“Berita apa?” tanya Bianca
Kent tertawa.
“Eh maaf” ucap Kent
“Lah kenapa minta maaf?” tanya Bianca bingung
“Gue ketawain abang lo barusan” jawab Kent
“Emang abang gue kenapa?” tanya Bianca
“Lo belum tahu kan? Abang lo barusan ditolak sama cewek” jawab Kent
“HA? SERIUS?” tanya Bianca
“Iya” jawab Kent
“Lo tahu dari mana?” tanya Bianca
“Teman gue” jawab Kent
“Teman lo tahu dari mana?” tanya Bianca
“Teman gue yang ditembak sama abang lo” jawab Kent
“A-apa?” tanya Bianca
“Gue punya teman dekat, namanya Kory. Nah Kory ini perempuan yang nolak abang lo barusan” jawab Kent
“Dia langsung cerita sama gue, dia bilang dia kaget juga” sambung Kent
Bianca tertawa.
“Abang gue ditolak? Kasihan banget” ujar Bianca
“Kory senang sih bisa disuka sama cowok kayak abang lo. Tapi ya mau gimana lagi kan” ucap Kent
“Dia gak suka sama abang lo” sambung Kent
“Kan nanti bisa belajar untuk mencintai waktu udah pacaran” ucap Bianca
“Gak bisa” ucap Kent
“Lah kenapa?” tanya Bianca
“Dia udah punya pacar” jawab Kent
“Lah pantasan nolak” ucap Bianca
“Dia sebenarnya mau bilang ke abang lo, tapi kan bakalan sakit banget ditolak karena suka pacar orang” ucap Kent
“Iya juga sih” ucap Bianca
“Nah itu makanya” ucap Kent
“Ya udah deh Kent, thank you Infonya” ucap Bianca
“Gue mau ngeledekin abang gue dulu, hihi” sambung Bianca
“Hati-hati entar giliran lo yang ditolak Ardhan” ucap Kent
“Heh jangan ngomong gitu!” ucap Bianca
“Ya udah deh, gue mau main game juga, babaayy” pamit Kent
“Iya, babayy” balas Bianca
Bianca memutus panggilan itu. Bianca bergegas keluar kamar.
“Ma, abang udah pulang?” tanya Bianca
“Udah” jawab Vani
“Sekarang abang di mana?” tanya Bianca
“Di kamar” jawab Vani
“Emang kenapa?” tanya Vani
“Enggak apa-apa, ma” jawab Bianca
Bianca bergegas pergi ke kamar Vero.
“WOII!” seru Bianca
Vero tersentak kaget melihat Bianca tiba-tiba membuka pintu kamarnya.
“Kaget gue astaga” ucap Vero
Bianca tertawa.
“Lo gak apa-apa?” tanya Bianca
“Iya, emang kenapa?” tanya Vero
“Gue dengar lo ditolak ya?” tanya Bianca
“L-lo tahu dari mana?” tanya Vero
“Ciee beneran ditolak” goda Bianca
“Kasihan banget” sambung Bianca
“Senang lo kan? “ tanya Vero
“Dasar adek laknat” ucap Vero
Bianca terkekeh.
“Hati-hati entar lo yang bakalan alami hal yang sama” ucap Vero
Bianca menjulurkan lidahnya.
“Rasa ingin menonjok meningkat” ucap Vero
Bianca tertawa dan berlari keluar kamar Vero.
*
Keesokan paginya, Bianca yang sudah sampai di kelasnya bingung melihat orang-orang di kelas yang sibuk membaca.
“Ada apa sih?” tanya Bianca
“Ada ulangan mendadak Bi” jawab Levina
“Serius? Mata pelajaran apa?” tanya Bianca
“Matematika” jawab Levina
“Ih kok mendadak sih” ujar Bianca kesal
Bianca mengeluarkan buku matematikanya dengan cepat dan mulai membaca.
Beberapa jam kemudian, bel istirahat berbunyi.
“Ah kayaknya gue bakalan remed” ucap Sella
“Sama” ucap Bella
“Kenapa harus mendadak sih lagian?” tanya Levina kesal
“Lo dapat, Bi?” tanya Bella
Bianca menggeleng.
“Gue kalau panik, apa yang gue pelajari jadi gak nyangkut. Gak guna gue baca buku tadi” ucap Bianca
“Dahlah, tim remed kita” ujar Bella
Levina, Sella dan Bianca mengangguk.
“Ke kantin kuy!” ajak Bianca
“Gue enggak deh” tolak Sella
“Lah kenapa?” tanya Bella
“Gue lagi menghindar dari kak Iki” jawab Sella
“Kenapa lagi dia?” tanya Levina
“Kita masih marahan” jawab Sella
“Lo mau nitip? Biar kita yang belikan” tanya Bella
“Boleh deh” jawab Sella
Sella memberikan beberapa uangnya dan menitip beberapa macam makanan ringan.
Levina, Bella dan Bianca akhirnya pergi ke kantin.
*
Bianca sampai di rumahnya. Kali ini, ia pulang bersama dengan Vero.
“Udah pulang?” tanya Vani
Vero dan Bianca mengangguk.
“Makan dulu sana” ucap Vani
Bianca dan Vero mengangguk.
Bianca dan Vero pergi ke kamar masing-masing untuk mengganti pakaian. Dan kemudian kembali menuju meja makan untuk makan.
Bianca melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah lima sore.
‘Yeay! Bentar lagi ketemu kak Ardhan’ batin Bianca senang
“Ah udahlah! Gue mau siap-siap les” ucap Bianca
“Les?” tanya Vero
“Iya, adek kamu les” jawab Vani
Vero tertawa.
“Kenapa?” tanya Bianca
“Sok-sok les lo” ucap Vero
“Biasanya di suruh les juga nolak” sambung Vero
“Heh! Gue beneran les” ucap Bianca
“Lah beneran? Les di mana?” tanya Vero
“Di Vivian Revolution” jawab Bianca
“Vivian Revolution? Kayak pernah dengar” ucap Vero
“OH! ARDHAN LES DI SANA JUGA!” seru Vero saat teringat
“Vero, jangan teriak-teriak kalau lagi makan” tegur Vani
“Eh iya ma, maaf” ucap Vero
“H-ha? Kak Ardhan les di sana juga?” tanya Bianca pura-pura tidak tahu
Vero mengangguk.
“Gue les karena diajak Sella sih, lumayan kana da teman buat les” ujar Bianca beralasan
“Les malam kan?” tanya Vero
Bianca mengangguk.
Setelah makan, Bianca menuju kamarnya.
‘Gak ada kaos gitu?’ batin Bianca saat mengecek isi lemari pakaiannya
Bianca mendatangi kamar Vero.
“Kenapa?” tanya Vero
“Minjam baju dong” jawab Bianca
“Gak” tolak Vero
“Ih pelit!” ucap Bianca
“Kaos aja , satu kok” ucap Bianca
“Gak” tolak Vero
“Pakai baju lo sendiri lah!” seru Vero
“Kaos gue pada belum di cuci” ucap Bianca
“Ya salah lo sendiri” ucap Vero
“Ayolah! Sekali ini aja” bujuk Bianca
“Untuk apa sih?” tanya Vero
“Untuk di pakai les” jawab Bianca
“Masih sore” ucap Vero
“Ya biar berangkat agak cepat dikit kan bakalan lebih bagus” ucap Bianca
“I-iya sih” ujar Vero
“Pinjam ya?” tanya Bianca
“Ya udah terserah lo ajalah” jawab Vero
“Yes!” seru Bianca
“Ya udah sana siap-siap! Keluar dari kamar gue!” usir Vero
“Tanpa lo usir, gue juga bakalan pergi dari kamar jelek lo ini” ucap Bianca
“Jelek mata lo!” ucap Vero
Bianca terkekeh dan berlari keluar kamar Vero menuju kamar miliknya.
Drrrrtt…. Drrrttt….
Handphone Bianca kembali bergetar.
Bianca melihat nama Sella di layar panggilan itu dan segera menjawab panggilan itu.
“Halo” sapa Bianca
“Bi” panggil Sella
“Kenapa?” tanya Bianca
“Jangan lupa nanti les” jawab Sella
“Iya, lo tenang aja. Gue gak bakalan lupa” ucap Bianca
“Ha mantap” ucap Sella
Sella menutup panggilan itu secara sepihak.
“Langsung main tutup aja” ucap Bianca kesal
Handphone Bianca kembali berdering.
Kali ini Sella kembali menelepon.
“Kenapa?” tanya Bianca
“Lo beneran datang kan?” tanya Sella
“Iya astaga, takut banget lo gue gak datang” jawab Bianca
“Gue gak mau les sendiri, nanti gak ada teman” ucap Sella
“Lo gak sendiri di sana Sel” ucap Bianca
“Gue gak dekat sama mereka, lo kan tahu sendiri gue pendiam orangnya” ucap Sella
“Pendiam mata lo!” ucap Bianca
Sella terkekeh.
“Pokoknya lo harus datang ya” ucap Sella
“IYA SELLA IYA, GUE BAKALAN DATANG” teriak Bianca
“Jangan teriak-teriak dong” ucap Sella
“Habisnya lo buat gue emosi” ujar Bianca
Sella terkekeh dan mematikan panggilan itu secara sepihak lagi.
“Astaga, kebiasaan ini anak” ucap Bianca
Bianca melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul enam sore.
‘Bentar lagi’ batin Bianca
‘Gue mandi deh’ batin Bianca
Bianca segera bersiap-siap untuk pergi les.
*
“Kenapa sih, Lev?” tanya Iki
“Lo apain Sella sih?” tanya Levina
“Gue gak ngapa-ngapain dia” jawab Iki
“Kalau lo cuma mau main-main lebih baik lo pergi deh dari hidupnya dia” ujar Levina
“Gue gak main-main, emang Sella bilang apa ke kalian?” tanya Iki
“Dia bilang lo berubah, seakan-akan lo ada cewek lain” jawab Levina
Iki menghembus nafas kasar.
“Gue cuma mau buat kejutan untuk dia” ucap Iki
“Kejutan?” tanya Levina
“Bentar lagi dia kan ulang tahun” jawab Iki
“Gue mau pura-pura jauhin dia, supaya bisa ngasih kejutan” sambung Iki
“Terus lo chat sama siapa?” tanya Levina
“Sama Dimas” jawab Iki
“Serius?” tanya Levina
“Iya” jawab Iki
“Bisa-bisanya lo ngira gue selingkuh dari Sella” ujar Iki
“Siapa tahu kan” ucap Levina
“Jangan kasih tahu dia ya” ucap Iki
Levina mengangguk.