Kembali pulang

1010 Words
Malam ini hujan mengguyur daerah kota jakarta dengan lebatnya. Setelah kejadian siang tadi di restoran, Liora diizinkan pulang untuk mengobati lukanya dan beristirahat dirumah. Setelah menenangkan dirinya di ruang ganti tadi, berusaha sekuat tenaga mengendalikan dirinya, ketakutan itu membuat ia gemetar seluruhnya. Bunyi pecahan piring dan teriakan pertengkaran tadi membuat Ara tiba-tiba seolah berputar waktu, seakan ia kembali pada ingatan empat tahun lalu, jeritan tangis ibunya dan bentakan ayahnya terdengar dan terlihat dengan jelas dimata gadis yang baru pulang sekolah itu. Sang ayah yang menyiksa ibunya karena sakit-sakitan dengan tega bahkan membawa wanita lain ke rumah mereka, Liora menjerit dan menangis berlari merengkuh ibunya sehingga dirinya terkena cambukan dari ikat pinggang yang dilayangkan ayahnya itu. Ingatan itu tak pernah terlepas, bahkan menjadi mimpi buruknya. Kepergian ibunya 3 bulan setelahnya membuat Liora menjadi gadis yang hidup bagai hanya berupa raganya saja, melihat bagaimana sang ayah yang tidak peduli bahkan gelayutan wanita seksi yang selalu menempeli Anthony sudah biasa Ara lihat, dulu kejadian itu seperti ribuan anak panah yang seakan menyerangnya, namun kini Liora sudah tak merasakan apapun, semua menguap dengan luka dan kesakitan berujung trauma yang dialaminya. "Hahhhh" Helaan nafas berat keluar dari bibir mungil kemerahan itu, wanita cantik yang sedang duduk memeluk lutut diatas ranjang tengah menelungkupkan wajahnya dilutut. Rambut panjang nya terurai, tangannya saling mengait, dia tidak menangis, dia tahu itu sia sia. Tak akan ada sosok yang menyemangatinya lagi, tak ada sosok yang akan mengelus rambut dan punggungnya bila dia menangis dan terpuruk. Tidak ada gunanya menjadi lemah, setidaknya menurut Liora, suka atau tidak hidup harus tetap dijalani. Di kamar kos kecil ini Liora bangkit dan memulai semuanya, setelah usiran dari selingkuhan ayahnya dulu tak membuat ia sedih justru ia merasakan kebebasan saat keluar dari kurungan yang ada dirumah itu. Walaupun ia tahu wanita itu memanipulasi bahwa ia lah yang kabur kepada ayahnya. Namun Liora membiarkan saja, karena ia tak peduli apapun cerita nya. Ia yakin Anthony tak akan repot-repot mengurusi nya. drrrtt drrtt drrrtt Tertulis nama Ayah disana. Menggeser tombol hijau Ara segera menjawab panggilan itu. "Hallo" ... "Kenapa kamu tidak menggunakan uang yang ayah kirim Ara?" Nada tegas dan dingin itu kembali menyapanya setelah sekian lama. "Ara punya cukup uang" Berusaha menjawab setenang mungkin. "Kamu membuang banyak waktu selama ini! Pulang besok malam dan jangan coba coba tidak menurut kali ini! ingat itu!" tuutt tuutt Telpon dimatikan tanpa permisi, tidak ada sapaan hangat ataupun basa basi saling bertanya kabar. Tampaknya watak keras yang tertanam pada seorang Anthony Wijaya sudah tidak dapat dirubah, dan Liora sudah tidak peduli lagi. Bergegas ia bangkit dari ranjang dan mengemas beberapa helai pakaian dan sedikit barang penting nya untuk dibawa ke kediaman ayahnya besok. Ia tahu akan terjadi sesuatu, dan itu tidak akan baik, tapi ia tidak perduli. Dia hanya akan pasrah dan menjalani. Esoknya Liora pergi menuju kediaman ayahnya, sengaja ia pergi di pagi hari agar sampai disiang harinya, ia ingin mengumpulkan tenaga dan beristirahat disana sebelum bertemu dengan sosok yang disebut ayahnya tersebut. Dengan menggendong ransel sedang, dia menitipkan kunci kos-annya kepada sang pemilik dan berpesan untuk tidak menyewakan kepada siapapun, segala barangnya masih ada disana dan ia sangat yakin akan kembali kesini entah itu kapan. Dua jam perjalanan setelah bermacetan dijalan akhirnya Liora sampai digerbang rumah mewah milik keluarga Anthony Wijaya tepat pukul 1 siang. Menghela nafas berat, Liora menguatkan dirinya untuk lebih kuat dari biasanya. Ting tong ditekan bel oleh Liora, cuaca yang panas dan perjalanan yang melelahkan membuatnya ingin segera masuk dan beristirahat. Ceklek "Eh non Ara, ya ampun akhirnya non pulang, ayo non masuk" Mang Toto bergegas membuka sedikit gerbang dan membawa Liora masuk. "Terimakasih mang" "Iya non silahkan,didalam ada bi Sari biar amang panggilkan" "Eh tidak usah mang, biar saya saja" "Kalau begitu mang Toto permisi dulu ya non" Mang Toto membungkuk dan berlalu pergi setelah dibalas anggukan dan senyum kecil Liora. POV LIORA Akhirnya setelah sekian lama, aku kembali kesini, ke rumah ini, rasanya sudah sedikit berbeda, 4 tahun berlalu setelah kejadian itu. Aku tidak pernah menginjakan kaki lagi dirumah ini, ini untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dan aku tahu pasti ada tujuan tertentu. Karena selain untuk menyuruhku berhenti bekerja karena dianggap memalukan, dia hanya bisa mengirimkan uang yang tidak pernah aku gunakan, tidak sekalipun ia meminta ku pulang. Aku sangat ingin membencinya tapi perkataan ibu selalu terngiang. "Jangan membenci nya, dia tetap ayah Ara, suatu hari nanti semua akan mendapatkan balasannya, Ara cukup tumbuh menjadi gadis baik dan bahagia jangan membuang waktu untuk sekedar memupuk kebencian. Itulah yang akan membuat ibu bahagia yaitu kebahagiaan Ara" Ku pejamkan mata, sakit dan sesak masih terasa, entah apa yang akan terjadi nanti malam aku berharap untuk selalu kuat dan pasrah. Ku temui bi Sari didapur, yang begitu melihat ku langsung memeluk dan menangis tersedu-sedu dibahuku, dia memang sangat menyayangiku, dia saksi bagaimana keluarga bahagia ini hancur tak bersisa 4tahun lalu. "Jangan pergi lagi non, bibi sangat rindu" Dengan tersedu dan airmata membasahi pipinya dia menatapku penuh permohonan. "Aku hanya jadi anak penurut bi" "Tapi tidak dengan pergi dari sini!, apakah non tinggal ditempat yang layak? apa non makan dengan baik? bibi sangat mengkhawatirkan non Ara" Ucapnya sembari memegang kedua pipiku. Kuusap tangannya sembari tersenyum, "Ara baik baik saja bi, dan sekarang Ara sudah pulang, dan sangat merindukan bibi" Kami berpelukan dengan aku yg terus mengusap punggung bi Sari yang terus menangis. Setelah tenang, bi Sari menghidangkan makan siang untukku, makanan kesukaan ku, nasi goreng buatannya memang tidak ada duanya. Segera setelahnya aku pergi ke kamar dan beristirahat, menenangkan fikiran dan menguatkan diri, bahwa nanti apapun yang terjadi itu bukan akhir dari segalanya. Aku harus bisa menjalaninya, dan pasrah seperti biasanya. Kututup mataku dan perlahan kantuk menyerang, aku merasa ada pelukan hangat dipunggungku dan usapan halus pada rambutku. Samar kudengar suara merdu yang selalu kurindukan. "Istirahat Ara sayang, ibu selalu bersamamu, Ara sudah bertahan sejauh ini sudah sangat hebat. Ibu bangga pada Ara" Kecupan hangat kurasakan dikeningku, sayangnya kantukku begitu berat sehingga aku jatuh tertidur detik itu juga. Ara sangat rindu ibu, batinku sebelum semua gelap. *** Tbc Mohon dukungannya ya teman. tap love ya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD