Siklus tanpa debar
Bram (35) seorang CEO muda tampan penerus perusahaan keluarganya sangat memperhatikan citra dan namanya dimata koleganya, keluarganya dan media.
Elena (27) Istri yang anggun dan elegant, nampak lembut keibuan dengan jiwa sosialnya. Kesibukannya sebagai seorang Founder yayasan bernama Amerta Kasih. yayasan ini sebagai tameng untuk jiwa sosial sang CEO, dianggap sebagai penyelamat Bram. Menutupi perusahaan yang dikenal kasar untuk menghalakan segara cara demi menyelesaikan proyeknya dengan dalih meratakan tanah dan menggusur warga sekitarnya dengan kompensasi yang murah. Namun Elena juga membutuhkan Bram, dia memerlukan banyak biaya dan dana yang besar untuk pembangunan yayasan besarnya. Dari yayasan itu Elena membangun beberapa Sekolah, rumah sakit, panti asuhan. begitulah pernikahan mereka atas dasar saling membutuhkan, janji orang tua, bisnis tidak didasari oleh rasa saling suka, apalagi Cinta. rutinitas dingin ini berlangsung cukup lama dan menjadikan duri dalam rumah tangga mereka. orang - orang diluar pagar rumah mereka hanya melihat kepalsuan hubungan rumah tangga yang mesra dan harmonis.
kesibukan tiga tahun kebelakang ini membuat keduanya menjadi semakin tidak sehat. Bram kerja dari pukul 07:00 hingga 23:00 karena tiga tahun ini dia tidak bisa pulang tenang karena mengurus mega proyek "warisan" ayahnya. Membangun resort dan taman bermain di sebuah tempat wisata
"Mas, jangan lupa hari ini ada jamuan keluarga di rumah orang tuamu" ucap Elena sambil bersiap-siap mengganti pakaian.
"ah ya" jawab Bram dengan dingin
Elena menanggalkan pakaiannya, pay**ara Elena terlihat menyembul keluar dari bra yang nampak sempit untuknya dengan celana dalam berwarna merah yang serasi.
Elena mengambil dress hitam panjang membalut tubuhnya yang anggun belahan sepanjang paha dan kaki jenjangnya membuat terlihat tampilan cantik elegant dan sexy sekaligus
"Mas bisa pasang resleting ini?" Elena menahan resleting di punggungnya yang tertahan
Bram menuju arah Elena, untuk sesaat Bram tergoda dengan leher jenjang Elena dan bahunya yang mulus serta aroma parfum elegant yang ada pada Elena.
Bram mulai tergoda, sisi maskulin Bram mulai mencuat desiran yang sedari tadi ia alami saat mulai menarik pikiran Bram. resleting Elena dan memperhatikan p******a Elena yang besar dan lembut.
Bram Masuk kedalam lamunanya membayangkan bagaimana ia menyetubuhi istrinya, menghisap payudaranya yang besar, menjilat dan menyesapkan tangannya kedalam kemaluan Elena membayangkan desahan dan erangan wanita lembut itu di dalam lamunanya
namun ia tersadar, bukan cinta yang ia rasakan sesaat dia kurang merasa diperhatikan kurang di bahagiakan sebagai suami dan Elena hanya bersikap dingin jika Bram menyalurkan Hasratnya. cinta itu bahkan belum tumbuh ditengah-tengah mereka namun siapa yang tahan godaan dengan kemolekan tubuh istri diatas kertasnya.
Pintu Rolls Royce ghostnya terbuka lebar, sang nyonya besar Elena masuk kedalam mobil mewahnya. mereka melaju tanpa kata menuju rumah orang tua bram.
Gerbang besi tempa setinggi 3 meter yang terbuka tanpa suara, pilar - pilar marmer yang angkuh menjulang ke langit malam. diruang makan perjamuan sudah hadir keluarga Bram Wijaya dan beberapa kolega dekat keluarga Wijaya. Bram memeluk pinggang Elena sesekali memegang sambil mengusap perlahan pinggan Elena ditengah keramaian. Sebuah meja makan panjang berbahan mahoni pekat membelah rumah mansion itu menjadi dua bagian. permukannya begitu halus hingga memantulkan cahaya temaram dari lampu kristal diatasnya bagai permukaan danau mati. diatas kain pelari (table runner) berbahan sutra kelabu, peralatan makan bermerk Christofle tertata simetris dengan persisi milimeter berjajar disamping piring - piring porselen bermotif emas. Jarak antara kursi di ujung meja tempat sang kepala keluarga duduk dengan kursi lainnya terasa begitu jauh, menciptakan jarak fisik yang mempertegas dinginnya hubungan di antara mereka. makan malam belum dimulai menunggu Bram dan Elena yang akan ikut makan bersama duduk di ujung dengan dua kursi yang sengaja disisakan untuk mereka. makan malam dimulai suara denting garpu yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti ketukan jam tangan yang mengintimidasi.
setelah menyantap makan malam dilanjutnya chef hotel bintang 5 pribadi mereka menyajikan sajian dessert untuk dinikmati sambil bencengkrama. inilah bagian tersulit untuk Bram dan Elena siap memakai topeng untuk keluarga mereka
Bibi tertua Bram Tante Rosalind disebrang mereka tersenyum, yang sudah siap melontarkan pertanyaan atau komentar pedasnya "Elena, pernikahan kalian sudah 5 tahun ayo segeralah punya anak. Ayah mu Bram sudah tak sabar gendong cucu"
"Elena, kau jangan kecapekan kasihan Bram, kapan kau akan punya anak kalau begitu terus. sudah jadi Ibu rumah tangga saja, bahagia kok! mengurus anak - anak yang lucu, ngapain lah kamu urus Yayasan yang buang - buang uang itu?"
Elena diam dan hanya membalas dengan senyuman tipis di wajah manisnya
Bram yang dengan tegas namun tetap menghormati
"ah tidak tante Bram juga sibuk, proyek papa kan belum selesai tan"
Elena nampak mulai tidak nyaman, Bram membaca situasinya.
dibawah meja tangan bram beraksi memegang tangan elena yg ada diatas paha, sambil sesekali mengelus paha Elena. Bram yang mulai tidak tahan ingin segera melahapnya. namun lagi - lagi Bram merasa Elena memasang tembok yang keras sekeras baja yang sulit ditembus oleh apapun.
"Elena, selepas ini kita pulang saja" Bram berbisik ditelinga Elena
"tapi mas acara belum selesai"
"tidak apa - apa nanti saya yang urus"
Bram sambil mendekat ke arah orang tuanya berbisik ijin untuk pulang
sesekali orang tua Bram melihat ke arah Elena sambil tersenyum, kemudian ditandai dengan anggukan Bram pergi kembali ke meja mereka dan mengajak Elena keluar ruangan.
Elena dan Bram berpamitan, mereka melaju pulang.
"Elena...ada yang ingin kubicarakan" ucapan bram memecah keheningan di dalam mobil
"Bicara saja mas"
"Elena, apakah menurutmu pernikahan ini akan berhasil?"
"ya selama kita mematuhi semua kontrak yang sudah kita setujui"
"bukan maksudnya, apakah kita bisa mulai saling menyukai satu sama lain?"
"sepertinya bukan saatnya membahas itu mas"
Bram hanya diam, dia sudah tau jawaban itu yang pasti dia ucapkan ketika sudah mebahas pernikahan, padahal Bram ingin mencoba menyukainya, Bram yang jatuh cinta pada Elena di pandangan pertama perjodohan membuat Bram sungguh frustasi tidak ada perlawanan dari Elena namun tidak ada balasan yang ia terima juga dari Elena seperti cinta sepihak.
Bram jengah dengan sikap Elena hingga saat ini sudah berjalan terasa biasa memulai tanpa "rasa"
Entah apa yang ada dipikiran Elena namun seharusnya ia sebagai wanita dewasa normal tidak mungkin menolak Bram
Posturnya tinggi dan tegap, rahangnya tegas, membentuk garis maskulin yang semakin menonjol saat ia mengatupkan bibir tipisnya. Tatapannya tajam namun tenang, dihiasi alis yang rapi dan mata yang seakan mampu membaca isi hati siapa pun yang menatapnya.
Rambut hitamnya tertata rapi dengan sedikit helai yang jatuh di dahi, memberi kesan elegan tanpa kehilangan sisi karismatiknya. Hidungnya mancung, sementara senyum tipis yang sesekali terukir di wajahnya mampu mengubah aura dingin menjadi pesona yang hangat.
Di balik setelan jas yang pas di tubuhnya, tampak d**a bidang dan bahu kokoh yang menunjukkan bahwa ia menjaga kebugarannya dengan disiplin. Lengannya berotot samar, bukan berlebihan, tetapi cukup untuk memperlihatkan kekuatan yang tenang.
mobil melaju ke rumah mereka dengan tenang.
mereka memasuki kamar utama
Kamar utama itu memancarkan kemewahan yang elegan tanpa terlihat berlebihan. Ruangannya luas, dengan langit-langit tinggi dan jendela kaca dari lantai hingga plafon. Tirai linen berwarna krem menutup jendela - jendala yang besar.
Di tengah ruangan berdiri sebuah ranjang king-size dengan kepala tempat tidur berlapis panel kayu dan kain beludru berwarna abu-abu lembut. Seprai katun premium berpadu dengan selimut tebal dan beberapa bantal dekoratif, menciptakan kesan nyaman sekaligus mewah.
Elena menuju kamar mandi di dalam kamar utama, Bram membuka jas dan melipat kemejanya se siku duduk di ujung kasur mereka sambil akan bergantian membersihkan diri.
tidak ada batasan yang mereka tegakan dalam soal "berhubungan" Elena mau saja melakukan hubungan namun dengan datar tanpa ekspresi dan juga tidak ada rasa. tidak ada sensasi yang bisa Bram rasakan semua terasa hambar
Elena keluar dengan gaun mandi berwarna pink sutera favoritnya, rambutnya sedikit lembap sehabis dikeringkan dengan Hairdryer wangi shower cream dan shampo yang mengganggu lagi indra penciuman Bram
Bram menuju kamar mandi untuk membersihkan keinginan untuk menyentuh Elena membersihkan diri dari penat seharian bekerja dan dari pikiran Elena
Bram menyalakan shower air panas yang hangat nyaman diseluruh tubuhnya.
Bram keluar dengan handuk yang terlilit di bagian pinggangnya, Elena sedang menggunakan rangkaian skincare yang meskipun tidak ia gunakan tetap terlihat cantik, elegant dan menawan dengan mata coklatnya yang menghiasi bulu mata yang lentik.
Bram yang sudah tidak tahan menuju Elena, memeluknya dari belakang meja riasnya. tidak ada ucapan apapun dari Elena hanya diam seperti patung.
Bram yang sedari tadi tidak tahan mulai meremas kedua p******a Elena yang besar dan lembut di genggaman tangannya.
"Elena puaskan aku malam ini" bisik Bram
Elena tidak menjawab sepatah kata pun
Elena hanya seperti boneka yang mematung, ia hanya seperti menjalankan tugasnya saja sebagai istri. memuaskan hasrat suaminya, memasak, dan kegiatan sosialita lainnya untuk memuaskan Bram dan keluarganya.
Bram yang tidak ada pilihan lain tetap menggoda istrinya berharap dia akan sedikit terangsang. bukan tidak mau Bram memilih wanita manapun yang dia inginkan untuk melayaninya. prinsip Bram jika tidak bisa menaklukan istrinya Bram merasa terkalahkan egonya.
Bram menggedongnya ke atas kasur ukuran besar mereka, wangi aroma lavender tercium dari wewangian kamar mereka menambah keintiman.
Bram mulai mengecup bibir Elena yang kaku, beralih ciumannya ke p******a Elena yang sedari tadi hanya menggunakan gaun mandinya, ciuman itu berlanjut ke arah perut Elena
Bram mulai menyusup ke kemaluan Elena, menyingkap gaun mandi yang Elena talikan diatasa pinggangnya. Bram menggoda dengan menciumi kemaluan Elena menyesapnya. Elena kemerahan menutup bibirnya dengan kedua tangannya tidak ada erangan.
"lepaskan saja Elena jika kau sudah tidak tahan, tidak ada yang akan mendengar kita"
Elena hanya diam
Bram mulai kesal, dia sudah tidak bernafsu lagi. Bram pergi meninggalkan Elena.
Bram pergi menuju balkon rumah, mencari udara segar. setelah merasa segala usahanya untuk Elena. Bram terluka harga dirinya.
pagi sekali bram pergi bekerja, tidak ada Elena dimeja makan seperti biasa. Bram kecewa karena Elena tidak ada dihadapannya.