Tidak ada yang berbeda dihari ini, semuanya sibuk dengan urusan masing-masing, Ayah dengan urusan kantornya dan istrinya dengan kegiatan sosialitanya.
Stela Amarta, nama yang cantik sayangnya tidak didukung dengan sikapnya. Wanita yang dengan tega menyakiti hati sesama kaumnya dan menghancurkan rumah tangga ibuku dengan tanpa rasa bersalah.
Dulu keluargaku memang bukan keluarga yang romantis tapi cenderung harmonis dengan tanpa adanya konflik berarti dalam bahtera rumah tangga, cenderung datar saja, lurus dan mengalir. Ibuku dan ayahku tidak berlebihan menunjukkan romantisme mereka tapi aku tahu mereka saling mencintai, ibuku yang selalu melayani semua keperluan ayahku, menuruti dan melaksanakan apapun perintah suaminya. Ayahku yang tegas dan berwibawa cenderung dominan dikeluarga ini, aku menghormati beliau dan menyayangi orang tuaku.
Sebelumnya seperti itu..
Tapi mungkin bagi tuan Anthony, rumah tangga yang terlalu "baik-baik saja" Itu terlalu membosankan, bukannya berniat dan berusaha memperbaiki keluarga nya, beliau malah terlalu larut dengan godaan sekertaris baru yang seksi dan cenderung "berani dan menggoda", tak peduli dengan rumah tangga yang selama belasan tahun dia bangun akan hancur berantakan, yang dia fikirkan hanya menikmati kesenangan yang merayunya dan terlarut kedalamnya.
Tok tok tok
Pintu kamarku diketuk menyadarkan lamunanku, ku lihat jam dinding ternyata jam sudah menunjukan pukul 5 sore. Secepat itu waktu berlalu.
"Non, bapak bilang non Ara harus bersiap siap nanti jam 7 malam akan ada tamu" Suara bi Sari terdengar.
Aku memang mengurung diri dikamar setelah memenangkan diri ditaman belakang pagi ini, menelpon atasanku tentang pengunduran diriku dan sisanya untuk menghirup udara segar, sebelum aku mengurung diri dikamar sampai sore.
"Iya bi, Ara tahu"
"Kalau begitu bibi kedapur dulu ya non, non Ara mau dibawakan sesuatu?"
"Tidak usah bi, terimakasih"
Jawabku singkat,ku dengar langkah kaki menjauh, bukan aku tidak sopan, tapi memang aku hanya akan membuka pintu kamarku apabila aku ingin, dan bi Sari mengerti bahwa aku sedang tidak ingin bertemu siapapun saat ini.
Jam 19.00 dikediaman Anthony Wijaya
Meja makan penuh dengan hidangan menggiurkan, tata letak rumah dirapihkan dengan se apik mungkin, untuk menyambut tamu penting malam ini.
Aku sudah duduk didepan meja rias dari setengah jam yang lalau tanpa mengerjakan apapun, menatap pantulan wajahku yang ku poles riasan tipis, mengenakan dress selutut berwarna biru muda, rambut digerai dengan hiasan jepit kecil berkilau pemberian mendiang ibuku.
Kutarik nafas perlahan, aku pasti bisa, semuanya akan baik baik saja.
Tak lama, suara mesin mobil terdengar memasuki kediaman ayah, aku memang membuka lebar lebar pintu balkon kamarku, supaya angin berhembus mengisi kekosongan dan kehampaan didalam kamari ini. Dan sudah pasti suara diluar sana sangat jelas terdengar.
Ah mereka sudah datang, para orang kaya pemilik baruku, jual beli akan segera dimulai Ara.. Batinku dengan lancang memenuhi fikiran yang berusaha kutenangkan.
"Non, sudah ditunggu bapak dan nyonya dibawah" Bi Sari melongok ke arahku, pintu kamar sengaja ku buka dari setengah jam yang lalu. Aku berdiri dan menghampiri bi Sari dengan senyum kecil, beliau memegang pundakku dengan mata berkaca-kaca.
"Semoga non Ara menemukan kebahagiaan disana, semoga keluarga baru non Ara akan menjadi keluarga yang lebih baik daripada keluarga non sendiri disini, do'a bibi selalu yang terbaik untuk non Ara" Ucapnya dengan serak. Aku tahu bi Sari sangat menyayangiku. Ku usap tangan rentanya ku beri senyum terbaikku, senyum ketegaran dan senyum penuh keikhlasan untuk memenangkan bi Sari bahakan diriku sendiri.
"Terimakasih do'anya bi" Ucapku pelan.
Tak ingin berlarut dengan suasana haru, bi Sari menuntunku turun ke arah ruang makan, suara orang berbicara bersahutan mulai terdengar aku menundukkan pandangan hingga sampai ke ruang makan, suasana akrab tadi pun perlahan sunyi, mereka menghentikan pembicaraan dan mengalihkan perhatian kepadaku.
Sapaan hangat langsung menyambutku.
"Nah ini dia putri saya satu-satunya, Liora Valencia Garvita namanya" Suara ayah terdengar memperkenalkan aku kepada tamunya itu dengan bangga, tentu saja anaknya yang tidak berguna ini ternyata sekarang berguna untuk dijual membantu perusahaan nya yang hampir gulung tikar.
Kulanjutkan langkahku perlahan.
"Sayang, sini nak, duduk disamping mama, ini ada keluarga pak Bara diundang oleh ayah khusus untuk makan malam bersama kita, sapa mereka sayang" Manis sekali, dengan senyum merekahnya, sayangnya aku tahu itu adalah senyum kemenangan karena akan menikmati hasil penjualan anak tiri nya ini.
Ku angkat wajahku dan kutatap wajah para tamu disana dengan senyum tipis seraya berkata "Selamat malam om,tante, saya Liora" Lalu aku duduk dikursi samping ibu tiriku.
Mereka,tamu ayahku ini, tampak sangat serasi dan bahagia diusia mereka yang tidak lagi muda, tampak menikmati hidup mereka yang menua dengan keharmonisannya, sang wanita paruh baya tersenyum balas menyapaku dengan anggunnya, sedangkan pria disampingnya yang merupakan suaminya terlihat sangat berwibawa dan menyayangi istrinya itu, balas memberi ku senyum kecil.
Ah andaikan keluarga ku yang harmonis seperti itu, aku pasti bahagia hadir diantara mereka yang mulai menua.
"Liora, Kamu lupa menyapa Sean, anak dari pak bara dan bu Sonya" Ucap ibu tiri ku membuyarkan lamunanku, seraya mengusap bahuku penuh kasih sayang.. Ah kasih sayang? Kamu pasti salah baca.
"Ah mohon maaf, selamat malam Mas" Ucapku seraya sedikit menunduk karena merasa bersalah dan ku angkat wajahku untuk menatap lelaki tersebut, tapi seketika aku terkejut, aku bisa mempertahankan raut wajahku tapi tanganku mengepal karena kaget dengan siapa yang aku lihat ini, dia adalah pelanggan yang menyebabkan keributan direstoran waktu itu, dia yang bertengkar dengan pacarnya. seketika kilasan balik terngiang difikiran ku.
Kamu tidak boleh menikah dengan orang lain Sean!
Aku hanya menikah bukan meninggal, walaupun aku menikah aku tak akan menghiraukannya dan akan tetap bersamamu.
Aku tidak mau, bantah ibumu dan nikahi aku Sean!
Aku tidak mungkin membantah ibuku, aku berjanji tidak akan meninggalkan mu Bian.
Seketika itupun aku tahu satu hal.
Liora.. Sepertinya kedepannya malah akan lebih sulit dan lebih sakit lagi, aku harus lebih kuat lagi, lupakan kebahagiaan, lupakan harapan, kamu hanya harus menjalani ini semua dengan lebih kuat lagi. Malangnya nasibku ini.
Sementara di sebrang meja, Sean menatap Liora dengan tatapan yang sulit diartikan, malam ini dua keluarga memutuskan bahwa akan menjodohkan mereka, tidak ada bantahan dari keduanya, bahkan malam itu menjadi saksi pertunangan mereka dengan saling memasangkan cincin dijari manis mereka, tanpa masalah tanpa drama dan penolakan bahkan tanpa senyuman keduanya.
Liora pasrah, ahh ternyata memang aku tidak boleh berharap lagi, harapan hanya akan menghancurkan tekad saja. Jadilah lebih kuat Liora.
Malam itu dilanjutkan dengan obrolan ringan dan penentuan tanggal pernikahan yang hanya berjarak 2 minggu lagi.
Semuanya baru dimulai, akankah aku bisa melewatinya kali ini?
***
Tbc
Haiii jangan lupa dukungannya ya, tekan ❤️ Terimakasih ??