “Menurutmu aku dan rumah sakit bisa bersahabat?” Mata gelap Langit menyipit. “Jangan memainkan permainan berbahaya, Senja. Katakan apa yang terjadi?” “Sebenarnya itu salahku.” Langit berpaling, menatap wanita berkacamata besar dengan tahi lalat dibawah mata itu dengan kening mengernyit. “Apa maksudmu?” tanyanya dingin. “Langit!” Langit mengabaikannya. “Kau yang menyebabkan ini terjadi padanya?” “Maaf, aku sedang terburu-buru dan tidak memerhatikan jalan. Sekali lagi maafkan saya.” Wanita itu membungkuk berkali-kali sampai Senja takut pinggangnya patah. “Hei, tidak apa-apa, lagipula kakiku hanya terkilir.” “Yah, katakan itu saat kakimu patah,” balas Langit melotot. “Dan kau,” Langit kembali

