Part 8

1224 Words
"Lo pernah jatuh cinta?" Tanya Bianca Kent terdiam, menyebabkan tawanya berhenti. Dia menoleh ke arah Bianca. Keadaan menjadi hening. "Kok lo diam?" Tanya Bianca memecah keheningan Kent terdiam sejenak. Lalu menjawab, "Gak pernah deh kayaknya" "Masa iya gak pernah?" Tanya Bianca "Emang gak pernah!!" Jawab Kent setengah membentak "Yaudah sih santai aja. Kenapa lo tadi diam pas pertama kali gue tanya?" Tanya Bianca curiga "Intinya gak pernah" jawab Kent Bianca merasa ada yang disembunyikan oleh Kent. Tapi dia tidak mau memaksa. Mungkin Kent belum siap untuk menceritakannya. "Kalau lo belum siap cerita sekarang, gak apa-apa kok. Nanti kalau lo udah siap cerita, bilang ya? Gue selalu siap kok" ujar Bianca "Emang gak ada, k*****t" ucap Kent "Gue tahu kok ciri-ciri orang bohong" ucap Bianca "Ciri-cirinya apa?" Tanya Kent "Lo gak boleh tahu" jawab Bianca "Kenapa?" Tanya Kent "Nanti kalau gue bohong ketahuan sama lo" jawab Bianca "Terus kenapa lo waktu itu percaya-percaya aja kalau nama gue Andi?" Tanya Kent "Yaelah, itu mah beda lagi. Kalau soal nama kan susah ditebak. Siapa yang tahu? Lagian kita baru ketemu." Jawab Bianca "Serah lu dah" ucap Kent "Kent, kantin yuk!" Ajak Bianca "Ini masih pelajaran pertama, lo udah lapar? Lo gak sarapan tadi?" Tanya Kent "Sarapan kok" jawab Bianca "Terus kok udah lapar aja?" Tanya Kent "Gue tuh banyak makan tahu" jawab Bianca Kent menatap Bianca dengan tatapan tidak percaya. "Kenapa? Lo gak percaya?" Tanya Kent "Badan krempeng gitu, lo bilang banyak makan?Ya gak percayalah" jawab Kent "Gue bisa habisin bakso dua mangkok tahu" ujar Bianca jujur Kent tertawa. "Kok ketawa sih?" Tanya Bianca "Abisnya lo aneh" jawab Kent "Aneh gimana?" Tanya Bianca "Rata-rata cewek itu pada jaim kalau depan cowok. Lah lo? Keluarin aib sendiri." Jawab Kent "Gue paling gak bisa jaim. Susah kendaliin diri. Lagian ngapain jaim sih? Ntar juga kebuka sendiri" ujar Bianca “Terus kenapa lo jaim di depan kak Ardhan?” tanya Kent “E-Eh jelas banget ya?” tanya Bianca balik “Iya. Jelas banget. Gue rasa Ardhan juga tahu lo jaim gitu ke dia” jawab Kent “Emang tahu. Makanya kemarin dia bilang jangan jaim-jaim lagi sama dia” ujar Bianca “T-tapi kan kalau ke kak Ardhan beda dong. Gue kan suka sama dia jadi gue harus rebut hati dia. Gak mungkin gue jadi diri sendiri”sambung Bianca “Kenapa gak mungkin? Lo sendirikan tadi yang bilang kalau semuanya nanti bakalan terbongkar sendiri, jadi ngapain harus jaim-jaim?” tanya Kent “Ya karena gue sadar gue itu ceroboh. Gue juga gak cantik-cantik amat. Setidaknya kepribadian gue bisa bagus kalau jaim dikit di depan kak Ardhan” jawab Bianca "Yaudah gini aja, lo mau gak jadi cewek yang pertama kali gue suka?" Tanya Kent sambil menatap Bianca teduh Bianca membalas tatapan Kent. "Bercanda lo gak lucu" cicit Bianca Kent tertawa. "Perasaan lo bahagia banget. Gue lagi galau tahu, kebahagiaan lo itu gak usah ditunjukin depan gue" ucap Bianca "Niatnya gue mau bagi kebahagiaan sama lo. Tapi lo gak mau. Yaudah." Ujar Kent 'k*****t' batin Bianca Seketika Bianca melupakan rasa laparnya. ****** Ardhan,Iki, dan Dimas sedang bersantai di kedai abah, tempat biasa mereka nongkrong. "Vero mana?" Tanya Iki Ardhan dan Dimas mengedikkan bahunya. "Kita pada ganteng semua, tapi pada jomblo. Ngenes amat yak!" Ucap Iki "Ngenesnya bukan di situ" ucap Dimas "Terus di mana?" Tanya Iki "Punya teman kek dia" jawab Dimas sambil menunjuk Vero yang sedang berlari menuju ke arah mereka "Bener" ucap Ardhan dan Iki bersamaan "Dimaaaaaaass" teriak Vero memanggil Dimas "Kenapa?" Tanya Dimas "Lo mau gak jadi pacar gue?" Tanya Vero sambil menatap wajah Dimas "Lo bercanda kan?" Tanya Dimas balik "Gue serius" jawab Vero "Gila nih anak" ujar Dimas jijik "Sama Ardhan aja sana! Dia kan suka sama lo" sambung Dimas "Gue sayangnya sama lo" ucap Vero "Lo homo?" Tanya Iki "Gue pengen bahagiain lo" ujar Vero Bhuukk!!! Ardhan memukul kepala Vero. "Kok lo malah pukul gue sih?" Tanya Vero "Lo gila ya? Homo? Mau melucu? Gak lucu tahu gak" ucap Ardhan "Tahu nih. Kelakuan lo makin lama makin aneh tahu gak" ujar Dimas Iki mengangguk setuju. "Gimana akting gue?" Tanya Vero "A-APAA?!" tanya mereka secara bersamaan "Gue mau nembak cewek. Jadi gue latihan dulu" ujar Vero "Jadi lo gak homo?" Tanya Iki "Ya enggak lah, b**o" jawab Vero "Emang lo mau nembak siapa?" Tanya Ardhan "Kalian belum boleh tahu. Tapi gue takut respon tuh cewek sama kayak kalian" ucap Vero "Lo pasti diterima kok" ujar Ardhan "Beneran??" Tanya Vero Dimas dan Iki mengangguk setuju. "Kirain gue tadi lo udah miring" ujar Iki "Atau udah g****k" sambung Iki "Yang g****k itu adek gue" ujar Vero "Jahat banget lo" ucap Dio "Bianca itu gak b**o tahu" ucap Iki Mereka langsung menoleh ke arah Iki "Bianca itu imut-imut menggemaskan" sambung Iki "Lo suka sama adek gue?" Tanya Vero "Gak tahu sih" jawab Iki "Di antara kalian gak ada yang suka sama Bianca kan?" Tanya Iki "Gak" jawab Dimas "Gue suka sama dia. Suka pengen nampar" jawab Vero Ardhan diam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. ***** Bianca tiba di rumah, dia segera menuju ke kamarnya. "Capek gue." Ucapnya "Gue yakin ada yang disembunyiin dari Kent" ujarnya "Besok gue bakalan tanya sama teman-teman gue. Mereka kan pada up to date banget. Apa lagi Levina" sambungnya. Hp nya berbunyi menandakan ada yang menelfonnya. "Hallo" sapa Bianca "Bi, lo di mana?" tanya orang yang menelepon "Ini siapa?" tanya Bianca "Ini Kent, k*****t. Masa lo gak kenal suara gue" jawab Kent "Ya gue mana tahu. Lo dapet nomor gue dari siapa?" tanya Bianca "Kepo lu. Sekarang intinya lo ada di rumah atau enggak?" tanya Kent balik "Iya. Gue di rumah." jawab Bianca "Gue ke rumah lo ya" ujar Kent "Lah ngapain?" tanya Bianca "Gue kangen sama lu" jawab Kent "Bercanda lo gak lucu" ucap Bianca ketus "Gue gak bercanda" ucap Kent "Gombalan lu gak mempan" ucap Bianca "Gue gak gombal" ucap Kent "Terus apa?" tanya Bianca "Cuma basa-basi aja" jawab Kent "Bangke lu, Kent" umpat Bianca "Jangan baper lu. Gue ke rumah lo ya?" tanya Kent "Eh jangan. Bentar lagi abang gue sampai rumah" jawab Bianca "Terus masalahnya apa?" tanya Kent "Dia bawa temennya, Dimas, Iki dan Ardhan" jawab Bianca "Mereka sering ke rumah lo?" tanya Kent "Gak sih" jawab Bianca "Yaudah deh, kalau gitu gak jadi" ucap Kent "Bagus deh. Gue mau modus dulu sama Ardhan" ucap Bianca "Gue bakalan berdoa" ujar Kent "Berdoa?" tanya Bianca bingung "Gue bakalan berdoa supaya Dira ikutan ke rumah lo" jawab Kent "Anjir, jangan dong. Lagian kak Dira gak pernah ke rumah gue" ucap Bianca "Ya semoga kali ini ikutan" ucap Kent penuh harap "Awas aja kalau doa lo terkabul, lo yang bakalan gue santet duluan" ancam Bianca "Hahahaaaa.. Kejam amat lu" ucap Kent "Bodo amat" ucap Bianca "Yaudahlah. Save nomor gue ya. Oh iya ini juga sekalian nomor w******p gue. Jadi save juga, oke?" tanya Kent "Oke-oke" jawab Bianca Kent menutup panggilan itu. Bianca berniat untuk menyimpan nomor Kent. Tapi dia memikirkan nama apa yang pas untuk Kent di kontaknya. "Nama yang keren apa ya?" Tanyanya pada dirinya sendiri "Oh gue tahu" ucap Bianca Kemudian Caca mengetikkan sesuatu di sana. Dia menyimpan nomor Kent dengan nama Kentut k*****t. Dia memberi nama itu dengan alasan di bagian kentut, terdapat nama Kent. Dan untuk bagian k*****t, itu karna Kent yang selalu mengatakan kata itu. Bianca kembali melihat nama yang tertera untuk nomor Kent, lalu tertawa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD