Bab 7 - Hari Pertama Bekerja

2000 Words
Hari pertama Anaya bekerja dimulai dengan ketukan jantung yang tak beraturan. Sore menjelang, langit sudah berwarna oranye saat ia berdiri di depan pintu kaca restoran itu. Tangannya sempat basah oleh keringat, meski angin sore sebenarnya tidak panas. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mendorong pintu. Aroma tumisan bawang putih dan kaldu ayam langsung menyeruak. Suara sendok beradu dengan piring, panggilan tamu, dan langkah para pelayan yang lalu-lalang menciptakan irama riuh yang asing, tapi justru memacu adrenalinnya. Baldi menyambut tak jauh dari pintu, dengan senyum khasnya yang hangat tapi tetap tegas. "Selamat datang," sapanya ramah. "Anaya, kan?" "Iya, saya Anaya." Baldi mengangguk mantap. "Saya Baldi, manager di sini. Jadi kalau ada apa-apa, jangan ragu tanya ke saya. Semua urusan restoran ini saya yang pegang." Ia menambahkan dengan nada ringan. Anaya mengangguk sopan. "Baik, Pak Baldi." "Panggil Baldi aja, biar nggak kaku," ujarnya cepat-cepat, seolah tak suka jarak. "Kebetulan bos kita, Mas Zain, jarang turun ke restoran. Biasanya dia sibuk di luar, urus banyak hal. Jadi sehari-hari, ya saya yang mimpin operasional di sini." Anaya hanya bisa mendengarkan, berusaha menyimpan setiap informasi. "Sekali lagi, selamat bergabung. Mulai hari ini kamu resmi jadi bagian dari keluarga Resto Sera." "Sera?" Alis Anaya terangkat, terdengar bingung. Baldi terkekeh kecil. "Iya, singkatan dari Senandung Rasa. Itu nama restoran ini." Nada suaranya terdengar ringan, hampir bangga. Ia lalu menyerahkan sebuah apron hitam dan kemeja putih. Di d**a kemeja itu tersemat bordiran logo SR, rapi dan sederhana. Tepat di bawahnya, dengan benang merah yang lebih tebal, tertera sebuah kalimat, Ada Cinta di Masakan. Anaya menatap tulisan itu sejenak, lalu tanpa sadar menyentuhnya dengan ujung jarinya. Kata-katanya sederhana. Tidak berlebihan. Namun entah mengapa, dadanya terasa menghangat. Baldi memperhatikan gerakan kecil itu. Ia tersenyum tipis, seolah tahu apa yang sedang Anaya pikirkan. "Kalimat itu bukan cuma hiasan. Di sini, kami percaya, bahwa makanan bukan sekadar soal rasa enak." ujarnya pelan. Anaya mengangkat pandangannya. "Setiap masakan punya cerita. Ada usaha, ada lelah, ada niat baik di baliknya. Kalau yang masaknya asal-asalan, tamu pasti bisa merasakannya. Tapi kalau dimasak dengan hati ..." lanjut Baldi. Ia berhenti sebentar, lalu tersenyum kecil. "Rasanya akan sampai." Anaya menunduk lagi, menatap tulisan itu. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa kalimat tersebut tidak terdengar klise. "Saya setuju dengan itu." ucapnya lirih. Baldi mengangguk. "Semoga kamu juga bisa merasa betah di sini." Anaya mengeratkan pegangan pada apron di tangannya. Entah kenapa, ada perasaan asing yang muncul. Bukan gugup, bukan takut. Lebih seperti harapan kecil yang perlahan menemukan tempatnya. Restoran sore itu penuh. Suara sendok beradu dengan piring, pesanan yang bersahutan, dan langkah kaki para pelayan membentuk hiruk-pikuk yang membuat Anaya sedikit kewalahan. Ia langsung diarahkan melayani beberapa meja. Tangannya sempat kaku saat harus membawa dua gelas sekaligus. Setetes air tumpah ke taplak, membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Namun sebelum panik itu berubah jadi rasa malu, seseorang sudah berdiri di sisinya. Lita. Waitress berhijab dengan senyum lembut itu bergerak tenang, seolah situasi sesibuk apa pun tak pernah benar-benar mengganggunya. Hijab pastel sederhana yang dikenakannya memberi kesan teduh. "Pegang bagian bawah gelas. Lebih stabil." bisiknya sambil mencontohkan. Anaya mengangguk cepat, lalu tersenyum malu. "Makasih, Kak." "Panggil aku Lita aja. Kita sama-sama kerja. Nggak usah pakai kak-kak-an." balasnya ringan. Sepanjang sore, kesalahan kecil tak terhindarkan. Anaya sempat salah menaruh sendok, lupa mencatat nomor meja, bahkan harus bolak-balik karena pesanan yang tertukar. Setiap kali itu terjadi, dadanya mengencang, takut dimarahi. Namun Baldi hanya menegurnya dengan nada tenang. "Nggak apa-apa. Kamu cepat belajar. Itu yang penting." Kalimat sederhana itu cukup membuat Anaya kembali bernapas lega. Menjelang malam, suasana restoran mulai mereda. Meja-meja perlahan kosong, dan suara riuh berganti jadi dengung yang lebih pelan. Lita menggandeng lengan Anaya, menariknya menjauh dari area utama. "Ayo, sekarang kenalan sama anak-anak kitchen. Biar kamu tahu siapa yang masak pesananmu." Ajaknya. Anaya mengikuti langkahnya, merasakan sesuatu yang pelan-pelan berubah di dadanya. Kehangatan. Pintu ayun dapur terbuka. Uap panas menyeruak bersama aroma bawang, daging, dan saus. Di sana, seorang pria berambut agak gondrong sibuk mengaduk tumisan dengan sendok besar. Ia menoleh ketika mendengar suara langkah. Matanya menatap tajam ke arah Anaya, seakan berusaha mengingat sesuatu. "Cipto, kenalin, ini Anaya. Waitress baru." Lita menepuk ringan bahu pria itu. Cipto menoleh. Anggukannya datang terlambat setengah detik, karena pandangannya sempat tertahan di wajah gadis itu. Ada sesuatu di sana. Seperti ada rasa familiar yang sulit dibiarkan "Hmm ..." gumamnya pelan. "Kayaknya gue pernah lihat lo, deh." Ucapannya terdengar santai. Tapi di kepalanya, ingatan menyala tanpa permisi. Kembali ke hari itu. Deru kendaraan. Klakson yang bersahutan. Aspal siang hari yang memantulkan panas. Seorang gadis berjalan di trotoar dengan langkah cepat, rahang mengeras, wajah masam seolah dunia baru saja berutang padanya. Jaket merah. Ia ingat itu. Ia juga ingat dirinya sendiri dan seorang teman di sampingnya, tertawa kecil tanpa sebab yang benar-benar jelas. "Tuh cewek kenapa sih? Mukanya serem banget." "Lagi haid kali." "Hahaha, cakep-cakep galak." Tawa itu berhenti mendadak. Gadis itu berhenti melangkah. Menoleh. Tatapannya tajam. Tidak berteriak. Tidak mendekat. Tapi cukup untuk membuat kening mengerut. "Maksud kalian apa ngetawain aku kayak gitu?" Sunyi sesaat. Lalu panik. Wajah pucat. Langkah tergesa. Kabur tanpa sempat menoleh lagi. Rasa malu itu campur aduk dengan takut. Anehnya masih tertinggal di tubuh Cipto hingga kini. Dan sekarang, gadis itu berdiri tepat di depannya. Nyata. Mengenakan seragam restoran. Apron hitam terikat rapi di pinggang. Di dadanya, bordiran merah menyala Ada Cinta di Masakan. Cipto mengerjap. Sekali. Dua kali. Seolah memaksa ingatan itu kembali ke tempatnya. Ah, mungkin cuma mirip aja, batinnya cepat-cepat. Meski jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari yang seharusnya. "Nah, Cipto. Mumpung lagi nggak sibuk, kenalan dulu sama Anaya." suara Lita memotong lamunannya. Cipto mengangguk singkat. Ia mengulurkan tangan, gerakannya terlatih, tenang di luar, tapi hatinya belum sepenuhnya ikut tenang. "Kenalin. Gue Cipto. Asisten koki di sini." Anaya menyambut uluran itu tanpa ragu. Genggamannya mantap dan sopan. "Panggil saja Anaya atau Nay juga boleh." Katanya. "Anaya," Cipto mengulang pelan, seolah menguji bunyinya di lidah. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Nama yang jarang gue dengar." Anaya hanya tersenyum kecil mendengarnya. Dan kembali melanjutkan pekerjaannya. *** Waktu bergulir cepat. Jam menunjuk hampir tengah malam ketika restoran akhirnya memasuki jam tutup. Satu per satu pelanggan berpamitan, pintu kaca dibuka lalu ditutup kembali dengan bunyi pelan. Suasana yang tadinya riuh perlahan mengempis, menyisakan dengung pendingin ruangan dan aroma sisa masakan yang masih menggantung di udara. Para karyawan bergerak otomatis, seperti sudah hafal perannya masing-masing. Kursi-kursi diangkat ke atas meja. Taplak dilepas dan dilipat. Di dapur, suara piring disusun dan air mengalir bergantian dengan tawa kecil yang mulai lelah. "Anaya, tolong ambilkan kain lap di ruang penyimpanan, ya." panggil Lita sambil mengikat kembali hijabnya. "Iya," jawab Anaya cepat. Ia melangkah ke ruang penyimpanan di sisi belakang, sebuah ruangan sempit dengan rak-rak tinggi penuh peralatan kebersihan. Saat ia masuk, seseorang sudah lebih dulu berdiri di sana, meraih sesuatu di rak atas. "Rajin amat, mau ambil apaan?" suara Cipto terdengar santai tanpa menoleh. "Kain lap, Mas. Buat lap meja." jawab Anaya jujur. "Oh. Yang itu, kan? Paling atas." Cipto melirik sekilas, lalu kembali menghadap rak. Anaya mendongak. Rak itu memang agak tinggi. Ia ragu sesaat, tapi belum sempat berkata apa-apa, Cipto sudah lebih dulu menjangkau dan menarik kain lap itu dengan mudah. "Nih," katanya sambil mengibaskan kain tersebut. Lalu, seolah baru terpikir sesuatu, sudut bibirnya terangkat tipis. "Biar gue aja yang anterin ke Lita." "Hah?" Anaya sedikit bingung. "Sekalian," lanjut Cipto ringan. "Lo ambil ember sama pel aja. Sabun pel ada di bawah meja dapur." "Oh ... iya." Anaya mengangguk tanpa banyak tanya. Anak baru, pikirnya. Nurut aja dulu. Ia kembali ke dapur, mengambil ember, mengisinya dengan air, lalu menuangkan sabun pel hingga aroma segar menyebar. Saat ia hendak pergi, Cipto muncul lagi. "Nah, gitu dong. Sekarang pel bagian depan sama area dapur sekalian, ya." katanya sambil mengangguk puas. Anaya kembali mengangguk. "Siap." Ia mendorong ember ke depan restoran. Suara gesekan kain pel dengan lantai terdengar ritmis, memantul di ruangan yang mulai lengang. Cahaya lampu membuat lantai basah itu berkilat, seolah memantulkan kelelahan hari pertama yang baru saja ia lewati. Dari kejauhan, Lita memperhatikan dengan dahi berkerut. "Eh?" Ia melangkah hendak mendekat, tapi langkahnya terhenti ketika Cipto tiba-tiba berdiri di hadapannya. Ia mengangkat satu jari ke bibir. Isyarat diam. Lalu ia menunjuk Anaya yang sedang sibuk mengepel, memberi kode singkat, biarin aja. Lita menatapnya tidak percaya. Bibirnya bergerak pelan seperti bisikan. "Jahat banget kamu, Cipto. Kasihan, dia bersihin semuanya." Cipto hanya terkekeh pelan, bahunya terangkat ringan, seolah berkata, anak baru. Menjelang benar-benar tutup, lantai sudah bersih, dapur rapi, dan semua kembali ke tempatnya. Anaya melepas apron dengan tubuh letih. Bahunya pegal, lengannya terasa berat. Tapi ada rasa lega yang menempel hangat di dadanya. Hari pertamanya berhasil ia lalui. Di depan pintu, Baldi kembali menyapanya. Sama persis seperti ketika ia pertama kali melamar kerja, berdiri di ambang pintu restoran. "Hari pertama, lumayan, Nay. Besok kamu pasti lebih baik lagi. Hati-hati di jalan." Anaya mengangguk pelan, mengucap terima kasih pada Baldi. "Iya Mas, terima kasih." Ia menyampirkan tas selempangnya ke bahu, menarik napas panjang, lalu melangkah keluar dari restoran. Pintu kaca menutup di belakangnya dengan bunyi pelan. Udara malam langsung menyambut, lebih dingin, lebih lengang. Jalanan di depan restoran sudah tak seramai sore tadi. Lampu-lampu toko satu per satu padam, menyisakan cahaya kekuningan yang memantul di aspal. Baru dua langkah ia berjalan, sebuah suara menyusul dari belakang. "Mau pulang?" Langkah Anaya terhenti. Ia menoleh perlahan. Tatapannya datar. Sangat datar. Menganggap pertanyaan Cipto tidak perlu dijawab. Cipto berdiri tak jauh darinya, tangan dimasukkan ke saku celana, senyum jahil mengambang di wajahnya seolah baru saja melontarkan pertanyaan paling cerdas malam itu. "Kan bisa lihat sendiri." Anaya menjawabnya dengan nada datar. Membuat Cipto jadi salah tingkah. Hening. Sedetik. Dua detik. Lalu Cipto tertawa, agak terlalu keras untuk situasi yang sepi. Tangannya menggaruk tengkuk. "Hahaha ... iya, ya." Sunyi jatuh kembali, kali ini lebih canggung dari sebelumnya. Anaya menatapnya tanpa berkata apa-apa. Cipto mulai merasa kepanasan sendiri. Ia menggeser berat badannya, lalu berdehem kecil, mencari celah untuk keluar dari keheningan yang menyesakkan itu. "Gimana hari pertamanya?" tanyanya akhirnya, nadanya dibuat santai meski terdengar sedikit dipaksakan. "Capek, ya, kerja di restoran?" Anaya menghela napas pelan, bahunya turun sejenak. "Lumayan capek, sih, Mas," jawabnya jujur. Cipto mengangguk pelan. Ekspresinya melunak, senyum tipis muncul di sudut bibirnya, tanda kelegaannya karena percakapan itu tak sepenuhnya berakhir canggung. "Lo tinggal di mana?" "Nggak terlalu jauh dari sini." "Pulang naik apa?" "Naik angkot, Mas." Cipto menoleh ke jalanan di depan restoran. Aspal tampak lengang, nyaris tak ada kendaraan yang lewat. Di kejauhan, lampu merah menyala sendiri, memantulkan cahaya pucat di trotoar yang sepi. Ia mendecak pelan. "Jam segini ... biasanya udah nggak ada angkot." Anaya menarik napas, hendak menjawab, ketika tiba-tiba Lita datang menghampiri. "Loh, Anaya?" Lita muncul di ambang pintu. Tas sudah menggantung di bahunya. Wajahnya tampak lelah, tapi senyum di wajahnya tidak pudar. "Kamu kok belum pulang?" "Baru mau, Kak. Tapi tadi sempat ditahan sama Mas Cipto." jawab Anaya cepat. Anaya tersenyum pada Lita, sambil melirik sekilas ke arah Cipto. Lita mengikuti arah pandangnya, lalu menurunkan tatapan ke jam tangannya. Keningnya langsung berkerut. "Kamu naik angkot? Jam segini?" Anaya mengangguk kecil. "Iya ... paling nunggu. Kalau nggak ada, jalan kaki." "Jangan. Udah malam begini. Jalan kaki sendirian bahaya." sahut Lita refleks. Ia melangkah lebih dekat. Lita menoleh ke arah Cipto. Tatapannya singkat, tapi jelas. "Nebeng Cipto aja. Dia bawa motor," Cipto yang sejak tadi bersandar santai, langsung berdiri tegak. Anaya tampak ragu. "Terus kamu pulangnya gimana?" "Aku nanti dijemput sama ayahku," Anaya terdiam sejenak. Ada sungkan yang muncul, bercampur lelah. Tapi hari itu sudah terlalu panjang untuk menolak kebaikan. "Kalau nggak ngerepotin ..." "Nggak, santai aja." Potong Cipto cepat. Lita tersenyum. "Hati-hati di jalan kalian." Anaya mengangguk. Lalu melangkah mengikuti Cipto. Di malam pertama kerjanya, Anaya sadar, restoran ini bukan sekadar tempat mencari uang. Ini adalah panggung baru, dengan orang-orang yang akan memberi warna dalam hidupnya. Baldi dengan ketegasan hangatnya, Lita dengan kepeduliannya, Cipto dengan gayanya yang ternyata tidak seburuk kelihatannya--dan entah siapa lagi yang akan ia temui. Dalam lelahnya, Anaya merasakan sesuatu yang berbeda. Sebuah dunia baru yang perlahan, mulai membuka diri padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD