Pintu kamarku diketuk sesaat setelah aku menyelesaikan kegiatanku didepan cermin, tak lama suara lembut memanggil.
"Non, makan malam sudah siap, bapak dan ibu sudah menunggu dibawah,ayo makan dulu non"
"Iya bi, aku kebawah sebentar lagi"
"Bibi duluan ya non"
"Iya bi" Terdengar suara langkah kaki berlalu setelah itu.
Segera aku bangkit dari duduk ku, berjalan perlahan dan keluar dari kamarku, Satu-satunya ruangan yang membuat ku nyaman dirumah ini.
Langkah kaki ku bawa perlahan, diatas tangga tempat ku berjalan,disebelah kiri arah ruang makan keluarga, terlihat sepasang suami-istri yang sedang asik berdiskusi.
Sekitar 3 meter dari arah ku datang, sepasang paruh baya itu menghentikan pembicaraan mereka, dan suasana mendadak sunyi sepi, terasa dingin dan asing sekali.
Tepat saat ku berdiri di sebelah kiiri meja makan, kusapa mereka sekedar basa basi.
"Selamat malam"
Lalu kutarik kursiku, duduk dengan tenang tanpa banyak bicara lagi.
"Selamat malam sayang, akhirnya kamu pulang, mama senang sekali, bagaimana kabarmu?"
Suara halus dari seorang yang harus ku panggil "mama" Tersebut terdengar membalas sapaanku, sedikit menggelikan, menjijikkan dan penuh kepalsuan terdengar ke telingaku.
Beliau adalah istri baru tuan Anthony Wijaya, ayahku. Ah entahlah apakah mereka memang sudah menikah? Kapan? Aku tidak peduli dan tidak ingin mengetahui nya. Kubalas agar tidak perlu berkepanjangan dan tidak ada drama dimeja makan ini.
"Iya,aku baik" Kutatap wajah wanita itu dengan senyum kecil.
"Ayah harap kamu tidak membantah lagi kali ini, tidak ada permintaan, ini adalah perintah! dengarkan baik baik, besok malam bersiaplah karena ayah sudah menjodohkan kamu dengan anak teman bisnis ayah, jangan berusaha kabur atau memberontak. Balas budi ayah yang sudah membesarkan mu ini dengan cara jadi anak yang penurut! Mengerti!"
Suara tegas dan tatapan tajam itu tertuju padaku bahkan sebelum aku menyentuh gelas ku. Beliau sangat tidak sabaran!
Tidak ada salam, sapaan hangat atau bahkan pelukan, ahh.. Ternyata tuan Anthony bahkan tidak ingin melihatku makan dengan nyaman malam ini, langsung pada intinya dia memukul ku telak, perjodohan..? Apalagi ini.. Hahhh kutarik nafas perlahan dan berusaha sekuat tenaga mempertahankan raut wajahku, sedikit terkejut memang tapi aku bisa mengatasinya.
"Sayang, jangan seperti itu, ayo kita makan dulu, Ara pasti terkejut. Ayo sayang kita makan dulu"
Setelah mengelus tangan ayah dan berusaha menenangkannya, wanita itu kemudian menatap ku dengan senyum nya. Senyum yang aku tahu mengandung seringai dan ejekan.
"Makan dan istirahat lah, siapkan dirimu untuk besok, dengar Ara?!" Suara tegas dengan nada perintah itu kembali terdengar.
Pak tua ini masih melotot saja, mungkin takut aku pergi, pasti beliau sudah bekerjasama dan tidak mau ada kerugian atas perjodohan ini, dan aku mau tidak mau harus jadi tumbal untuk "membalas budi karena ayahku ini sudah berjasa membesarkan ku" Aku tidak mengerti lagi. Membalas budi? Bukankah aku anaknya? Ah sudahlah.
"Baik ayah, Ara mengerti"
Kujaga raut muka datarku, tetap tenang, menghadapi mereka dengan emosi atau dengan lemah hanya akan membuang tenaga.
Makan malam yang kurasa hambar ini selesai juga, pasangan paruhbaya itu bangkit dengan sang wanita yang merangkul mesra tangan suaminya, sekitar 3 meter mereka berjalan meninggalkan ku, wanita itu melihat kearahku dengan seringai liciknya.
Sayangnya aku tak peduli, ku acungkan jari tengah masih dengan raut datarku padanya, dia melotot ke arahku dan mukanya seketika menjadi jelek karena alisnya saling bertaut dan bibirnya mengkerut penuh emosi. Sudah ku bilang aku tak peduli, ku bereskan makananku,bangkit menghampiri bi Sari untuk membantunya mencuci piring, seperti kebiasaanku sejak dulu selama tinggal dirumah ini.
Setelah menyelesaikan pekerjaan dan sedikit mengobrol dengan bi Sari yang menguatkanku tentang perjodohan ini, kubalas bi Sari dengan raut ketenangan dan senyum kecilku, aku ikhlas, oh bukan, aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi.
Satu jam tak terasa, aku segera pergi ke kamarku untuk beristirahat, aku tahu akan ada tamu dikamarku, sudah hafal dengan semua akting para pemain drama disini aku tak kaget lagi.
Pintu kamarku terbuka, nah kan benar pasti akan ada sapaan manis didalam.
Aku segera masuk, dan wah..
Sang ibu tiri yang sedang duduk dikursi rias segara berdiri seraya melipat tangan di d**a dengan raut wajah yang sangat tidak enak dilihat, makeup yang sangat tebal, seringai licik dan wajahnya yang masih merah karena emosi tadi saat ku beri acungan jari tengah masih terlihat. Apa tuan Anthony tidak salah jatuh kepelukan wanita ini? Aku tak mengerti bagian mana yang terlihat menarik selain pakaiannya yang selalu memaksakan diri untuk terlihat seksi.
"Jangan berlagak ya kamu! Ingat kamu disuruh pulang hanya untuk dijual! Jangan terlalu percaya diri kamu karena kembali kesini!" Ancamnya dengan penuh penekanan.
Jangan lupakan matanya yang melotot itu, dan baju tidur seksi itu, aku jijik sekali melihatnya, dan apakah dia tidur dengan makeup setebal itu? Oh aku sangat yakin itu, kalau tidak tuan Anthony mungkin akan lari karena takut dengan wajah aslinya.
"Tentu saja,aku mengerti" Kubalas dengan tenang dan raut wajah datar seperti biasa.
Aku tak peduli, yang aku inginkan dia segera keluar dari kamarku karena aku sangat lelah untuk berdebat dengan nya, bukan lelah hanya malas saja. Tidak berfaedah bahkan tidak ada untungnya,buang buang waktu dan tenaga.
"Cam kan itu Liora! Kamu hanya sesaat disini untuk dijual! Jangan berani macam macam padaku" Ancamnya lagi setelah berjalan ke arah pintu kamarku,
Sesaat setelah dia hampir keluar aku tutup pintu itu segera dan menguncinya.
Brak
"Sialan"
Kudengar suara gerutuan dan umpatan nya, mungkin dia terdorong pintu saat ku tutup dengan keras tadi. Apa peduliku, selama dia tidak bertindak kasar dan menyakiti ku secara fisik aku akan diam.
Ku lanjutkan langkah ke kamar mandi untuk menggosok gigi, mencuci muka tangan dan kaki, ku pandangi wajahku di cermin.
Hei,, bisakah kamu tersenyum sedikit saja?
Kamu terlalu kaku untuk menikah dan berinteraksi dengan makhluk bernama suami
Apakah dia lelaki tua berperut buncit?
Atau bahkan dia sudah menikah?
Apakah aku nanti akan bahagia atau lebih menderita?
Oh, atau bahkan apakah aku diizinkan untuk bahagia?
Ku hentikan lamunanku, bergidik ngeri membayangkan bahwa yang akan menikahiku adalah lelaki tua botak berperut buncit dan beristri banyak, oh semoga tidak semenyedihkan itu.
Ku ayunkan langkahku menuju ranjang, segera masuk kedalam selimut dan bersiap tidur seraya berdoa.
Ya tuhan, aku tahu hari hariku tidak begitu menyenangkan, aku hanya berharap esok dan seterusnya tidak lebih menyedihkan lagi.
Ku matikan lampu kamarku, menyisakan suasana remang dari lampu tidur. Menghela nafas lelah, memikirkan beban fikiran tidak akan ada habisnya, maka aku lebih memilih bersiap menghadapinya.
Jika boleh aku meminta dan memohon, jika aku diizinkan berharap tentang kebahagiaan, aku harap esok dan seterusnya ada keajaiban, entah seseorang atau sesuatu yang bisa membuatku bahagia dan bisa lebih kuat lagi menjalani hidup kedepannya.
Kututup mataku, perlahan kantuk menyerang, usapan itu, suara itu terdengar lagi, tapi kantuk ini berat sekali.
"Selamat tidur Ara sayang, bersabarlah.. Kebahagiaan akan segera Ara dapatkan, berjanjilah untuk jangan menyerah"
Ahh aku tidak sanggup membuka mataku, kemudian semua gelap aku jatuh tertidur dengan lelapnya.
Mohon dukungannya untuk bab selanjutnya ya teman jangan lupa tap ❤️