Bab 6 - Kamu Kuat Anaya

1821 Words
Jarum jam di dinding ruang tamu terus berdetak, detik demi detik terdengar begitu jelas dalam kesunyian rumah malam itu. Ruang tamu kecil yang biasanya terasa hangat kini dipenuhi hawa gelisah. Lampu bohlam menggantung di langit-langit, menciptakan bayangan samar di dinding. Nenek Yanti duduk di kursi kayu tua tapi masih sangat layak, kedua tangannya meremas ujung jarik yang menutupi lututnya. Tatapannya bolak-balik antara pintu dan jarum jam. Semakin lama, napasnya terdengar makin berat. Sudah hampir pukul sembilan malam, tapi Anaya belum juga pulang. "Ya Allah ... ke mana lagi anak itu? Biasanya jam segini udah di rumah," gumam nenek dengan suara bergetar, lebih mirip doa daripada keluhan. Aldo yang baru saja mencatat PR di meja belajarnya, mendengar suara lirih itu. Ia menoleh, lalu bangkit dan mendekat. Raut wajahnya menegang, menyadari keresahan neneknya. Duduk di samping, ia sempat ragu membuka mulut. "Nek," suaranya pelan, nyaris seperti bisikan. "Tadi sore aku sempat lihat Kak Anaya keluar. Dia bawa tas, tapi aku nggak sempat nanya. Kupikir ... ya, mungkin ada urusan kampus, atau ke rumah temannya." Mata nenek langsung menoleh cepat, sorotnya tajam penuh kecemasan. Suaranya meninggi tanpa bisa ditahan. "Aldo! Harusnya kamu bilang ke Nenek dari tadi. Kalau ada apa-apa sama Kakakmu, gimana? Malam-malam begini perempuan keluar sendirian, itu bahaya." Aldo terdiam, menunduk dalam-dalam. Hatinya menciut, rasa bersalah menusuk dadanya. "Aku kira cuma sebentar, Nek. Aku ... maaf." Nenek bangkit dari kursi, tubuh renta itu sedikit gemetar. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu, sandal jepitnya menyeret lantai ubin yang dingin. Kedua tangannya saling menggenggam erat, lalu ia menengadah, bibirnya bergetar merapalkan doa. "Ya Allah, jaga cucuku. Jangan sampai ada apa-apa." doa itu keluar berulang-ulang, seperti mantra yang menahan rasa takutnya. Aldo melihat kegelisahan itu, dan hatinya tak tega. Rasa bersalah semakin menekan dadanya. Tanpa banyak pikir, ia berdiri, meraih jaket tipis yang tergantung di belakang pintu. "Aku cari Kak Anaya, Nek. Aku tanya-tanya ke tetangga. Siapa tahu ada yang lihat." ucapnya cepat, nyaris tak memberi jeda. Belum sempat Nenek Yanti melarangnya pergi, Aldo sudah berlari keluar rumah. Udara malam langsung menyergap, dinginnya menusuk kulit. Jalanan terlihat lengang, hanya sesekali dilintasi motor yang melaju cepat, meninggalkan dengung panjang. Lampu-lampu jalan memancarkan cahaya temaram, menarik bayangan tubuh Aldo memanjang di atas aspal. Napasnya memburu, tapi kakinya tak berhenti melangkah. Ia menyusuri gang demi gang dan menengok ke halaman rumah-rumah yang masih menyala lampunya. Aldo mendekat saat melihat sekumpulan orang sedang duduk di warung kopi. "Pak ... Bu ... maaf," sapanya setiap kali, suara remajanya terdengar cemas. "Ada lihat Kak Anaya nggak? Sore tadi?" Jawabannya hampir selalu sama. Gelengan kepala. Tatapan bingung. Atau diam yang terasa lebih menyakitkan dari penolakan. Ada yang bilang tidak tahu. Ada yang mengangkat bahu, lalu kembali masuk ke rumah. Bahkan ada yang hanya menatapnya kosong, seolah pertanyaannya lewat begitu saja. Setiap jawaban kosong itu menambah berat di dadanya. Langkah Aldo terasa makin lambat, bukan karena lelah, tapi karena takut. Takut pada kemungkinan yang tak berani ia pikirkan. *** Sementara itu, di dalam rumah, nenek kembali duduk di kursi rotan. Air matanya menetes tanpa disadari. Tangannya menengadah tinggi-tinggi, doa tak berhenti meluncur dari bibirnya yang bergetar. Sesekali matanya melirik pintu, menanti bayangan cucunya muncul. Harapan dan rasa takut bertarung di wajah tuanya yang keriput. Jarum jam kembali bergerak, melewati angka sembilan. Ruang tamu kian sunyi, suara detiknya semakin jelas seakan menertawakan kegelisahan yang menggantung. Lalu, suara kunci pintu terdengar, pelan namun begitu jelas. "Assalamualaikum," suara Anaya masuk ke ruang tamu, serak, lelah. Nenek tersentak, segera bangkit dengan langkah tergesa. "Anaya!" Ia langsung memeluk cucunya erat, seolah takut Anaya akan menghilang lagi. "Ke mana saja kamu, Nak? Nenek khawatir sekali. Jangan bikin Nenek deg-degan begini." suaranya pecah, matanya berkaca-kaca. Anaya terdiam dalam pelukan itu. Hatinya bergetar, rasa bersalah menghantam lebih keras daripada lelah di kakinya. Bibirnya hanya mampu berucap singkat. "Maaf, Nek ... tadi ada urusan." Ia tak sanggup mengucap lebih. Bagaimana harus menjelaskan bahwa ia barusan keliling mencari pekerjaan, menahan tatapan curiga orang asing, dan membawa pulang kelelahan bercampur harapan di hatinya. Nenek hanya mengusap kepala Anaya, memilih tak menekan dengan pertanyaan. Ia terlalu lega mendapati cucunya kembali pulang dalam keadaan selamat. Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi. Aldo muncul dengan napas tersengal, keringat membasahi wajahnya. Begitu melihat Anaya berdiri di ruang tamu, ia langsung menghentikan langkah, lalu sorot matanya menajam. "Kak!" suaranya lantang, campuran marah dan lega. "Kamu ke mana aja? Aku muter-muter nyariin kamu. Kok nggak bilang-bilang kalau mau pergi? Aku hampir gila mikirinmu." Anaya menunduk. Rasa bersalah makin menekan dadanya. "Maaf, Do. Aku nggak maksud bikin kamu sama Nenek khawatir." Aldo mendengus keras, matanya memerah karena emosi yang tertahan. "Lain kali jangan gitu lagi, Kak. Kalau ada apa-apa, bilang. Jangan seenaknya sendiri." Suaranya bergetar, bukan semata marah, tapi ketakutan yang ia ubah menjadi teguran. Suasana ruang tamu hening. Hanya napas terengah Aldo, sesenggukan tertahan nenek, dan suara jarum jam yang terus berdetak. Di balik keheningan itu, Anaya menyembunyikan rahasia langkah nekatnya mencari pekerjaan sore tadi. Setelah suasana agak reda, Anaya pamit masuk ke kamar. Pintu ditutup pelan, meninggalkan nenek dan Aldo di ruang tamu yang masih diselimuti sisa-sisa keresahan. Di balik pintu, Anaya bersandar, menutup mata. Dadanya sesak, bukan hanya karena dimarahi, tapi karena rahasia yang harus ia pikul sendirian. Perlahan, Anaya duduk di tepi ranjang. Pandangannya jatuh pada tas selempang yang tadi ia bawa keluar, tergeletak diam di lantai, seperti saksi bisu dari kenekatannya malam ini. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi punggung tangannya yang menutupi wajah. Bahunya bergetar halus, menahan isak yang tak ingin ia suarakan keras-keras. "Aku cuma pengen bantu ... aku cuma pengen nggak nyusahin mereka," bisiknya lirih, suara yang hanya dinding kamar itu yang mendengar. Bayangan sore tadi menyusup kembali. Langkahnya dari satu toko ke toko lain, menanyakan lowongan dengan senyum yang dipaksakan. Jantungnya berdegup kencang setiap kali pintu dibuka, setiap kali tatapan orang asing menilainya dari ujung kepala sampai kaki. Rasanya takut, asing, tapi jauh lebih menakutkan membayangkan pulang dengan tangan kosong. Anaya merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar yang gelap. Nafasnya pelan, berat. Rasa bersalah menggumpal di dadanya. Nenek yang sudah menua ia buat menangis. Adiknya ia buat berlari-lari di malam dingin, mencari-carinya dengan cemas. Matanya terpejam, tapi pikirannya tak ikut beristirahat. Di dalam gelap, Anaya tahu satu hal pasti, apa pun risikonya, ia tak ingin berhenti berusaha. Bahkan jika itu berarti ia harus lelah sendirian. Ia memeluk bantal erat-erat, membiarkan air matanya mengalir diam-diam. Dalam hati, ia hanya bisa berdoa, semoga langkah nekatnya tidak sia-sia. Semoga semua pengorbanan bisa membawa sedikit keringanan bagi keluarganya. *** Di ruang tamu, nenek masih berzikir pelan, jemarinya bergerak perlahan di atas tasbih usang. Napasnya teratur, seolah doa-doa itu ia rapalkan bukan hanya untuk ketenangan dirinya, tapi juga untuk satu nama yang sejak tadi tak berhenti berputar di kepalanya. Aldo duduk di kursi seberang, buku PR terbuka di mejanya. Pena di tangannya sempat bergerak, menulis satu-dua baris, lalu berhenti. Matanya menatap halaman, tapi pikirannya jauh melayang. Sorot matanya diam-diam masih penuh cemas. Tulisan di bukunya terasa kabur. Soal-soal itu tak benar-benar ia baca. Wajahnya keras, rahangnya mengatup. Namun di balik itu, ada kegelisahan yang tak ia ucapkan. Ia terlalu sayang pada kakaknya untuk benar-benar marah, yang ada justru rasa takut yang menyamar jadi kesal. Sesekali ia melirik jam dinding. Jarum detiknya berdetak pelan, terlalu pelan untuk menenangkan hati. Aldo menarik napas, lalu menoleh ke arah nenek. "Nek—" suaranya baru saja terbentuk, niatnya ingin sekadar bertanya, atau mungkin hanya ingin memastikan bahwa ia tak sendirian menunggu. Namun belum sempat kalimat itu keluar utuh, nenek menghentikan zikirnya. Ia bangkit perlahan dari kursi, merapikan kainnya, lalu melangkah pergi menuju tangga tanpa berkata apa-apa. Langkah nenek terdengar pelan tapi pasti, satu anak tangga demi satu. Aldo mengikutinya dengan pandangan. Ada dorongan di dadanya untuk berdiri dan menyusulnya. Tapi kakinya terasa berat, seolah tertahan oleh sesuatu yang tak kasatmata. Ia tahu. Nenek menuju kamar Anaya. Aldo menunduk lagi, menggenggam penanya lebih erat. Buku PR masih terbuka, tetap tak terbaca. Dari ruang tamu, ia hanya bisa memandangi punggung nenek yang menghilang di ujung tangga, membawa serta kekhawatiran yang sama namun dengan cara yang berbeda. Rumah itu kembali sunyi, menyisakan detak jam dan kecemasan yang belum menemukan tempat pulang. *** Sementara itu, di kamar, Anaya duduk di tepi kasurnya. Bahunya naik turun pelan, berusaha mengatur napas. Ketika pintu kamarnya berderit lirih, ia buru-buru menyeka pipinya dengan punggung tangan, memaksa wajahnya kembali netral. Nenek Yanti masuk, langkahnya lambat, membawa aroma minyak kayu putih yang khas. "Anaya," suara itu lembut tapi sarat dengan beban. Nenek duduk di tepi ranjang, tangannya terulur mengusap rambut cucunya yang masih basah oleh keringat dan air mata. "Kamu keluar tadi cari kerja, ya?" Anaya tercekat. Matanya sempat membelalak sebelum akhirnya tertunduk. "Nek ..." Nenek tersenyum tipis, senyum yang lebih banyak memuat kelelahan daripada bahagia. Perlahan, tangannya terulur untuk mengusap wajah cucunya. "Nenek sudah tua, tapi bukan berarti nggak peka. Nenek kenal kamu Anaya. Dari dulu, kalau kamu gelisah, caranya selalu sama. Pergi diam-diam, pulang capek, lalu pura-pura nggak terjadi apa-apa." Ia menghela napas pelan. "Nenek hafal, Nak." Anaya menunduk lebih dalam. Tak ada lagi yang bisa ia sembunyikan. "Maaf, Nek. Aku cuma nggak mau bikin Nenek kepikiran." Alih-alih marah, Nenek Yanti justru meraih tangan Anaya, menggenggamnya erat. Seolah takut melihat Anaya menangis akan pergi terlalu jauh. Suaranya bergetar. "Yang ada malah Nenek yang bikin kamu repot, Anaya. Seharusnya, kamu fokus kuliah. Biar Nenek saja yang mikirin urusan rumah." Air mata yang tadi sempat kering kembali mengalir di pipi Anaya. Ia menggenggam tangan Nenek lebih erat. "Aku ikhlas, Nek. Lagi pula aku tadi udah dapat kerja part time. Di restoran. Lumayan buat nutup kebutuhan bulanan. Daripada cuma ngandelin titipan donat sama risol di warung Mpok Idah. Kadang habis, kadang nggak." Mata Nenek memerah, hatinya campur aduk antara lega dan sedih. Ia mengangguk perlahan. "Alhamdulillah kalau begitu. Nenek senang mendengarnya." Nenek tersenyum sambil menganggukkan kepala. Lalu menatap Anaya lebih serius. "Tapi janji satu hal sama Nenek," Anaya mengangguk cepat. "Apa, Nek?" "Jangan bilang ke Aldo soal utang ini. Biarkan dia fokus sekolah, jangan sampai dia kepikiran untuk kerja juga." Suaranya menurun, nyaris seperti bisikan. "Nenek cuma pengen satu ... Aldo bisa terus sekolah. Kamu juga, Nak. Jangan sampai kuliahmu terbengkalai gara-gara bantuin Nenek. Nenek mohon sama kamu, cukup kamu saja yang tahu, jangan sampai adikmu ikut menanggungnya." Anaya terdiam, dadanya terasa sesak. Ia tahu betapa berat beban itu, tapi ia juga paham maksud Nenek. Ia tersenyum samar, meski matanya masih berkaca-kaca. "Aku mengerti Nek. Jangan khawatir, Aldo nggak akan tahu soal ini." Nenek mengusap pipi cucunya, lalu menariknya dalam pelukan erat. "Maafin Nenek ya, Nak. Hidup kita begini-begini saja. Tapi Nenek percaya, kamu kuat. Kamu selalu kuat, Anaya." Pelukan itu membuat Anaya akhirnya menangis dalam diam, menenggelamkan wajahnya di bahu Nenek. Untuk sesaat, beban itu terasa lebih ringan, karena ada kasih sayang yang melingkupinya. Di luar kamar, suara detak jam dinding masih terdengar. Malam terus berjalan, membungkus rumah itu dalam kesunyian. Sunyi yang tak sepenuhnya kosong. Karena di dalamnya, doa dan tekad saling berpegangan, menunggu hari esok yang entah seperti apa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD